Esoknya, dihari Minggu.
“Val…bangun. Ayo bangun. Sebentar lagi temen mama dan anaknya mau datang.”, teriak mama dari depan tangga lantai 1.
“Oohhhhhhh!!!!...Ya maaa.” Aku menendang selimutku karena kesal, pasalnya ini baru jam 6 pagi. Emang mereka datang jam segini mau lari pagi atau mau ngapain?
Aku berjalan dengan gontai ke kamar mandi. Untungnya kamar mandi aku ada bath tub-nya, jadi bisa malas-malasan sambil mandi.
Selesai ritual mandi aku memakai celana jogger dan kaos oblong. Dengan rambut masih agak basah aku turun ke lantai 1 menuju sumber suara dimana ada kegiatan di area dapur. Terlihat mama sedang menyiapkan hidangan.
“Ma…emang yang dateng berapa orang?”, tanyaku sambil membuka kulkas untuk mencari s**u. Sudah besar gini aku masih suka minum s**u loh.
“Eh kamu sudah mandi. Yang dateng cuma 3 orang kok. Loh kok kamu pakai baju begitu, pakai gaun yang mama beliin tahun lalu dong. Mama beli buat dipakai, bukan buat pajangan.”
Pagi-pagi pakai gaun? Bener-bener nih mamaku, emang mau kekondangan apa. Aku hanya ngeloyor pergi tanpa menghiraukan omongan mama yang ga ada habisnya kalau ditanggapin.
Aku pergi menuju taman belakang rumah dimana papaku berada.
Papa sedang merawat pohon-pohon bonsai-nya. Papa punya banyak tanaman bonsai dari berbagai jenis dan ukuran. Hobi itu dimulai sejak papa dan mama pergi ke Jepang tahun lalu dalam rangka aniversary pernikahan peraknya.
“Pa…masih aja suka bonsai.” Papaku melihat ke arahku dan tersenyum.
“Papa ini sudah tua. Dari pada papa pikun karena bengong-bengong, lebih baik papa berkebun.”
“Mana ada papa itu tua. Papa masih keren gitu kok ya.”
Orang tua mah paling suka dipuji. Puji aja biar papa seneng. Bener aja papaku langsung sumringah.
Tak berapa lama, ada sebuah mobil berhenti di depan rumahku. Aku menduga itu tamu yang di tunggu mama. Mama yang sejak tadi di dapur tiba-tiba keluar menyambut.
“Diana. Sudah lama tidak ketemu.”
“Bukannya arisan mama itu 1 bulan sekali ya? Emang sebulan itu waktu yang lama apa sampai sekangen itu?”, kataku dalam hati sambil melihat mama dan tante yang namanya Diana itu berpelukan.
Terlihat turun dari mobil pria paruh baya yang seumuran papa, itu pasti suaminya tante Diana. Diikuti juga cowok yang keliatan berumur 20-an menyusul turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya.
“Ini pasti anaknya tante Diana. Lumayan.”
Tiba-tiba mama menarik tanganku.
“Kenalkan ini Valeri anakku satu-satunya.”
“Valeri”, aku mengulurkan tanganku pada tante Diana.
“Aduh, anakmu cantik sekali.” tante Diana mengelus rambutku. “Ini anakku yang kedua, baru pulang dari Amerika.”
Dari belakang muncul cowok yang tadi memarkirkan mobilnya, “Roy.” Dia mengulurkan tangannya padaku dan aku membalasnya.
Kami sudah duduk di ruang makan. Hidangan yang banyak dan lengkap sudah terhidang dimeja. Kayanya makanan segini kebanyakan kalau hanya dimakan berenam.
Sambil makan mama dan tante Diana mengobrol masalah fashion yang tidak aku mengerti. Sedangkan papa dan suaminya tante Diana membicarakan pertandingan sepak bola yang kemarin tayang di televisi. Lalu aku dan Roy hanya diam seribu bahasa.
“Dilihat dari cara makannya, kelihatan sopan. Tidak bersuara dan tidak rakus. Tidak seperti aku…hahaha….Lumayan ganteng juga.” Diam-diam aku mengamati tingkah laku Roy yang katanya mau dijodohkan denganku.
Sebagai anak yang tahu sopan santun, aku tidak mungkin bersikap tidak ramah pada tamu. Walaupun aku tidak suka dijodohkan, tapi aku tidak perlu menunjukan sikap ketidaksukaanku
Selesai makan kami melanjutkan pembicaraan di ruang keluarga sambil minum teh.
“Jadi begini loh. Kedatangan kami kesini untuk mempertemukan anak saya dengan putrimu. Kalau cocok kita bisa melanjutkan kejenjang berikutnya.”
Tante Diana memulai pembicaraan dan disambut senyuman oleh semua orang.
“Tidak perlu terburu-buru. Biar mereka saling mengenal dulu.”
Sahut mamaku dan aku hanya diam melihat mereka tertawa-tawa tidak jelas.
“Valeri, ayo ajak Roy melihat taman sambil kalian bisa saling kenal.”
“Ya ma.” Aku beranjak dari kursi menuju taman belakang diikuti Roy.
Aku mengajak Roy keliling melihat pohon-pohon yang ditanam papa. Tapi kami tidak saling bicara, aku juga tidak tau mau bicara apa. Lebih baik diam dan menunggu dia yang bicara. Aku pikir laki-laki yang harus maju duluan.
Sekitar setengah jam dan kakiku sudah mulai pegel tapi dia hanya diam saja.
“Kita masuk aja ya? Ga da yang mau dilihat lagi kan?”, aku mulai bosan. “Dan masalah perjodohan, lupakan saja. Aku belum mau menikah.”
“Tapi kita belum kenalan.”
“Uda kok, saya Valeri dan kamu Roy.” jawabku sambil melihat tepat ke arah matanya. “Emang kamu setuju dengan perjodohan ini?”
“Aku tertarik sama kamu.”
“Aku ga. Jangan ngomong macem-macem ya sama orang-orang di dalam.”
Roy hanya mengangguk dan melihat aku melenggang pergi.
Sekitar siang hari Roy dan keluarganya sudah pulang. Dan tinggallah mamaku yang mulai menyelidiki.
“Gimana Roy? OK kan anaknya?”
“Yah lumayan ma. Ma aku balik kampus ya, besok aku ada bimbingan skripsi pagi sama dosen.”
“Lah kok gitu aja. Terus perjodohannya gimana?” Mama terlihat kebingungan.
“Aku ga tertarik untuk nikah ma. Nanti aku bakal nikah, tapi ga sekarang. Aku baru 20 tahun, aku harus kerja dulu. Aku ga mungkin tergantung sama papa mama terus.”
“Anak papa sudah dewasa.”
Papa mengelus-elus kepalaku tanda pembelaannya.
Mama hanya bisa jengkel melihat kekompakan anak dan ayah.
“Kalian selalu begitu, ga pernah setuju sama apa yang mama omongin.”
Mama pergi meninggalkan aku dan papa yang tertawa cekikikan.
“Biar papa yang bicara sama mamamu. Kamu kuliah saja yang tenang.”
Dosen pembimbing skripsiku adalah seorang profesor yang sudah sangat tua. Terlihat dari keriput dan bintik-bintik tanda penuaan dihampir sekujur tubuhnya.
“Secara keseluruhan, skripsi yang kamu buat sudah selesai. Tinggal tunggu sidang saja. Saya acc dan kamu minta jadwal sidang nanti sama pengurus ya.”
“Baik prof. Terima kasih. Saya permisi.” Aku tersenyum bahagia karena perjuanganku tinggal selangkah lagi.
Saat aku memegang handel pintu untuk keluar dari ruangan dosen, “Valeri, tunggu.” Dosenku kembali memanggil.
“Ya prof? Ada apa lagi?”
“Kamu adalah salah satu mahasiswi yang berprestasi. Saya mau menawarkan pekerjaan. Itu juga kalau kamu tertarik. Ini, hubungi nomor ini dan bilang kamu direkomendasikan oleh saya.”
Dosen itu memberikanku kartu nama.
“Untuk transkrip nilai sementara, kamu juga bisa minta pada pengurus.”
Aku mengambilnya dan mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruang dosen dengan hati gembira.
“Belum lulus aku sudah dapat kesempatan kerja. Terima kasih Tuhan.”