Di rumah, gue duduk termenung di depan meja belajar gue sembari mulai melirik ke arah luar yang sekarang sangat sepi, hujan yang mulai turun dan mengguyur dengar derasnya membuat sore gue hari ini terasa semakin menyedihkan, air mata yang sedari tadi gue tahan juga perlahan mulai lolos dengan sendirinya, gue membiarkan air mata gue mengalirkan dan mengeluarkan isak tangis gue sekang, gue ingin merasa lebih lega dan ini adalah satu-satunya cara yang gue punya sekarang, gue gak mungkin cerita sama Uni atau Ali karena mereka jelas-jelas gak akan ngerti dengan perasaan gue, cerita ke Ayah juga gak mungkin, Ayah gak tahu apapun. Disaat kaya gini, pemikiran gue malah balik tertuju untuk Mas Juna, apa gue masih bisa cerita sama Mas Juna mulai sekarang? Jawaban gue tadi kayanya beneran membuat Ma

