Para pria pembunuh menggertakkan gigi karena marah, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa lawannya yang merupakan salah satu dari pangeran terlemah akan bisa menandingi mereka dan ternyata begitu tangguh. Pantas saja imbalan untuk misi kali ini begitu murah hati.
Pada akhirnya, sekelompok pria itu setuju untuk secara diam-diam melakukan strategi serangan berpola, demi menundukkan lawan secepat mungkin. Mereka sudah tidak sabar untuk terus bermain dengan pihak lain.
"Sial! Mereka sepertinya tahu bahwa aku sengaja mengulur waktu!" rutuk pria berbaju kuning bernama Ye Sa, dengan agak frustasi. Ia mundur beberapa langkah dan bersusah payah untuk mengelak dari serangan yang datang dari arah depan dan kedua sisi, namun sebelum ia dapat mengambil napas istirahat sejenak.
Dua pria lain segera berlari ke posisi di belakangnya dan melancarkan serangan brutal kepadanya, ia hanya bisa berguling ke samping beberapa kali, nyaris tidak bisa menghindar sama sekali!
Tiga pembunuh kembali mengayunkan pedang dan ingin menusuk tubuhnya yang masih berguling di tanah. Ia segera melakukan gulungan ke belakang dan berhasil berdiri dengan sedikit goyah.
Keringat dingin bercampur darah telah mengalir dengan begitu derasnya di sekujur tubuh, rasa sakit telah berubah menjadi mati rasa. Ye Sa menahan dorongan untuk berbaring dan menyerah, karena ia mengerti bahwa jika hal itu terjadi, maka kematian akan segera merenggutnya. Ia dengan acuh tak acuh melirik ke samping.
Tanah yang baru saja ia tempati kini telah tertusuk oleh pedang, seandainya respon tubuh lambat seperdetik saja, ia mungkin sudah mengahadap Raja Yama!
"Anda benar-benar tangguh dan beruntung, Yang mulia Pangeran. Hahaha, tetapi hal itu tidak akan berlaku lagi untuk sekarang," pria pembunuh melirik rekannya dan berteriak, "Serang bersama!"
Tujuh pria pembunuh mengelilingi sosok menyedihkan Ye Sa dengan ketat, mencegah dari usaha pelariannya. Mengerahkan tenaga besar bersama, mereka menghunus pedang dan maju untuk menyerang dalam satu gerakan fatal.
Siulan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh dan membuat rambut panjangnya berkibar menutupi wajah. Ye Sa hanya berdiri di tempat tanpa tanda-tanda ingin melawan ataupun kabur, bukan karena ia percaya diri pada kekuatannya untuk menangkis semua serangan bersama itu.
Tetapi karena ia sudah kelelahan dan kehabisan tenaga, hanya bisa mencengkeram erat kipas lipat di tangannya dan menatap penuh melankolis ke depan.
"Sepertinya waktuku telah habis, hehehe," ucapnya dengan getir. Matanya perlahan terpejam dalam kepasrahan.
Di waktu yang sangat genting dan menentukan itu, tiba-tiba terdengar suara siulan bernada tinggi yang tidak enak didengar dari arah tertentu. Serangan pedang yang awalnya terorganisir dengan baik ke satu tujuan, kini mendadak berantakan!
Tiga orang berbelok ke kiri dan dua orang berbelok ke bawah, gerakan kecil pada tangan mereka secara aneh berakhir dengan saling memblokir. Tujuh pria pembunuh saling menatap dan bertanya serempak, "Apa yang kalian lakukan?!"
Tiga pria dengan lugas menjawab, "Kami mengikuti perintah!"
Saat itulah siulan bernada rendah terdengar lagi. Tiga orang yang baru saja menjawab segera menghunus pedangnya kembali ke tubuh Ye Sa.
Namun siulan bernada tinggi juga terdengar setelahnya. Dua pria lainnya yang melihat tujuan serangan akhirnya segera bergerak untuk memblokir serangan itu, lalu dengan tegas berucap, "Perintahnya adalah kita tidak boleh membunuhnya!"
"Omong kosong! Perintah itu jelas-jelas untuk membunuhnya dengan sekali tebas, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa kita tidak boleh melakukan itu?" Tiga pria yang terhalangi itu meledak dalam kemarahan.
Dua pria tetap kukuh pada pendapatnya dan memblokir serangan apapun yang terjadi.
"Apa kalian ingin memberontak?"
"Omong kosong! Siapa yang ingin memberontak? Kalianlah yang memiliki peluang besar menjadi pemberontak karena menghalangi misi kami!"
Karena suara siulan yang awalnya adalah sebuah kode untuk sekelompok pembunuh itu telah terdengar beberapa kali secara tumpang tindih, membuat mereka menjadi bingung dan akhirnya berselisih paham karena bertentangan dengan apa yang telah diyakini sebelumnya.
Saat itulah Ye Sa melihat ada sebuah peluang, dengan lemah ia berjalan ke arah yang berlawanan dari mereka. Dia berharap bahwa bala bantuan akan segera datang atau hidupnya tidak akan ada lagi keesokan hari.
Salah satu pria pembunuh menyadari bahwa targetnya telah berhasil kabur, menjadi sangat marah! Dia memukuli rekannya dan memarahi mereka. "Dasar i***t! Lihat apa yang kalian lakukan! Pangeran itu berhasil kabur lagi, cepat cari dan temukan atau kepala kalian yang akan menjadi penggantinya!"
"Ya!" Enam pria yang telah dipukul dan dimarahi segera sadar kembali dan mulai berpencar ke seluruh hutan.
Ye Sa tertatih ke suatu arah, melewati semak belukar berduri yang mengakibatkan pakaiannya tergaruk dan sobek, kulit yang terbuka pun tidak luput dari goresan itu.
Namun ia tetap melangkah ke depan menuruti kata hati yang menuntunnya. Begitu sampai di area pohon persik yang tengah berbunga harum, senyum tipis segera tersungging di bibirnya.
Mencapai pohon terbesar dan bersandar di sana, tubuhnya segera menyerah untuk bergerak lebih jauh lagi.
Tidak jauh di belakangnya, pria pembunuh yang awalnya menyadari hilangnya target segera menyusul. Seringai kejam haus darah tercetak di wajahnya, dengan pasti ia berkata, "Akhirnya aku menemukannya. Hahaha. Hadiah itu pasti akan menjadi milikku!"
***
Viona yang tadinya memainkan melodi indah tiba-tiba tersentak dan tanpa sengaja memainkan nada tinggi tak enak didengar. Matanya membulat lebar menatap seekor makhluk hidup melata berukuran sedang yang kini merayap di cabang tidak jauh dari tempatnya nangkring.
Itu adalah ular berwarna coklat keemasan dengan garis merah di kepalanya. Dan sepertinya hal itu sangat berbisa!
Viona menelan ludah dengan susah payah dan mencoba memikirkan cara untuk melepaskan diri dari ular itu yang kini menatap tajam padanya, seolah tengah mengamati makanan lezat yang akan segera dinikmati. Yah, setidaknya itulah yang gadis itu pikirkan.
Ular itu terus merayap dan akhirnya berhenti di cabang yang berseberangan dengannya, mengangkat kepala dengan angkuh dan sepertinya tengah mengisyaratkan sesuatu.
Viona mengerjap bingung sekilas, saat melihat ular itu menjulurkan lidah bercabangnya, dia pun spontan ingin berteriak kencang, tetapi karena dia tidak dapat berbicara dan ada lipatan daun di mulutnya, maka suara siulan bernada tinggilah yang kembali terdengar!
Ular itu menggelengkan kepala segitiganya seolah mengejek permainan musik gadis itu yang terdengar sangat buruk, membuat Viona merasa malu dan juga bingung.
Kenapa ular itu mendekatinya dan bahkan kini mengejeknya? Apakah ular ini adalah jelmaan dari siluman yang sengaja datang untuk mempermalukannya?
Viona menggaruk kepalanya dan mulai memarahi diri sendiri kaena telah berpikiran konyol dan sesat.
Ular itu akhirnya menutup mata dan menurunkan kepala di atas tubuhnya yang melingkari cabang, seolah tertidur karena kelelahan.
Viona melihat kejadian aneh itu dan bibirnya bergerak-gerak, namun mengabaikannya dan memilih untuk ikutan beristirahat di tempatnya. Sepertinya tidak memiliki niat untuk kembali pulang.
Ular membuka mata lagi setelah mencium aroma darah, melihat ada pria yang mendekati pohon di bawahnya dan bersandar tanpa bergerak lagi, ular itu segera mengabaikannya.
Tetapi tidak lama kemudian, ada suara angin menderu yang terdengar. Ular itu kembali membuka mata emasnya dan saat itulah ada kilasan kemarahan di pupil vertikalnya!
Dengan cepat ular itu melepaskan diri dari cabang pohon dan melompat ke cabang pohon lainnya sebelum meluncur dengan mulus ke atas kepala pria pembunuh yang telah berani memotong dahan pohon persik, lalu dengan ganas menggigitnya!
Pria pembunuh segera berteriak keras ketika merasakan sengatan di dahinya diikuti sensasi mati rasa dan akhirnya ia pun terjatuh ke tanah, tubuhnya perlahan menghitam karena racun telah menyebar dengan cepat.
Ular meninggalkan mayat itu dan menghilang di antara rerimbunan pohon persik lainnya.
Viona hampir terjatuh karena ketidak seimbangan tubuhnya akibat rasa kantuk, mengamati dahan yang tadinya ditempati ular emas dan ternyata tidak ada apapun lagi, membuatnya menghela napas lega.
Deru berisik mulai keluar dari perutnya, dengan lemah ia mendesah karena merasa lapar lagi dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan hutan. Ketika turun dari pohon persik, ia tanpa sengaja menginjak sesuatu yang lunak, setelah melihat ke bawah dan mendapati hal itu ternyata sebuah tangan putih. Viona pun segera merasa ketakutan setengah mati.
***