BAB V

1003 Kata
Max kembali ke kediamanya di griya tawang. Dia tidak berani kembali ke rumahnya, dia tidak sanggup untuk kembali mengenang masa lalu. Dulu saat kecelakaan itu belum terjadi, saat Max masih remaja, saat semua permintaannya dipenuhi tanpa harus bersusah payah. “Maxim…kemarilah sayang, duduk dekat mama.” Max yang baru kembali dari pesta bersama teman-temanya berjalan dengan gontai. Ya, dia mabuk dan baru kembali pagi hari. Kemarin adalah hari kelulusan kuliahnya dan dia merayakannya dengan pergi ke club dan berpesta pora. “Nanti saja ma. Aku pusing.” “Lihat anak yang kau manjakan. Melihatnya saja aku sudah kesal.” Ayah Max adalah orang yang keras. Dia selalu memarahi Max yang dianggap tidak berguna yang kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang. Max hanya melirik ke arah ayahnya dan melangkah pergi menuju kamarnya. Dia terlalu malas mendengar ocehan ayahnya yang tidak pernah berhenti. Bagi Max, ayahnya tidak pernah menghargai apa yang dia lakukan. Nilai sekolahnya selalu yang terbaik, beberapa perlombaan musik dan olah raga juga berhasil dimenangkan Max tapi itu tidak pernah cukup, sampai dia menjadi anak yang sulit diatur. Hanya pada mamanya saja Max mau menurut. “Sabarlah sayang. Dia masih remaja. Akan ada saatnya dia mengerti tanggung jawab yang harus diembanya.” Malam itu orang tua Max harus pergi menghadiri acara lelang amal yang diadakan para pebisnis. Mereka menggunakan pesawat pribadi karena salju turun lebat sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan mobil. Salju turun semakin lebat. Jarak pandang pilot pun semakin berkurang. Awalnya pesawat itu mendarat mulus, namun tanpa diduga roda ban tergelincir karena ban sebelah kanan yang tiba-tiba meletus. Pesawat menjadi sulit dikendalikan di jalan yang licin dan akhirnya menabrak gerbang hangar dan pesawat itu meledak. Menghanguskan semua pemumpang didalamnya, termasuk orang tua Max. Telepon Tuan Chesnov malam itu berbunyi. “Halo Tuan. Ada berita buruk. Pesawat yang dikendarai tuan dan nyonya mengalami kecelakaan dan tidak ada yang berhasil selamat.” Wil menghubungi Tuan Chesnov dimalam tragedi itu terjadi. Pagi harinya saat pemakaman Max terlihat terpukul, berdiri disamping liang orang tuanya yang tidak akan pernah mungkin kembali. Hanya ada penyesalan yang tak berujung. Walau sang kakek sudah mengatakan itu bukan salahnya, tapi Max tetap terpuruk dan memilih pergi melarikan diri dari kenyataan. Pergi meninggalkan kakeknya dan semua kenangan pahit. Pagi itu Max bersiap menuju Chesnov Tower untuk mulai bekerja. Dia harus mengejar ketertinggalan dan mengembalikan harga saham yang sempat turun dikarenakan kabar kakeknya yang sedang sakit tercium media massa dan para pesaing bisnisnya mengambil kesempatan akan hal itu. “Sudah kamu siapkan data-data yang saya minta?” “Sudah tuan.” Wil memberikan setumpuk dokumen untuk di pelajari. Wil masih setia menunggu Max membaca lembar demi lembar dari dokumen itu. “Ada hal yang ada perlukan lagi tuan?” “Tidak ada Wil.” Saat akan keluar dari ruangan, Max memanggil. “Wil.” “Ya tuan, ada apa?” “Beritahu saya informasi karyawan yang akan melamar.” “Baik tuan.” William memang sedikit bingung awalnya, kenapa Max meminta data karyawan baru. Bukannya data penjualan, data piutang atau data investor. Tapi dia hanya bisa patuh pada perintah tuannya. “Pa…ma…aku pulang.” Valeri membuka pintu rumahnya setelah supir taksi menaruh koper dan kardus-kardusnya di depan teras. “Loh kok kamu bawa barang begini banyak?”, mama keheranan melihat barang-barang yang aku bawa dari apartemen. “Iya ma, skripsi aku sudah selesai. Tinggal tunggu sidang aja. Jadi aku ga bakal balik lagi ke apartemen. Aku juga uda kembaliin kunci apartemennya ke orang yang punya.” “Wah anak papa sudah pulang. Akhirnya kamu tinggal disini lagi.” “Papa dan mama ga tau aja kalo abis ini aku bakal pergi jauh.” Malam itu setelah aku memperkirakan waktu di negara sana. “Halo Chesnov Industry.” “Ya betul dengan Chesnov Industry.” “Saya Valeri Lie. Saya mendapat nomor ini atas rekomendasi dari Profesor Albert Huang.” “Oh ya, saya mengenalnya. Beliau sudah memberitahu kalau anda akan menghubungi tentang lowongan pekerjaan. Silakan kirimkan CV dan nomor telepon anda melalui email yang tertera pada kartu nama yang anda terima.” “Baik. Terima kasih atas kesempatannya. Saya akan email segera.” “Saya tunggu email anda Nona Valeri.” Aku mengakhiri panggilan telepon dengan jantung berdebar sekaligus gembira, aku punya kesempatan untuk diterima di perusahaan besar itu. “Val, kau habis telepon siapa malam begini?”, tiba-tiba mama membuka pintu kamarku. “Oh…ga kok ma. Itu tadi Donny.” “Masalah game lagi?”, mama mengeleng-gelengkan kepalanya karena aku masih saja hobi main game. “Hehe…iya ma.” Setelah semua orang terlelap aku membuat lamaran, CV, transkrip nilai sementaraku dan mengirimkannya melalui email ke Chesnov Industry. Sambil berdoa dalam hati aku menekan tombol SEND. “Hufff…aku uda kirim lamaranku, tinggal bagaimana cara ngomong sama papa dan mama aja. Aku bakal kasih tau mereka kalau lamaran aku diterima. Kira-kira Max lagi ngapain ya?” Aku menghubungi Max untuk memberi kabar mengenai pekerjaan yang aku lamar. Di seberang sana Max sedang berkutat dengan pekerjaannya, tiba-tiba gawainya berdering dan terlihat nama Valeri pada layar. “Halo Val.” “Halo Max. Kau sibuk? Aku ingin memberitahu, aku sudah mengirimkan lamaranku ke Chesnov Industry. Tapi aku belum memberi tahu orang tuaku.” “Oh…Selamat. Itu adalah langkah yang besar.” “Baiklah. Aku hanya ingin memberitahumu. Aku tidur dulu ya. Hari ini aku lelah sekali karena pagi ini aku pindah ke rumahku. Aku tidak tinggal di apartemen lagi.” “Tentu saja. Selamat tidur Val. Mimpi indah.” “Selamat bekerja Max. Bye” “Bye.” “Cari lamaran yang dikirimkan Valeri Lie melalui email hari ini dan berikan pada saya.”, perintah Max pada Wil yang kebetulan ada di sebelahnya. “Baik tuan.” Keesokan harinya beberapa lembar lamaran Valeri sudah ada di meja Max. Max melihat dengan seksama biodata Valeri. “Valeri Lie. 20 tahun. Berdarah murni asia. Woww…nilainya c*m laude. Gadis cerdas yang hobi bermain game. Luar biasa.” “Wil, segera proses lamarannya.”, Max menghubungi Wil melalui intercom. “Valeri...kau yang akan datang sendiri padaku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN