"Fiuh. Menjadi kejam memang sedikit melelahkan. Tetapi aku suka itu, setidaknya hari-hariku tidak membosankan lagi dan perasaan menindas orang lain memang sangat menyegarkan. Hahaha."
Wanita yang sedari tadi duduk itu bermonolog riang tanpa mempedulikan citra agungnya lagi, lalu beranjak untuk mendekati tubuh Viona.
Dengan cermat ia menelusuri sosok gadis itu yang masih terbaring pingsan, mengusap kepalanya sekilas dan merasakan tekstur rambutnya yang agak berbeda dari kebanyakan orang di kerajaan Phoenix.
Mengernyit heran, dia menjentikkan jari dua kali.
Pintu terbuka dari sisi lain, datanglah sesosok 'wanita' yang wajahnya tertutup kain muslin tipis, menyembunyikan fitur eloknya.
"Salam, Yang Mulia Putri. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya 'wanita' itu sembari menangkupkan kedua tangan di depan d**a dan sedikit membungkuk.
"Tsk! Berhenti berpenampilan seperti itu di hadapanku! Ini sangat menggelikan, kau tahu?" gerutu Wei Na dengan tangan melambai, seolah tengah mengusir lalat yang mengganggu.
'Wanita' anggun itu terbatuk sedikit sebelum menanggapi dengan canggung. "Yang Mulia, tolong abaikan detail kecil ini, okay. Mari kita bicarakan bisnis saja sekarang."
Wei Na memutar bola mata jengah lalu dengan tidak sabar memberi perintah, "Cih! Huo Rui, beraninya kau mencoba mengalihkan topik. Oke, oke. Obati gadis merepotkan ini dan pastikan untuk tidak membuatnya memiliki bekas luka, atau bocah itu akan memenggalmu!"
'Wanita' bernama Huo Rui itu sedikit terguncang kala mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan pihak lain, dalam benak ia bertanya-tanya.
'Jika ada bekas luka, kenapa harus dia yang akan dipenggal? Apa salahnya? Bukan dia yang menyebabkan semua luka itu, oke.'
Dengan wajah yang diselimuti ekspresi kepahitan, Rui bergegas memeriksa dan mengobati tubuh Viona yang masih meneteskan darah. Gerakannya begitu terampil ketika menyingkirkan pakaian robek, membersihkan luka dari darah, mengoleskan obat serta membalut perban.
Rui dengan bersungguh-sungguh memperlakukan Viona dengan hati-hati, sembari dalam benak merencanakan pengobatan jangka panjang.
Sedangkan Wei Na, dia keluar dari halaman mewahnya dan berjalan ke arah tertentu di mana ada kolam teratai, diikuti oleh dua pelayan cantik yang memiliki wajah identik alias kembar.
Suasana hatinya sedang bagus kali ini, jadi ia ingin bersantai dan menikmati kegiatan memetik biji teratai di kolam. Jika ada orang luar istana yang melihat pemandangan itu, mungkin mereka akan terperangah untuk waktu yang lama.
Bagaimana tidak? Wei Na sebenarnya memiliki status tinggi di istana kerajaan Phoenix dan bahkan sang Kaisar sendiri sangat menghormati dan segan terhadapnya.
Dan kini, sosok agung itu memasuki kolam teratai dan dengan santainya memetik beberapa batang berwarna hijau tua, menaruh di keranjang khusus yang dibawa oleh pelayannya.
Di tengah kegiatannya, Wei Na berbisik pada diri sendiri. "Status."
Beberapa detik kemudian, sebuah layar transparan muncul di depannya. Ada berbagai teks di layar dan jika diperhatikan sedikit, hal itu sama seperti layar sistem yang dimiliki oleh Viona. Hanya saja dia memiliki tingkat level yang lebih tinggi.
***
Viona membuka mata dan mengamati lingkungan sekitar dengan linglung. Seingatnya dia telah dicambuk dengan parah oleh Qi Rong dan membuatnya pingsan karena rasa sakit yang sangat besar.
Tetapi dia mendapati bahwa tidak ada rasa sakit lagi di punggungnya, hanya sedikit terasa gatal di sana. Apakah dia berhalusinasi? Tanyanya dalam diam.
Maggie mendekatinya dan dengan senyum hangat berkata, "Vivi, apakah kamu merasakan ketidaknyamanan di manapun?"
Viona menggeleng dan menatap ragu-ragu pada wanita paruh baya itu.
Maggie sepertinya mengerti apa yang ingin ditanyakan gadis itu dan menjawab dengan sabar. "Nak, kamu makan dulu ya. Setelah itu, bibi akan memberitahumu beberapa hal yang terjadi belakangan ini."
Viona mengangguk dan dengan patuh memakan bubur hambar serta beberapa sendok acar sayur yang tadi dibawa oleh Maggie. Meskipun makanan seperti itu sangat sulit untuknya menelan, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk menghabiskannya sesegera mungkin.
Setelah beberapa saat hening, Maggie menghela napas berat lalu menatap ke luar jendela.
Ada ekspresi kesedihan dan juga tekad di kedalaman mata tuanya.
"Vivi, dua hari yang lalu keluarga Qi telah berakhir."
Viona yang mendengar hal itu mendadak tercengang dan bingung, dengan alis mengerut dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Qi sudah berakhir? Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya Qi akan terus ada sampai beberapa generasi mendatang? Apa yang terjadi sekarang?"
Gadis itu merasakan ada sesuatu yang salah, tetapi tidak mampu menemukan apa hal salah itu. Hanya samar-samar mengetahui bahwa kejadian ini seharusnya tidak terjadi secepat ini.
Maggie memalingkan wajah dan kembali menatap Viona yang kini tampak berpikir keras, ada senyum ironis di sudut bibirnya namun segera ia melanjutkan penjelasan kembali.
"Ya, dua hari yang lalu seluruh senior Qi telah dieksekusi oleh pihak istana. Ada lebih dari enam puluh lima nyawa yang menghilang di waktu itu dan alasan yang menyertainya sebenarnya cukup sepele. Apa kamu tahu apa yang menjadi alasan itu, Vivi?"
Menanggapi pertanyaan itu, Viona hanya bisa menggeleng tidak mengerti. Dia masih tidak percaya akan banyaknya informasi yang baru saja didengarnya barusan. Puluhan nyawa musnah di waktu yang bersamaan, apa yang bisa menjadi penyebabnya? Bukankah hal itu akan menjadi sesuatu yang besar untuk dapat menumbangkan sebuah keluarga Qi? Tetapi kenapa bibi Maggie mengatakan bahwa alasannya adalah sesuatu yang sepele?
Maggie menepuk kepala gadis yang kebingungan di hadapannya lalu beranjak keluar dari kamar dengan membawa mangkok serta gelas. Hanya mengucapkan beberapa kalimat yang cukup ambigu sebelum sosoknya hilang di balik pintu. "Hanya karena seorang gadis yang terluka."
Viona menunduk dan menatap tangannya sendiri yang kini gemetar dan berkeringat, entah mengapa merasa bahwa semua tragedi ini ada hubungannya dengan dirinya.
Memejamkan mata erat, dalam hati berguman, "Apakah ini karena ku?"
Dia mencoba mengingat kembali kejadian di masa lalu ketika dia masih kecil, adiknya mengalami kecelakaan karena kecerobohannya, ibunya bunuh diri karena kesalahannya dan ayahnya meninggalkannya karena menganggap dia adalah anak pembawa petaka.
Semua orang yang dekat dengannya akan secara perlahan mengalami kemalangan, sehingga dia harus pindah ke sebuah tempat terasing pada suatu waktu dan menutup diri terhadap sekitar.
Awalnya mengira bahwa dengan kedatangannya di dunia aneh ini, nasibnya akan berubah. Tetapi sepertinya pemikiran itu sangat naif, di manapun ia berada, kutukan kemalangan itu akan terus mengikuti langkah dan menjerat orang di sekelilingnya.
Kali ini nasib buruknya telah merenggut puluhan nyawa dalam satu waktu, lalu bagaimana dengan waktu berikutnya?
Viona memeluk lutut dengan erat, menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan dan menangis dalam diam. Tenggelam dalam keputusasaan dan kemarahan.
***
Maggie kembali dari dapur setelah membersihkan peralatan makan, hendak mengajak Viona untuk bebersih rumah tetapi mengurungkan niatnya ketika melihat gadis itu menangis.
Hatinya terasa sakit melihat hal itu, tetapi ia memaksa diri untuk tidak datang menghiburnya dan memutuskan untuk melakukan pekerjaannya sendirian. Sekaligus mencari cara untuk membicarakan perihal masa depan mereka.
Ketika malam hari menjelang, Viona telah mampu mengendalikan suasana hatinya dan kini menjadi tenang. Dia bekerja keras membersihkan seluruh halaman kediaman Qi yang kini kosong sembari memanggil sistemnya dalam benak.
"Sistem?"
"...."
Tidak ada tanggapan. Viona menggaruk rambutnya yang secara tiba-tiba terasa gatal, pasalnya sudah sedari siang dia mencoba memanggil sistem dalam benaknya, tetapi tidak ada respon sama sekali.
"Sistem, apakah kamu marah padaku karena mengabaikan peringatanmu sebelumnya? Maafkan aku, oke." Viona membujuk.
"...."
Tetap tidak ada respon.
Akhirnya, Viona menyerah dan kembali ke aula leluhur di mana Maggie berada, dengan membawa peralatan kebersihan di tangan.
Maggie sibuk menyalakan dupa di dalam aula dan melakukan rutinitas doa. Sedangkan Viona hanya berdiri di luar mengamati.
Beberapa saat kemudian, Maggie keluar dan tersenyum lembut ketika melihat gadis itu.
"Sudah selesai? Apa kamu lapar?" tanya wanita paruh baya itu sembari mengusap kepala Viona, membuat gadis itu merasa nyaman.
Viona mengangguk setuju dan keduanya segera kembali ke halaman yang sementara digunakan sebagai kamar, tidak jauh dari aula leluhur.
Usai membersihkan diri, keduanya pun memulai makan malam sederhana.
"Vivi, jika kamu ingin meninggalkan kediaman ini, tidak apa-apa. Bibi akan memberimu uang dan bekal sehingga kamu bisa hidup dengan baik di luar sana." Maggie tiba-tiba mengemukakan isi hatinya, yaitu memberikan pilihan, dia tidak ingin menahan ataupun memaksa gadis itu untuk tetap tinggal. Lagipula kediaman itu sudah tidak lagi bisa membiayai mereka.
Viona menggeleng, dia akan tetap tinggal!
Walau bagaimanapun juga dia tidak memiliki properti ataupun kenalan di dunia ini.
****