Setelah Max pulang aku segera mandi dan merapikan barang-barang belanjaanku. Lalu menelepon papa dan mama serta mengirimkan foto-foto perjalananku hari ini. Tidak lupa juga foto aku dan Max agar papa dan mama tidak penasaran. Ya, kami sempat mengambil foto bersama hari ini.
Lebih baik aku istirahat untuk hari esok. Perjuangan yang sebenarnya baru akan dimulai besok
Tidak lupa aku bermain game sebentar, sekalian menyapa Donny yang pasti merindukan sabahatnya.
Aku benar-benar gembira hari ini. Akhirnya aku menemukannya. Dia gadis yang masih murni. Tanpa sadar aku memeluknya dan tubuh kecilnya membuat aku bereaksi, untungnya aku segera sadar tapi dia masih menempel seperti anak koala. Benar-benar menggemaskan. Setelah seharian ini aku bersamanya, aku suka pada kepribadiannya. Dia energik, positif, pintar, berwawasan luas dan yang terutama dia sangat cantik.
Aku tidak sabar bertemu dengannya besok. Dia pasti akan sangat terkejut dan semoga saja dia mengerti.
Esoknya, pagi-pagi Max sudah menjemputku.
Dia sudah duduk sambil menonton TV menunggu aku berpakaian.
“Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat siap bekerja?”
“Kau terlihat professional. Ayo kita berangkat.”
Setelah perjalanan sekitar setengah jam akhirnya aku sampai di Chesnov Tower, sebuah gedung yang menjulang tinggi, mungkin sekitar 50 lantai jika dilihat sekilas dari luar.
“Oh gedung ini megah dan tinggi sekali. Aku gugup Max.”
“Santai saja. Kau mau turun lobby atau di basement?”
“Disini lobby saja. Terima kasih karena mengantarkankanku. Selamat bekerja Max.”
Mobil Max berhenti tepat di lobby dan security menyambut lalu membukakan pintu mobil untukku. Sebenarnya itu tidak perlu karena aku adalah karyawan disini dan bukan tamu atau pemilik perusahaan.
Yang tidak diketahui Valeri bahwa security mengenali Max yang ada di kursi pengemudi sebagai pemilik Chesnov Industry sehingga berpikir kalau Valeri adalah seorang tamu.
Begitu memasuki ruang lobby, nuansa elegan dengan arsitektur dan ornament Eropa sangat kental terlihat. Terdapat lampu gantung sangat besar di tengah ruangan, lantai mengkilat dari marmer berwarna hitam pekat dan orang-orang yang lalu lalang berpakaian rapi.
Di samping kanan dan kiri ada beberapa lift, di tengah ruangan besar itu ada meja resepsionis berbentuk persegi panjang dengan 3 orang wanita di baliknya.
Memang hari senin adalah hari yang sibuk, tal terkecuali di negara ini.
Untung saja Max memilihkan baju yang sesuai, kalau tidak aku bisa malu. Setelah itu aku menuju meja resepsionis dan memperkenalkan diri, salah satu dari resepsionis itu mengarahkanku langsung ke bagian sekretaris direksi.
“Silahkan anda naik ke lantai 46 melalui lift yang paling ujung dan langsung bertemu dengan sekretaris Wil.”
Aku masuk ke lift paling ujung. Setelah pintu lift terbuka, yang aku heran, kenapa hanya ada 1 tombol langsung ke lantai 46. Kemana tombol untuk lantai lainnya?
Begitu keluar dari lift aku mendapati lantai yang ditutupi karpet bermotif yang mayoritas berwarna merah. Ada sebuah meja resepsionis lagi di dekat lift. Berdiri seorang wanita yang berpakaian sama seperti resepsionis di lobby dan seorang pria kisaran 40-an.
“Permisi, saya Valeri Lie.”, begitu aku berbicara pada pria itu.
“Saya Wil. Silakan ikut saya.”
Aku di arahkan menuju koridor, dari kejauhan tampak ada 1 pintu besar.
“Maaf saya ingin bertanya. Saya akan ditempatkan dibagian apa?”, tanyaku di saat menyusuri lorong itu.
“Nanti anda akan tahu Nona Valeri. Silakan masuk, Tuan Chesnov sudah menunggu.”
Kami sampai di Chesnov Tower dan langsung menuju lobby dimana Valeri ingin diturunkan. Aku memberi kode pada security agar tidak memberi hormat padaku.
Setelah itu aku menuju basement untuk memarkirkan mobilku. Terlihat Wil sudah menunggu di depan lift basement.
“Selamat pagi tuan.”
“Selamat pagi Wil. Sudah kamu siapkan baju saya?
“Sudah saya siapkan di ruangan anda.”
Aku menuju ruanganku melalui lift basement yang langsung terhubung ke ruanganku di lantai 46. Sebelumnya agar Valeri tidak curiga aku memakai baju santai untuk mengantarnya bekerja. Setelah sampai di ruanganku, aku segera mengganti baju dengan pakaian formal dan menunggu gadis itu datang.
Aku gugup sekali. Kenapa aku harus menemui pemilik perusahaan? Memang aku mau ditempatkan di bagian mana? Harusnya aku sudah curiga, dari tiket pesawat dikelas bisnis, apartemen mewah dan uang saku. Semua itu terlalu berlebihan dan aku merasa dijebak. “Papa mama tolong aku.”
Bagaikan domba yang masuk tempat pencukuran aku hanya bisa berjalan pasrah. Aku sudah terlanjur menerima banyak fasilitas, jadi pembantu pun aku rela. Aku tiba-tiba teringat, aku punya hutang pada Max. “Haduh, habislah aku.”
Begitu memasuki ruangan dengan pintu besar itu, aku terkagum dengan interiornya. Simpel tapi elegan. Aku berani pastikan tidak ada yang murah dari barang-barang disini. Walaupun bukan orang kaya, aku tahu mana barang murah, barang palsu dan barang asli hanya dengan sekali lihat.
Ruangan itu dominan di penuhi jendela, sinar matahari bisa langsung masuk menerangi ruangan tanpa harus menggunakan lampu. Di dekat jendela sebelah kanan ada sebuah meja yang diatasnya ada mesin pembuat kopi dan berapa gelas dan piring kecil tersusun rapi. Di tengah ruangan ada beberapa sofa besar dan 1 buah meja yang pas untuk menerima tamu. Di sebelah kanan ada lemari yang berisi beberapa pajangan dan pengargaan. Aku tidak tahu pasti penghargaan apa itu, tapi pasti sesuatu yang penting. Ada pintu lain di samping lemari yang entah ruangan apa dibaliknya. Sebagai pusat dari ruangan itu ada meja besar yang di atasnya ada sebuah laptop, beberapa pajangan kecil, telepon dan ada papan nama yang dengan tulisan yang cukup besar MAXIM CHESNOV – CEO.
“Kenapa banyak orang bernama Max di Rusia, apa itu nama pasaran?”
Di balik meja itu ada sebuah kursi dengan sandaran kepala cukup tinggi, pastinya itu milik Tuan Chesnov. Karena kursi itu membelakangi meja, aku tidak bisa melihat orang yang duduk di atasnya.
“Tuan, Nona Valeri sudah datang.”
Setelah mengatakannya, pria bernama Wil itu pergi dari ruangan dan meninggalkan aku berdua dengan Tuan Chesnov.
“Selamat pagi Tuan Chesnov.”, sapaku memberanikan diri.
“Selamat pagi Valeri.”
“Kok suaranya seperti pernah denger ya.”
Kursi itu berputar dan aku bisa melihat pria yang aku kenal Max si penjaga hutan. Dia sangat tampan, terlalu tampan sampai lututku terasa lemas ketika dia beranjak dari kursi dan menghampiriku.