Viona pov.
Semenjak 'jiwa'ku pindah ke dunia ini, rasanya agak tidak nyaman. Entah itu karena alasan fisik yang terkadang sulit untuk dikendalikan, kondisi psikis yang semakin tertekan dari hari ke hari dan juga kesulitan untuk berbaur dengan tradisi di dunia aneh ini.
Dan ada lagi satu hal, sistem. Meskipun aku telah membaca puluhan novel yang memiliki mode sistem sebelumnya, tetapi begitu menjalani kondisi itu sendiri rasanya sangat aneh.
Dahulu aku berpikir bahwa para mc yang memiliki sistem di jiwa nya ketika 'pindah' ke dunia lain, adalah orang yang sangat beruntung karena memiliki cheat hebat untuk membantu semua jenis kesulitan selama berada di sana.
Setelah mengalami sendiri hal itu, kini aku mengerti bahwa semua hal-hal seperti cheat yang ada di novel adalah omong kosong belaka.
Sistem hanya menjadi beban yang merepotkan, benda itu terus menerus memberi tugas yang menyulitkan dan terkadang tidak masuk akal, yah, setidaknya itulah kupikirkan saat ini.
"Host, anda membenci saya?" Suara dingin sistem muncul dalam benakku.
Memutar mata kesal akupun berkata, "Bisakah kamu tidak membaca pikiranku? Apakah tidak ada hal privasi di dalam progammu? Tsk."
"Ada." Sistem menjawab, entah mengapa muncul sebuah siluet dalam benakku. Sosok seorang anak kecil yang memiliki setelan kasual, dia berjongkok sembari menggambar lingkaran di tanah, terlihat sangat menyedihkan.
Sudut bibirku bergetar ingin rasanya mengutuk bocah itu. Entah mengapa, merasa bahwa sistem mengetahui kelemahanku terhadap anak-anak sehingga dia memvisualisasikan wujud dan bertingkah seperti itu, untuk mendapatkan rasa simpatiku.
Meski sudah mengetahui trik kekanakannya, anehnya hatiku tidak bisa marah pada sistem lagi. Pada akhirnya, trik konyol sistem memang berhasil. Okay, aku mengaku kalah kali ini.
Mari kita bujuk bocah sistem itu. "Ahhem, aku tidak membencimu jadi berhenti merasa sedih, okay."
"Benarkah?" Meski suara sistem masih terdengar dingin, tetapi siluetnya nampak bersemangat di sana.
Ku setujui dengan anggukan seadanya, tetapi setelah itu aku merasakan firasat buruk. Dan ternyata benar.
"Kalau begitu, Host. Tolong untuk segera menyelesaikan misi sampingan."
Nah kan, apa yang kupikir tadi memang benar. Sistem sialan itu memang licik! Bolehkah kembali ke beberapa saat yang lalu untuk mengambil kembali rasa simpati, aku menyesal telah berlembut hati padanya! Huh.
Baiklah, tenang, tenang Viona. Walau bagaimanapun juga misi sistem memang wajib diselesaikan. Mari kita lihat kembali misi nya.
"Nama: Viona.
Usia: 20 tahun.
Misi selesai: 3/75.
Poin: 45/5000.
Pesona: 25/1000.
Kesehatan: 30/1000.
Kekuatan:40/1000.
Keterampilan: Memasak.
Hadiah: Obat pereda nyeri. Pakaian dalam. Sabun mandi.
Misi Utama: Tinggalkan keluarga Qi, bergabung ke keluarga Feng.
Misi sampingan:
1.(Dapatkan kesan yang baik oleh Kaisar. Hadiah poin 20.)
2. (Dapatkan dukungan penuh dari Qi Xiao dan 2 pejabat istana. Hadiah poin 25.)
3. (Dapatkan perawatan khusus dari tabib pribadi pangeran ke tiga. Hadiah poin 25.)
Melihat status sistem yang menyedihkan itu sebenarnya cukup membuatku berkecil hati, sudah beberapa hari aku menyelesaikan misi tetapi statistik umum seperti kesehatan dan pesona hanya naik sedikit. Poin yang kudapat juga sedikit sehingga saat ini masih harus menahan diri untuk berbelanja di mall sistem.
Untuk hadiahnya memang cukup memuaskan, karena sangat dibutuhkan saat ini. Jadi yah, aku hanya harus puas untuk semuanya.
Pagi ini Qi Rong, ayah beserta pamannya akan pergi ke istana, tidak aneh karena mereka memiliki posisi di istana. Ayahnya Rong adalah seorang menteri perdagangan yang bertugas untuk mengatur segala urusan yang meliputi, jual dan beli di wilayah kekaisaran serta mengatur sejumlah pasokan bahan pangan dan senjata untuk militer.
Sebuah posisi yang sangat baik dan menjadi incaran banyak orang. Tetapi meski begitu, mereka tidak berani secara terang-terangan untuk menyentuh keluarga Qi karena memiliki posisi lain di militer, dipegang oleh Qi Xiao yang merupakan seorang wakil jenderal.
Mereka hanya bisa mencari-cari kesempatan kecil dan memanfaatkannya untuk secara perlahan menjatuhkan keluarga Qi.
Merepotkan sekali, yah walau bagaimanapun juga, itu adalah kehidupan di dunia kekaisaran. Tempat di mana hal-hal mengerikan terjadi.
Pengetahuan itu aku dapatkan dari membaca novel, okay. Meskipun agak berbeda dari kelihatannya tetapi, yah. Tidak ada salahnya untuk tetap waspada.
Kami memasuki istana dengan langkah rapi. Dan kenapa b***k sepertiku bisa ikut memasuki istana? Entahlah, akupun tidak tahu apa alasannya. Yang pasti si manja Rong itu memaksaku untuk mengikutinya, jadi ya ikut saja daripada ia ribut lagi.
Masuk ke aula yang megah. Ternyata sudah ada banyak orang yang hadir, kami berempat melakukan salam penghormatan kepada kaisar yang duduk di singgasana nya. Meskipun lututku masih sakit dibuat berlutut, tetapi harus dilakukan atau hukuman berat akan menantiku karena dianggap tidak menghormati kaisar.
Tsk! Benar-benar menyebalkan! Kasihan sekali lutut ini yang menderita semenjak aku 'pindah', semoga lutut masih bisa bertahan untuk beberapa tahun kedepan.
Setelah kaisar mengizinkan kami untuk bangkit, akupun menghela napas lega. Dengan hati-hati berdiri dan mengikuti Rong untuk mencari tempat duduk.
Dan ternyata, aku tidak kebagian bangku! Astaga, haruskah penderitaan ini terus berlanjut?
Aku juga mau duduk.
Pada akhirnya, bersembunyi di belakang Rong sehingga orang-orang di aula tidak memperhatikan, akupun segera duduk di lantai dingin dengan santai. Suasana menjadi aneh segera, aneh karena menjadi tenang dan hening.
Aku tidak peduli, yang penting kaki ini nyaman dan aman. Yang lainnya bukanlah masalah yang harus dipusingkan oleh b***k rendahan sepertiku. Biarkan para atasan menangani masalah itu.
"Vivi, apakah kamu terluka? Saya melihat bahwa kamu kesakitan ketika berlutut dan berdiri tadi, apakah kakimu baik-baik saja?" Tiba-tiba seorang laki-laki perban datang ke arahku dan bertanya dengan nada khawatir.
Aku tanpa sadar mengangguk, juga sedikit linglung karena bingung dengan sosok 'mumi' itu yang entah bagaimana terasa familiar. Tetapi aku tidak ingat siapa dia.
Laki-laki perban kemudian mulai berbicara lagi dan kali ini dia menghina Rong, seolah tengah memberikan bukti jelas atas kejahatannya.
"Cukup, Yuo Zi! Kamu tidak berhak mengatakan hal itu!" Rong tampaknya marah akan tuduhan keji itu sehingga dia berteriak dan menegur.
Oh, ternyata laki-laki perban itu Yuo Zi, salah satu sahabat Rong yang sering datang ke kediaman Qi. Pantas saja sosoknya terlihat akrab bagiku.
Yuo Zi sepertinya mengabaikan amarah Rong, dengan percaya diri ia kembali menjelek-jelekkan si manja sehingga seluruh aula yang tadinya hening, kini mulai gaduh penuh dengan bisikan diskusi yang menjatuhkan keluarga Qi.
Waw, pemuda cassanova itu ternyata memiliki lidah yang patut dikagumi. Hanya dengan beberapa kalimat saja, dia berhasil memimpin banyak opini publik ke pihaknya dan menghancurkan lawannya, sesuatu yang cukup mengesankan.
"Yang mulia, meskipun gadis ini hanya berstatus b***k, tetapi dia memiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan dan keamanan. Bukankah kondisinya saat ini sangat menyedihkan? Yang mulia, tolong izinkan si kecil ini membuat permintaan, berikan gadis ini kepada saya dan semua masalah ini akan berakhir."
Eh? Apa maksud Zi itu? Kenapa aku bingung? Apakah barusan dia memperjuangkan hak kemanusiaan untukku? Atau dia menginginkanku sebagai kompensasi atas cederanya? Apakah dia mengancam?
Tetapi dilihat dari raut wajahnya yang mengeringai jahat, sepertinya poin terakhir adalah tujuannya.
Oh, astaga. Ini semakin seru!
"Yue Zi, kamu gila!" Paman Xiao berteriak dan berdiri dari bangkunya.
Terkejut, akupun mendongak untuk melihat sosoknya. Seketika tubuhku merinding dan ketakutan.
Paman Xiao memiliki ekspresi wajah yang sangat menakutkan, ada juga perasaan menindas ketika menatapnya. Oh, apakah ini yang dinamakan niat membunuh legendaris yang dihasilkan oleh para petinggi militer?
Woaah! Ternyata yang dikatakan novel itu beneran! Perasaan ini begitu menakutkan dan mencekik. Yosh, meskipun begitu, aku tetap bersemangat dan menantikan pertunjukan selanjutnya. Ayo pahlawanku, kamu harus menang! Lawan Zi itu dan kalahkan dia hingga menjadi bubur!
"Cukup!" Kaisar berteriak keras dan beberapa saat kemudian tekanan itu menghilang. Banyak orang terdengar menghela napas lega, tetapi aku merasa sedikit kesal karena pertunjukan yang seru gagal terjadi.
"Maafkan atas sikap lancang hamba, Yang mulia. Tetapi tuan bungsu Yuo benar-benar keterlaluan untuk mengatakan hal itu, mohon keadilan." Paman Xiao berjalan di dekat singgasana dan kembali berlutut.
Kaisar tampaknya telah kembali ke kondisi awalnya yang tenang dan berwibawa, dengan sederhana bertanya, "Oh, lalu apa yang diinginkan Wakil Jenderal Xiao?"
"Hamba tidak menginginkan terlalu banyak hal, Yang mulia. Kami keluarga Qi bersedia memberikan kompensasi apapun kepada tuan bungsu Yuo dan juga akan meminta maaf, tetapi untuk permintaannya yang menginginkan b***k dari keluarga kami, Viona. Kami tidak akan pernah menyetujuinya."
Paman Xiao benar-benar ksatria idolaku! Dia berani membela dan bahkan rela merendahkan dirinya untukku. Astaga, itu sangat menyentuh hatiku. Tanpa sadar aku menangis karena merasa terharu.
"Anda sepertinya sangat melindungi b***k itu? Apakah ada yang istimewa darinya?" Kaisar kembali bertanya, pandangan kami tanpa sengaja bertemu, samar-samar dapat kulihat senyum di sudut bibirnya.
Hmm? Apa yang terjadi.
"Ding! Selamat, tugas 1 mendapatkan kesan yang baik oleh kaisar tercapai. Hadiah poin 20.)
"Ding! Selamat, tugas 2 mendapatkan dukungan penuh dari Qi Xiao dan 2 pejabat istana tercapai. Hadiah poin 25.)
Eh? Misi selesai begitu saja? Hebat!
Aku mulai larut dalam kegembiraan sehingga tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar.
Membuka layar sistem, mengetuk ikon mall, memilih beberapa item yang kuinginkan selama ini lalu membelinya.
Mendapat hal itu, suasana hatipun membaik. Tanpa sadar bibirku melengkung. Yeaah, semua berjalan dengan baik.
***
Beberapa waktu berlalu.
Pertemuan konyol akhirnya selesai. Diputuskan bahwa You Zi hanya mendapat kompensasi harta dan bukannya Viona.
Kaisar meninggalkan aula pertama kali, diikuti beberapa menteri dan keluarga Qi.
Rong mencengkeram lengan Viona sepanjang jalan, seolah takut jika gadis itu akan menghilang jika dia melepasnya.
Qi Xiao tidak ikut ke kediaman Qi, melainkan pergi kembali ke kamp militer untuk menyelesaikan tugas yang tertunda.
Kepala Qi melirik putranya dan menghela napas lelah, dengan suara rendah menasehati sebelum bergegas menaiki kereta dan kembali ke kediaman. "Berhati-hatilah lain kali, Rong.
Qi Rong menyetujui dalam diam, naik kereta bersama Viona. Tetapi meminta kusir untuk pergi ke pasar. Di sepanjang perjalanan suasananya sangat tenang, Rong sibuk membaca buku sedangkan Viona dengan senang hati melihat ke luar jendela, mengamati segala hiruk pikuk dan keragaman di sepanjang jalan.
Gadis itu cukup bersemangat karena ini adalah pertama kalinya ia keluar kediaman, semenjak kepindahannya. Banyak hal yang menarik minat dan perhatiannya, meski tidak secanggih dan beragam seperti di dunia asalnya.
Sesampainya di pasar, Rong turun diikuti Viona yang dengan patuh tetap berada dalam jarak setengah meter di belakang.
Memasuki toko perhiasan, mengambil beberapa kotak yang telah dipesan sebelumnya lalu pergi ke toko lainnya.
Viona hanya terus mengikuti seperti ekor, membawa barang belanjaan, sesekali melirik plat nama toko dan beberapa hal di sekitar. Dia ingin membeli sesuatu juga, tetapi sadar bahwa tidak memiliki satu koin tembaga pun di dalam sakunya.
Dalam hati ia mengeluh pahit. "Haish, hidup memang menyedihkan tanpa adanya uang."
Jika di kehidupan asli, ia adalah orang yang termasuk dalam kelompok 'golongan atas' uang bukanlah masalah besar, tetapi di sini ia bahkan lebih miskin daripada tunawisma.
"Hey, sistem. Bisakah poin itu ditukar dengan koin dunia ini?" Viona bertanya-tanya, dalam hati mengharapkan jawaban positif. Jika memang bisa ditukar, maka dia setidaknya akan memiliki uang untuk membeli beberapa barang darurat nantinya.
Sistem akhirnya memberikan jawaban yang melegakan. "Ya."
Mendengar kepastian itu, Viona segera mengembalikan suasana hati yang semula muram. Merasa beban berat yang membebani pundaknya sejak dua hari ini terangkat.
"Yeah, akhirnya aku tidak harus bergantung sepenuhnya pada keluarga Qi. Terima kasih sistem!"
"Ya." jawab sistem singkat.
Suasana pasar tiba-tiba menjadi sangat riuh, banyak orang berteriak dan berlarian ke segala arah, yang pasti mereka semua menyingkir dari jalan utama. Viona mendongak dan menatap ke depan, mendapati sumber kegaduhan barusan tatapannya seketika menyipit.
Sebuah kereta kuda tengah melaju kencang lurus ke depan, si kusir dengan kasar mencambuk kuda dan berteriak kasar. "Menyingkir! Jangan biarkan tuan saya melihat kalian semua menghalangi jalan! Hiiyyaa!"
Sepertinya itu adalah kereta milik bangsawan tertentu, dilihat dari betapa kasar dan beraninya si kusir serta ketakutan warga sipil yang segera menurut, tuannya pastilah orang besar yang tidak bisa diprovokasi.
Viona dengan kesal menepi dari jalan utama dan ikut nimbrung dekat kios sayur, ingin bertanya tentang siapa tyran yang lewat itu, tetapi segera menyadari bahwa dia tidak bisa berbicara. Pada akhirnya hanya diam saja.
***
Luo Qiqi sudah hampir dua hari tidak makan dengan benar, tubuhnya mulai merasa tidak nyaman dan sedikit deman.
Menatap ibunya yang terbaring setengah hidup di tempat tidur, matanya kembali basah. Hatinya terasa pilu, bibir pucat mungil terbuka menutup seolah ingin berbicara namun tidak ada suara yang keluar darinya.
Ingin rasanya dia bertanya pada sang ibu, di mana ayahnya pergi? Kapan ayahnya akan pulang? Kapan ayahnya akan membawa obat dan makanan enak untuk mereka?
Tetapi tidak mampu bertanya setelah melihat wajah kuyu ibunya.
Menutupi tubuh ibunya dengan selembar kain lusuh, Qiqi memasang senyum indah di wajahnya lalu berpamitan, "Ibu, Qiqi akan pergi dulu untuk mencari makanan. Ibu baik-baik di rumah ya."
***