Qi Rong mengangkat kepala dan segera melihat siluet ayahnya terlihat di kejauhan, sosok itu transparan dan seperti gumpalan asap yang akan menyebar jika sekali saja terkena tiupan angin.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak." Itulah ucapan terakhir dari sosok kepala keluarga Qi, sebelum sosoknya menghilang.
"Ayah," guman Qi Rong sembari mengepalkan tangan.
Tidak berselang lama kemudian, sosok transparan lainnya keluar dari kobaran api dan berduyun-duyun mendekat padanya. Puluhan wajah terdistori menyerbu dan berteriak tajam, sepertinya sangat ingin merobek dan membawa serta Qi Rong bersama mereka ke neraka.
Qi Rong tidak bergerak dari tempatnya dan hanya mengamati semua kekacauan itu menghampiri serta menyeret tubuhnya ke dalam kehancuran. Luka perlahan robek dari kulitnya, mengucurkan aliran darah yang sangat deras.
Puluhan monster itu tertawa riang melihat darah dan dengan sigap mengkonsumsinya hingga tetes terakhir.
"Tidak!" Qi Rong menjerit ngeri melihat pemandangan itu. Tubuh penuh peluh tersentak gelisah dari posisi tidurnya, napas memburu dan terasa sangat sesak.
Tatapan kosongnya perlahan jernih, meneliti sekeliling dan ia menyadari bahwa masih berada di penginapan.
"Ternyata mimpi." Dia berguman linglung. Bangkit dari tempat tidur dan merapikan diri, pemuda itu segera mengambil barang bawaannya dan menyelinap meninggalkan penginapan dengan menunggang kuda.
Bertekad untuk kembali agar ia bisa menenangkan perasaan dan mengkonfirmasi tebakan di hatinya. Tidak peduli dengan sekelompok junior yang seharusnya ia pimpin dalam misi.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dua malam dengan sedikit waktu beristirahat di jalan, gerbang ibukota akhirnya terlihat.
Qi Rong bukannya merasa lega tetapi malah merasa semakin gelisah. Memasuki gerbang dan membayar biaya masuk, ia masih bergegas dengan kencang tanpa repot menyapa beberapa kenalan di jalan.
Beberapa orang mengenali sosoknya dan mulai bergosip bersama orang-orang di sekitar.
"Yo, bukankah itu tuan muda, Qi Rong? Dia masih memiliki wajah untuk kembali ke ibukota, ya." Pemuda berpakaian flamboyan mencibir.
Seorang gadis menimpali dengan senyum riang. "Kakak, jangan seperti itu. Lagipula dia juga teman kita."
"Kamu masih terlalu naif, Zuo mei. Hubungan teman hanya untuk mereka yang memiliki status setara, jika hal itu tidak memenuhi syarat, apa gunanya? Kamu sebaiknya jangan mendekatinya juga, oke." Pemuda berpakaian hijau memberi arahan pada gadis itu.
Pemuda flamboyan juga menyetujuinya dan tertawa riang, "Hahaha, itu benar. Sebuah hubungan harus terjalin karena ada manfaat, jika tidak ada manfaat di antaranya maka jangan berhubungan. Kita bukan tempat amal."
Gadis itu hanya bisa mengangguk setuju. Pemuda berpakaian hijau merangkul bahunya dan menuntun ke suatu arah.
Ketiganya terus saja melontarkan berbagai perbincangan tentang keluarga Qi dan rumor skandalnya, menyebarkan fitnah dengan suara yang cukup keras hingga orang-orang di sekitar ikut mendengarnya.
Selesai melaksanakan tugas, ketiganya dengan santai memasuki sebuah restoran dan memulai makan siang bersama.
Saat itulah rumor tentang betapa buruknya keluarga Qi dan kejatuhan mereka tersiar luas di kalangan rakyat. Banyak yang langsung percaya dan mengutuk perilaku buruk itu.
Ketika hal itu sampai pada pihak istana, wajah para petinggi segera jatuh dalam kemuraman.
Beberapa faksi pejabat segera mengadakan pertemuan darurat dan membahas hal tersebut. Di satu sisi ingin menekan rumor itu dan melindungi junior Qi yang tersisa, sedangkan di sisi lain ingin menambahkan lebih banyak bahan bakar agar rumor itu semakin menjadi luas dan kacau.
Qi Rong sampai di kediaman dan segera memanggil ayah, tetua dan beberapa kerabat yang ia kenal. Tetapi tidak ada yang menanggapinya.
Perasaannya menjadi semakin gelisah dan tanpa sadar kakinya terayun mengikuti naluri.
Saat itulah ia mulai melihat bentangan kain putih di beberapa tembok halaman yang menyatu ke suatu arah.
Aula leluhur!
Langkahnya tersandung ke halaman tersebut, tubuh gemetar dan mentalitas rapuh yang selama beberapa hari ini dia tanggung, akhirnya runtuh setelah melihat puluhan tablet kayu berukir nama-nama para generasi senior Qi berjajar di dalam dinding aula leluhur.
"Tidak mungkin ... ini tidak mungkin terjadi, tidak!" Qi Rong berguman tidak percaya dan akhirnya meraung marah. Dia berlutut di lantai, mengambil sebuah tablet kayu berukir nama ayahnya, mengusapnya lembut seolah takut mencemari benda itu dan tiba-tiba menangis pilu.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa?"
Qi Rong berkowtow ke lantai dengan gerakan kasar, dahinya membentur permukaan ubin dengan bunyi berat berkali-kali.
Bibirnya terus saja berguman lirih, "Maafkan aku. Ini semua salahku, maafkan aku."
Pemuda itu terus berkowtow hingga dahinya mulai mengeluarkan darah, tetapi tidak memiliki niat untuk berhenti. Dia merasa bersalah dan berniat untuk menggunakan darahnya sendiri sebagai penebusan dosa.
Saat itulah Maggie datang ke aula dan segera menjerit ngeri setelah melihat keadaan majikan mudanya yang tampak berantakan.
"Tuan muda, apa yang anda lakukan? Berhenti, tolong." Maggie mencoba menarik tubuh pemuda itu tetapi gagal memindahkan bahkan sedikitpun.
Hatinya sangat sakit melihat anak yang dia besarkan dengan hati-hati selama ini mengalami kejadian buruk seperti itu. Tanpa lelah ia mencoba membujuk dan menarik lengan Qi Rong, tetapi tidak berhasil juga.
"Vivi! Cepat datang dan bantu, bibi!" teriak Maggie dengan putus asa, ia hanya bisa mengandalkan bantuan ekstra kali ini.
Viona yang tengah menyapu daun kering di halaman lain segera berlari dengan tergesa-gesa setelah mendengar panggilan, ia mendadak takut jika ada kecelakaan lain yang menimpa wanita paruh baya tersebut.
Dengan sapu di tangan ia berlari ke tempat Maggie berada, namun ia segera menghela napas lega ketika mendapati tidak ada masalah pada Maggie.
Hanya saja ia cukup penasaran dengan makhluk hidup tambahan di samping Maggie yang ia rasa cukup familiar terhadap sosok itu meskipun hanya punggung yang ia lihat.
Maggie masih dengan putus asa mencoba menarik tubuh Qi Rong agar tidak terluka lebih parah, tetapi tetap gagal. Setelah melihat Viona yang kini terdiam di ambang pintu, ia pun kembali berteriak marah, "Kenapa diam saja? Vivi cepat bantu!"
Viona mengusap hidungnya sekilas dan mulai ikut menarik lengan Qi Rong, namun usahanya seperti sia-sia. Meski sudah sekuat tenaga mencoba menarik pemuda itu, tetapi ia merasa bahwa orang tersebut seperti sebuah pohon yang dengan keras kepala mempertahankan diri dari gangguan eksternal.
Karena perbedaan tenaga, ia sempat terlempar ke samping dan punggungnya dengan keras membentur meja.
Akhirnya ia merasa kesal, dengan cibiran di dalam hati ia mengambil sapu dan mengambil ancang-ancang, mengayunkannya dengan kuat ke punggung atas Qi Rong!
Hasilnya adalah orang tersebut pingsan. Maggie menatap tidak percaya pada Viona.
Suasana menjadi hening dan kaku untuk sementara, hingga suara tanya gemetar Maggie berhasil memecah atmosfer tersebut.
"Ka ... kamu memukul, tuan muda?"
Viona dengan polosnya mengangguk dan memberinya tatapan seolah berkata, "Ini sudah jelas, kan."
Pada akhirnya, Maggie hanya bisa menghela napas lelah dan buru-buru memeriksa kondisi Qi Rong di lantai. Setelah tidak mendapati hal-hal yang terlalu serius, ia pun segera memapah tubuh lemah itu.
"Vivi, ayo bantu membawa, tuan muda ke kamar sebelah. Jangan terlalu kasar, oke."
Viona setuju dengan segera, meletakkan sapunya dengan sembarang dan membantu.
Maggie membersihkan tubuh pemuda itu dan membalurkan obat ke lukanya dengan hati-hati. Sedangkan Viona dengan enggan mengambil air hangat dan membuang pakaian kotor sang majikan, menolak untuk mencucinya.
***