BAB XII

1009 Kata
Sesampainya di lobby Chesnov Tower kami disambut Wil yang sedari tadi sudah menunggu kami. Security langsung membawa mobil Max setelah diberikan kunci untuk diparkirkan di basement. Max, aku dan Wil berjalan beriringan menuju lantai 46. “Apa agenda saya hari ini Wil?” “Ada 3 rapat. Jam 11 dengan walikota, jam 2 dengan wartawan asing dan jam 4 dengan Tuan Chesnov.” “Sudah kamu siapkan semua?” “Sudah.” “Secepatnya kamu harus menyerahkan pekerjaanmu kepada Valeri dan kamu kembalilah pada kakek.” “Baik tuan.” “Dan kau Valeri. Mulai hari ini kau harus ikut kemanapun aku pergi. Pelajari semua hal dengan cepat. Setiap keterlambatan adalah kerugian untuk orang lain.” “Baik tuan.” Semua mata menatapku dengan iri. Kabar diriku yang masuk jalur khusus sudah menyebar ke seluruh lantai di Chesnov Tower. Aku tidak perduli, yang terpenting aku harus membuktikan bahwa aku layak ada diposisi ini. Aku tidak boleh mengecewakan Max. Aku dan Max memasuki ruangan Max, tapi tidak dengan Wil. Max melepaskan jasnya dan membuka pintu di samping lemari. Ternyata di balik pintu itu ada ruangan yang terdiri dari ranjang besar dan kamar mandi, juga ada lemari berisi baju-baju Max. “Aku mandi dulu. Tolong siapkan bajuku.” “Baik tuan.” “Jangan kau panggil aku tuan jika hanya ada kita berdua, sama seperti aku memakai kata aku dan bukan saya hanya padamu.” “Baik Max.” Max sudah masuk ke kamar mandi dan terdengar suara gemericik air. Aku membuka lemari baju itu dan melihat deretan kemeja yang sudah tergantung sesuai warna, celana panjang, ikat pinggang, dasi, kaos kaki dan sepatu. “Kenapa dia mengatakan itu? Memang dia mengangap aku sebagai apa?” Kata-kata dengan banyak makna membuat otak Valeri pusing. Dia bukan tipe gadis yang mudah terbawa suasana atau mau menebak-nebak. Dia lebih suka orang yang berbicara terus terang dan jelas. Sebelumnya, saat mereka akan berangkat ke kantor. Valeri enggan keluar dari kamar walaupun sudah berpakaian kerja karena mengingat kejadian memalukan tadi. Dia sedikit membuka pintu kamarnya dan mengintip, siapa tau Max sudah pulang. Tapi saat akan memunculkan kepalanya di balik pintu dia melihat Max berdiri di depan pintu kamarnya. “Kau sudah siap? Ayo makan. Aku membuatkanmu roti bakar.” Valeri makan sambil tertunduk, dia tidak berani menatap wajah Max yang duduk di seberangnya. “Hihi…gadis yang lucu.” Bahkan selama diperjalanan Valeri diam seribu bahasa. Max yang menyadarinya hanya mengelus-elus rambut Valeri lalu menggengam tangannya sampai mobil itu tiba di Chesnov Tower. Setelah Max mandi dan mengganti pakaian, aku mengikuti meeting dengan walikota bersama Max dan Wil. Meeting ini membahas perijinan beberapa proyek yang akan di bangun, dari ijin lahan, kelestarian lingkungan sampai pemakaian tenaga kerja lokal yang akan menambah kesejahteraan warga sekitar. Lalu meeting dilanjutkan dengan wartawan dari majalah bisnis. Profil Maxim Chesnov dikupas tuntas setelah pengambil alihan kepemimpinan Chesnov Industry. Dari sini aku tahu lebih banyak tentang Max. Dia adalah anak yatim piatu, berwawasan luas, sangat cerdas dengan beberapa gelar sarjana yang disandangnya, penuh percaya diri, mencintai lingkungan dan digilai wanita. “Aku tidak pernah menemukan pria sesempurna dirinya. Memang papa adalah pria yang baik, tapi Max terasa lebih hebat. Bersinar sangat cemerlang. ” Setelah itu aku dan Max makan di ruangannya. Wil sudah memesankan makanan karena meeting marathon ini membuat kami tidak ada waktu makan. “Anda akan terbiasa nantinya dengan keadaan ini.” Wil berbicara padaku saat Max pergi ke kamar mandi. “Iya.” “Saya sudah mengirimkan jadwal Max selama sebulan. Periksa tab anda. Pastikan anda mencatat semua hal karena tugas anda adalah mengingatkan Tuan Max. Perhatikan cara berpakaiannya, kapan dia makan dan vitamin yang harus dia minum. Tuan Max harus terlihat sempurna dalam segala situasi dan kondisi.” “Baik.” Meeting terakhir adalah dengan kakeknya Max. Aku pernah melihatnya hanya melalui internet, salah satu orang terkaya di Eropa dengan ratusan bisnis di berbagai negara. Apa aku gugup? Tentu saja. Mungkin rasanya seperti bertemu dengan presiden atau raja atau calon mertua. Masuklah seorang kakek tua yang mungkin berumur 80 tahun, seluruh rambutnya sudah berwarna putih, memakai kacamata dan berjalan menggunakan tongkat. Dia duduk di sofa besar di ruangan Max. “Kakek, apa kabarmu? Kau sudah sehat?” “Aku merasa jauh lebih baik setelah pensiun. Bagaimana dengan pekerjaanmu?” “Wil banyak membantuku.” “Sudah tugas saya tuan.”, jawab Wil. Terdengar sederhana tapi terlihat dia sangat bangga akan apa yang sudah dia lakukan. “Dan siapa gadis kecil ini?”, tanya kakek melihat ke arahku. “Maaf Tuan Chesnov, saya belum memperkenalkan diri. Saya Valeri Lie, sekretaris Tuan Max.” “Ohh… kau sangat cantik.” “Terima kasih.” Aku tersenyum dengan ramah pada pria yang di panggil kakek itu. “Hal apa yang ingin kakek bahas?”, potong Max. “Kau tahu besok hari apa? Pulanglah.” Setelah terdiam beberapa lama Max akhirnya menjawab, “Iya. Aku akan pulang.” Selesai dengan semua pekerjaan hari ini aku dan Max pulang bersama. Mobil Max sudah siap di lobby, aku dan Max masuk ke dalamnya dan puluhan pasang mata melihat kami berdua. Apa dayaku? Yang penting aku tetap profesional dalam bekerja. Namun Max tidak mengantarkanku pulang ke apartemenku tapi dia mengajakku ke tempat lain, menyusuri jalan yang tidak aku ketahui. Mungkin dia ingin mengajakku makan, tapi perjalanan yang kami tempuh cukup jauh. Lagi pula sejak kedatangan kakeknya, Max menjadi lebih sedikit bicara. Perjalanan yang kami tempuh hampir 1 jam. Kami sampai di sebuah gedung apartemen yang jika dilihat dari luar ini adalah apartemen mahal dan elit. Max memarkirkan mobilnya di lobby dan segera petugas parkir membawa mobilnya. Max menggandeng tanganku sepanjang jalan. Aku hanya diam saja. Menang terasa canggung tapi aku tidak berani memprotes, sepertinya mood pria ini sedang tidak baik. Menyusuri lobby apartemen yang ornamennya lebih mewah dibanding apartemen tempat aku tinggal sekarang. Semua pegawai apartemen memberi hormat setiap kali melihat Max. Kami naik lift langsung ke lantai paling atas dengan kartu akses yang dimiliki Max dan begitu pintu lift terbuka aku dapat melihat ruangan yang sangat luas, ini adalah sebuah griya tawang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN