Sesampainya di kediaman keluarga Qi, Viona dibawa paksa oleh Rong ke aula disiplin.
Gadis itu dibiarkan berlutut dengan punggung tegap, sedangkan Rong mengambil sebuah cambuk panjang berlapis duri tipis. Dengan sapuan cepat dia melampiaskan amarahnya ke punggung Viona.
'Ctar!'
'Ctar!'
*sfx: suara cambuk.
Viona meringis kesakitan dan mulai tersadar dari lamunannya, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan lemah dia menanggung cambukan itu dan kesadarannya perlahan meredup. Sebelum kegelapan merengkuhnya, samar-samar ia mendengar suara sistem yang lemah. "Host, jaga diri baik-baik. Saya mungkin tidak bisa lagi kembali."
"Dasar b***k sialan! Beraninya kau membangkang padaku! Rasakan ini dan renungkan perilaku burukmu itu!" raung Qi Rong dengan wajah yang menakutkan.
Laki-laki itu bertindak seolah dia telah dirasuki iblis kejam, matanya memerah dipenuhi amarah dan tanpa basa-basi dia mengerahkan kekuatan besar di setiap pukulannya.
Kulit di punggung Viona perlahan pecah dengan lelehan darah yang mulai mengalir membasahi gaunnya, jika ada orang lain yang melihat, mereka pasti akan segera berteriak ngeri dan ketakutan.
Gema hantaman cambuk dan teriakan marah terus terdengar di aula disiplin hingga beberapa waktu kemudian.
Banyak pelayan yang berkumpul di sekitar lokasi, mereka semua saling mencibir dan menertawakan kemalangan gadis itu. Sama sekali tidak memiliki rasa simpati terhadap sesama.
"Gadis itu benar-benar berani membuat marah tuan muda." Pelayan 1.
"Ckck, sepertinya hukuman dari tuan muda selama ini masih kurang untuknya." Pelayan 2.
"Benar, entah apa yang ada di dalam otak b***k rendahan itu, nyalinya benar-benar besar." Pelayan 3.
"Hmm ...."
Kerumunan masih terus berbisik dengan riang sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang tertentu yang berlari ke aula disiplin.
"Qi Rong, hentikan!" Kepala keluarga Qi menyambar cambuk di tangan Rong dan melemparkannya ke sudut, setelah itu menampar wajah putranya dengan sengit.
'Plak!'
Suasana di dalam aula menjadi sunyi seketika. Rong mengusap pipinya dan menatap tidak percaya ke arah sang ayah yang kini melotot tajam, seolah-olah dia telah melakukan sesuatu yang sangat keji dan ayahnya ingin menelannya hidup-hidup.
"Aya ...."
Ucapannya segera dipotong oleh kepala keluarga.
"Diam! Apa yang kau lakukan sekarang? Ingin membunuh gadis ini?"
Qi Rong menggeleng kuat dan menyangkal tuduhan itu. "Apa yang ayah, katakan? Bagaimana bisa putra ini melakukan kejahatan seperti itu?"
Saat inilah mata Rong yang tadinya berwarna kemerahan, kini menjadi jernih kembali.
Kepala keluarga Qi mengerutkan alisnya semakin erat, dengan nada yang masih terdengar buruk dia bertanya sembari menunjuk ke arah Viona yang kini telah terbaring di lantai, pakaian di bagian punggung telah robek dan penuh akan noda darah.
"Lalu apa ini? Jelaskan padaku!"
Rong tersentak, sepertinya telah menyadari sesuatu, dia segera melihat ke tubuh Viona dan saat itulah wajahnya menjadi pucat ketakutan.
"Vivi, hey. Bangun." Rong menyentuh sisi wajah gadis itu dengan hati-hati dan tangan yang gemetar. Hatinya tiba-tiba merasakan nyeri yang menusuk, mengutuk perbuatan jahatnya sendiri, dia memanggil untuk memastikan sesuatu, namun tidak ada respon dari pihak lain.
Viona tetap menutup mata erat-erat, napasnya terlihat semakin melemah dan tidak ada sedikit pun gerakan di anggota tubuhnya.
"Ayah, apa ... apa yang harus kulakukan? Apakah aku telah membunuhnya? Kenapa aku melakukan ini padanya?" tanya Rong dengan perasaan panik dan ketakutan. Ada juga kebingungan di dalam benaknya, dia sama sekali tidak bisa mengingat perbuatan sadisnya barusan. Apa yang terjadi padanya? Dia juga bertanya-tanya.
Kepala keluarga Qi menghela napas lelah menyaksikan betapa cerobohnya putranya saat ini, juga mulai menyesali sikap memanjakannya di masa lalu.
Andai saja dia bisa bersikap tegas seperti kakaknya Qi Xiao, mungkin putranya itu akan menjadi sosok yang bisa diandalkan.
Membopong tubuh ringkih Viona secara pribadi dan pergi meninggalkan aula disiplin, kepala keluarga tidak peduli lagi dengan putranya dan para pelayan yang masih berkumpul di sekitar mengamati.
Dengan nada dingin yang langka, kepala keluarga Qi berkata, "Jika kalian memiliki banyak waktu luang, maka enyah dari kediaman! Saya tidak sudi memiliki pelayan yang memiliki hati batu!"
Setelah mengucapkan kata itu, keduanya segera menghilang dari pandangan para pelayan yang kini diselimuti rasa takut dan penyesalan.
Memasuki ruang belajar, kepala keluarga terus berjalan mendekati sisi rak buku, menggunakan ujung kaki untuk menendang beberapa sudut hingga menghasilkan bunyi ritmis tertentu, rak buku itu mulai bergeser dan menampilkan sebuah lorong panjang tak berujung.
Dengan pasti kakinya terus terayun menapaki lantai menyusuri lorong. Hingga beberapa waktu berlalu, keduanya sampai di ujung lorong yang lain. Kakinya kembali mengetuk dengan ritme tertentu hingga tembok di hadapannya terbuka.
Menghela napas panjang dan berat, pria itu menguatkan diri sebelum memasuki ruangan.
Dalam hati dia berdo'a agar gadis dipelukannya tidak mengalami cidera berat, sehingga hukuman yang akan diterima keluarganya tidak terlalu besar, atau dia tidak akan bisa lagi melihat masa depan keluarga Qi.
"Salam, Yang Mulia." Kepala keluarga Qi menurunkan tubuh Viona ke sebuah bangku kayu dengan hati-hati, lalu berlutut dan bersujud ke arah tertentu, di mana ada bentangan tirai transparan yang menampilkan sosok anggun wanita, sedang duduk dengan bermartabat.
Wanita itu memandang rendah padanya dan mencibir, "Keluarga Qi, sepertinya memiliki nyali yang sangat besar, heh! Bahkan berani menyentuh 'orang kami' dengan begitu parahnya. Apakah peraturan di Kerajaan Phoenix ku ini hanya untuk pajangan saja? Huh."
Ucapan itu sontak membuat tubuh kepala keluarga Qi menggigil ketakutan, masih dalam posisi bersujud dia memohon, "Mohon ampun kepada, Yang Mulia. Tolong selamatkan generasi muda kami, hamba yang rendah ini bersedia menanggung semua hukuman."
Pria itu hanya bisa memohon ampun untuk masa depan keluarganya, karena dia sadar betul bahwa ucapan wanita itu barusan adalah sebuah hukuman mati bagi keluarga Qi nya.
Merasa gagal dalam menjalankan tugasnya, dia hanya berharap sedikit pengampunan untuk melestarikan generasi muda di keluarga, terutama putra yang disayanginya dan juga akar dari semua masalah yang ada.
Wanita itu terkekeh dingin melihat pria itu meminta belas kasihannya, ada sedikit rasa pencapaian dan kebanggaan di dalam hati, dengan santai ia memberi titah, "Persiapkan diri dan kembali tiga hari lagi."
Artinya jelas, generasi muda akan selamat dan semua generasi senior harus lenyap.
"Terima kasih atas belas kasih, Yang Mulia." Kepala keluarga Qi berkowtow tiga kali lalu merangkak mundur meninggalkan ruangan, kembali ke kediamannya dengan perasaan campur aduk.
"Pada akhirnya, Qi sudah selesai. Maafkan diri ini yang tidak berguna, leluhur."
Setelah kembali ke kediaman, kepala keluarga Qi mengadakan pertemuan darurat untuk semua sesepuh, mengungkapkan dilema dan hukuman yang akan mereka hadapi kedepannya lalu mengambil beberapa keputusan penting menyangkut keselamatan generasi muda.
Di antara keputusan itu adalah, mengasingkan para pemuda dan pemudi berusia di atas lima tahun dan di bawah tiga puluh tahun, sesegera mungkin.
Hal itu dimaksudkan untuk melindungi mereka dari tatapan jahat para musuh yang telah lama mengincar keluarga Qi.
Sedangkan untuk para penatua, mereka diberikan kebebasan untuk memilih, menerima hukuman atau meninggalkan kerajaan.
Namun semua risiko akan mereka tanggung sendiri.
***