Lagipula dia juga tidak begitu mengenal dunia ini jika harus pergi. Tidak mungkin untuk meminta bantuan dari beberapa tuan muda yang memiliki hubungan baik dengan Qi Rong, kan. Meskipun ada peluang besar mereka bersedia menampungnya, tetapi dia merasa akan merepotkan jika suatu saat nanti mereka meminta imbalan yang tidak mampu ia bayar.
Lebih baik menghindari masalah sebelum semuanya terlambat. Jadi lebih baik untuk tetap tinggal dan memikirkan cara lain untuk menghasilkan uang.
Viona bangga dengan pemikirannya yang ia rasa cukup brilian. Sedangkan Maggie menatapnya geli, kira-kira memahami apa yang dipikirkan gadis itu, tetapi tidak repot-repot mengingatkan bahwa jalan ke depannya mungkin akan sulit dan berbahaya.
Dia juga senang karena tidak akan sendirian menjaga serta merawat kediaman ini, sampai Qi Rong kembali pulang nantinya. Yah, Maggie memiliki firasat bahwa pemuda itu pasti akan kembali lagi, ia hanya merasa akan sulit untuk menceritakan kebenarannya nanti.
Dengan fokus pemikiran yang berbeda, keduanya segera tenggelam dalam lelap.
Keesokan harinya.
Viona nekad menjelajah dan mengamati pasar, mencoba mencari ide untuk membuat sesuatu yang belum ada di dunia ini. Mungkin saja ia bisa membawa ide dari dunia modern ke sini dan menghasilkan ember emas pertamanya.
Karena dari pengalaman puluhan novel yang ia baca dulu, hal semacam itu sangatlah lumrah bagi setiap orang yang 'pindah' ke dunia lain untuk meraih kesuksesan besar.
Hanya saja, semakin lama dia mengamati semakin rendah kepercayaan dirinya. Seolah dunia ini sengaja ingin mengolok-oloknnya, setiap kali ia mendapat sebuah ide untuk membuat suatu produk, maka saat itulah ia menemukan ada sebuah toko yang memiliki hal tersebut.
Misalkan tas sekolah modern, pakaian modern, sepatu, kue dan masakan, bahkan desain perhiasan modern pun sudah ada di dunia ini!
Sudut mata Viona berkedut keras dan dalam hati mengutuk siapapun orang yang membawa hal modern di dunia ini terlebih dahulu, tanpa menyisakan sesuatu untuknya dan mengakibatkan kesusahannya saat ini.
Pada akhirnya, gadis itu hanya bisa berjalan pulang dengan perasaan sedih dan murung.
"Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Aku tidak bisa hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu untuk menghasilkan uang, kan? Kenapa hidup ini begitu sulit?" tanya Viona pada langit biru di atas.
"Vivi? Kenapa kamu berjalan sendirian di sini?" tanya seorang pemuda tampan berpakaian sederhana sembari menepuk bahunya. Viona menoleh dan menatap hampa pada orang itu.
"Hei, kenapa melamun? Apakah kamu sedang dalam masalah?" Pemuda itu sekali lagi bertanya dengan ramah.
"...." Viona hanya mengangguk kosong lalu berbalik, ingin segera berlari dan menjauh dari pemuda itu. Dia merasa lelah hanya dengan melihat sosok itu dan merasa akan mendapat banyak masalah jika ia harus terlibat dengannya.
Pemuda itu sepertinya memahami pikiran Viona yang ingin melarikan diri, dengan seringai licik dia mencengkeram lengan gadis itu dan berucap ringan. "Mau kabur? Ayolah, Vivi. Ikut saja denganku, dan hidupmu akan terjamin selamanya."
Viona meringis ngeri ketika mendengar ucapan itu, merasa seperti sedang dibujuk oleh om-om m***m. Padahal yang mengatakan hal itu hanya seorang pemuda berusia kurang dari tujuh belas tahun.
Siapa yang mengajarinya hal sesat seperti itu? Apakah itu juga warisan dari 'transmigator' lainnya?
Menyipitkan mata mengancam, Viona mengibaskan lengannya hingga cengkeraman pemuda itu terlepas, lalu memelototi pihak lain dengan ganas dan segera pergi dari tempat.
Yuo Zi keluar dari sudut bangunan terdekat, menghampiri pemuda yang tadi berbicara dengan Viona, menepuk bahunya ramah dan berkata dengan nada penuh keyakinan.
"Ayo kita minum, saudara. Masalah b***k itu bisa ditunda kapan saja, lagipula pemiliknya sudah berakhir dan dia pasti akan jatuh ke tangan kita pada akhirnya. Hahaha."
Keduanya segera masuk ke sebuah restoran dan menikmati makan siang yang mewah. Yuo Zi terus saja berkata omong kosong dan berusaha meyakinkan pemuda itu agar mendekati serta membujuk Viona. Namun ada seringai jahat di sudut bibirnya ketika ia menunduk untuk menyeruput teh oolong di cangkir porselen.
Yuo Zi sudah tidak sabar untuk mendapatkan gadis cantik yang selalu menjadi target obsesinya selama ini dan menumpangkan tangan padanya.
***
Qi Rong merasa sangat gelisah di sepanjang perjalanan bersama puluhan junior Qi. Ia merasa bahwa perjalanan kali ini sangat aneh dan menyembunyikan sesuatu yang besar.
Sudah empat hari mereka meninggalkan ibukota atas instruksi kepala keluarga dan tetua Qi, dengan mengemban tanggung jawab untuk menyelesaikan sebuah misi penting di desa tertentu. Saat itu para tetua memberi perintah agar misi harus terpenuhi dengan benar dan kami diperbolehkan untuk berpetualang setelahnya.
Tidak seperti misi-misi penting sebelumnya yang hanya akan dilakukan oleh sekelompok kecil orang dan setelah misi berhasil, semua orang diharuskan kembali untuk melapor.
"Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh, ayah? Kenapa rasanya misi kali ini terasa sangat aneh? Seolah kami tidak hanya dikirim untuk menyelesaikan misi tetapi juga diusir dari ibukota." Qi Rong bertanya-tanya sembari menyapu pandangannya ke sekeliling lagi.
Saat ini rombongan telah mencapai sebuah kota kecil yang cukup makmur dan memutuskan untuk beristirahat di penginapan. Puluhan generasi junior menurunkan barang seperlunya dan menempati hampir semua kamar yang tersedia.
Qi Rong terlarut dalam pikirannya sendiri yang semakin tak menentu dan tanpa sadar tertidur.
Malam itu sunyi tanpa suara satu makhluk pun yang terdengar. Qi Rong berjalan dengan ringan di bawah selimut malam, ada ekspresi aneh di wajahnya dan semakin diamati maka akan terlihat bahwa ekspresinya sangat menyeramkan.
Kakinya berhenti di depan gerbang kediaman Qi, setelah beberapa saat diam, kaki itu terayun dengan ganas menendang gerbang hingga benda persegi itu hancur berkeping-keping!
Seringai kejam muncul di atas bibirnya yang kemerahan, mengayunkan pedang bermata tajam ke arah puluhan penjaga di kediaman yang kini mengepungnya, ia pun menebas mereka semua hingga darah mulai mengalir di bawah kakinya.
Setiap langkahnya dipenuhi darah segar dari pintu gerbang ke pintu kediaman, membuat siapapun yang melihat hal itu pasti akan menjerit ketakutan dan bahkan menjadi gila karena ngeri.
"Qi Rong, apa yang kamu lakukan? Kenapa kau membunuh mereka?" Puluhan tetua Qi datang di hadapan Qi Rong dan menanyainya.
Tetapi pemuda itu sepertinya tidak mendengar apapun, dengan seringai haus darah yang semakin kuat, ia menebas semua orang tua yang ada di hadapannya!
Darah kembali menggenang di bawah kakinya.
Menguarkan suasana kegilaan dan kengerian neraka.
"Qi Rong! Apa ini? Kemari dan terima hukumanmu!" bentak ayah Rong dengan wajah yang terdistrori.
Qi Rong berbalik dengan gerakan kaku, menatap ayahnya dengan cahaya kegilaan di matanya, mengucapkan sebuah kata dan dengan pasti menebas sosok pria itu.
"Matilah!"
Setelah menebas semua orang yang menghalanginya, Qi Rong membakar kediaman keluarga yang telah dibangun semenjak berabad-abad lalu.
Api kuat segera melalap semua bangunan serta mantan penghuni tanpa meninggalkan satupun jejak kemakmuran lagi.
Qi Rong hanya menatap semua itu dengan pandangan dingin. Di matanya hanya ada kobaran api yang menyenangkan.
"Argh! Dasar kau manusia terkutuk!"
"Kau akan menerima balasan yang lebih menakutkan di masa depan!"
"Kami akan selalu mengikutimu dan mengutukmu!"
"Manusia berhati iblis sepertimu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan!"
"Kau telah mengakhiri keluarga Qi yang telah kami bangun dengan susah payah!"
"Kau tidak pantas hidup dengan baik!"
Suara penuh amarah itu terus bergema dari dalam kobaran api, seperti suara iblis dari kedalaman neraka yang menyesatkan hati manusia.
***