Hari sudah siang saat kami sampai.
Di ujung jalan ada sebuah gerbang besar dan di sebelahnya ada pos security yang dijaga tentara. Mereka memberi hormat saat mobil Max melewati gerbang itu.
Begitu memasuki gerbang tampak sebuah bangunan tua, lebih tepatnya sebuah kastil bergaya abad pertengahan. Walaupun terlihat tua dengan banyaknya pohon menjalar di sepanjang dinding kastil tapi kastil itu tetap terawat. Di sekelilingnya ada taman dengan tumbuhan yang di pangkas rapi, juga ada 2 air mancur yang di tengahnya terdapat patung manusia.
Aku menatap wajah Max yang masuki pekarangan taman, wajahnya yang tersakiti oleh kenangan pahit. Mungkin berat baginya untuk kembali, mengorek luka yang disembunyikannya rapat-rapat. Aku memegang tangan Max dan menggenggam jari jemarinya.
Dia menatapku lalu tersenyum.
“Terima kasih Val.”
Semua masih sama seperti dulu. Sama seperti saat aku pergi. Rasa yang masih sama, sakit yang coba aku pendam. Jika aku ingat kembali, ibu selalu mengajakku bermain di taman bunganya. Dia akan menceritakan berbagai jenis tumbuhan dan serangga. Aku juga sering bersembunyi saat pengasuh mencariku.
Tapi ayah tidak pernah ada disana, dia selalu pulang malam dan kami tidak pernah bicara. Di setiap acara keluarga dan acara bisnis ayah juga jarang membicarakanku. Kadang aku berpikir apa aku ini sungguh anak kandungnya. Tapi semua sudah berlalu, dengan rasa yang masih sama.
Kami sampai di pekarangan kediaman Chesnov.
Tuan Chesnov sudah menunggu di depan pintu utama dengan para pelayan.
“Kau kembali.”, kakek memeluk Max erat. “Masuk dan beristirahatlah dulu. Para pelayan sudah menyiapkan kamar untuk kalian.”
Semua pelayan memberi hormat pada kami saat memasuki kastil itu. Ini benar-benar luar biasa. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Aku seperti masuk kedalam dunia dongeng dimana semua pemadangan ini hanya ada dalam film-film. Tirai panjang terbuat dari beludru halus, patung tentara lengkap dengan baju perisai, vas, patung dan lukisan-lukisan yang hanya bisa dilihat di museum dan tepat di ruang hall besar ada tangga untuk ke lantai dua. Karpet biru tergelar disepanjang tangga menuju lantai dua.
“Aku akan mengantarkanmu ke kamar. Istirahatlah dahulu. Nanti sore kita akan ke makam ayah dan ibu.”
Aku mengangguk dan Max mengantarakanku di depan sebuah pintu berwarna kuning.
“Ini disebut ruang kuning. Kamar ini akan cocok untukmu. Kamarku ada di sebelah dengan pintu berwarna putih. Jika kau butuh apapun kau bisa memanggilku atau meminta pada pelayan yang kau temui. Jangan jalan-jalan sendiri atau kau akan tersasar. Aku sungguh-sungguh.”
Max meninggalkanku di kamar untuk menyiapkan diri akan acara sore ini.
“Halo Val. Bagaimana kabarmu?”
Papa tiba-tiba meneleponku saat aku sibuk melihat-lihat seisi kamar.
“Halo pa. Aku baik. Bagaimana kabar mama?”
“Mamamu baik. Dia baru selesai arisan. Apa kau sibuk beberapa hari ini? Sudah lama kamu tidak menelepon papa.”
Aku mengubah mode telepon di hp-ku menjadi mode video. Dapat aku lihat rona bahagia papa dan mama saat melihatku.
“Sedang di mana kamu nak?”
“Aku ada di kediaman Max. Hari ini aku mengunjungi kediamannya untuk acara keluarga. Papa mama tau kemarin aku bertemu siapa? Aku bertemu walikota.”
“Hebat sekali. Apa kau kerasan kerja disana? Apa bos mu baik padamu?
“Dia baik pa. Aku banyak belajar di sini. Papa mama jaga kesehatan ya. Aku tidak bisa menjaga papa dan mama.”
“Kami baik-baik saja sayang. Kamu jaga diri ya. Jangan terlalu lelah bekerja. Baiklah, kau sepertinya sibuk. Papa tidak akan menggangu lagi. Bye Val.”
“Bye papa mama.”
“Mama merasa ada yang berubah pada putri kita?”
“Papa juga merasa begitu. Lagi pula siapa itu Max? Kenapa Valeri selalu bersama laki-laki itu?”
“Mulai deh sifat papa yang over protective itu.”
Mama sudah tau benar sifat papa jika ada pria yang mendekati putrinya.
“Kita berdoa saja agar putri kita di kelilingi orang-orang yang baik.”
Papa merasa khawatir pada Valeri yang sepertinya sedang dekat dengan pria bernama Max.
Selang beberapa jam,Max sudah menjemputku dan mengajakku berjalan kaki menyusuri taman di belakang kastil. Kami berjalan kaki bersama rombongan lainnya, kakek Max, Max, 2 orang pelayan perempuan yang membawa keranjang dan beberapa laki-laki yang seperti bodyguard.
Tak berapa lama kami memasuki hutan, jalan yang kami susuri juga semakin kecil. Tampak 2 buah nisan tertanam di belakang pohon yang rindang. Tertulis nama Chesnov di belakang nama masing-masing dari nisan itu. “Pasti ini makam ayah dan ibu Max.”
Suasana seketika menjadi sendu. Keheningan menyelimuti seluruh rombongan, yang terdengar hanya suara binatang-binatang hutan saling bersautan. Salah satu pelayan yang membawa keranjang memberikan keranjangnya kepadaku yang ternyata berisi rangkaian bunga. Aku menyodorkannya pada Max dan kakeknya agar mereka dapat mengambil bunga-bunga tersebut.
“Valeri, kau juga ikutlah menaruh bunga. Ibu Max sangat suka bunga Lily”, perintah kakek Max.
“Baik.”
Tampak makam-makan itu masih terawat. Pasti Tuan Chesnov memerintahkan pelayannya untuk membersihkan makan ini setiap hari.
Aku menaruh bunga itu sambil berdoa, “Halo ayah dan ibu Max. Kalian pasti tidak mengenalku yang aku pun tidak mengenal kalian. Tapi anakmu benar-benar bersedih dengan kepergian kalian. Aku tahu betapa Max sangat menyayangi kalian. Aku berharap kalian melindungi Max dari atas sana dan aku berharap luka di hatinya dapat segera sembuh.”
Hari sudah sore dan semua orang sudah kembali ke kediaman, tinggal Valeri dan Max yang tersisa. Max masih setia mematung di depan makam kedua orang tuanya.
“Ayah…ibu…aku pulang. Anakmu sudah kembali dan tidak akan pergi lagi. Maafkan aku…aku bersalah, aku bukan anak yang membanggakan kalian.
Lihat gadis di sebelahku? Namanya Valeri. Bukankah dia gadis yang cantik? Restui kami karena aku jatuh cinta padanya. Beristirahatlah dengan tenang ayah, aku tidak akan mengecewakanmu kali ini.”
“Max, ayo kita kembali. Hari sudah hampir malam.”
Aku menyentuh tangan Max dan seketika itu Max menarikku ke dalam pelukanya.
“Sudah tidak apa-apa.”
Aku menepuk-nepuk punggung Max dan menenangkannya. Aku tahu ini berat baginya. Tidak ada orang yang sanggup menahan semua penderitaan ini sendiri. Pria luar biasa itu menangis dalam diam. Harga dirinya sebagai pria runtuh dalam pelukan Valeri.
Valeri mendekap Max erat dan kepala Max terjatuh di bahu kecil Valeri. “Tuhan, kasihanilah pria ini. Berikanlah dia kebahagian.”
Semilir angin bertiup mengoyangkan dahan-dahan kering. Suara binatang hutan bersahut-sahutan dalam keheningaan.