Bab 5. Kakak yang Baik

1280 Kata
Udin melihat Shera tertunduk, tangannya memegang lutut seolah menyembunyikan rasa takutnya. "Permisi, Bu," kata Udin tiba-tiba. Semua orang beralih padanya kecuali Shera yang masih menunduk menatap lantai. "Udin? Ada apa?" "Maaf saya lancang, tapi yang terjadi hanyalah kesalahanpahaman. Cewek itu gak mencuri." Semua orang tentu saja terhenyak kaget, terutama Icha. Apa yang baru saja keluar dari mulut Udin seolah menandakan bahwa Udin membela Shera dan mengatakan bahwa Icha sudah menuduh Shera. Pikir Icha. "Darimana lo tahu kalo bukan dia pelakunya?" Tajam Icha. "Lo ingat-ingat lagi, di mana lo nyimpen uang itu!" "Gue ingat jelas, Din. Gue nyimpen uang itu di dalam tas gue!" "Lebih tepatnya di mana?" "Gue selipin di komik!" "Sekarang komik itu ada gak di dalam tas lo? Kalo emang iya, cewek itu yang ngambil gak mungkin komiknya juga diambil?" Udin memburu mata Icha yang tak mampu menatapnya. Icha baru menyadari itu, komiknya memang menghilang. "Komik itu gue yang ambil, dan ini uangnya!" ucap Udin seraya memberikan uang itu ke tangan Icha. Udin menjelaskan semuanya di hadapan Bu Ois membuat Icha sangat merasa bersalah dan meminta maaf pada Shera dan Hard yang sudah merasa dipermalukan. Shera tersenyum bahagia, karena Udin datang menyelamatkannya. Ia tidak tahu apa jadinya jika tidak ada pria itu. Di sisi lain, Udin heran dengan Shera, sebab tadi pagi, Shera juga melihat Udin mengotak-atik tas milik Icha, tetapi kenapa anak itu tidak mencurigainya atau menyebut namanya agar masalahnya cepat selesai. Setelah kesalahpahaman selesai, semua orang yang ada di ruang BK membubarkan diri, termasuk Shera dan ayahnya. Udin melihat dari belakang saat Hard menarik lengan Shera dengan keras, tetapi ia berusaha tidak memedulikan itu. Sekali lagi, Udin tidak mau terlibat masalah karena seorang cewek. "Udin!" "Waduh, si Neneng tuh?" lirih Udin kala melihat orang yang memanggilnya tadi sedang berjalan ke arahnya. Jujur saja Neneng—gebetannya si Wildan itu adalah salah satu orang yang sering Udin hindari, sebab Udin ngeri dengan Neneng si anak silat itu yang pernah memukulnya saat ia tidak sengaja menabraknya. Waktu itu Neneng kira Udin berniat kurang ajar, maka dari itu, Neneng mengeluarkan jurus untuk memberi Udin sebuah pelajaran. "Mana buku fisika gue?" tanya Neneng saat baru sampai. "B–buku fisika?" "Iya, mana?!" "Buku yang mana? Gue gak tau, Neng." Neneng maju satu langkah dan mengangkat kerah seragam Udin. Ia sudah menahan jengkel, sebab kata Wildan Udin lah yang merebut buku fisikanya dari Wildan. "Sekarang balikin buku gue atau gue patahin leher lo!" ancam Neneng. Matanya benar-benar sudah merah menandakan amarahnya sudah berada di ubun-ubun. "A–ampun Neng! Serius gue gak tahu buku yang mana." *** Perihal hidup, ada kalanya  terpuruk, merasa tidak berguna dan iri terhadap posisi mereka yang hidupnya jauh lebih bebas tanpa beban. Malam adalah waktu untuk mendamaikan segalanya, tetapi teruntuk sebagian orang, malam adalah waktunya berperang memikirkan hal-hal berat yang menyesakkan d**a, kadang tamparan malam membuat takut untuk memulai segalanya. Shera menarik selimut, berusaha untuk terpejam dan tidak menghiraukan rasa sakit di pipinya yang mendapat pukulan dari ayahnya. Shera sendiri tidak tahu mengapa sikap sang ayah cepat sekali berubah. Kadang sangat perhatian lalu dalam sekejap berubah menjadi monster yang menyeramkan. Sekali lagi gadis itu memaksa aksanya untuk terpejam, walaupun kenyataannya sulit sekali, karena luka itu menimbulkan rasa sakit yang amat pedih. Sudah hampir berhasil tertidur, Shera bangun kembali, karena ponselnya berdering. Ia mendapat pesan dari ayahnya untuk turun ke bawah. Kamar Shera dibuat dengan tembok berlapis-lapis dan panel sehingga membuatnya kedap suara. Hard biasa mengirim pesan jika menyuruh Shera untuk menemuinya. Shera yang amat penurut beranjak dengan segera. Meskipun tadi sore ia dipukul oleh ayahnya, ia tidak marah atau berusaha menghindarinya. Shera menemui Hard di ruang tamu. Ia kaget melihat barang-barangnya sudah berserakan di lantai. "Ayah merusak seragamku?" Shera memungut seragamnya dengan hati hancur. "Mulai sekarang aku tidak akan mengizinkan kau sekolah lagi!" tegas pria itu. Matanya menatap ke depan. Shera terisak melihat buku-bukunya yang sudah sobek dan sebagian sepertinya sudah dibakar. "Ayah sudah janji di hari ulang tahunku! Aku boleh sekolah di luar!" Shera menatap ayahnya lekat-lekat, semoga saja ada rasa iba dari pria itu untuknya. "Mau membantahku?" Mata Hard membalas tatapan Shera dengan tajam. Shera rasa semuanya percuma. *** "Ayah sendiri yang mengizinkan Shera untuk sekolah di luar, tapi kenapa sekarang ayah larang lagi? Tidakkah ayah kasihan pada putri ayah? Apa selama ini belum cukup?"  Dia tidak tahu cara apalagi yang harus dilakukan untuk membujuk pria lima puluh tahun di depannya ini. Melihat raut wajahnya yang tajam, dia tidak yakin pria itu akan mengiyakan permintaannya. "Kau tidak berhak menentang keputusanku!" Bola matanya tak bergerak sedikitpun. Hard merasa keputusannya sudah benar, sebab yang terjadi tadi pagi sudah cukup membuat Hard takut jika putri semata wayangnya benar-benar disakiti banyak orang. "Putrimu sedang menangis–" "Aku tak peduli dengan airmatanya bahkan jika dia menangis darah sekalipun. Aku tak akan mengizinkan dia sekolah, berbaur dengan tengik-tengik itu!" Malik terdiam beberapa detik, ia mencerna kalimat tajam itu. Rasanya tidak habis pikir kenapa ia bisa hidup bersama pria tidak waras itu. Shera sudah pasti tersiksa. Ya, begitupun dengan dirinya. "Shera sudah cukup menderita, ayah! Ayah sudah banyak membohongi gadis itu!" sentak Malik. "Tutup mulutmu! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada adikmu, hanya itu!" "Sesuatu yang buruk terjadi karena ketakutan ayah yang sama sekali tidak masuk akal! Shera sudah besar, dia bukan bayi lagi, tidak ada orang yang akan mengenali wajahnya!" Sudah berulang kali hal itu diucapkan oleh Hard. Malik  tidak tahu apa yang benar-benar pria itu takutkan, sebab semuanya telah berubah, wajah adiknya bukan lagi balita, adiknya sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. "Shera tetap tidak boleh sekolah di luar. Aku akan panggil guru privat untuk mengajari anak itu!" *** "Udah Sher jangan nangis lagi, jelek tau gak!" "Tapi, Kak, Shera pengen sekolah ...." Hal yang amat dia inginkan sedari dulu adalah bercengkrama dengan dunia luar. Ia berharap keinginannya hidup seperti manusia pada umumnya terlaksana sesudah umur 15 tahun ini. Akan tetapi, tak ada yang bertahan lama, semuanya hanya sementara. "Lo tahu sendiri 'kan ayah itu gimana? Gue udah bujuk berulang kali, tapi dia tetep batu." "Emangnya kenapa si, ayah sampe segitu khawatirnya kalo aku nginjak dunia luar?" Mungkin jika Shera mempertanyakan itu pada ayahnya secara langsung, ia akan dipukul. Tetapi, saat ini tidak ada yang berani memukulnya, karena yang Shera tahu pria di depannya ini tak pernah sekalipun menyakiti dirinya. Pria yang berstatus sebagai seorang kakak itu sangat menyayangi dirinya. Malik terdiam sejenak. Sudah berulang kali anak itu menanyakan hal ini, berulangkali juga Malik menjawab dengan jawaban yang sama, meskipun alasan utamanya bukan kekhawatiran seorang ayah pada anak perempuannya, tetapi ada kekhawatiran yang Malik jaga agar Shera tidak tahu. "Kak?" Shera mengguncang tangan Malik sehingga dia menoleh. "Mungkin karena lo cewek." "Ayah tuh sayang banget sama lo," lanjut Malik. Hanya ini yang bisa Malik katakan. "Gitu ya ...." Lagi dan lagi, telinganya sudah cukup bosan mendengar itu. "Jangan nangis Sher, hidung lo kalo lagi nangis nambah gak kelihatan ...," kata Malik sambil menarik hidung sang adik sekenanya. "Ih, Kak Malik!" Shera menepis tangan sang kakak. Ia mengusap hidungnya seolah memeriksa apakah masih ada atau benar-benar sudah tertarik oleh pria itu. Tawa Malik pudar, ia menatap lekat wajah adiknya. Ia beranjak pada matanya, melihat ada kesedihan dan juga rasa kecewa di sana. "Jangan pernah sedih, gue gak mau lihat adik gue nangis. Malam ini gue akan ajak lo ke suatu tempat. Tempat di mana lo bisa tertawa dan melupakan rasa sedih lo, Sher." "Ayah gimana?" "Kita pergi tanpa sepengetahuan ayah." Malik mengedipkan sebelah matanya. Namun, Shera kelihatannya masih berpikir. Cukup dima'lum, sebab anak itu terlalu takut dan penurut pada Hard. Lain dengan Malik yang suka membantah. "Nakal dikit boleh lah," lanjut Malik seraya menaik-turunkan alisnya. Shera menggaruk leher. "Untuk malam ini, aku ikut apa kata Kakak." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN