"Sampai kapan akan terus menyiksa Shera?" sindir Malik. Hard dan dirinya sedang duduk berdua di depan rumah setelah mengantar Shera masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
"Kita tidak berhak melarang keinginannya untuk menginjak dunia luar. Apa selama ini belum cukup." Entah kenapa hati sang ayah begitu sulit ditembus. Malik tak tahan dengan larangan-larangannya pada Shera.
"Jadi kau ingin Shera pergi dari kita?" Nadanya terdengar tidak enak.
"Aku cuma ingin dia bahagia," lontar Malik membenarkan. Mau bagaimanapun Shera berhak merasakan kehidupan dunia luar. Menikmati masa mudanya seperti anak pada umumnya.
"Keinginannya cuma satu, dia ingin sekolah di luar. Setiap hari selalu kesepian."
"Tidak. Aku tidak menginginkan anak itu bersekolah di sekolah umum." Hard tetep bersikeras takut jika suatu saat ada yang mengetahui identitas Shera yang sebenarnya atau anak itu tahu sendiri mengenai siapa dirinya dan memilih pergi dari Hard. Membayangkan nya saja Hard sudah takut.
"Apa kau tidak ingat di hari ulang tahun nya kau sudah berjanji akan mengabulkan keinginannya dan sekarang mencabut seenaknya?"
"Apa kau bisa bertanggung jawab jika Shera benar-benar kabur?" Hard balik bertanya.
"Shera tidak akan kabur sebelum dia mengetahui kebenarannya."
"Kebenaran bahwa kau bukan ayahnya!" ancam Malik membuat Hard semakin takut.
Secara seketika Hard melempar gelas berisikan setengah kopi ke lantai membuat Malik terkejut, tetapi berusaha tetap tenang menghadapi sikap ayahnya.
Hard memang selalu begitu. Dari sejak Malik masih kecil emosi Hard selalu tak bisa terbendung.
"Tutup mulutmu! Aku ini ayahnya Shera sampai kapan pun. Anak itu adalah anak perempuanku."
***
Di lorong sekolah, seorang gadis sedang mencegat siswa tampan bermodus permintaan maaf. Icha rasa hari ini adalah hari yang tepat untuk membujuk Leon agar memaafkannya. Sudah hampir seminggu Icha tak bertegur sapa dengan Leon dan rasanya sungguh hambar.
"Icha janji Leon, please maafin Icha," mohon Icha untuk yang kesekian kalinya. Sedari tadi Icha terus mengoceh menjelaskan kejadian pada malam itu secara detail. Padahal Leon lebih tahu dari dirinya.
"Udah minta maaf ke diri sendiri?" Akhirnya Leon membuka suara.
"Huh, maksudnya?" Icha sedikit tak bisa mencerna apa yang baru saja keluar dari mulut Leon.
"Lo masih sekolah udah berani mabuk? Mau jadi apa masa depan lo?" Leon menoyor kepala Icha.
"Oh itu. Icha kan udah bilang, Icha gak sengaja," kata Icha membela diri. Ia juga tidak tahu siapa yang memberinya alkohol. Icha menganggap kejadian itu sebagai sebuah kecelakaan dan murni bukan salah dirinya yang sengaja mengambil alkohol.
"Udah yah jangan marahan lagi. Icha janji deh, mulai sekarang kalo ke mana-mana ngasih tahu Leon dulu." Icha mengguncang tangan Leon. Pria itu melirik pada Icha dan berkata,
"Janji?"
"Iyan janji." Icha menerima kelingking Leon dan mengaitnya. Kemudian mengulas senyum.
Leon mengacak puncak kepala Icha dan mengajaknya masuk ke kelas. Lebih tepat mengantarkannya karena mereka beda kelas.
***
Di jam istirahat yang semestinya dipakai untuk membaca komik, Udin malah diganggu habis-habisan oleh Wildan yang merengek meminta bantuan untuk memikirkan cara yang tepat mengait Neneng.
"Din tolonglah, biasanya juga mau bantuin gue." Wildan mengikuti ke mana arah wajah Udin sehingga pria itu merasa jengkel sendiri dan terpaksa menutup buku komiknya. Padahal sedang seru-serunya.
"Lo yang mau nembak si Neneng kenapa musti gue si yang ribet. Lo pikirkan aja sendiri caranya!" sentak Udin menolak Wildan mentah-mentah. Selama ini sudah cukup Udin membantu masalah Wildan dengan cewek-ceweknya yang tidak jelas.
"Lagi buntu nih." Wildan menggetok kepalanya sendiri, seolah ia kehilangan akal untuk memikirkan bagaimana cara mengait Neneng. Time-nya sedang tepat, malam ini adalah ulang tahun Neneng. Akan tetapi, ia tidak tahu harus memulai dengan cara apa. Wildan berharap Udin bisa memberikan ide seperti sebelumnya.
"Upgrade tuh makakanya otak lo!" ejek Udin yang ikut menoyor kepala Wildan.
"Jual kalo perlu beli yang baru," imbuh Udin lagi.
"Mana bisa!" bantah Wildan.
"Yang emang gak bisalah oon!" sentak Udin sambil geleng-geleng.
"Kita kan kawan Din. Masa mikirin cara aja gak mau, kawan macam apa kau ini!"
"Lo udah keseringan minta bantuan. Lagian kalo kita gak kawanan lagi, gue si gak masalah," balas Udin seenaknya jidat tanpa memikirkan perasaan Wildan.
"Lha kok gitu si Bambang!"
"Minta saran sana ke si Icha. Dia kan dulu pernah nembak si Leon. Kalah kok sama cewek lo! Payah!" sindir Udin. Memang benar, Icha adalah orang pertama yang menyatakan cinta duluan pada Leon, saat itu sekolah begitu heboh ulah Icha yang tak tahu malu dalam mendapatkan hatinya Leon.
"Cie payah teriak payah! Dari pada elo menjomblo terus."
"Alhamdulillah masih jomblo, jadi gue bebas dari yang namanya dosa. Pacaran tuh dosa!" ucap Udin bijak.
"Dosa kalo mainnya di kamar!" kelakar Wildan yang akhirnya menimbulkan perdebatan.
"Hus!"
***
Bu Susi menjelaskan materi bahasa Indonesia kepada Shera sejak satu jam yang lalu. Akan tetapi, rupanya selama itu, penjelasannya sia-sia, sebab Shera tidak memerhatikannya melainkan melamun.
"Shera fokus sebentar," kata Bu Susi. Tak tega juga jika ia harus memarahi Shera.
"Iya, Bu." Shera terbangun dari lamunannya dan beralih pada Bu Susi.
"Kamu kenapa dari tadi gak fokus terus belajarnya?" tanya Bu Susi sehalus mungkin.
Shera tertunduk penuh kesenduan.
"Shera bosan Bu. Shera pengen keluar. Pengen sekolah di sekolahan kemarin," jawab Shera jujur. Tak ada yang bisa dinikmati jika harus sekolah seorang diri di dalam rumah. Shera rasa selama ini sudah cukup, tetapi ternyata belum. Entah apa yang ayahnya takutkan sehingga ia terus-menerus dikurung seperti seorang sanderaan.
"Sabar ya Sher, nanti ibu coba bujuk ayah kamu." Bu Susi mencoba memberi kalimat penenang. Akan tetapi, mendengar hal demikian malah membuat Shera jadi ketakutan.
Bu Susi tahu Shera tidak berani pada Hard jika terus-menerus menuntut untuk sekolah di luar. Ia tahu ayahnya Shera sangat pemarah. Tetapi ia akan mencoba membicarakan hal ini.
"Jangan Bu. Shera takut."
"Gak apa-apa, nanti ibu coba bicarakan ini."
***
"Shera sudah benar-benar stres pak. Saya berharap Bapak bisa mempertimbangkan ini semua. Kasihan Shera. Saya tidak tega melihatnya," final Bu Susi setelah membicarakan semuanya secara jelas.
Hard menjamah dagunya. Ia belum bisa membuat keputusan.
Sejurus kemudian, Bu Susi pamit pulang dan Hard segera mengantar wanita muda tersebut ke depan rumah.
Bu Susi bukan wanita sembarangan, tentu saja karena Hard tidak mungkin memasukan sembarangan orang ke rumahnya.
Setelah mengunci gerbangnya, Hard kembali masuk ke dalam rumah. Ia naik ke lantai dua, tepat ke kamar sang anak.