“OK…kita lihat ada apa lagi digame ini. Yang online hanya 4 orang.”, setelah Max selesai dengan segala urusannya dia mulai bermain game lagi.
“Hem…sepertinya baik jika aku berkenalan dengan beberapa gamer.”
Max mulai mengirim pesan kepada beberapa pemain secara acak di chat pribadi.
Tapi setelah menunggu lama…tidak ada yg membalas.
“Hemmm….ada apa dengan mereka? Terlalu sibuk bermain atau ada perbedaan waktu?”
Sekitar 1 jam bermain dan mulai jenuh, tiba-tiba notifikasi chat pribadi di game itu menyala. Ada pesan balasan yang masuk.
(Pake Bahasa Indonesia aja ya…ceritanya mereka ngobrol pake Bahasa Inggris dan ngerti satu sama lain. Kalo pake bahasa yang beda penulisnya keder.)
“Hai. Salam kenal Max. Aku Valeri.”
“Hai Valeri. Senang mengenalmu”
“Boleh aku meminta nomor teleponmu?”
“Tentu Max. Aku senang mengenal banyak orang dari berbagai belahan dunia lain.”
“Sepertinya dia adalah gadis yang menyenangkan. Kita lihat seberapa cantiknya dia.”
Max langsung melakukan video call pada Valeri. Setelah menunggu beberapa saat video call itu tersambung. Max dapat melihat gadis kisaran 20 tahun dengan kulit putih dan rambut hitam panjang. Terlihat wajah asia yang sangat cantik.
Sebenarnya Valeri tidak siap menerima video call, tapi tidak sopan jika memblok sambungan telepon dari orang lain. Dengan kerepotan dan wajah penuh keringat karena baru kembali ke apartemennya Valeri menjawab panggilan itu. Dia bisa melihat pria paling tampan yang hanya ada di film-film Holywood. Rambut abu-abu, dengan mata sebiru samudra, kumis dan janggut yang tumbuh alami. “Perfect.”
“Tunggu sebentar. Aku tidak siap menerima panggilannmu.”
Valeri segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan. Maklum karena hidup sendiri jadi cara berpakaiannya asal.
Terlihat Max hanya tersenyum dan melihat Valeri berlari kesana kemari.
Gawai Valeri di taruh dengan posisi bersandar pada tumpukan buku di meja makannya.
Max dapat melihat ranjang kecil di depannya, ada tumpukan buku di sebelah ranjang itu. Max menduga dia adalah seorang mahasiswi.
Setelah mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos kebesaran Valeri mengambil gawainya dan duduk di atas ranjangnya.
“Maaf Max, tadi pakaianku kurang sopan.”
“Aku yang minta maaf karena menghubungimu tiba-tiba. Apa kau mahasiswi? Jurusan apa yang kau ambil?”
“Ya aku mahasiswi. Aku mengambil jurusan teknik mesin.”
“Wow…itu sesuatu yang serius. Apa kau menyukainya?”
“Emmm…mungkin. Tapi waktu awal aku mengambilnya, jurusan itu yang paling menantang bagiku.”
“Kau keren dan juga cantik.”
“Terima kasih, kau juga tampan.”
Valeri tersenyum dengan mata yang berbinar karena mendapat pujian dari pria super ganteng di depannya.”
“O my God. Senyuman gadis ini sangat indah. Dia benar-benar wanita paling cantik yang pernah aku lihat.”
Max terpukau pada Valeri yang baru saja dia lihat itu.
Mereka bercerita panjang lebar dan hubungan yang mereka jalani semakin intens dan entah mengapa mereka merasa cocok satu lama lain. Saling mengirimkan pesan singkat, melakukan video call berjam-jam, bermain game online bersama, bercerita tentang diri mereka masing-masing.
Pada suatu hari.
“Val, akan kerja dimana kau setelah lulus?”
“Emm…entah lah. Tapi aku mendapat rekomendasi dari dosenku. Aku belum menghubunginya, aku masih berpikir bagaimana harus ijin pada orang tuaku.” Sambil membaca kartu nama di tangannya.
“Chesnov Industry. Aku membaca di artikel, ini perusahaan terbesar di Eropa yang melingkupi hampir seluruh bidang industry.”
“Chesnov Industry?”, tanya Max sedikit kaget.
“Ya, aku rasa kau tahu, kau juga tinggal di Eropa kan.”
“Kenapa kau tidak mencobanya? Itu adalah kesempatan yang bagus. Cobalah bicara pada orang tuamu, mereka pasti akan mengerti. Percayalah padaku.”
“Terima kasih untuk dukunganmu Max. Aku akan bicara pada orang tuaku dan aku akan menghubungi perusahaan ini.”
“Baiklah. Kabari aku akan hasil yang kau dapat. Aku harus pergi untuk patroli dulu. Sampai jumpa lagi Valeri.”
“Bye Max.”
Max siang itu berkeliling dengan mobilnya. Kali ini dia menuju ke arah sungai dimana banyak rubah sedang berburu berang-berang. Di musim dingin seperti sekarang, target pemburu hanya pada rusa kutub tapi jika musim semi datang dan beruang keluar dari hibernasinya, maka beruang lah yang menjadi target.
Populasi rusa dan beruang sudah tidak terlalu banyak, keseimbangan ekosistem dan kelestarian hewan serta hutan yang menjadi perhatian pemerintah dan para penjaga hutan.
Tlit…tlit…Max melihat panggilan telepon dari orang yang sudah lama tidak pernah dia dengar suaranya.
“Halo.”
“Halo tuan Max.”
“Ada apa Wil?”
“Anda harus kembali, kakek anda jatuh sakit.”, jawab William yang adalah sekretaris dari kakek Max.
“Bagaimana bisa? Siapkan helikopter. Saya kembali sekarang.”
Kurang dari 1 jam helikopter sudah datang untuk menjemput Max. Sebelumnya dia sudah menghubungi pos pusat untuk mencari penggantinya dikarenakan urusan mendesak dan Lexi anjing kesayangannya terpaksa harus ditinggalkan.
“Bagaimana keadaan kakek, Wil?”, mereka sudah dalam helikopter kembali menuju tanah kelahiran Max.
“Kakek anda terkena serangan jantung dan sampai sekarang belum sadarkan diri di rumah sakit.”
Max merutuki kesalahannya. Dia tidak seharusnya meninggalkan kakeknya sendirian, yang adalah satu-satunya anggota keluarganya.
“Lewat sini tuan Max.”
Dikoridor rumah sakit Max berlari menuju kamar VVIP dimana kakeknya terbaring.
“Kakek, aku disini. Aku pulang.”
Max memegang tangan keriput kakeknya itu. Dilihatnya wajah sang kakek yang sangat tua dan nafas yang terdengar lemah.
“Max? Itukah kau?”, tiba-tiba matanya terbuka.
“Ya ini aku.”
“Oh cucuku. Kau kembali. Jangan pergi lagi Max.”
Setelah mengatakannya, mata tua itu kembali tertidur.
“Apa ada yang tahu tentang sakitnya kakek?”, mereka berbicara di luar kamar setelah membiarkan kakeknya beristirahat.
“Belum ada Tuan. Kakek anda ditemukan terjatuh di kamar tidurnya pagi ini. Tapi saya yakin sebentar lagi berita ini akan menyebar.”
"Wil, hubungi seluruh pemegang saham. Saya akan mengadakan rapat darurat.”
“Baik tuan.”
Tak perlu waktu yang lama semua pemegang saham sudah berkumpul di Chesnov Tower.
“Hari ini saya meminta ada semua berkumpul untuk memberitahukan tentang keadaan kakek saya yang tidak memungkinkan untuk memimpin perusahaan.”
“Apa benar Tuan Chesnov sedang sakit?”, tanya salah satu pemegang saham dan keadaan mulai riuh.
“Benar. Beliau sedang sakit. Tapi saya sebagai penerus satu-satunya keluarga Chesnov akan mengambil ahli tampuk kepemimpinan. Bagi yang tidak setuju silahkan angkat tangan kalian.”
Tidak ada satupun yang berani, karena aura yang dimiliki Max adalah aura Chesnov, salah satu keluarga paling kaya di daratan Eropa.
Suara bulat sudah diambil, Maxim Chesnov sebagai pemimpin Chesnov Industry sudah kembali.