BAB XIII

1034 Kata
“Kau mau makan apa? Aku akan memesankannya untukmu.” “Steak tapi tidak dengan wine.” Max tertawa setelah mendengar jawabanku. Aku yang melihatnya jadi malu sendiri, seperti mengingatkan kembali kebodohan yang aku lakukan tadi pagi. “Apa kau mau mandi sambil menunggu makan malam kita? Aku punya beberapa baju yang mungkin bisa kau pakai.” “Boleh jika tidak menyusahkanmu.” Max mengambilkan baju kaos dan celana training yang di bagian pinggangnya bisa dikecilkan jika talinya ditarik. Aku dan Max akhirnya mandi, tapi di kamar mandi yang terpisah tentunya. Saat aku membuka pintu, aku terkejut karena kamar mandi ini 3 kali lebih luas dari kamar tidurku di negara asalku. Ada bath tub berukuran besar dan toilet dengan teknologi penghangat di bagian b****g, cermin super besar di sisi kanan dinding dan tebak apa? Di bagian kiri bukan terdapat dinding tetapi jendela yang bisa melihat pemandangan kota malam hari. Ini terlampau mewah. Aku berendam dalam bath tub air hangat yang dipenuhi sabun. Benar-benar merilekskan otot-otot yang lelah setelah seharian bekerja. “Val, kau sudah selesai?”, terdengar ketukan dari pintu. “Ya Max. Sebentar lagi.” Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung handuk dan pakaian Max yang kebesaran. Aku sampai harus menggulung celana training ini karena terlalu kepanjangan. “Itu cocok untukmu.” Max melihat ke arah Valeri sekilas sambil menyiapkan makan malam kami. “Aku seperti raksasa yang mengecil.” “Duduk sini. Kau pasti sudah lapar.” Max mempersilahkan aku duduk di meja makannya yang besar. “Di tempat seluas ini dia tinggal sendiri?” Max makan dalam diam sambil menyesap red wine-nya dan aku minum cukup dengan air putih saja. “Apa yang sedang dipikirkannya? Aku tidak berani bertanya karena sepertinya tidak sopan ikut campur urusan orang lain, lagi pula usia kita terlampau jauh. Lebih baik aku diam saja.” Setelah makan Max mengajakku ke teras. Disitu ada kolam renang out door dengan pemanas berukuran tidak terlalu besar dan beberapa long lounger di pinggir kolam renang. Kami duduk di sudut kolam renang yang lebih menjorok ke arah luar. Aku dapat melihat pemandangan kota dari kejauhan, lampu kota seperti bintang bertaburan di malam hari. Max masih setia dengan wine yang masih tersisa dari makan malam kami. “Mengapa kau tidak bertanya?” “Aku rasa tidak sopan jika aku ikut campur urusan orang lain.” “Kau menganggapku orang lain?” “Apa maksudnya? Aku jadi bingung. Bukan begitu, aku pikir kau akan mengatakannya sendiri jika kau sudah siap.” Setelah itu hanya ada keheningan. Max kembali terdiam. Aku pun jadi serba salah, apa itu kode untukku bertanya? “12 tahun yang lalu…lebih tepatnya besok. Aku kehilangan ke dua orang tuaku karena sebuah kecelakaan.” Aku terkesiap mendengarnya, dapat aku lihat tatapan mata sendu Max yang melihat kota dari kejauhan. “Mereka pergi pada malam bersalju itu setelah sebelumnya mereka bertengkar karena aku. Dulu aku adalah anak yang sulit di atur. Aku ingin bebas melakukan apapun tanpa perduli akan tanggung jawabku. Ibu selalu membelaku tapi berbeda dengan ayah, dia hanya marah-marah setiap kami bertemu. Malam itu dengan pesawat pribadi mereka pergi untuk pertemuan dengan para kolega. Karena salju turun dengan lebat, pesawat tergelincir saat akan mendarat. Mengakibatkan ban pesawat meletus. Pilot tidak bisa mengendalikan pesawat sehingga menabrak pintu hangar dan fatalnya…pesawat itu meledak.” “Oh Tuhan.” Aku menutup mulutku karena terkejut. “Tidak ada yang selamat dalam kecelakaan itu…termasuk orang tuaku.” “Aku turut bersimpati untukmu.” “Itu semua salahku. Kalau saja aku menjadi anak yang penurut, kalau saja aku mentulikan telingaku dari omelan ayah, kalau saja…” “Tidak. Itu bukan salahmu.” Aku menghampiri Max yang masih terduduk lunglai. Tanpa sadar aku memeluknya, kepala Max sempurna mendarat dalam dekapanku. “Jadi karena itu kau menjadi penjaga hutan? Kau melarikan diri?” Max membalas pelukanku dengan mengalungkan tangannya di pinggangku. “Itu bukan salahmu Max. Itu takdir. Takdir yang mendewasakanmu. Jangan terkekang pada masa lalu. Lepaskan semuanya.” Aku mengelus rambut Max yang ternyata lembut di sela-sela jariku. Max yang dielu-elukan semua orang ternyata adalah manusia yang lemah dan rapuh. Dia tidak bisa menghilangkan rasa bersalah selama bertahun-tahun lamanya. “Malam ini menginaplah disini. Aku tidak ingin sendiri.” Aku mengiyakan permintaan Max dan kami hanya duduk di teras sepanjang malam dengan saling berdiam diri, dengan pikiran masing-masing yang sama-sama menerawang entah kemana. Entah berapa lama mereka termenung. Rasa ngantuk akhirnya menghinggap Valeri yang akhirnya membuat gadis itu tertidur di kursi. Max melihat ke arah Valeri setelah mendengar dengkuran kecil. “Kau gadis spesial di hatiku. Kau tahu aku sudah menunggumu sejak lama.” Max menggendong Valeri menuju kamarnya. Griya tawang ini hanya punya 1 kamar tidur karena Max memang tinggal sendiri. Dia merebahkannya di kasur Max yang lebar dan super empuk. Menyelimuti tubuh mungil Valeri yang terlelap seperti bayi. Lalu Max juga ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Valeri dan ikut terlelap. Mungkin dalam alam bawah sadar seseorang jika keakraban sudah terbina maka dalam tidurpun hal itu bisa terjadi. Malam itu Valeri tidur dalam pelukan Max sampai fajar menyingsing. Valeri terbangun dari tidurnya saat sinar matahari yang menerobos dari sela-sela tirai yang tepat mengenai matanya. Saat akan berdiri, kaki dan tubuhnya terasa berat seperti tertindih. Dia membuka selimutnya dan mendapati kaki dan perutnya tertindih oleh kaki dan tangan manusia. Saat menegok kesamping dia melihat Max sedang tertidur. “Apa yang terjadi semalam? Aku tidur bersama seorang pria padahal aku belum menikah?!? Oh Valeri…kenapa setiap kali kau tidur seperti kerbau. Pantas saja mama marah setiap kali sulit membangunkanmu. Papa mama maafkan aku yang sudah mencoreng nama baik keluarga.” “Kau sudah bangun?”, tiba-tiba suara Max mengagetkan Valeri yang sedari tadi merutuki dirinya. “Maaf aku tidur disini. Griya ini hanya punya 1 kamar dan aku tidak tahu mau tidur dimana jadi aku tidur di sebelahmu. Aku tidak melakukan apapun yang melanggar adat ketimuranmu.” Valeri masih kaku dalam posisi masih tiduran. “Hari ini ikut aku pulang ke rumah. Semalam aku sudah meminta Wil untuk menyiapkan pakaianmu.” Dengan berpakaian serba hitam Max mengajakku pulang ke rumahnya. Pagi itu kami menyusuri jalan di pinggiran kota. Di sepanjang jalan hanya ada hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan tumpukan salju di pinggir jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN