BAB XI

1077 Kata
“Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya.” “Jadi selama ini kau sudah tahu? Apa kau sudah tahu sejak aku mengatakan dimana aku melamar pekerjaan? Apa kau yang menyiapkan semua fasilitas yang tidak masuk akal itu?” “Ya.” “Kau sedang menipuku!?!” Max terlihat kaget. Dia tidak menyangka Valeri akan semarah ini. “Tidak.” “Jadi apa maksud semua ini?”, harga diriku agak tersentil setelah mengetahui kebohongan Max dan aku bersiap pergi dari ruangan itu. Masa bodo dengan pekerjaan, aku akan kembali ke negara asalku. “Jangan pergi. Memang aku sudah tahu sejak awal kau menyebutkan Chesnov Industry, aku juga yang membuatmu diterima disini…well selain memang kau adalah gadis yang cerdas, aku juga yang memberi semua fasilitas itu karena aku tidak mau kau kesulitan di tempat asing, aku tidak bermaksud menipumu. Sejak awal bukan begitu maksudku.” “Lalu?” “Entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi pasti aku akan memberitahumu suatu hari nanti.”, wajah Max terlihat kebingungan dan aku menangkap kegundahan hatinya melalui tatapan matanya padaku. “Aku sudah menempatkanmu menjadi sekretarisku.” “Bagaimana dengan pria bernama Wil itu?” “Dia sekretaris kakekku.” “Bagaimana tanggapan karwayan lain akan diriku karena bisa dibilang aku masuk jalur khusus.” “Apa perduliku dengan omongan orang lain. Kau disini karena kau cerdas, jika kau belum paham akan apa yang harus kau kerjakan, Wil atau pun aku bisa mengajarimu.” Aku masih tidak bisa terima dengan semua kebohongan ini, “Aku tidak bisa.” “Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri.”, Max memelukku seperti anak kecil yang takut di tinggal ibunya ke pasar. “Kau tahu, aku paling tidak suka kebohongan. Sepahit apapun itu, lebih baik kau mengatakannya langsung dari pada aku tahu dengan cara seperti ini.” “Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tetaplah disini ya?” Terlihat kilatan rasa bersalah, ketakutan dan cemas dari mata Max. “Baiklah. Tapi aku mau hubungan kita itu professional, bukan karena pertemanan kita.” “Iya. Aku berjanji.” “Jangan katakan pada siapapun bagaimana aku mengenalmu.” “Iya. Aku berjanji.” Akhirnya kami bersalaman tanda kesepakatan. Hari itu Max mengajakku keliling ke setiap lantai dan setiap departemen, dia juga menjelaskan padaku tentang bidang industri dari setiap lantai. Ternyata keseluruhan gedung ini mengelola berbagai bidang industri. Bisa di bilang ini adalah pusat pemerintahan Chesnov Industry dan aku benar-benar mengagumi perusahaan ini, rapi, bersih, berkelas, interior setiap lantai di tata sempurna. Aku juga diperkenalkan pada beberapa direktur yang aku temui. Semua orang di setiap lantai yang kami datangi juga memberi hormat pada Max dan diriku. “Apa tidak apa-apa mereka seperti itu padaku?” “Tidak apa. Nanti saat rapat perusahaan aku akan mengenalkan dirimu secara resmi. Untuk sekarang aku hanya menjelaskan garis besar tentang perusahaan ini.” Wil yang dengan setia mengikuti kami sejak tadi, “Tuan, berkas yang akan dipelajari Nona Valeri sudah saya siapkan di meja anda.” “Kau pelajari semua. Aku percaya kamu bisa. Setelah itu akhir bulan ini kita akan mengadakan rapat perusahaan.” Max memberi isyarat pada Wil agar membantuku. Aku membaca semua dokumen di ruangan Max sementara pemilik ruangan sedang menerima panggilan entah dari siapa. Pertama yang aku pelajari adalah sejarah perusahaan, lalu ada susunan organisasi perusahaan dan departemen, bidang industry yang di kuasai, ribuan karyawan yang ada di Chesnov Industry, para pegang saham, presentase pembagian saham, gaji karyawan, biaya-biaya yang dikeluarkan setiap bulan, keuntungan perusahaan, dan lain-lain sebagainya. Ini berbeda dengan apa yang aku terima di bangku perkuliahan. Ruang lingkupnya terlalu besar, aku yakin pasti dalam waktu seminggu pun tidak akan sanggup memahami semua. “Dia mau menjadikan aku sekretasi atau penggantinya? Lebih baik aku membawa dokumen ini ke apartemen dan mempelajarinya saat malam hari.” Tidak terasa waktu sudah malam. Jam pulang kantor pun sudah lewat beberapa jam yang lalu. Max juga ternyata sedang menungguku sedari tadi tapi aku terlalu tenggelam dalam berkas-berkas yang terlampau banyak ini. Otakku harus secepatnya menyerap semua dan aku membuat beberapa note agar mudahkan jika suatu hari membutuhkannya. “Kau sudah selesai?” Aku tersentak karena tidak menyadari ada orang lain disini. “Kau sudah selesai menerima telepon?” “Sudah dari 5 jam yang lalu.” “O ya?” aku melihat ke jendela ternyata sinar matahari sudah berganti dengan temaram lampu kota Moskow. “Maafkan aku, kau jadi menungguku.” “Tidak apa. Kau lapar? Ayo kita makan malam.” “Baiklah.” Aku merapikan dokumen-dokumen itu dan memilah mana yang akan aku bawa pulang untuk aku pelajari. “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membawa pulang pekerjaan?” “Aku ingin membacanya nanti malam.” “Tidak perlu. Setiap karyawan disini dilarang membawa pekerjaannya ke rumah. Di rumah adalah waktu untuk keluarga. Kakek sudah mendesignnya seperti itu, jadi tidak akan ada orang yang menghubungimu tengah malam hanya untuk menanyakan soal pekerjaan. Lagi pula Wil sudah memasukkan softcopy semua dokumen itu ke dalam tab ini. Tab ini terhubung dengan semua departemen. Jadi setiap perubahan akan langsung terbaca di tab ini.” Max memberikan aku sebuah tab yang berukuran 14”. “Kenapa dia tidak bilang dari tadi? Aku sudah susah-susah membuat banyak catatan.” Mobil Max menyusuri pinggiran sungai dan mengantarkan kami di sebuah restoran. Tampak dari luar restoran itu tidak terlalu ramai. Begitu memasukinya aku disambut oleh aluna musik dan nuansa teduh. Ada beberapa meja yang terisi tapi kebanyakan dari mereka berpasangan. Pelayan membawa kami ke meja yang bersebelahan dengan jendala, dan ternyata tepat di sebelah jendela ada sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Sungai yang membeku memantulkan cahaya lampu. Entah karena terbawa suasana, tapi pemandangan hari ini benar-benar indah. “Kau suka tempat ini?”, Max memecahkan lamunanku. “Ya. Aku suka. Ini sungguh cantik.” “Yang paling cantik disini adalah dirimu.” Max terus memperhatikan wajah Valeri yang bersemu merah karena cuaca dingin. “Apa yang mau kau pesan?” Setelah membaca menunya dan aku tidak mengerti, “Kau saja yang pesan.” Max lalu memanggil karyawan dan memesan 2 menu yang sama sambil aku kembali menatap ke arah jendela. Kami tidak saling bicara, hanya menikmati malam ini dalam diam. Tak lama pelayan membawa pesanan kami. Hati angsa dan red wine. Terus terang aku tidak pernah makan masakan ini, yang aku tahu hati angsa adalah salah satu makanan paling mahal di dunia. Saat aku mencicipinya ada rasa amis tapi sedikit asin dan gurih. Untuk menghilangkan rasa amis itu adalah dengan meminum wine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN