Bab 10: Diculik.

1098 Kata
Viona dengan serius menjalin beberapa untaian benang yang memiliki warna berbeda, jemari lentiknya begitu lihai memutar dan membelitkan, sehingga semua warna yang terlilit berpadu padan secara elok. Setelah berpikir selama beberapa hari, ia akhirnya memilih untuk membuat kerajinan tangan berupa aksesori. Selain karena tidak memerlukan modal yang besar, ia juga bisa mencurahkan kreatifitas yang selama ini ia miliki. Yah, meskipun hal itu terlihat sepele untuk memulai jalan bisnis pada awalnya, tetapi ia tetap merasa sangat optimis tentang kedepannya. Setidaknya uang saku dalam jangka waktu dekat tidak perlu ia pusingkan dahulu. Maggie duduk tidak jauh dari tempatnya dan sibuk membuat sol sepatu. Tatapannnya sesekali akan melayang di atas sosok gadis itu yang kini bermandikan cahaya mentari sore, memberikan kesan kelembuatan dalam temperamennya. Senyum simpul lembut terpaut di bibirnya, ia merasa lega karena gadis itu memilih untuk tetap tinggal dan menemaninya menjaga kediaman Qi, meskipun mereka sekarang harus bekerja lebih keras dari sebelumnya, ia tidak merasa tertekan. Maggie juga menyadari bahwa, meskipun gadis itu sering bertingkah aneh dan keras kepala, tetapi ia yakin bahwa Viona adalah tipe orang yang memiliki hati besar dan baik hati. Maggie merasa tenang untuk tetap menjaganya di sisi, terutama setelah melihat kondisi Qi Rong saat ini. Tanpa mengetahui pemikiran Maggie, Viona pun menyelesaikan jalinan benang dan mengikat simpul di ujungnya lalu meletakkan bersama puluhan jenis aksesori lainnya di dalam keranjang anyaman khusus. Ia berencana untuk mempromosikan barang buatan tangan itu ke beberapa toko keesokan harinya. Setelah membersihkan dan menyimpan barang, Viona mendekati Maggie dan berniat untuk membantunya, tetapi segera dihentikan oleh pihak lain. "Tidak perlu, Vivi. Kenapa kamu tidak memasak saja untuk makan malam kita nanti? hmm." Viona mengangguk patuh dan mulai memasuki dapur untuk memasak. Dengan bahan makanan terbatas yang tersedia, ia hanya bisa membuat bubur tipis serta sayur tumis dengan sedikit potongan ikan acar. Viona, yang semasa lalu tidak pernah khawatir akan hal makanan, kini harus terbiasa makan sedikit. Hal ini tentu membuatnya merasa tidak nyaman untuk jangka waktu tertentu, tetapi setelah beberapa saat merenung kembali, ia akhirnya harus dengan rela beradaptasi. Setidaknya mereka tidak akan kelaparan untuk saat ini, kan. Dengan wajah penuh kepahitan ia menyajikan makanan ke atas meja. Maggie datang dengan senyum lembut, menepuk bahu gadis itu dan memuji, "Vivi, sudah bekerja keras. Terima kasih, Nak." Viona mengangguk dan tersenyum manis lalu memindahkan sendok untuk makan. Sedangkan Maggie, menyendok beberapa bubur dan lauk lalu berjalan pergi. Viona terdiam ketika melihatnya, meletakkan sendok dan menarik baju Maggie. Wanita paruh baya itu menoleh dan melihat wajah penuh tanda tanya dari pihak lain, lalu tertawa kecil dan menjawab dengan sabar, "Bibi akan membawa ini ke kamar, tuan muda. Kamu lanjutkan makannya, oke." Setelah mendengar hal itu, Viona pun teringat satu hal. Qi Rong telah kembali kemarin lusa dan ia memukulnya hingga pingsan! Karena kondisi fisik pemuda itu cukup buruk, mengakibatkannya tidak bisa bangun selama dua hari ini. Membuatnya lupa bahwa ada orang ketiga di kediaman itu yang seharusnya ia rawat dan perhatikan juga. Dengan perasaan bersalah dan malu, Viona hanya bisa kembali ke kursi dan melanjutkan makannya. Dalam hati bersyukur juga karena tadi ia memasak cukup banyak, sehingga Maggie tidak akan kelaparan malam ini karena kecerobohannya yang salah perhitungan. *** Keesokan harinya. Viona dengan murung keluar dari toko ke enam yang telah ia masuki dan tawari aksesorinya. Mereka semua menolak dengan tegas dan bahkan ada juga yang memberi kesan jijik pada barang dagangannya. "Ternyata memulai bisnis itu susah dan tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Bagaimana ini? Apakah aku harus menyerah? Atau harus mengganti item lain? Tapi apa yang bisa kulakukan dengan keterbatasan modal dan ide? Haish!" Viona mengeluh dan mulai bertanya-tanya di dalam hati. Perasaan pesimis juga mulai menyerang semangatnya. Dengan linglung ia berjalan di sepanjang jalan pasar, tidak menyadari bahwa ada beberapa pria berpenampilan kasar yang mengikutinya dari kejauhan. "Bos, gadis itu sangat cantik! Jika kita berhasil menangkapnya, kita pasti mendapat banyak uang!" Pria kurus menggosok kedua tangannya seolah tidak sabar memegang uang yang banyak. Pria di sebelahnya juga menimpali dengan seringai kejam di wajahnya, menunjukkan kebiadaban yang membara. "Itu benar, Saudara. Gadis itu sangat cantik dan memiliki sosok yang langka dilihat dari penampilannya, pasti dia dari kalangan bawah. Kita pasti akan mudah menipunya." Bos mengerutkan dahi agak ragu dan bertanya, "Tetapi ... dia sepertinya bukan dari Negeri ini? Lihat saja fitur wajah dan rambutnya yang sangat berbeda dari kami. Bagaimana jika dia adalah orang yang menyamar?" "Tenang saja, Bos. Kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi, saya telah mengikuti gadis itu sejak kemarin dan dapat menjamin bahwa dia hanyalah orang bawah. Bos, ayo bergerak dan jangan ragu! Kita akan rugi jika melewatkan kesempatan ini!" Pria kurus membujuk dengan penuh semangat. Memang benar bahwa dia telah mengikuti Viona dan mengetahui bahwa targetnya hanyalah seorang b***k dari keluarga Qi yang telah jatuh, jadi dia tidak khawatir melakukan hal jahat padanya. Apalagi ... ada orang di belakangnya yang telah membayar mahal untuk menyingkirkan gadis itu! Bos mereka akhirnya diyakinkan dengan jaminan pria kurus itu. Lagipula mereka berencana untuk segera pergi ke pengasingan setelah berhasil menjual targetnya, bersembunyi serta menikmati hasilnya seperti biasanya. Dengan penuh semangat jahat, ketiganya mengikuti Viona yang kini tampaknya telah tersesat di jalan buntu karena linglung. Ketiga pria itu tertawa jahat dan menghalangi jalan keluar satu-satunya. Benar-benar mengagumi kebodohan gadis itu yang sepertinya sengaja memasuki perangkap mereka, sehingga tidak perlu susah payah memancingnya lagi. Viona menabrak dinding dengan keras hingga membuatnya tersadar dari lamunan, menggosok wajah yang terasa sakit akibat benturan, ia pun mengeluh dalam hati dengan sedih. "Aiyo! Kenapa bisa ada tembok di sini? Tidak bisakah tembok ini menghindariku? Kenapa kamu tidak menghindarkan wajahku dari tabrakan? Dasar tembok kejam tidak punya hati!" Setelah memarahi dan menendang tembok tidak bersalah itu, Viona tiba-tiba mendengar tawa mengejek dari belakang yang membuatnya tersentak dalam ketakukan segera. Ia mengira bahwa itu adalah suara hantu tembok yang marah karena perlakuan kasarnya barusan. Keringat dingin mulai mengucur deras dari wajahnya dan seluruh tubuh seketika merinding. Tawa di belakangnya terdengar semakin keras dan menakutkan, membuatnya semakin takut! Ia memejamkan mata ngeri dan tidak berani bergerak bahkan se inchi pun! Ketiga pria jahat itu segera bergerak bersamaan, memasukkan karung goni ke kepala Viona lalu mengikat tangan dan kakinya. Setelah itu, empat orang segera menghilang dari tempat kejadian. Meninggalkan keranjang anyaman dan puluhan aksesori yang berserakan di tanah. Beberapa waktu kemudian. Seorang pemuda berpakaian sederhana berhenti di samping barang itu, mengambilnya dan mengendus aroma yang masih tertinggal dari gadis itu meskipun agak samar. Wajah pemuda itu seketika berubah menjadi menakutkan! "Temukan dia." Pemuda itu berucap dengan dingin. Setelah itu muncul dua sosok kabur pria berpakaian hitam yang membungkuk dan menjawab serentak dari belakangnya lalu kembali menghilang. "Ya, pak!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN