Bab 9. Sisi Gelap

1025 Kata
Sebuah motor berhenti di sampingnya. Icha sudah bisa menebak, bahkan dari sejak Udin keluar gerbang pun Icha sudah tahu suara motor siapa itu. "Udin? Eh, Din. Lo tau gak ini apaan?" Icha menunjuk rumah aneh itu. Ia berharap Udin memberikan jawaban yang masuk akal. Udin sudah lama tinggal di sini, ia berharap Udin mengetahuinya. "Katanya ini rumah." "Rumah siapa? Kok gue baru nyadar ada rumah di sini." "Kurang tau. Ngapain si lo pake nanyain rumah ini segala. Kurang kerjaan banget." "Gue lagi cari alamat Shera." "Shera? Siapa tuh?" "Anak baru yang gue tuduh maling itu lho. Alamatnya di sini." "Di sini? Alamat palsu kali. Ada-ada aja lo!" "Kok alamat palsu si? Ayu ting-ting dong." Udin terlihat acuh tak acuh. Ia manancap gas hendak pergi. Namun Icha mencegahnya. "Eh, Din mau ke mana?" "Mau ke rumah cowok lo!" jawab Udin jujur. "Ke rumah Leon, mau ngapain? Ikut dong, sekalian ban–" "Mau ngocok nih, mau ikut?" sela Udin membuat ekspresi wajah Icha berumah total. Udin suka melihat ekspresi itu. "Huh? Maksudnya?" "Ayo, kalo mau ikut? Entar kita ajak ngocok juga. Ngocok bareng." Udin tersenyum miring. "Heh apaan si lo!" Icha memalingkan wajahnya yang merona. "Ngocok kartu maksudnya. Haha!" batin Udin yang sudah lolos dari Icha. Ia menikmati jalanan yang sudah mulai renggang dari kendaraan. *** "Lo mukulin orang lagi?" tanya Udin kala melihat Leon sedang mengompres jari-jarinya yang terlihat merah. Biasanya jika jari-jarinya terluka, laki-laki itu telah memukul orang. Entahlah, apa kesalahan seseorang itu hingga Leon memukulnya. Tentang bangkai tikus di kelas IPS2, jujur saja Leon adalah dalangnya. Semua ini karena Cika berniat jahat pada Icha. Gadis itu memberi Icha alkohol hingga Icha mabuk berat bahkan sampai hampir dilecehkan oleh temannya. Leon tentu saja tidak terima dan langsung membalas Cika. "Cuma ngasih sedikit pelajaran," jawab Leon terlihat tenang. Udin tahu, Leon mempunyai sisi gelap yang tidak orang tahu. "Apa lo akan kayak gini jika nanti gue lukain Icha?" Udin bertanya untuk memastikan. "Ini bukan tentang Icha, Din." "Oh," balas Udin singkat. "Si Wildan belum datang?" tanya Udin umengalihkan agar tidak canggung. "Masih dijalan." "Ya udah, kita main duluan." Udin mengambil steak game. Leon mengikuti, duduk di sebelah Udin dan mengambil steak game-nya juga. "Yang kalah ngapain yah?" pikir Udin mencari Ide. "Dicemongin aja gimana?" usulnya. "Oke." Leon mengangguk menyetujui. *** Hari ini adalah hari yang sudah Shera nanti-nanti. Ayah dan kakaknya sudah bersiap menunggunya untuk pergi ke Surabaya. Mereka akan pergi ke makam ibunya Shera, untuk memperingati hari kematiannya. Shera sudah sangat merindukan sang ibu yang tak pernah melihat wajahnya secara langsung, karena Shera ditinggal pergi saat usia Shera masih belia, itu kata Malik. "Kak, apa ibu juga merindukan Shera?" "Tentu saja, dia merindukan kita semua." "Hem, andai saja yah, ibu masih hidup pasti kita akan menjadi keluarga paling bahagia." "Ibu itu masih hidup." Shera mendelik kaget. "Hah?" "Hidup di dalam hati kita," sambung Malik membuat Shera menghela napas. "Hmm." Beberapa menit tak ada suara, Shera memberanikan diri untuk bertanya pada sang ayah yang masih fokus menyetir. Shera dan Malik duduk di belakang. Sayangnya Malik malah sibuk bermain ponsel. "Pekerjaan ayah sudah rampung di Banten?" "Sudah. Semuanya sudah beres." "Apa ayah akan pergi lagi?" tanya Shera lagi. "Kenapa? Apa kau mengharapkan aku pergi?" "Eh? Tidak, bukan begitu. Hanya saja akhir-akhir ini Ayah dan Bang Malik terlalu sibuk." Nadanya terdengar menyedihkan. Malik berpaling pada Shera. "Tapi kami selalu ingin mempercepat pekerjaan kami. Kamu jangan khawatir, gue gak akan ninggalin lo sendirian lagi." "Janji?" Shera mengulas senyum. "Eh, gak bisa janji juga si." Malik menggaruk belakang kepalanya. "Ish, tukang php." Shera kembali melengkungkan bibirnya. *** Hard meletakan bunga di batu nisan yang sudah mulai berlumut. Malik dan Shera berdiri di belakang Hard. Mereka berdua tertunduk mendengar ayat-ayat rindu yang disampaikan Hard. Atensi Shera teralihkan pada seekor kelinci yang entah dari mana asalnya. Kelinci itu berada tak jauh di sebelah Shera. Ia tertarik dengan kelinci itu dan hendak mengambilnya. Namun hewan itu terlalu lincah, dia terus berlari menghindari Shera. Shera mengejar kelinci itu. Malik tidak menyadari kepergian sang adik karena masih terfokus pada makam ibunya. Setelah selesai memanjatkan doa, Hard kebingungan melihat Shera hilang dari pandangannya. "Kemana adikmu?" tanya Hard. Melihat kesekeliling pemakaman tidak ada orang satu pun. Malik menoleh pada ayahnya. "Shera?" Ia dibuat terkesiap sama seperti Hard yang menyadari bahwa Shera tidak ada disekitar pemakaman. "Anak itu ke mana?" Malik bertanya-tanya. Tidak ada yang bisa menjawabnya, karena Shera benar-benar hilang. "Kenapa kau tidak menjaganya?" protes Hard. "Ayah aku tidak tahu–" "Cari dia, jangan sampai dia kabur!" sela Hard sambil berjalan cepat ke arah barat sedangkan Malik mulai mencari ke arah Timur. "Shera!" panggil Malik. Matanya beredar mencari keberadaan anak itu. "Hei, kemari anak manis." Shera berjalan pelan di belakang kelinci putih itu. Sudah sekitar setengah jam Shera mengejar seekor kelinci nyasar itu di jalanan. Ia bertekad untuk mendapatkannya. Akan tetapi, seseorang dari belakang menariknya dan melayangkan tamparan secara seketika. "Ayah?" Shera mengelus pipinya. Wajah Hard terlihat merah padam. "Kau berniat lari, hah?" Hard mencengkram kerah Shera hingga badannya setengah terangkat. "Aku cuma mengejar kelinci itu." Suara Shera tertahan, karena Hard terlalu kencang mengajar kerah baju Shera hingga ia merasa seperti tercekik. "Ayah!" teriak Malik. Malik segera melepaskan Hard dari Shera. Kasihan Shera seperti kesusahan bernapas. "Dia berniat kabur dariku!" Wajah Hard berubah emosi. "Shera kamu ke mana aja?" "Uhuk! Uhuk!" Setelah berahasil lepas, Shera meraba lehernya yang terasa kencang. "Kenapa saat aku pergi sebentar saja, ayah selalu mengira aku kabur seolah aku ini adalah sekapan kalian?" "Bukan begitu, Sher, ayah cuma khawatir." Malik berimbuh. Emosi ayahnya memang tidak bisa diatur. Terlalu berbahaya jika Shera melawan. "Tapi kenapa harus sampai mencekik Shera?" tandas Shera. Plak! Lagi-lagi sebuah tangan mendarat mulus di pipi kirinya. Selalu seperti ini jika Shera berniat melawan. Tetapi memang benar, Shera seperti disekap oleh Hard. Seumur-umur Shera selalu tidak diizinkan berpergian ke luar. "Kau tidak tau aku begitu khawatir!" sergah Hard. Kata-katanya tidak membuat Shera luluh. Shera bergeleng tidak memercayai. Hingga emosi Hard kembali memuncak dan menarik lengan Shera dengan kasar. "Ayah cukup! Jangan sakiti Shera lagi!" Malik tak tahan melihatnya. Shera tertunduk ketakutan sambil menahan tangisnya yang sebentar lagi akan pecah. "Jika saja kau berani kabur, maka aku benar-benar akan membuangmu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN