Bab 4. Kesalahpahaman

1229 Kata
Shera terdiam sesaat kala menerima uang itu. Ia menghela napas. Rupanya Udin tidak peka kenapa dirinya berdiri lama sekali menunggu pria itu. "Bukan! Bukan!" ucap Shera seraya mengembalikan uangnya. Udin menatap heran. "Terus ngapain sepagi ini lo ada di komplek rumah gue?" "Aku cuma mau ngajakin kamu berangkat bareng ke sekolah," jawab Shera sambil tersenyum. "Ha?" Udin menyeringai tak percaya. Seseorang dengan tiba-tiba membuka gerbang. Wanita yang berpakaian ala sekertaris kantor itu menghampiri Udin dan Shera. "Wah, siapa nih?" kata Misya melihat ada seorang gadis sedang berbicara dengan sang adik. Pemandangan yang cukup langka, sebab mana pernah ada cewek yang datang ke rumah menjemput Udin. "Cewek lo, yah?" goda Misya dengan senyum jahil. "Bukan!" bantah Udin cepat. "Gebetan?" "Gak usah kepo deh lo! Huss sana pergi!" usir Udin seraya mendorong tubuh sang kakak. "Jangan mau sama Udin, dia gak normal!" bisik Misya yang masih bisa terdengar oleh Udin. Misya cepat-cepat masuk ke dalam mobil, kebetulan pacarannya sudah datang menjemput. "Njir! Gue normal woi!" teriak Udin. Udin berbelot  pada Shera lagi. "Sorri ya, motor gue gak muat. Gue duluan!" Udin menancap gas-nya dan pergi meninggalkan Shera. Shera tersenyum kecut. Namun setelah beberapa saat kembali mengukir senyum ceria. Tak berapa lama mobil sedan berwarna silver berhenti tepat di depannya. Shera tampak familiar dengan mobil itu. "Kakak anterin kamu ke sekolah, ya?" "Kak Malik?" Setelah pengemudi membuka jendela mobilnya. "Ngga usah kak, Shera kan udah hafal jalan ke sekolah." "Udah, Kakak anterin aja, nanti yang ada kamu kesiangan." "Tapi, Kak Malik kan ada kelas pagi?" "Gampang gue mah, yu naik," ajak sang kakak sambil menyalakan mesinnya. Shera mengagguk kecil dan masuk ke dalam mobil itu. *** Udin mengendap-endap masuki kelas Icha. Di kelasnya tak ada siapa pun kecuali seorang cewek yang tengah membaca buku di pojokan. Udin tak bisa melihat wajah cewek itu sebab terhalang oleh buku yang tengah dibacanya. Perlahan Udin membuka resleting tas milik Icha, tentu saja tujuan Udin hanya ingin mengambil komik miliknya yang ditahan oleh Icha. Saat ini Icha memang sedang berada di kantin, sarapan bersama teman-temannya. Jadi Udin mengambil kesempatan ini untuk melancarkan aksinya. "Kamu lagi ngapain?" Udin hampir saja jantungan. Suara Shera mengagetkan Udin. Ya, cewek yang tengah membaca buku tadi adalah Shera. Shera pun terkejut melihat Udin berada di kelasnya. "Ngagetin gue mulu. Bukan urusan lo!" ketus Udin dan segera terbirit dari kelas bersama dengan komiknya yang sudah berhasil diambil. Shera menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Matanya teralihkan pada tas Icha yang terlihat terbuka. Shera mendekati tas itu lalu menutup reseleting yang tampak terbuka lebar. Namun niat baiknya malah menjadi bencana, sebab Icha tiba-tiba datang dan mencegah tangan Shera lalu menepisnya dengan kasar. "Ngapain lo buka-buka tas gue?" sambar Icha galak. "Tasmu tadi kebuka." Sahutan Shera tidak dihiraukan, karena Icha beralih pada tasnya. Ia memeriksa uang kas kelas yang ia simpan di dalam tas. Icha mempunyai posisi sebagai bendahara kelas dan melihat Shera, ia mempunyai rasa curiga saat gadis itu mengotak-atik tasnya. Mata Icha terbuka lebar saat melihat uang itu tidak ada dari tempatnya. "Lo maling?" sentak Icha membulatkan matanya bak bola basket. "Seriously?" kata Becca—temannya Icha yang ikut-ikutan. "Bukan! Aku bukan maling. Tadi itu aku cuma–" "Halah, mau alasan apalagi lo? Uang kas hilang dan cuma ada lo di sini." "Beneran Cha?" "Iya, Bec. Orang Icha simpen uangnya di tas, tapi ngga ada." "Mending lo ngaku deh murid baru!" "Balikin uangnya, itu bukan uang Icha!?" "Aku gak nyuri—" Shera tak diberi kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan, keburu banyak orang yang berhamburan datang ke kelas. Icha marah-marah dan menggeledah isi tas Shera, tetapi sayang Icha dan yang lainnya tak menemukan apa pun. Meski tak menemukan bukti, tetapi meraka masih belum puas, mereka membawa Shera ke toilet dan memeriksa tubuhnya di sana. Shera benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, semua orang tidak ada yang mempercayainya, tidak ada orang yang ingin mendengarkannya. Setelah itu mereka membawa Shera ke ruang BK dan mengadukannya pada Bu Ois selaku guru BK. Seperti yang sudah-sudah, Shera mengaku bukan dirinya pelaku pencurian itu. Shera sendiri tidak tahu kemana uang yang dimaksud Icha. Shera hanya berniat untuk menutup reseleting tasnya dan Shera sadar kepeduliannya itu hanya menimbulkan petaka baginya. Setelah mengintrogasi Shera dan mendapat bantahan darinya, Bu Ois memang tidak berhak main hakim sendiri. Tak ada bukti juga yang bisa menunjukan bahwa Shera bersalah. "Kamu sudah periksa isi tas Shera, Cha?" "Udah, Bu. Tapi gak ada. Hebat banget dia nyembunyiin uangnya." Bu Ois bergeleng mendapat jawaban dari Icha. Kelihatannya Icha benar-benar sudah kesal dengan Shera. Ia kekeh bahwa pelakunya ada murid baru itu. "Tadi pagi ada siapa di kelasmu? Atau orang yang datang ke kelasmu?" tanya Bu Ois pada Shera. "Cuma ada dia di kelas, Bu. Kalo ibu gak percaya tanya aja sama Rebecca," sambar Icha sembari menoleh ke Rebecca. Rebecca memberi anggukan mantap seolah memang benar Shera lah pelakunya. "Saya tidak tanya kamu, Icha!" tegas Bu Ois. "Shera, jika kamu bukan pelakunya, barangkali kamu melihat orang yang masuk ke kelas kamu?" tanya Bu Ois pada Shera. *** Keributan dan gunjingan mengenai Shera murid baru yang dikira pencuri tersebar luas ke penjuru kelas bahkan di kelas IPA2 tak henti-hentinya membicarakan nama gadis itu. Kecuali orang yang sedang menikmati komiknya. Cowok itu berdiam di bawah meja sambil fokus dengan komik karya Kazue Kato yang sedang buming-bumingnya di tahun 2017 ini. Seperti tak mau ketinggalan membaca satu kata pun, Udin begitu menghayati setiap halamannya. Ketika ia membuka halaman selanjutnya, uang pecahan lima puluh ribu dan lima ribuan berjatuhan dari dalam komiknya. Udin tersentak kaget dan memungutinya. "Uang siapa ni?" "Perasaan gue gak punya uang receh kayak gini?" Udin kembali bercuit. Sejurus kemudian, ia baru tersadar. "Jangan-jangan uang si Icha?" Udin bangun dengan membawa uang tersebut. Ia beranjak menuju kelas Icha saat itu juga. Akan tetapi sayang sekali, bell keburu berdering dan guru yang akan mengajar ke kelasnya keburu datang membuat Udin putar balik dan tak jadi ke kelas Icha. Wildan mengemas buku-buku yang berserakan di meja, ia menyimpannya ke dalam loker yang ada di belakang kelas. "Udah habis komik lo?" tanya Wildan. Kebetulan di sebelahnya ada Udin yang juga sedang merapikan bukunya ke loker. "Belum–eh, gue lupa ...!" Udin menepuk jidatnya dan langsung berlari menuju kelas Icha. Sejak belajar tadi Udin tidak fokus memikirkan uang yang berada pada dirinya. Entah kenapa, ia tidak tenang karena uang itu. "Eh, Din mau ke mana?" teriakan Wildan rupanya tak sampai pada telinga Udin yang keburu menjauh. Di kelas Icha hanya ada beberapa orang saja. Udin tahu kemana sebagian siswa itu pergi, sebab saat ini jam istirahat sedang berlangsung. "Si Icha ke mana? Lo ada liat gak?" tanya Udin pada cewek berkaca mata yang entah siapa namanya. "Si Icha kayaknya masih di ruang BK," jawab cewek tersebut. "Di ruang BK?" lirih Udin. "Ngapain tuh anak di sana?" "Tadi pagi ada yang maling uang kas kelas kita. Murid baru yang baru pindah beberapa hari yang lalu ketangkap lagi buka-buka tas si Icha," terang gadis itu membuat Udin menyadari apa yang sudah ia lakukan adalah kesalahan besar. "Jangan-jangan uang ini ...." Udin tak melanjutkan kata-katanya, ia bergegas ke ruang BK—berlari secepat kilat. Sesampainya di sana, Udin terkejut melihat banyak orang di dalam sana, termasuk cewek yang akhir-akhir ini sering bertemu dengannya. "Saya panggil bapak ke sini, karena anak bapak kedapatan mencuri." Hard mendongak dengan kening mengkerut. Wajahnya yang terlihat galak dan tegas semakin menambah aura ketajamannya. "Anak saya mencuri?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN