Bab 3. Tetangga

1048 Kata
Udin turun dari kendaraan roda duanya, ia masuk ke mini market untuk membeli minuman segar. Hari ini cuacanya cukup panas, membuat tenggorokan kering–rasa haus meluas hingga membuat tubuhnya menjadi gerah. Wush! Rasanya adem sekali saat ia masuk. Ia menelisik lemari pendingin yang berjejer di pojok sana. Mengambil minuman kaleng, tetapi tidak bersoda. Ia mengantri untuk membayar satu minumannya. Antariannya cukup panjang. Di belakangnya juga terdapat beberapa orang yang berdiri—ikut mengantri. Udin meletakan dua kaleng minuman itu dan mengeluarkan kartu kredit, lalu memberikannya pada kasir. "Wah, ini tidak bisa, Kak," ucap kasir itu setelah mencobanya. Kening Udin mengkerut, tak biasanya seperti ini. Kemudian ia mengeluarkan kartu yang satunya lagi. "Ini, Mbak." Kasir dengan jilbab yang dililit di leher itu mencoba kartu yang Udin berikan. Namun, tetap saja tidak bisa. "Kartunya mati, Kak. Maaf tidak bisa." "Ha? Ngga mungkin, Mbak. Saya ini sultan ... eh! Maksudnya biasanya bisa kok." "Saya beli coklat ini, Mbak. Saya bayarin punya dia," kata seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Shera. Udin tentu saja terkejut melihat keberadaan Shera. "Lo?" "Hai," sapa Shera sambil menunjukkan sebuah senyum. "Terima kasih, Mbak," ucap Shera pada kasir itu setelah selesai melayaninya. Shera segera melenggang, sebab di belakangnya masih banyak orang yang mengantri. Ternyata pertemuan keduanya tak hanya sampai di situ, Shera diam-diam mengikuti Udin hingga ke depan rumahnya. Udin yang menyadari tentu saja was-was. Shera tampak terdiam saat Udin turun dari motornya. Udin pikir, gadis itu ingin menagih hutangnya. Jadi cepat-cepat ia masuk ke rumah untuk mengambil uang kes lalu diberikan kepada Shera. Shera cukup kaget saat melihat Udin masuk ke rumahnya. Ia baru tahu bahwa Udin adalah tetangganya. Rumah Shera yang berada tepat di samping rumah Udin memang tak terlihat seperti rumah pada umumnya. Bentuk rumah Shera aneh, lebih tepatnya gerbangnya menjulang tinggi melewati batas tingginya rumah. Dari kecil, Shera tak pernah main keluar. Ia menganggap dirinya sendiri sebagai gadis fajar, sebab hanya waktu fajarlah Shera diizinkan keluar, saat itu orang-orang masih tertidur dan Shera akan berjalan sendiri menikmati lingkungan rumahnya. Bagi sela Udin adalah orang baik, ia sebetulnya anak baru yang belum mempunyai kawan, tapi sayang Udin malah kelihatan takut dengan sikap Shera. "Nih gue balikin, utang gue yah!" Udin segera berlari meninggalkan Shera. Shera menerima uang itu sambil tersenyum senang. Bukan karena menerima uangnya, tetapi karena ia senang bisa melihat mata itu lagi. Shera melanjutkan langkahnya, masuk dan mengunci gerbang rapat-rapat. *** "Dari mana?" Shera menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria yang berstatus sebagai ayahnya sedang berdiri di depan anak tangga. "Sebelum pulang, Shera beli coklat dulu, Yah," jawab Shera sambil tertunduk takut. "Jangan karena ayah beri kamu kesempatan untuk sekolah di luar kamu jadi badung!" "Masuk!" seru pria bertubuh besar itu. Shera menyalami pria setengah baya itu, lalu segera naik ke kamarnya. Di hari ulang tahunnya beberapa Minggu lalu, Shera memang memohon agar dirinya bisa seolah di luar. Karena sudah sejak lama ia sekolah di rumah atau orang lebih sering menyebutnya homeschooling. Alasannya karena Tuan Hard terlalu khawatir jika seseorang membawa Shera lalu melenyapkannya, seperti kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa mendiang istrinya—mati dalam keadaan tragis. Setibanya di kamar, Shera segera menyibak tirai dan dengan gerakan cepat ia mengambil sebuah teropong dari lacinya. Teropong itu adalah hadiah ulang tahun Shera dari abangnya, ia meminta itu untuk melihat seperti apa kehidupan di luar sana. Namun sayangnya tembok yang menjulang tinggi sebagai pembatas sekaligus gerbang rumahnya terlalu tinggi, sehingga Shera tidak bisa melihat apa-apa. Shera pergi ke balkon, ia berdiri jingjat untuk melihat Udin—tetanggnya. "Akh!" desah Shera, sebab ia masih juga tak bisa menembus pandangan tembok itu. "Kenapa temboknya tinggi banget, si!" Suara pintu membuat Shera segera turun dan menyembunyikan teropong itu. Ia takut ketahuan ayahnya. "Shera kau di mana?" Shera menghela napas lega setelah mendengar suara itu. Ternyata itu adalah kakaknya. "Hei, kau di sini?" "Ngagetin aku aja!" "Sedang apa di sini?" Shera menggeleng sambil tersenyum. "Bagaimana hari pertama sekolahmu?" *** "Kenapa ATM gue lo blokir, hah?" Wanita yang mendapat protes dari sang adik tetap menulikan pendengarannya. Ia memakan kacang dengan santai seolah tak menganggap kehadiran Udin. "Woi!" bentak Udin. Kakaknya ini memang seringkali mencari gara-gara. Mentang-mentang sekarang Misya yang mengatur keuangan, dia seenaknya saja. Pikir Udin. "Lo itu terlalu boros, makanya gue blok!" "Boros darimana? Gue aduin ke bokap baru tau rasa lo!" "Eit! Santai aja Din, gue cuma bercanda kok—" "Bercanda kepala lo pea! Gara-gara lo, gue jadi malu tau gak bisa bayar minuman!" Mendengar itu Misya malah tertawa. "Yang bener? Terus-terus gimana?" Nada Misya terdengar mengejek. "Wah, nih anak!" Udin mendekati kakaknya hendak mencekik lehernya. "Stop!" cegah Misya. "Gue lakuin ini, cuma pengen balas dendam." "Dendam? Dendam yang mana?" Dahi Udin membentuk guratan-guratan kecil. "Pura-pura amnesia lagi lo! Gak ingat satu Minggu yang lalu udah ngelakuin apa sama gue?" "Nggak!" "Adik lucnut!" Misya menoyor kepala Udin membuat sang empu meringis. "Lo udah bikin Rangga ilfeel sama gue." "Oh itu. Ya, emang bulu ketek lo panjang kan?" Seat! Misya membekap mulut sang adik secara sepontan. Memang mulut Udin sangat perlu difilter. Minggu lalu, Udin memang iseng menunjukan foto sang kakak yang sedang tertidur. Saat itu Udin menunjukan pose Misya yang sedang menunjukan bulu keteknya yang masih panjang. "Kalo si Rangga ilfeel, berarti dia bukan cowok yang baik. Dia gak bisa nerima kekurangan lo! Bedain sama gue, tiap hari gue liat ketek lo yang item itu, gue masih tetep baik sama lo, gak pernah ilfeel." "Kurang asem lo! Ini nih ...  kebanyakan gabut, pake nunjuk-nunjukin foto gue ke si Rangga. Eh, Din,  mending cari pacar sono!" "Ogah!" "Kenapa? Gak laku lo?" "Emangnya gue barang? Gue mau fokus sekolah dulu. Emangnya lo!" "Heleh ngomongnya fokus sekolah, tapi tiap tahun nilai jeblog!" tandas Misya seraya memonyongkan bibirnya. Perdebatan masih berlanjut antara kaka- beradik itu. Misya maupun Udin tak mau ada yang mengalah. *** Shera sudah cukup lama berdiri di depan gerbang rumah Udin. Setelah melihat matahari terbit, Shera tak langsung ke sekolah, ia berencana akan mengajak Udin berangkat bareng. Untunglah setelah beberapa saat kemudian, Udin keluar dengan motor Vespa yang menjadi ciri khasnya. Melihat keberadaan Shera, Udin terhenyak. "Ngapain nih cewek ada di sini?" batin Udin. "Aku mau–" "Duit kemarin belum cukup yah? Sebentar ..." Udin mengambil uang di saku seragamnya dan memberikannya pada Shera. "Nih, hutang gue lunas 'kan?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN