Sembilan kali Kenio bolak-balik kamar mandi. Cairan di kantong kemihnya terasa belum habis. Wajar saja, sehabis buang hajat Kenio minum sebotol air mineral sampai tak bersisa. Dirinya tengah dirundung kepanikan. Kenio pernah berada dalam situasi serupa sebelas tahun lalu. Setelah punya satu pengalaman menghadapi pernikahan, Kenio masih merasakan cemas mendekati waktu pernikahan. Kasyaf yang sejak tadi menonton TV terganggu. Pasalnya sang ayah hilir-mudik di depan TV yang dia tonton. Kepala Kasyaf sudah geser kanan-kiri, ayahnya masih saja tidak berhenti bergerak. "Ayah kenapa mondar-mandir melulu?" tanya Kasyaf. "Ayah gugup, Nak." Kenio butuh mengungkapkan perasaannya. Kasyaf merupakan pilihan satu-satunya. "Gugup kenapa?" Seharusnya Kenio ingat umur Kasyaf. Puteranya tentu tidak paha

