8

1149 Kata

Delapan kali Vianka memeriksa gedung pernikahan, delapan kali pula dia mesti mengucapkan maaf pada pihak pemasaran gedung perihal kepastian menggunakan gedung itu. Tidak lain karena penolakan Maminya. Ada saja alasannya, entah itu kawasan macet atau gedung yang rumornya bekas pemakaman sampai alasan paling tidak wajar, arah muka gedung itu melawan arah mata angin. Dengan kesal Vianka menghentakan kakinya. Lelah memutari Jakarta hanya untuk menemukan tempat resepsi. "Udah deh, Mami mau tempat resepsi pernikahanku dimana?" Vianka yang kadung kesal bertanya setengah menjerit, melampiaskan emosinya. Mereka baru saja keluar dari gedung serba guna di daerah Kuningan yang menurut Vianka sudah OK, tapi ditolak Mami. "Mami kepikiran di Bali, Say," jawab Dewinta tanpa rasa bersalah. "MAMIII!" Vi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN