"Ya iyalah, karena lo, gue jadi nuduh dia sampe orang tuanya dipanggil segala sama Bu Ois!"
"Ah, gak kebayang malunya mereka. Atau hari ini dia gak masuk sekolah karena stres mikirin kejadian kemarin," racau Icha terus-menerus.
Entahlah, kenapa anak ini sering merasa benar sendiri dan Udin yang salah. Udin memajukan bibir bawahnya, ia merasa tidak setuju dengan semua perkataan Icha.
"Itu sih salah lo! Makanya jangan asal tuduh kalo gak ada bukti. Udah sana pergi lo! Gak ada kerjaan nyalah-nyalahin gue dari tadi!" usir Udin. Akhir-akhir ini, anak itu sering sekali mengambil waktu Udin untuk hal yang tidak penting.
"Ya karena ini emang salah lo! Awas aja kalo sampe anak baru itu gak masuk-masuk, lo gue teror tiap hari!" ancam Icha yang tak mau disalahkan atas kejadian kemarin. Tentu saja jika bukan karena Udin mengambil buku komik itu diam-diam maka tidak akan ada tuduh-menuduh.
"Dasar! Lo itu–" Kalimat Udin tertelan begitu saja saat Wildan berlari ke dalam sambil teriak-teriak.
"Bu Nita woi! Bu Nita!"
"Icha? Ngapain lo di sini? Gak denger bell udah teriak-teriak?" tanya Wildan yang baru sampai. Cowok itu masih heboh memberitahu kedatangan Bu Nita–sang guru matematika.
Icha menghentakkan kaki berajalan ke luar sebelum itu memberi Wildan sebuah pelototan tajam. Entahlah, Wildan sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya kali ini.
"Ish, kenapa tuh cewek!"
"Kesurupan kali!" sahut Udin sambil memutar bola matanya malas.
"Wishh! Ada apa ini? Si Icha marah lagi sama lo, Din?"
"Gak tau tuh! Gak jelas pula tuh anak! Ribet!" Dumel Udin yang sekarang pindah lagi ke bangkunya yang ada di posisi ke tiga.
"Ish, ini lagi mahluk satu. Kayaknya pms mulu tiap hari."
"Anjir lo! Gue normal!"
***
Pada jam istirahat, kelas IPS2 dihebohkan dengan bau bangkai bersumber dari dalam tas Cika. Semua orang menjauhi Cika, lebih tepatnya sumber bau itu. Tetapi penasaran juga apa sebenarnya yang Cika bawa di dalam ranselnya.
"Hoek! Hoek!"
Beberapa orang sudah tidak tahan, dan memilih enyah dari kelas. Bau busuk yang menyengat itu membuat perut mereka kembung hingga menimbulkan perasaan mau muntah.
Selain malu, Cika juga bertanya-tanya kenapa ada bankai tikus dipenuhi belatung ada dalam tasnya. Tadi pagi tak ada bau apa pun. Saat mengeluarkan buku dari dalam tas ketika pelajaran pertama Cika tak menemukan bangkai tikus itu. Kenapa sekarang tiba-tiba bangkai itu ada dalam tasnya?
"Busuk banget, ah gak tahan pengen muntah gue!" keluh Enzi–orang pertama yang mencium bau busuk ini.
"Ngapain sih bawa bangkai ke sekolah?" ejek teman sekelasnya.
"Ih, udah gue bilang bukan milik gue!" jawab Cika yang tidak tahu apa-apa.
Cika merasa ada yang janggal. Ia bukan orang jorok yang membiarkan tikus masuk ke dalam tasnya lalu mati di sana. Ia yakin ada seseorang yang berniat membuatnya malu. Namun siapa orang itu.
"Tapi ada di dalam tas lo, Cik!" imbuh Dewi ikut-ikutan.
"Gue yakin ada orang yang ngisengin gue. Ini udah keterlaluan, gue bakal aduin ke Bu Ois!" Cika berjalan meninggalkan kelas. Tak peduli dengan bangkai yang masih berada di dalam tasnya.
Tentu saja perkiraan Cika benar. Ada orang yang ingin memberikan pelajaran untuknya. Orang itu sedang berdiri di ambang pintu sambil merogoh saku celananya dengan gaya so cool. Orang itu hanya memutar bola matanya dan tersenyum devil.
***
Wildan menimang-nimang antara menghampiri Neneng atau tidak. Tetapi rasanya, ia sudah terlanjur masuk ke lubang itu. Susah untuk keluar atau bahkan kesempatan untuk selamat kemungkinan kecil.
Pria itu akhirnya memutuskan untuk duduk disebelah cewek jago karate itu. Ia menarik napas lalu membuangnya secara perlahan beberapa kali.
"Buku fisika lo." Wildan menyodorkan buku catatan bersampul merah pada cewek yang baru saja menghabiskan satu gelas lemontea-nya.
Terkejut melihat buku yang sudah dua hari dicarinya datang. Neneng segera mengambil buku tersebut dan menoleh ke arah Wildan. Ingin marah, tetapi anak itu keburu minta maaf.
"Sorri, yah, Neng. Lain kali gue akan jaga barang pinjeman dari lo. Ternyata yang ngumpetin bukan si Udin." Wildan beralibi. Kamarin saat Neneng menagih bukunya, ia malah mengorbankan Udin. Padahal buku itu tertinggal di rumahnya. Ya, hanya itu yang bisa membuat Wildan selamat dari Neneng.
Neneng mengembuskan napas diam-diam. Yang penting bukunya sudah kembali dan dia bisa menyerahkan tugasnya hari ini.
"Neng lo gak marah 'kan?" Suara Wildan.
Neneng tampak menoleh kembali. Matanya yang besar menyorot tajam pada Wildan.
"Menurut lo?" kata Neneng. Nadanya terdengar dingin.
Wildan jadi merasa canggung. Ia menggaruk lehernya dan berdeham.
"Ok, sebagai permintaan maaf. Gue bakal ngajak lo makan sepuasnya." Mungkin saja Neneng akan menerima permintaan maafnya. Tetapi Wildan tidak yakin, karena anak ini bukan tipikal orang yang akan melupakan kesalahan orang hanya karena diajak makan saja.
"Dengan ngajak makan semua beres? Gue ingetin sama lo yah, gak semua harus di selesaikan dengan perut!" tandas Neneng. Kemudian ia berdiri dan enyah dari sana meninggalkan Wildan dengan gelas kosongnya seorang diri.
"Huh! Ngambek lagi. Ribet banget tuh cewek!" protes Wildan setelah Neneng sudah keluar dari kantin.
"Baru sadar kalo cewek itu ribet." Udin menyambar bak petir di siang bolong. Entah sejak kapan cowok itu berada di belakang Udin. Yang pasti Wildan melihat di depan Udin teradapat mangkuk bakso yang sudah habis. Tandanya pria itu sudah sejak abad lalu berada di sana dan barangkali mendengar semuanya.
"Tapi ini yang membuat gue tertantang buat miliki si Neneng. Galak si, tapi ah sexi bos!"
"Otak–"
"Sutt! Mending cari cewek!" Wildan segera menutup mulut Udin dengan tangannya. Namun segera Udin tepis secara kasar.
"Ogah!"
"Eh, mau ke mana Din? Hari ini jadi kan main game di rumah Lion?" teriak Wildan ketika Udin pergi begitu saja. Lagi-lagi ia ditinggal.
Udin mengacungkan tangannya. Kemudian membentuk huruf o pertanda ok.
"Ok, jadi gue nanti bikin alasan ke bokap kenapa gue pulang malam. Yeah!" sorak Wildan. Rencananya malam ini Wildan akan bermain game di rumah Leon sepuasnya. Ketika pulang ia akan aman dengan dalih mengatakan bahwa ia baru saja selesai kerja kelompok pada sang ayah.
"Mas Wildan ya?"
Wildan menoleh. Ia melihat ibu kantin berjalan ke arahnya.
"Iya, Bu."
"Baksonya belum dibayar."
"Terus?" Kedua Alis Widian terangkat.
"Mas Udin, nyuruh Mas Wildan buat bayar baksonya," jawab Ibu kantin langsung pada intinya.