BAB IX

1009 Kata
Kami melanjutkan makan dalam diam. Setelah itu Max mengantarkanku ke apartemen dimana aku akan tinggal, membantu aku mengangkat tas-tasku, meminta kunci pada resepsionis, membawa tasku sampai kamarku dan saat aku membuka pintu apartemenku….wawww…ini di luar ekspetasiku. Ternyata apartemen ini sudah full furnish, semua sudah tersedia. Ini benar-benar berlebihan. “Max, apa kau tidak curiga? Ini terlalu berlebihan sedangkan aku belum bekerja sama sekali. Bagaimana jika mereka kecewa dengan kinerjaku?” “Nikmati saja Val dan lakukanlah yang terbaik untuk membalas semuanya. Sebaiknya kau beristirahat dan hubungi orang tuamu, mereka pasti khawatir.” “Baiklah. Sampai besok.” “Ya. Aku akan menjemputmu jam 8 pagi. Bye Val.” “Bye Max.” Aku membukakannya pintu dan tiba-tiba Max memelukku dan mencium puncak kepalaku, bernafas di atasnya seperti diriku adalah oksigen untuknya. Dia melangkah pergi dan aku menutup pintu sambil merasakan debaran di dadaku. Dia menggemaskan sekali. Aku sudah menahannya dari tadi untuk tidak menyentuhnya. Rambutnya wangi permen dan kulitnya lembut. Sabar Max, jangan terburu-buru. Dia kelinci kecil liar yang belum pernah disentuh. Mainkan cara halus dan dia akan menghampirimu dengan sendirinya. Max mengendarai mobil untuk kembali kediamannya dengan hati gembira. “Tuan, Tuan Chesnov sudah sadar dan mencari anda.” tiba-tiba Wil menghubungiku dan aku segera meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di sana aku melihat kakek sudah duduk diranjang. “Kakek, kenapa tidak istirahat?” “Kakek tidak apa, hanya kelelahan dengan semua pekerjaan. Kakek dengar dari Wil kalau kau sudah mengambil ahli perusahaan.” “Ya. Tapi aku akan kembalikan padamu.” “Kau mau aku masuk rumah sakit lagi ha? Kau pegang saja, aku sudah lelah, mau istirahat. Sudah cukup kau pergi bertahun-tahun.” Esoknya aku bangun pagi-pagi setelah semalam melakukan video call pada papa mama dan bermain game bersama Donny. Aku menunjukkan apartemen dimana aku tinggal dan mama terkagum dengan designnya. “Bagusnya tempat tinggal kamu. Yakin kamu ga harus bayar?” “Ga ma, ini fasilitas kantor.” “Kok mewah ya. Papa ga nyangka tempat kamu kerja segitu perhatiannya pada karyawan.” “Iya nih pa. Aku tidur dulu ya. Besok aku mau diajak jalan-jalan keliling kota Moskow.” “Sama siapa?”, tanya papa penasaran. “Max pa. Dia temen aku. Orangnya baik kok. Besok aku kenalin dia ke papa dan mama ya.” Max sudah datang sebelum jam 8, aku yang masih kebingungan mau mengenakan pakaian apa akhirnya harus membukakan pintu. “Hai Max, masuk.” “Apa aku kepagian?”, Max memasang wajah tidak berdosa, “Padahal semalam aku tidur malam sekali hanya untuk mencari destinasi wisata yang romantis.” “Tidak. Aku saja yang belum siap. Aku akan segera berpakaian. Duduklah dimanapun kau mau. Aku siap 10 menit lagi.” Aku meninggalkan Max yang sedang melepas sepatunya sebelum masuk ke apartemenku. Aku suka pengertiannya akan budaya Asia yang melepas alas kaki saat memasuki rumah. Akhirnya aku berpakaian sama seperti Max, supaya tidak salah kostum, jins, boot, kaos tebal dan jaket, serta topi dan sarung tangan yang sudah ada di kantong jaketku. “Aku sudah siap Max.” aku keluar kamar dan mendapati Max sibuk di dapur. “Kau keberatan jika aku menggunakan dapurmu? Aku membuatkanmu sarapan.” Terlihat 2 porsi sarapan sudah tersaji, nasi goreng. “Kau belajar memasak ini?” “Aku melihatnya diinternet. Apa kau suka?” Saat aku mencicipinya, “Ini enak Max. Sungguh.” “Haha…bagus lah kalau begitu.” Max mengajakku pergi ke berbagai tempat. Mulai dari museum, bangunan bersejarah, ke taman, menyusuri sungai, melihat jembatan dan juga mencoba berbagai kuliner khas Rusia. “OK aku suka yang ini tapi untuk yang ini tidak.” “Baiklah. Aku akan mengingatnya dan tidak akan memasak ini untukmu.” “Kenapa kau yang harus memasak?” tanya Valeri bingung dengan perkataan Max yang ambigu. “Tidak apa. Kau akan mengerti nanti. Untuk besok, kau sudah ada pakaian kerja?” “Aku punya beberapa.” “Mau beli baju lagi?” “Bukankah harga baju disini mahal? Nanti saja kalau aku sudah mendapat gaji pertamaku, lagi pula aku tidak tahu jabatan yang akan aku pegang.” “Pakai saja uangku dulu, anggap saja kamu berhutang padaku.” “Tidak perlu Max, nanti saja.” Max langsung menggandeng tanganku menuju butik yang kebetulan dekat dengan tempat kami berada sekarang. “Baju ini mahal sekali jika di kurs kan dengan mata uang negaraku. Tabungan yang aku bawa hanya untuk biaya hidup 3 bulan. Kalau aku beli baju sekarang aku tidak makan nanti.” “Jangan pusingkan.” Max memerintahkan pegawai toko untuk mengambil pakaian untukku setelah memperkirakan ukuran tubuhku. Terkumpul sekitar 20 pasang baju untuk musim dingin dan 30 pasang baju untuk musim panas juga beberapa sepatu, tas, topi dan syal. “Max, kau gila. Total belanjaanku sudah ratusan juta. Cukup.” Max hanya tersenyum melihat kepanikanku, “Semua untukmu Val, aku tidak akan bangkrut karena hal ini.” “Apakah gaji seorang penjaga hutan itu besar di negara ini?” Malamnya dengan belanjaan penuh di tangan kami, Max mengantarkan aku pulang tepat di pintu apartemenku. “Kau mau mampir dulu?” “Lebih baik tidak usah. Atau aku akan menerkammu. Lebih baik kau istirahat, aku jemput besok.” “Baiklah. Terima kasih untuk pertolonganmu selama ini. Aku akan membalasnya setelah aku menerima gaji.” Tiba-tiba Max memelukku dengan erat. Tubuh besarnya seperti menyelimuti tubuhku. Sangat hangat dan aku suka wangi parfumnya, ada aroma maskulin dari after shave juga. Tanganku reflex ikut memeluknya, tapi tidak bisa sampai sepenuhnya memeluk Max karena tinggi badanku dan Max terpaut lumayan jauh. “Ini nyaman sekali, hangat.” Rasanya cukup lama kami berpelukan, tanpa sadar aku memejamkan mata, tidak pernah aku merasakan pelukan senyaman ini selain pada papa mama. “Bisakah kau melepaskan aku Val?” Aku tersadar, ternyata pelukan Max sudah terlepas dari tadi, tapi aku masih memeluknya. “Oh maaf. Kalau begitu hati-hati di jalan dan selamat malam.” aku benar-benar malu. “Selamat malam Valeri, mimpi indah. Sampai ketemu besok.” “Bye Max. Jangan salah paham Val. Bisa jadi itu hanya salah satu bentuk keramahan orang-orang barat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN