Bab 3: Yuo Zi

1782 Kata
Bab 3. Langit perlahan berubah menjadi suram, awan kelabu menutupi seluruh angkasa seolah ingin menenggelamkan segala sesuatu yang ada di atas tanah. Viona yang masih berlutut hanya menatap ke atas dengan tatapan muram. Lututnya sudah mati rasa dan wajah juga memucat penuh peluh dingin. Meskipun begitu, tidak ada yang datang untuk membantunya ataupun menolongnya. Xia dan pelayannya sudah pulang, sedangkan Qi Rong masih berdiskusi dengan sang ayah, mencoba menerka dan menyiapkan segala sesuatu yang mungkin akan dibutuhkan untuk keesokan harinya. Rintik hujan mulai melanda disertai angin kencang, membasahi tanah dan semua hal yang dilewati. "Haiyo, sudah hujan dan anginnya kencang sekali. Kalau begini terus, besok pasti aku bakalan sakit dan waktunya untuk malas-malasan! Yeeeaaayy!" sorak Viona dalam hati, meski wajahnya menunjukkan raut kesedihan dan kesakitan. Ia terus berlutut di sana tanpa bergerak, dengan senyum samar mengamati seluruh pelayan berlarian untuk mengamankan jemuran, pot bunga, furnitur dan barang lain sebagainya yang berada di tempat terbuka. Merasa cukup bahagia karena dia tidak akan melakukan kerja paksa angkat beban berat. Hanya diam di tempat menikmati sensasi dingin dan merencanakan beberapa hal ke depannya. Dia juga cukup berterima kasih kepada gadis menyebalkan Xia dan pelayannya yang menghukumnya saat ini. Eits, bukan berarti Viona itu seorang type masokis atau apa ya. Itu hanya sedikit bantuan untuk rencana jangka panjangnya. Setelah hujan semakin deras dan hari semakin gelap, dia akhirnya mencapai batas daya tahan. Dengan bunyi 'gedebug' ringan, ia jatuh pingsan. *** Qi Rong selesai berdiskusi dengan ayahnya dan ingin pergi ke ruang belajar pribadinya sendiri, berencana untuk menulis beberapa surat kepada sahabatnya yang kini tinggal di tempat jauh. Hatinya mendadak merasa tidak nyaman dan ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang, tapi tidak tahu apa itu. Lengannya terentang ke samping untuk menikmati rintik air hujan, dan tanpa terasa langkahnya sampai di tujuan. Duduk di kursi dengan nyaman, ia mulai menyiapkan kertas dan kuas tinta, mencelupkan ujung kuas ke tinta dan mulai menggoreskan garis-garis ke atas kertas. Beberapa saat berlalu. Qi Rong mulai merasa haus lagi, ia ingin meminum air hangat dan juga beberapa camilan. Nah, tanpa menunda lagi, ia memanggil Viona dengan suara bersemangat. "Viona! Cepat kemari dan buatkan saya teh." " .... " Tidak ada jawaban. Laki-laki itu segera mengerutkan alis tidak senang dan kembali berteriak, "Viona! Cepat kemari. Kenapa lama sekali!" Yah, dia mungkin lupa bahwa orang yang dipanggil masih dalam tahap menjalani hukuman. 'Tok tok tok' Seseorang mengetuk pintu. Dengan tidak sabar Qi Rong berteriak, "Apa? Darimana saja kamu? Kenapa lama sekali, hah!" "Maaf, tuan muda. Ini saya Maggie, saya membawakan anda teh." Ternyata yang datang adalah seorang wanita baya yang merupakan pengasuh Qi Rong. Sudah lama dia melayani keluarga Qi, sehingga tidak akan tersinggung ketika mendapat ucapan kasar dari Qi Rong. Maggie ini adalah type wanita yang memiliki sosok berisi dan memiliki wajah tegas namun berhati lembut serta sangat sabar. Dia memiliki otoritas yang lumayan tinggi di antara para pelayan. Mengetahui bahwa orang yang ia marahi adalah pengasuhnya, Qi Rong segera meminta maaf dan membuang semua arogansi dari wajahnya. Bahkan mulai berbicara dengan nada sopan dan perhatian. "Aiyo, ternyata Bibi Maggie, kenapa Bibi harus bersusah payah di hari hujan begini? Lihat itu lantainya basah dan licin, bagaimana jika Bibi tergelincir nanti? Rong akan sedih, Bibi." Maggie meletakkan teh di atas meja dan berkata sembari mengelus kepala Rong yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri. "Tidak apa-apa, lagipula bibimu ini masih sehat dan jangan pernah meremehkan bibi, okay. Oh ya, si Vivi masih dihukum?" Senyum di wajah Rong seketika membeku ketika mendengar pertanyaan itu, dia akhirnya ingat bahwa budaknya masih dalam hukuman, pantas saja tidak ada di sekitarnya. Dengan cepat ia berlari menuju aula disiplin, jaantungnya terasa sesak dan dipenuhi perasaan bersalah yang amat sangat. "Sial! Hujan begitu lebat dan angin sangat kencang, jika gadis itu masih di tempatnya, bukankah dia akan sakit dan bagaimana dengan besok jika dia sakit? Sial! Tolong jangan terjadi apa-apa padamu, Vi. Kalau tidak ... apa yang harus kukatakan padanya nanti?" Laki-laki itu terus berlari sembari berdo'a agar semuanya belum terlambat, hingga langkahnya sampai di tujuan. Tatapannya segera menyapu seluruh ruang aula dan anehnya tidak mendapati apapun, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa pernah terjadi tindakan hukuman di sana. Semakin panik, dia akhirnya keluar dari ruangan dan ingin bertanya pada para pelayan. Kembali berlari ke beberapa tempat sebelum bertemu dengan beberapa pelayan yang tengah merapikan pakaian setengah basah, dia dengan suara gemetar bertanya, "Di mana dia?" Para pelayan tertegun sejenak. Qi Rong menjadi marah akibat kelambanan mereka, dengan keras meninju dinding dia pun berteriak, "Di mana dia! Cepat jawab. Kenapa kalian menjadi bisu, hah!" Melihat amarah Rong yang meledak, para pelayan segera berlutut dan menundukkan kepala serendah mungkin, mereka ketakutan dan ngeri sehingga tak mampu berkata-kata. Hanya satu orang yang berani untuk menjawabnya meski dengan suara tergagap. "Tu-tuan muda, apakah anda men-mencari Viona? Dia ada di depan aula disiplin." Qi Rong melotot seram lalu berbalik dan kembali ke halaman aula disiplin, dengan mata menyipit ia mengamati seluruh halaman hingga pandangannya berhenti di satu titik. "Itu dia!" soraknya dengan antusias, tanpa peduli pakaiannya basah, ia segera mendekati sosok Viona yang telah terbaring pingsan. Menepuk pipi untuk mencoba membangunkannya, tetapi tidak ada respon. Pada akhirnya, Qi Rong menggendong gadis itu dan membawa ke halaman pribadinya. Sementara keduanya pergi, sekelompok pelayan yang baru saja dibentaknya segera menepuk d**a masing-masing, merasa lega karena terhindar dari amukan sang majikan manja. "Kamu sangat berani Fue, tapi untungnya kamu menjawab tadi, kalau tidak. Aiyo, kita tidak tahu lagi apa yang akan menimpa kita." "Hehehe, itu bukan masalah besar." Fue tersenyum konyol, meskipun kedua kakinya gemetar ketakutan. "Terima kasih Fue." "Ya, terima kasih." *** Tengah malam. Qi Rong menjadi sangat khawatir dan panik! Kenapa dia seperti itu? Yah, tentu saja karena Viona mengalami demam tinggi. Saat ini laki-laki itu sedang duduk di tepi ranjang, mengamati wajah Viona yang merah padam dengan alis mengernyit yang menandakan bahwa dia merasa tidak nyaman. Bibi Maggie dengan sabar mengambil handuk kecil, merendamnya dalam air hangat, memerasnya lalu menempelkannya di dahi Viona. Sesekali dia memijat lutut gadis itu yang membengkak parah, memberinya ramuan lumat untuk memperlancar peredaran darah. "Tuan muda, tidak perlu khawatir. Silahkan beristirahat, biar saya yang menjaga Viona." Maggie menyarankan dengan suara halus, dalam hati merasa senang karena melihat ada perubahan pada sikap Rong. "Hmm, tolong jaga dia, Bibi." Rong akhirnya menyerah, dia naik ke ranjang di lain sisi Viona. Seolah tidak menyadari bahwa saat ini dia satu ranjang dengan gadis lain. Yah, mungkin dia sedang lelah. Sehingga begitu menyentuh bantal, dia tertidur. Maggie hanya menggeleng tak berdaya melihat hal itu. Mengambil selimut untuk menutupi tubuh Qi Rong, Maggie akhirnya sibuk kembali merawat Viona. "Yah, kasihan sekali lutut ini, aiyo. Semoga besok tidak akan terasa sakit lagi." Maggie berguman pelan. Keesokan paginya. Viona terbangun karena merasakan sakit di kepala dan punggungnya, matanya menatap linglung pada langit-langit ruangan. Sembari bertanya dalam hati. "Apa yang terjadi? Di mana aku? Siapa aku? Kenapa badanku rasanya sakit semua? Apakah aku terjatuh dari tangga 1000 unit?" Gadis malang itu masih sibuk mempertanyakan hidupnya di atas lantai, sama sekali gagal melihat bahwa ada orang lain di sampingnya yang memiliki wajah gelap. Qi Rong mengepalkan tinjunya dan menggertakkan gigi, perasaannya begitu rumit dan juga pahit. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mari kita mundur ke waktu sebelumnya. Viona sebenarnya memiliki postur tidur yang sangat absurd, dia sesekali akan berguling mengitari ranjangnya dan memeluk apapun itu asal dia merasa nyaman. Tidak terkecuali tadi malam. Setelah Maggie meninggalkan ruangan karena ingin ke kamar mandi, Viona tiba-tiba berguman, cekikikan lalu membalik tubuhnya hingga tengkurap selama beberapa saat. Karena tidak mendapatkan apapun untuk dipeluk, ia kembali berguling beberapa kali sampai tubuhnya menemukan 'benda' yang pas dalam pelukannya. Dengan senang hati ia mengeratkan pelukan, mengendus aromanya dan kembali berguman puas. Sedangkan 'benda' yang dipeluknya kini melotot kejam padanya. Qi Rong yang baru saja bermimpi erotis dengan Xia hingga mengalami ereksi pagi, tiba-tiba mendapat beban yang menghancurkan 'di sana' mengakibatkan dia mengerang kesakitan dan marah. Dengan gigi terkatup dia menggeram, "Beraninya!" Lalu dengan sekuat tenaga, Rong mendorong tubuh Viona hingga kembali berguling dan bahkan jatuh di lantai dengan bunyi gedebug. "Viona! Cepat bangun dan siapkan air mandi saya!" titah Rong dengan marah. Viona tersentak kembali ke kenyataan, mengamati sekeliling dan memastikan bahwa ia saat ini berada di kamar sang majikan manja. "Selamat kepada, Host! Karena berhasil menyelesaikan misi!" Tiba-tiba suara sistem terdengar dan membuat kesadaran Viona semakin jelas, dengan bersemangat ia berdiri dan melompat kegirangan. "Akhirnya! Yeaaay, misi berhasil." Viona bersorak dalam hati. "Ehhem! Vivi, apa kepalamu mengalami gangguan akibat terbentur? Kenapa kamu menari-nari seperti orang gila! Cepat siapkan air mandi saya!" Qi Rong tidak tahan melihat tingkah konyol budaknya. Viona segera berhenti dan memberikan salam hormat sebelum berlari ke ruangan lain untuk menyiapkan air mandi. *** Di aula istana. Qi Rong beserta ayah dan pamannya tiba di istana, diikuti oleh Viona yang berjalan perlahan, mereka memasuki aula yang megah dengan postur tegap, setelah itu serempak berlutut dan menangkupkan kedua tangan kedepan diikuti kepala yang menunduk. (Salam formal ketika bertemu kaisar). Viona dengan susah payah mengikuti gerakan mereka, ada kesedihan dan kesakitan yang muncul di wajah kecilnya. "Silahkan bangkit, ambil tempat kalian." Kaisar memberi persetujuan. Qi Rong dan keluarga berdiri, mengambil tempat duduk dan diam. Suasana menjadi tenang namun canggung seketika. "Yang mulia, si kecil ini ingin mengatakan sesuatu, mohon izinnya." Seorang laki-laki yang memiliki balutan perban di tangan, wajah dan kaki, tiba-tiba membungkuk ke arah kaisar dan berbicara untuk memecah keheningan. "En." Kaisar menyetujui. 'Perban berjalan' itu mendekati Viona dan menatapnya sebelum bertanya, "Vivi, apakah kamu terluka? Saya melihat bahwa kamu kesakitan ketika berlutut dan berdiri tadi, apakah kakimu baik-baik saja?" Viona mengerjap linglung menghadapi orang aneh yang tiba-tiba berdiri di depannya, tanpa sadar ia mengangguk. "Apakah luka itu disebabkan oleh tuan muda Qi? Ternyata benar dugaan saya selama ini, tuan muda yang perkasa itu selalu memperlakukan hambanya dengan buruk, menyiksa dan menganiaya ...." "Cukup, Yuo Zi! Kamu tidak berhak mengatakan hal itu!" sela Qi Rong dengan amarah di hatinya. 'Perban berjalan' alias Yuo Zi hanya mendecih remeh padanya dan berkata dengan lantang. "Lihatlah betapa kasarnya tuan muda Qi, dia bahkan tidak memiliki belas kasihan untuk saya yang merupakan teman sejak kecil, apalagi untuk b***k miliknya itu. Dia pasti selalu menggertaknya hingga terluka." Aula yang memiliki puluhan anggota pejabat kerajaan, mulai penuh dengan bisikan diskusi. Qi Xiao mulai geram dan akan mulai angkat bicara, tetapi ditahan oleh kakaknya. Qi Rong juga hampir meledakkan amarahnya, namun berhasil bertahan ketika mendapati wajah kaisar yang mulai terlihat buruk. "Yang mulia, meskipun gadis ini hanya berstatus b***k, tetapi dia memiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan dan keamanan. Bukankah kondisinya saat ini sangat menyedihkan? Yang mulia, tolong izinkan si kecil ini membuat permintaan, berikan gadis ini kepada saya dan semua masalah ini akan berakhir." "Yue Zi, kamu gila!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN