Pada akhirnya gue menyerahkan kunci mobil gue ke Ali dan berakhir berangkat bareng sama Mas Juna, walaupun senyuman dan ledekan bahagia terlihat jelas dari raut wajah Ali tapi itu semua sangat berbeda jauh dengan ekspresi beberapa mahasiswi di kantin sekarang, mereka semua menatap gue dengan tatapan menilai. Gak cukup dengan ucapan Ali tadi, kehadiran Mas Juna di tengah-tengah gue sama Ali aja udah bikin mahasiswi rusuh, mereka terus melirik gue dengan tatapan gak suka, "Kenapa harus gue? Kenapa dengan pilihan Pak Juna? Masih banyak perempuan lain yang jauh lebih baik tapi kenapa harus Aya?" Hah? Gue memenyunggingkan senyuman gue tanpa dasar. Penilaian Ayah bahkan Ali bukan tanpa alasan, mereka berdua menganggap Mas Juna layak untuk gue karena di lihat dari segimanapun, Mas Juna memang s

