Pintunya tidak dikunci, Hard membuka setengah dan mengintip secara diam-diam. Melihat Shera sedang duduk di lantai sambil memeluk lutut. Melihatnya Hard jadi mulai tersentuh.
Hard meneguk ludah dan masuk ke sana untuk mendatangi sang putri.
Sadar akan kedatangan sang ayah, Shera lumayan terkejut.
"A–ayah?"
"Apa kau sudah makan?" tanya Hard lembut membuat rasa takut Shera lenyap begitu saja.
Shera bergeleng. " Belum."
"Makanlah, nanti kau sakit."
"Shera gak lapar kok."
Hard terdiam. Ia mengambil tempat di sebelah Shera dan memandang anak gadisnya dengan penuh rasa cinta. Hard sebenarnya sangat menyayangi Shera. Akan tetapi, ia orangnya tidak suka dibantah dan tak segan-segan akan melakukan kekerasan pada siapa saja meskipun anaknya sendiri.
"Kau ingin sekolah?" Hard membuka suara membuat Shera menoleh. Apakah itu sebuah tawaran atau pertanyaan.
Shera masih belum menjawab. Ia kira Hard belum selesai berbicara.
"Kau bisa berjanji akan menjaga diri jika aku mengizinkan kau sekolah di luar?"
Shera senang bukan main mendengar kalimat itu keluar dari bibir Hard. Ia menganggukkan kepalanya mantap.
"Shera janji yah, Shera akan jaga diri. Shera akan pulang tepat waktu seperti yang ayah inginkan. Shera janji!" jawab Shera dengan semangat empat lima.
Wajah Hard masih mempertimbangkan. Agaknya masih ragu, entah benar atau tidak keputusan yang telah ia ambil. Malik dan Bu Susi terus mendesaknya.
"Jika kau ingkar maka kau tidak akan pernah menginjak dunia luar lagi. Apa kau setuju?"
Shera menelan salivanya susah payah. Ia juga tidak bisa menebak apakah ia bisa memenuhi janjinya. Jika tidak, ia benar-benar akan selamanya terkurung di tempat ini.
"Bagaimana?"
Shera akan berusaha untuk memenuhinya. Bagaimana pun itu ia harus.
"Shera setuju."
***
Matahari masuk seolah menyapa pagi Shera yang sudah ia tunggu-tunggu. Hari ini adalah hari pertama Shera masuk sekolah lagi.
Cewek itu bangun dan menggeliatkan badannya. Membuka jendela dan berkata, "Selamat pagi dunia!"
Shera menghirup udara dan menghembuskannya. Begitu menenangkan. Setelah itu, pergi ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya.
Sejurus kemudian keluar lagi dengan seragam yang sudah melekat di tubuhnya. Shera melihat dirinya di cermin dan tersenyum pada orang yang sedang berdiri di dalam cermin itu.
"Ok, Shera kamu akan bertemu dengannya hari ini. Semangat menjalani hari ini!" ucapnya pada diri sendiri. Shera begitu antusias untuk pergi ke sekolah.
Shera mengemas buku-bukunya. Ia lupa bahwa buku-buku ini sudah dihancurkan oleh Hard beberapa waktu lalu. Ia belum sempat membeli yang baru. Shera membawa buku ala kadarnya dan berniat meminta Malik untuk membelikan nya yang baru.
***
Shera berjalan di koridor dengan rasa percaya diri, karena hari ini ia begitu bersemangat.
Ia melihat anak-anak bercanda saling melempar candaan. Ada pula yang main kejar-kejaran dan tak sengaja menyenggol bahu Shera.
Shera tersenyum, karena hari ini ia kembali menjadi bagian dari mereka.
Tanpa disadari Icha sudah mengikuti Shera sejak tadi. Sehingga saat masuk ke dalam kelas Icha langsung mencegat Shera di ambang pintu.
"Shera?"
Shera terperanjat.
"Um, I–icha?" sahut Shera mengingat nama gadis itu.
Icha langsung memeluk Shera membuat Shera kaget.
"Gue kangen banget sama lo tau!" kata Icha seperti sudah benar-benar akrab pada Shera padahal hanya so akrab saja.
Shera di landa kebingungan hebat. Ia tak mengerti kenapa Icha tiba-tiba bersikap seperti ini.
Icha melepaskan pelukannya dan mengembangkan bibirnya–tersenyum pada Shera.
"Maafin gue yah atas kejadian seminggu yang lalu," ujar Icha tulus.
Shera mengagguk menerima permintaan maaf Icha tanpa pikir panjang.
"Yang bener nih?" Icha menyipitkan matanya.
Shera kembali mengangguk.
"Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf."
"Tolong nona-nona! Jangan menghalangi jalan!" sambar Gilang si ketua kelas yang sudah sejak lama menonton Icha dan Shera.
Icha segera menarik Shera ke dalam kelas dan lanjut mengobrol di sana.
***
"Iya, Pak ampun!" Udin berjongkok bersama Wildan di hadapan Bu Ois, karena ketahuan merokok.
Udin sempat berkilah, tetapi Bu Ois terlalu pintar hingga membuat mereka berdua mengakuinya. Leon sudah melarang Udin dan Wildan merokok di loker, tetapi keduanya tidak mau mendengarkan.
Leon melipat kedua tangannya di depan d**a. Melihat kedua kawannya tengah berlutut meminta ampun.
"Yah kok ngepel si Bu hukumannya?"
"Masih nawar juga kamu Wildan!" bentak Bu Ois.
Udin menyiku Wildan agar menurut saja, ia takut jika hukumannya bertambah.
"Iya, Bu, maaf."
"Ya sudah sana pergi!" Usir Bu Ois dengan nada menggertak.
"Terus rokoknya mau ibu bawa?" tanya Udin dengan Wildan yang ikut mengangguki.
"Tentu saja."
"Jangan-jangan mau pake ngerokok juga yah, Bu?" Wildan membidik mata curiga.
"Wildan!" sentak Bu Ois yang membuat Wildan dan Udin terbirit saat itu juga.
"Silakan menikmati hukumannya, gue mau ke kelas duluan," kata Leon.
"Huh! Main cabut aja. Gak mau niat bantuin gituh?" sindir Udin. Namun tidak digubris oleh Leon yang kini sudah menghilang di telan arah.
Wildan membagi tugas dengan Udin. Seenak jidat memberikan Udin tugas paling berat dari dirinya.
"Kok gue kebagian di kolam renang si? Itu kan luas banget!"
"Gak apa-apa lah Din, lo bisa berenang juga kan kalo capek!"
"Dasar!"
Wildan segera terbirit ke kamar mandi untuk melaksanakan tugasnya. Meskipun bau, tetapi pekerjaannya akan cepat selesai, karena lantainya tidak seluas di kolam renang.
Udin mengelus d**a untuk tetap sabar dalam menghadapi sikap Wildan. Ia mulai masuk ke tempat kolam renang, melihatnya saja sudah membuat ia menelan ludah. Entah kapan rampungnya.
Udin mengangkat lengan bajunya kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengambil air dan pel-annya sekalian.
Saat masuk ke bagian ruangan yang luas ia mendengar suara air di kolam renang, lebih tepatnya seperti mendengar ikan besar sedang berenang.
Tak lama kemudian munculah kepala sekolah gadis dengan napas tersengal-sengal.
"T–tolong!" teriak gadis itu semampunya.
Udin terhenyak bukan main. Tanpa pikir panjang menyebur ke kolam renang untuk menolong gadis itu.
"T–tolong!"
"Pegang tangan gue!" pinta Udin. Gadis itu menarik tangan Udin dan memeluknya. Udin menyeret tubuh Shera dari dalam air ke daratan.
Cukup kaget melihat gadis itu adalah Shera. Sudah lama Udin tidak bertemu dengannya bahkan sudah hampir lupa.
"Uhuk! Uhuk!" Shera terbatuk-batuk hingga mengeluarkan air.
"Lo ngapain nyemplung ke air kalo gak bisa berenang?" tanya Udin bernada ketus.
Sejurus kemudian anak-anak IPA2 berdatangan dengan baju renang yang melekat di tubuh masing-masing. Mereka semua kaget melihat Shera basah kuyup.
"Shera!" teriak Icha dan langsung menghampirinya. Anak-anak yang lain juga ikut berlarian.