Bab 11

1073 Kata
Viona duduk dengan patuh di hadapan seorang pria gemuk berminyak yang menatapnya dengan ekspresi menyebalkan, membuatnya sangat muak dan ingin rasanya memukuli wajah itu sampai tidak dapat dikenali oleh orang lain lagi. Tetapi, ia tidak melakukan tindakan impulsif itu. Bukan karena ia takut pada pihak lain, melainkan malas untuk sekedar bergerak. Beberapa waktu yang lalu, setelah menyadari bahwa dirinya diculik oleh manusia asli dan bukannya hantu tembok, ia segera mengambil keputusan untuk mengikuti arus, selain merasa bahwa perlawanannya tidak akan membuahkan hasil karena perbedaan kekuatan antara pria dan wanita, ia juga ingin melihat seperti apa sebenarnya orang yang telah memiliki niat buruk terhadapnya. "Yah, kalian benar-benar menemukan harta yang cukup bagus kali ini. Ini hadiah untuk kalian!" Pria gemuk mengamati seluruh tubuh Viona dengan penuh kepuasan dan melemparkan kantong uang kepada tiga penculik. "Terima kasih, Tuan Fang!" seru tiga pria sembari menyimpan kantong dan tersenyum lebar, mereka benar-benar merasa beruntung kali ini. Pria gemuk melambaikan tangan untuk mengusir ketiga penculik dan segera mereka patuhi tanpa ragu-ragu sedikitpun. Penculik itu dengan riang meninggalkan kediaman Fang, berjalan jauh ke dalam hutan dan menghilang dari jangkauan pandangan orang. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada dua tatapan dingin serta berbahaya yang mengikuti. Hingga kemalangan menimpa ketiganya. Viona masih duduk dengan tenang tanpa khawatir dengan pria gemuk itu yang kini mendekatinya. Hanya mulai mengamati sekitar ruangan dengan ekspresi penasaran dan seolah mencari sesuatu. Pria gemuk itu mengambil air minum dan sepiring camilan, lalu meletakkannya di hadapan Viona, tidak lupa untuk bersikap b******n. "Gadis, apakah kamu lapar? Kalau begitu makanlah ini." Pria gemuk berkata dengan nada murah hati seolah tengah memberi sedekah. Viona yang kebetulan memang merasa lapar, segera mengambil camilan itu dan mengkonsumsinya tanpa memperhatikan ekspresi orang lain yang semakin menatapnya dengan jahat. Setelah camilan habis, Viona menatap ke pria gemuk seolah meminta lebih banyak lagi makanan. Pihak lain menyeringai sembari berdiri di belakang Viona lalu meremas bahunya erat. "Jika kau ingin makanan lagi, kau harus bisa memuaskan tuan ini. Apa kau mengerti?" ucap pria gemuk dengan santai. Ia yakin bahwa gadis itu pasti akan menyerah pada godaannya dan pada akhirnya akan jatuh dalam genggamannya. Viona menoleh dan menatap pihak lain dengan sedikit raut kebingungan, dalam hati bertanya-tanya sembari mengomel, "Kakek busuk ini benar-benar meminta pemukulan! Beraninya dia mencoba menipuku! Apa dia pikir aku tidak mengerti apa tujuannya dan sudi melayaninya hanya dengan upah makanan? Cih!" Pria gemuk mengulurkan tangannya untuk meremas dagu Viona dan berkata, "Jangan khawatir, gadis. Tuan ini akan mengajarimu nanti sehingga kau akan menjadi sangat mahir dalam hal memuaskan seorang pria. Dan di masa depan kau pasti akan berterima kasih pada tuan ini." Viona merasa ingin muntah ketika mendengar ucapan menjijikkan itu. Tetapi tetap memasang ekspresi bingung di wajah. "Kakek busuk! Apa kau pikir orang dari zaman modern seperti aku ini akan lebih terbelakang daripada kamu, heh? Meskipun di masa lalu aku masih perawan, tetapi pengetahuanku sangat luas dan melebihi ribuan pengetahuan yang kau miliki! Beraninya kakek purba sepertimu meremehkan serta ingin menyesatkanku!" rutuk Viona dengan kesal. "Baiklah, ayo makan dulu agar kau memiliki energi lebih nanti, hahaha." Pria gemuk memimpin ke ruang makan. Di mana telah tersaji puluhan hidangan yang menggungah selera. Viona kembali melihat sekeliling dan mengamati semua pelayan yang datang dan pergi, namun belum bisa mendapatkan sedikitpun petunjuk. Mengambil makanan enak yang tersaji, Viona menyantap semua itu dengan tenang dan anggun. Pria gemuk itu terus mengisi mangkoknya dengan berbagai lauk hingga menggunung, tidak lupa mengingatkan sembari tertawa. "Ayo makan ikan ini juga, daging harum dan juga tambah lagi sayurnya, hahaha. Kau gadis kecil harus mengisi banyak energi agar tidak mudah lelah nanti." Viona menunduk patuh dan terus melahap makanannya. Memang benar ia ingin mengisi banyak energi saat ini, tetapi tujuannya jelas berbeda dari apa yang diucapkan pria gemuk itu. Setelah makan siang selesai, beberapa pelayan datang membersihkan meja makan. Saat itulah Viona melihat seseorang yang cukup familiar. "Ohho, ternyata ini semua adalah idemu ... tunggu saja pembalasanku!" cibir Viona sembari menatap gadis pelayan yang telah meninggalkan ruang makan dan meletakkan secangkir teh di hadapannya. *** Viona berhasil meninggalkan kediaman Fang dengan selamat, berjalan santai ke kedalaman hutan bambu yang rimbun, ia pun terkekeh geli ketika mengingat kejadian apes pria gemuk yang menipunya. Dia membuat pria itu pingsan lalu mengambil uangnya dan kemudian kabur. Menyentuh saku baju yang memiliki kantong uang hasil jarahan, Viona segera mengembangkan semangat tinggi. Berjalan semakin cepat ke arah tertentu, ia perlahan sampai di sebuah hutan persik yang tengah berbunga lebat. Aroma manis bunga dan kilau warna merah muda segera menyambutnya. Membuat suasana hati Viona menjadi semakin baik. Jujur saja pemandangan ini adalah keinginan yang sangat ia idamkan semenjak dahulu kala. Sebagai orang yang memiliki kepribadian tertutup dan jarang keluar rumah untuk berinteraksi dengan masyarakat, ia tentu memiliki kekurangan untuk mengeksplorasi dunia luar. Pengetahuannya hanya sebatas pada buku dan internet. Sudah lama ia ingin melihat keindahan alam seperti saat ini. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, Viona segera memanjat salah satu pohon persik dan bertengger di dahan yang cukup tinggi, menikmati momen serta pemandangan langka di sekitar. Mengambil napas dalam-dalam lalu memejamkan mata rileks, gadis itu mulai mengendus aroma harum yang menenangkan di sekitarnya. Hanya saja merasa sedikit kecewa karena tidak dapat mengabadikan serta berbagi momen indah ini ke dalam gambar tangkapan kamera. Larut dalam kegembiraan yang langka, ia tidak menyadari bahwa ada pertempuran sengit dari sekelompok pria tidak jauh dari lokasinya. Menemukan daun berbentuk bulat, Viona melipat dan meniupnya dengan hati-hati. Segera, alunan melodi lembut mulai terdengar di sekitar hutan persik yang semula hening. Sekelompok pria berpakaian hitam tertutup mengayunkan pedang berlumuran darah ke arah seorang pria muda berpakaian kuning jeruk. Gerakan mereka begitu sengit dan secara langsung menargetkan area vital lawannya. Sedangkan pria berbaju kuning hanya menggunakan sabuah kipas lipat untuk melawan sekelompok pria tersebut, gerakannya begitu anggun dan waspada. Meskipun melawan banyak orang seorang diri, ia terlihat sangat santai tanpa adanya tanda-tanda kewalahan ataupun kesulitan. Membuat sekelompok pria berpakaian hitam semakin geram dan menggencarkan lagi serangannya Mereka tidak akan berhenti sampai lawannya tumbang dan barulah misi mereka akan berhasil. Pria berbaju kuning menyeringai tipis dan mencemooh lawannya. "Inikah kemampuan kalian yang disebut-sebut sebagai peringkat teratas di kalangan Jianghu? Jika seperti itu, sepertinya peringkat harus diseleksi lagi untuk kedepannya, hahaha." Meskipun ia mencibir seperti itu, seolah ia tidak terpengaruh dengan serangan pihak lain yang semakin brutal dan berhasil menggoreskan luka pada tubuhnya. tetapi jika diperhatikan lebih dekat, ada corak kelelahan yang terukir di wajahnya. Ia hanya menolak untuk menunjukkan dan memberikan kepuasan pada pihak lawannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN