Luo Qiqi menahan ketidaknyamanan di tubuhnya, terus melangkah ke arah tertentu di mana lokasi pasar berada. Tidak ada pilihan lain yang lebih baik untuk mendapatkan makanan selain tempat itu, meskipun hasilnya mungkin dia akan dimarahi atau dipukuli sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi ia bertekad untuk melanjutkan ke sana.
"Ibu, tunggu aku pulang dan akan kubawakan makanan serta obat untukmu." Qiqi berguman sembari terus melangkah.
Di rumah. Ibunya Qiqi menangis sedih. Dia sama sekali tidak menduga bahwa nasib akan begitu kejam terhadapnya.
Suaminya tidak pernah kembali sejak lima bulan lalu, tidak ada kabar ataupun rumor tentangnya di manapun, seolah pria itu telah menguap dari udara tipis, meninggalkan dia dan putrinya dalam keadaan putus asa.
Dia harus bekerja keras sebagai kepala keluarga, mencari nafkah, mengisi segala kebutuhan hidup seperti kayu bakar dan air, yang mana merupakan pekerjaan berat menguras tenaga.
Meski begitu, dia tidak pernah mengeluh. Hanya menyalahkan diri sendiri karena telah menelantarkan putrinya demi kesibukan kerjaan.
Setiap kali Qiqi mengeluh karena harus tinggal sendirian di rumah dan kesepian, dia hanya bisa meminta maaf dan mencoba membujuk putri kesayangannya itu agak bisa memahami kesulitannya.
Semua berjalan dengan baik pada awalnya, dia dapat menabung sejumlah uang di rumah dan berniat untuk membelikan properti untuk kebutuhan mas kawin Qiqi di masa depan.
Tetapi siapa yang tahu, dua minggu yang lalu dia mengalami kecelakaan, ketika mencari kayu bakar di hutan tidak jauh dari gerbang ibukota, dia terpeleset dan jatuh dengan keras.
Awalnya dia hanya merasakan nyeri di pinggang dan kaki, tetapi masih bisa tetap berjalan kembali ke rumah sembari membawa seikat besar kayu bakar.
Hanya saja, pada malam hari ketika beristirahat, dia merasakan tubuhnya mati rasa dan tidak bisa bergerak sampai saat ini.
Qiqi dengan susah payah merawatnya dan karena dia tidak bisa bekerja, uang simpanan yang telah dia hemat selama beberapa bulan pun terpaksa dipakai untuk membeli makanan dan obat-obatan.
Penyakitnya semakin parah dan sepertinya tidak ada harapan lagi, uang juga sudah mulai habis meskipun keduanya telah berhemat. Merasa putus asa dan menyalahkan diri sendiri, ibunya Qiqi hanya bisa terus berharap agar sisa hidupnya tidak akan membebani putrinya lagi.
Dengan wajah kuyu tanpa tenaga ekstra, ibunya Qiqi berucap lirih seolah menyatakan permintaan terakhirnya. "Suamiku, kumohon kembalilah dan jaga putri kita dengan baik. Aku tidak punya waktu lagi."
Air mata menetes deras untuk sesaat, lalu kelopak matanya tertutup erat. Ada ekspresi enggan di wajah pucat itu. Tetapi tidak ada yang peduli, suhu tubuhnya berangsur-angsur mendingin dan seluruh organ vital berhenti bekerja.
***
Luo Qiqi yang telah berjalan tanpa arah di pasar, kini memiliki sedikit senyum tipis di wajahnya, dia memeluk erat sebuah bungkusan kecil dan terus saja berguman, "Ibu, Qiqi telah mendapatkan roti kukus yang harum ini. Tunggu sebentar lagi."
Tertatih sepanjang jalan, bocah itu tiba-tiba merasakan nyeri yang amat sangat di jantungnya, seolah ada sepasang tangan besi yang meremas erat dan berniat untuk menghancurkannya.
Duduk meringkuk sembari mencengkeram pakaian, Qiqi mulai terisak dengan linglung. Entah karena rasa sakit atau hal lain yang dia tidak tahu telah terjadi, anak itu hanya bisa menangis dengan bingung di tempat.
"Minggir! Apa kamu tuli, hah! Persetan denganmu bocah!" Bocah itu tetap diam dan menangis di tengah jalan, tidak mendengar ataupun menyadari rutukan marah dan juga bahaya yang akan segera menimpa tubuh kecilnya.
Kereta terus melaju kencang tanpa adanya tanda berhenti dan bahkan, si kusir seolah tidak peduli jika keretanya akan menabrak dan membunuh seseorang.
Para warga di sekitar segera berteriak memanggil anak malang itu, tetapi tidak ada yang berani datang untuk menolong ataupun membantunya.
Sungguh ironis!
Hanya sedikit lagi sebelum kaki depan kuda menginjak tubuh Qiqi, saat itulah sepasang tangan terulur untuk memeluk dan membawanya ke tepi jalan utama, menghindari
kemalangan yang hampir merenggut nyawanya.
Masih tenggelam dalam firasat buruk, anak itu terus berguman dengan tubuh gemetar.
"Ibu ... ibu."
Viona mendengar cicitan rendah dari anak yang dipeluknya dan mulai ikut menitikkan air mata. Suhu tubuhnya mendingin karena rasa ngeri.
Dia juga merasa buruk karena barusan merasa bimbang untuk memilih antara menolong atau membiarkan saja anak itu.
Alasan ke-bimbangannya adalah, takut jika anak itu ternyata seorang penipu yang akan menggigit tangan dermawannya nanti.
Kasus seperti itu sangat lumrah terjadi di mana saja, entah di sini atau di dunia asalnya dulu.
Berpura-pura mengalami kecelakaan di jalan atau sengaja menabrakkan diri ke sebuah kendaraan, sehingga menarik perhatian orang yang baik hati, dan ketika ada yang menolongnya maka orang itu akan diperas habis-habisan.
Bukannya ingin memandang buruk pada setiap orang, tetapi Viona merasa bahwa ia harus selalu waspada di manapun dia berada, agar kejadian di dunia asal yang pernah menimpanya dulu, tidak kembali terulang.
Yah, gadis malang itu pernah menjadi korban pemerasan dengan modus kejahatan seperti di atas. Meninggalkan sedikit jejak traumatis di dalam hatinya.
Ada juga bisikan sistem yang mencegahnya untuk ikut campur dalam kejadian itu. Keraguannya menjadi semakin besar.
Hanya saja, sebelum dia berbalik untuk mengikuti jejak Qi Rong yang sudah mulai berjalan kembali ke arah kereta, tanpa sengaja ia melihat ekspresi kesakitan nyata dan gerak kaku tubuh anak itu.
Saat itulah dia menyadari bahwa prasangkanya barusan tidak benar, anak itu benar-benar tidak menyadari bahwa nyawanya berada dalam bahaya. Dalam benaknya seolah ada suara yang berteriak agar dia menolong anak itu atau dia akan menyesal!
Pada akhirnya Viona mengambil sebuah keputusan, dengan cepat dia meletakkan barang belanjaan secara acak, lalu berlari secepat mungkin ke tempat si anak, melihat kereta yang semakin dekat dia pun mempercepat langkahnya, tidak memperdulikan teriakan dan panggilan dari Rong yang mengejar.
"Vivi! Kembali kemari, apa yang kau lakukan, hey!"
Ada juga suara sistem yang dengan panik mencegahnya. "Host, tolong berhenti dan jangan ikut campur dalam garis nasib anak itu!"
Viona menggertakkan gigi dan berteriak marah dalam benaknya. "Apa kau pikir aku adalah monster yang akan membiarkan seorang anak kecil mati di bawah kereta kuda? Aku tidak bisa!"
"Tapi, Host. Anda tidak bisa melakukan hal itu atau anda akan berada dalam bahaya!" cegah sistem dengan putus asa.
Namun Viona sama sekali mengabaikannya.
Dia bertekad menyelamatkan anak kecil itu apapun risikonya!
Kedua tangannya terulur untuk menjangkau dan memeluk tubuh kecil si anak lalu berguling ke samping. Menghindari hantaman fatal dari kaki kuda dan kereta.
"Vivi! Apa kau menjadi bodoh? Kenapa kau melakukan hal yang mengancam nyawa seperti itu? Ayo pulang! Saya harus memberimu pelajaran berat kali ini!" Qi Rong akhirnya berhasil menyusul Viona, dengan perasaan marah, kesal dan juga ketakutan, ia memaki gadis itu dan menarik lengannya.
Viona masih tenggelam dalam bayang masa lalu sehingga tidak menyadari apapun, tubuhnya secara spontan bangun karena mendapat tarikan kuat dari lengannya.
Keduanya lalu pergi meninggalkan kerumunan pasar dan anak kecil yang menatap nanar pada siluet punggung mereka.
"Terima kasih." Qiqi berguman lirih, berdiri dengan goyah lalu berjalan pergi menuju rumahnya.
***