***
Mungkin pasar malam bagi sebagian orang sudah biasa, tetapi untuk Shera tempat ini adalah hal yang menakjubkan setelah matahari terbit. Belasan tahun berlalu dan baru kali ini ia menginjak pasar malam.
Banyak wahana yang Malik tawarkan pada anak itu. Namun Shera masih enggan memilih, sebab ia meminta untuk menikmati jajanan yang ada di sini. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka, ia harus mencoba semua makanan itu.
Mereka mendatangi penjual jajanan kaki lima satu per satu. Mereka membeli jajanan yang terbuat dari tepung tapioka, nama jajanan itu Cimol. Bentuknya bulat dan warnanya putih tulang. Sementara rasanya, gurih. Ketika digigit krispi lalu setelah dikunyah ternyata kenyal. Shera suka jajanan ini.
Setelah puas mencoba makanan di setiap pedagang, Shera menunjuk wahana komedi putar. Malik geleng-geleng, tetapi tetap menuruti. Apa pun akan ia lakukan demi membuat Shera tersenyum lagi.
"Gimana asik gak?"
"Asik, Kak," sahut Shera mengulas senyum. Komedi putar itu membuat rasa sedih Shera lenyap. Terlihat sekali ia menikmati malam ini.
Usai dari komedi putar, Shera melihat bianglala yang tampak bersinar indah.
"Kak, aku pengen naik itu." Shera menunjuk bianglala.
"Meluncur!" Malik menarik lengan sang adik menuju loker untuk membeli kupon.
Rasanya banyak hal menakjubkan di dunia luar. Shera beruntung mempunyai kakak sebaik Malik, karenanya ia bisa melihat keindahan bumi saat naik bianglala. Banyak lampu bersinar terang. Malam tidaklah menakutkan, sebab semuanya jadi terlihat indah saat ia berada di sini.
***
"Bi, tolong ambilkan roti bakar yang sudah saya siapkan di meja yah!" seru wanita yang masih sibuk menuangkan nasi ke piring beberapa orang yang ada di meja makan.
Meskipun Lusiana adalah wanita karier, tetapi tidak menutup kemungkinan ia adalah ibu rumah tangga yang baik. Melayani suami dan anak-anaknya adalah hal yang selalu membuat keluarga ini harmonis. Selain cantik dan cerdas, ia juga sangat perhatian pada keluarganya. Hal itu yang membuat Fatahar—suaminya selalu jatuh cinta. Bahkan sekarang usia pernikahannya sudah 22 tahun berjalan.
"Bang, anterin Sely ke sekolah dong!"
"Sopir banyak, kenapa musti gue?"
"Ih, Bang Udin pelit amat si. Kan Sely juga pengen nunjukin kalo Sely juga punya Abang." Sely, anak paling bungsu di keluarga Fatahar adalah anak yang paling manja. Keinginan kerap dituruti, kecuali jika minta pesawat.
"Yaelah, Sel, ngapain pake mamerin si Udin ke temen-temen kamu si? Yang ada entar kamu malu, soalnya abang kamu itu agak sedikit berbeda dengan manusia yang lain—"
Plak!
Udin mengepak lengan sang kakak. Baginya Misya itu adalah kakak durhaka yang selalu membuat dirinya kesal.
"Mah, si adek nakal!" adu Misya pada sang ibu. Sang ibu hanya bergeleng.
"Hish! Udah gede masih aja ngadu!" Udin kembali menyuap nasi gorengnya tak peduli.
"Lo berangkat sendiri aja, gue gak bisa nganterin lo. Arah sekolah kita beda, Sel." Alasan Udin logis.
"Sekali aja Bang."
"Gak!" tolak Udin membuat bibir bawah Selly jadi maju.
"Ah, Bang Udin! Mah, Pah, bujuk Abang dong!" Selly merengek seperti anak umur lima tahun padahal gadis itu sudah menginjak usia remaja, tepatnya 13 belas tahun.
"Anterin ajalah, Din. Kan cuma kali ini doang," sambung sang ibu.
"Tau tuh, kenapa sih!" Suara Misya terdengar judes.
"Takut gue dikerumuni cewek-cewek."
"Hoek! Ngerasa paling ganteng lo?" ejek Misya yang disambut persetujuan Selly.
"Ih pede amat si Bang?"
"Lo tanya sama papah gue ganteng mirip Al Gazali!" Udin menatap pada ayahnya yang sedari tadi menyimak. Ayahnya memang tidak suka ikut campur, kecuali jika anak-anaknya bertengkar.
"Kamu itu terkesan mirip Mark, Din." Fatahar menimpali. Namun, apa yang baru saja Fatahar katakan membuat Lusiana menautkan alisnya.
"Siapa tuh Mark?" tanya sang istri.
"Itu lho, anggota NCT."
"Hah?" Serempak Misya dan sang ibu.
"Papah suka lihat idol-idol K-Pop? Sejak kapan, kok mama gak tau?"
"Jadi selama ini papa sering cuekin mama gara-gara lihat mereka?"
***
Hal yang Icha lakukan sekarang adalah memerhatikan orang-orang berdatangan dari pintu kelas. Satu yang sedang Icha tunggu, yaitu kedatangan murid baru bernama Shera.
Jujur saja, Icha merasa tidak enak telah membuat kesalahan besar–menuduh Shera sebagai pencuri bahkan sampai orang tuanya dipanggil ke sekolah.
Sudah hampir pukul tujuh lewat seperempat, Shera tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Icha jadi resah dan semakin merasa bersalah. Apakah gadis itu benar-benar tidak masuk sekolah karena kejadian kemarin?
"Udah hampir bel, anak baru itu belum masuk juga?" Icha beberapa kali melihat jam dinding yang mungkin seolah tertawa, karena dirinya terlalu sering meliriknya.
"Apa di baik-baik aja?"
"Apa kemarin gue terlaluan banget?" cuit Icha lagi. Kali ini ia menepuk bahu Becca yang sedang menghadap ke belakang, tepatnya sedang mengobrol bersama teman sekelasnya yang lain.
"Bec!" panggil Icha membuat atensi Becca teralihkan. Sejak pagi Icha terus uring-uringan memikirkan Shera.
"Anak baru itu gak masuk, apa karena gue kemarin keterlaluan yah?" Wajahnya memelas.
"Gue rasa wajar kok, lagian dia kayak pencuri yang tertangkap basah buka-buka tas lo. Ya meskipun yang seharusnya lo salahkan adalah Udin. Dia yang buka tas lo, cuma anak baru itu aja yang kena sialnya."
"Bener juga Bec. Ini semua itu salahnya Udin. Dia ngambil komik tanpa permisi." Icha menyetujui pendapat Becca. Ia manggut-manggut. Di sini bukan hanya dia yang bersalah melainkan Udin pun ikut berperan dalam masalah ini.
" Ok, Icha mau samperin tuh cowok dulu!" Icha berdiri dari bangkunya dan pergi menuju kelas Udin.
"Eh! Cha! Sebentar lagi bell, lho." Becca memberi peringatan. Akan tetapi, sepertinya gadis itu tidak peduli.
"Sebentar doang!" sahut Icha yang semakin menjauh.
***
Icha sempat berpapasan dengan Leon, tetapi tidak sempat bertegur sapa. Selain karena buru-buru, Icha dan Leon masih belum baikan. Entahlah, sudah beberapa hari ini Leon menjauh dari Icha. Ya semenjak kejadian pesta Minggu lalu, anak itu marah besar pada Icha.
Kedatangan Icha ke kelas Leon juga bukan karena ingin menemuinya. Melainkan ingin menemui Udin.
Seperti biasa, Udin duduk di bangku paling belakang dengan komik yang sudah mantap di depan wajahnya.
"Heh!" sentak Icha agar Udin sadar keberadaan dirinya.
Lagi-lagi Udin tidak menggubris. Entahlah, anak itu memang selalu asik dengan dunianya.
"Udin b***k!" panggil Icha mengejek.
Icha mendorong komik itu hingga mengenai wajah sang empu.
"Apa si lo!" Ketus Udin karena Icha mengusiknya.
"Anak baru itu gak masuk kelas hari ini dan semuanya karena lo!" timpal Icha membuat guratan-guratan kecil di kening Udin bermunculan.
"Kok gue? Apa hubungannya sama gue?"