Merasa bosan terus-menerus terkurung di antara dinding-dinding yang tak berujung. Tak ada teman atau seseorang yang bisa diajak bicara.
Shera membuka jendela untuk yang kesekian kalinya. Menatap langit yang sudah semakin gelap. Bibirnya mendesah menahan rasa bosan yang sudah mendarah daging.
Angin membuat ranting kayu melambai-lambai. Shera mendongak, ternyata ini masih sore hanya saja mendung membuatnya seperti malam.
Ia cepat-cepat menutup jendela, karena takut air akan menyiprat ke wajahnya.
Ia kembali merebahkan tubuh di atas kasur. Menarik selimut dan membuka ponsel.
Rupanya ada pesan masuk dari sang kakak. Pria itu memberitahukan bahwa Hard dan Malik tidak akan pulang malam ini. Ya, Shera harus kembali dengan kesepian di malam sunyi dan dingin ini.
Tetapi bukankah ini sebuah kesempatan langka untuknya. Malam ini Shera bisa keluar berbelanja camilan sesukanya. Pada awalnya memang ia takut ketahuan, tetapi mendengar kabar mereka tidak akan pulang rasa takut Shera jadi berkurang.
Shera segera masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya.
***
Usai beres dengan segala rutinitasnya, Shera menutup kepala dengan tudung hoodie yang dikenakannya. Ia membuka pintu, melihat cuaca masih buruk. Angin dan gerimis menyapa langkah pertamanya saat ia keluar rumah.
Halamannya luas, ada lapangan basket dan ayunan di sana. Ada juga perosotan. Permainan itu sudah bosan Shera mainkan. Ia sudah bosan melihatnya.
Saat sampai di gerbang utama, hatinya mendesah kecewa melihat rantai melilit di sana.
"Yah, kok dikunci ...." Seperti ada sesuatu yang membuat hati Shera sakit. Rasanya sia-sia penampilannya saat ini.
"Sia-sia dong, udah rapi begini," gumam Shera dengan nada hampa.
Menengadah ke atas melihat langit tanpa taburan bintang. Bulan pun tampak bersembunyi enggan menunjukan dirinya.
Gerimis menemani malam Shera yang benar-benar sunyi. Matanya masih mendongak melihat langit yang pekat legam. Tak berapa lama ia menemukan ide untuk mengisi malamnya. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Gadis itu bertambah cantik.
Shera berlari ke dalam rumah mengambil kembang api di sisa ulang tahunnya beberapa pekan lalu. Kemudian kembali ke luar dan menyalakannya.
Malam ini kembang api akan meneman Shera. Gadis itu tak mau menghamburkan waktu hanya untuk merenung di dalam kamar, ia ingin menikmati malam meskipun hanya sekadar melihat letusan kembang api.
Tangan Shera terguncang kala kembang api sudah mulai meroket. Shera tertawa kegirangan melihat percikan kembang api warna warni itu menghiasi langit yang masih sepi ditinggalkan bintang dan bulan.
"Kembang api?" Udin cukup kaget mendapati petasan yang tiba-tiba bertaburan menghiasi langit. Arahnya satu rumah misterius yang tak jelas penghuninya.
"Dari dalam rumah itu?" Keningnya menyeringai tak percaya.
"Bukannya rumah itu jarang ada penghuninya?"
Matanya semakin tertarik dengan keindahan letupan-letupan mercon di atas sana.
Udin menyaksikan kembang api di balkon kamarnya. Cukup penasaran dengan isi rumah itu. Udin tak pernah tahu siapa penguhinya. Tentangga yang misterius.
Dulu Udin sempat iseng memanjat dinding yang super tinggi bak benteng pertahanan perang. Akan tetapi, setelah sang ayah memergokinya, ia langsung ditarik turun dan dimarahi. Saat itu Udin enggan penasaran lagi, karena sang ayah mengatakan bahwa rumah itu jarang ada penghuninya dan ada hantunya. Ya, hanya untuk sekedar menakut-nakuti dirinya saja. Dan pada saat itu Udin percaya-percaya saja, karena umurnya masih sangat belia.
Terdengar pintu dibuka, lantas lamunan Udin lenyap begitu saja.
Sang ibu menghampiri Udin di balkon.
"Makan malam Din, papah sudah nunggu di bawah."
"Mah, rumah itu–" Udin ingin bertanya kembali. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya. Akan tetapi, Lusiana malah memotong seolah mengalihkan topik. Terlihat sekali bahwa Lusiana tidak mau membahas rumah itu.
"Yuk, turun!"
"Nanti Udin nyusul."
"Jangan lama-lama! Kasihan adik kamu udah kelaparan."
"Iya," jawab Udin. Untuk terakhir kalinya melihat dinding tinggi itu lagi.
***
Icha menyempatkan diri ke ruang TU hanya untuk meminta alamat Shera. Akan tetapi, susah sekali membujuk petugas itu untuk memberikan apa yang ia inginkan.
Sesulit mendapatkan alamat agen rahasia jika terus-menerus seperti ini. Padahal tak ada yang perlu disembunyikan, toh hanya meminta sebuah alamat rumah.
"Ibu jangan bohong! Semua siswa yang sekolah di sini pasti menyertakan alamat mereka."
"Memangnya ada apa kamu mencari Shera?"
"Icha kan temannya, Bu." Icha beralibi.
"Kalo memang kamu temannya kenapa kamu malah nyari alamat dia ke sini? Shera sendiri tidak memberi alamatnya pada kamu?" Jelas Bu Junaeti lebih cerdas dari Icha.
"Um, dia kan murid baru jadi ...." Icha menjeda Kalimatnya. Ia tidak bisa meneruskan kata-katanya alias Icha kehabisan kata-kata.
"Jadi apa?" Bu Junaeti menatap Icha dengan wajah tegasnya.
"Ya udahlah, Bu. Kasih aja alamatnya sama Icha. Shera udah tiga hari gak masuk. Takutnya dia sakit," kata Icha. Ia benar-benar berharap Bu Junaeti memberikan alamat Shera padanya.
"Maaf tapi Pak Hard tidak mengizinkan saya untuk memberi alamatnya pada siapa pun."
"Lho kenapa?" Kedua alis Icha saling bertautan.
"Sudah Icha, mending kamu masuk kelas sebentar lagi bell." Bu Junaeti tidak mau membahas terlalu jauh. Ini amanah dari Hard yang menyuruhnya agar tutup mulut dengan segala yang berhubungan tentang alamat rumah dan hal lainnya mengenai Shera.
Icha mendesah penuh rasa kecewa. Ia akhirnya memilih menyerah dan keluar dari sana. Akan tetapi, ini hanyalah sebuah tipu muslihat.
Icha menunggu Bu Junaeti keluar dari ruangannya. Ia yakin beliau akan makan siang, sebab ini waktunya makan siang para petugas TU.
Setelah Bu Junaeti pergi, Icha diam-diam menyelinap masuk untuk mendapatkan alamat Shera.
Setelah mendapatkannya Icha cepat-cepat berbenah pergi ke dalam kelas. Akhirnya ia bisa juga dapat alamat Shera. Entah kenapa Bu Junaeti mempersulitnya.
***
Icha merasa familiar dengan jalanan yang sedang ia tempuh. Sepertinya ia sudah beberapa kali melewati jalan tersebut.
"Lho, ini kan arah rumahnya Udin?" Bahkan Icha ingat jelas banyak pohon mangga berjejeran jika hendak masuk ke komplek Udin.
"Apa gue salah catat?" pikir Icha.
"Tapi gak mungkin."
"Ohh ... apa Bu Junaeti nipu gue? Ah, gak mungkin juga. Dia mana tau Icha nyolong alamat Shera."
Setelah sampai di tempat tujuan, Icha turun dari motornya dan berjalan beberapa langkah.
"Nomor 06, jalan kenanga."
"Lha ini rumah?" Saat melihat nomor yang tadi Icha baca di kertas, ia cukup kaget.
Icha mendongak ke atas melihat gerbang yang sepertinya tidak cocok dijadikan gerbang rumah menjulang tinggi.
"Kayaknya beneran salah alamat. Gak mungkin si Shera tinggal di tempat aneh kayak gini." Icha menimang-nimang sembari membenarkan alamat yang ia lihat.
"Icha? Ngapain lo di sini?" Suara seseorang membuat Icha menoleh.