"Qi Rong!"
Seseorang tiba-tiba menyerbu ke dalam ruang pemandian dengan begitu megahnya.
Viona menoleh untuk melihat siapa gerangan orang itu yang begitu berani untuk bersikap semena-mena di hadapan majikannya?
Tangan yang memegang handuk secara otomatis otomatis berhenti dari pekerjaan menggosoknya.
Sosok yang datang memiliki perawakan yang tinggi dengan pakaian besi lengkap, armor kaku tampak sangat kuat di badan dilengkapi tombak panjang di tangan pria itu, berhasil membuat Viona yang memang menyukai militer, memerah dan tersenyum kagum.
"Apa yang kamu lakukan dengan putra bungsu jendral Yuo? Tidakkah cukup bagimu membuat masalah di segala tempat? Kenapa kau harus memukulinya sampai setengah lumpuh?" Pria itu meraung marah, matanya melotot tajam.
Qi Rong mengerutkan alis tidak senang ketika ada orang lain yang memarahinya, apalagi ia mendapati bahwa budaknya telah terganggu, bahkan memandang pria lain dengan wajah penuh pemujaan hingga air liur menetes. Dan itu terjadi di depan matanya, beraninya dia!
"Vivi!" Qi Rong tidak sabar, menggenggam pergelangan tangan Viona dan meremasnya erat. Mengabaikan tamu yang mengamuk.
Viona terkesiap ketika rasa sakit mendera tangannya, airmata mulai menetes tak terkendali ketika dia menoleh dan menatap wajah sang majikan. Tidak ada suara isakan atau keluhan dari bibirnya, hanya mata menyedihkan yang mengisyaratkan bahwa dia terluka kesakitan dan menderita ketidak adilan.
Air mata menetes di punggung tangan Qi Rong, membuatnya merasakan panas menyengat dan sedikit bersalah pada gadis itu. Dengan cepat dia melepas cengkeramannya lalu berdehem dan menatap tamu tak diundang, menjawab dengan enteng. "Dia yang memulai dahulu, Paman. Kau seharusnya membela dan menghiburku, kenapa malah datang dan memarahiku?"
Qi Xiao yang merupakan paman dari Qi Rong, kembali meledakkan amarahnya begitu mendengar jawaban enteng dari keponakannya.
Dengan gemetar tangannya menunjuk ke arah Qi Rong dan siap untuk mengutuk lagi, tetapi menelannya kembali ketika melihat sosok menyedihkan Viona.
"Ingat ini baik-baik, Rong! Masalah telah menjadi besar karena, Jenderal Yuo, telah menolak upaya damai dari keluarga Qi! Kau harus bersiap untuk segala sesuatu yang mungkin akan terjadi." Qi Xiao segera pergi setelah memberi peringatan. Tatapannya agak rumit ketika melirik Viona barusan.
Viona merasa enggan melihat sosok pahlawannya telah pergi. Dalam hati mengeluh sedih bahkan tidak menyadari bahwa ada tatapan lain yang melandanya tadi. "Kenapa aku tidak menjadi putrinya saja dan malah pindah ke tubuh sialan ini? andai saja itu terjadi bukankah hidupku akan lebih nyaman dan ... haish."
Qi Rong menyipitkan mata tidak senang karena berita itu, dia juga bertanya-tanya, kenapa jenderal Yuo menolak untuk berdamai seperti biasanya? Seolah-olah masalah telah menjadi sangat serius. Lagipula hal serupa juga telah terjadi di masa lalu dan kedua keluarga masih tetap dalam hubungan yang harmonis.
"Vivi, bawakan pakaianku."
Viona segera bergegas mengambil satu set pakaian mewah berwarna ungu tua, membantu majikan manjanya memakai serta merapikannya.
Ketika tangannya akan memasang ikat pinggang, sebuah suara manis berdering diikuti sosok gadis berpakaian merah muda yang memasuki ruangan.
"Kakak, Rong!"
Itu adalah Sangguan Xia, merupakan kekasih kecil Qi Rong yang sering datang untuk membuat masalah bagi Viona.
Xia mengambil alih ikat pinggang dari tangan Viona, lalu dengan gerakan rahasia mendorongnya ke dalam kolam.
'Byuuurr'
Viona tercebur dengan estetik, membuatnya facepalm dan memutar mata bosan di dalam air.
"Pfft. Apakah kau mengantuk? Dasar b***k rendahan yang ceroboh!" Xia mencemooh dengan wajah arogan. Setelahnya membantu Qi Rong merapikan. Selesai dengan ikat pinggang Rong, dia segera memeluk pinggang dan mencium pipinya dengan senyum manis.
Para pelayannya juga ikut terkikik geli menertawakan kesialan Viona. Tidak ada yang memiliki inisiatif untuk membantu, bahkan mereka berharap agar bisa menenggelamkan gadis itu segera. Tetapi mereka tidak berani untuk gegabah, walau bagaimanapun juga b***k itu adalah milik Qi Rong. Tanpa izinnya tidak ada yang bisa melenyapkannya begitu saja.
Viona perlahan menepi di kolam, tangannya tidak sengaja menyentuh handuk yang baru saja digunakan majikannya.
Xia menyeringai ketika melihat itu, ada banyak ide-ide jahat yang segera muncul di benaknya. Ya, gadis mungil itu berencana untuk kembali menyiksa Viona.
"Kakak, Rong, lihat b***k rendahan itu membuat handukmu basah. Kita harus menghukumnya dengan benar!" Xia memegang lengan Rong dan bertindak manja. Wajahnya tersenyum manis sehingga membuat siapapun akan enggan untuk menolak keinginannya.
Qi Rong menyentuh kepala Xia dengan lembut, lalu menyetujui proposalnya tanpa banyak berpikir. Toh, mereka adalah pasangan dan tindakan saling memanjakan juga hal yang sangat disarankan.
Apapun asalkan kekasih kecilnya bahagia.
Qi Rong berjalan meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi bersama Xia di pelukannya. Di pintu masuk, Xia mengedip penuh arti kepada kedua pelayannya yang segera diangguki mereka.
Viona menyaksikan semua itu dengan wajah datar.
Dua pelayan Xia mendekat dan segera menarik Viona dari air, membawanya keluar ruangan dan terus berjalan hingga mencapai di depan sebuah halaman.
Lokasi tempatnya berdiri saat ini adalah area aula disiplin, di mana semua bawahan yang telah melakukan kesalahan akan mendapatkan hukuman di sini. Di tengah aula hanya ada satu bangku kecil namun di dinding adalah ratusan alat yang digunakan untuk hukuman. Ada berbagai cambuk modifikasi, papan tebal, tongkat beracun dan masih banyak lagi.
Pertama kali Viona melihat ruang ini, getaran dingin segera mengalir di punggungnya. Dia membayangkan bagaimana rasanya jika dia mendapat penghakiman di sini, apakah dia masih akan hidup?
Di depan aula, ada hamparan kerikil tajam yang memenuhi beberapa area. Ketiganya ada di lokasi itu, kedua pelayan Xia dengan kasar menendang belakang lutut Viona, hingga membuat dia harus terpaksa berlutut di atas kerikil tajam.
Keringat mulai mengucur di tubuhnya, wajahnya mengernyit dipenuhi rasa sakit bahkan airmata mulai menetes tanpa henti.
"Pfft, rasakan itu dasar rubah betina! Karena kau sudah berani merayu tuan Rong, inilah akibatnya. Hahaha!"
"Itu benar kakak. Salah siapa dia cantik dan berani menyaingi nona Xia, kita. Sebenarnya aku ingin sekali mencakar dan merusak wajahnya itu yang benar-benar merusak pemandangan, huh!"
Kedua pelayan Xia, terus tertawa mencemooh dan menghina Viona.
Bahkan mereka tidak repot-repot untuk menutupi kecemburuan serta rencana jangka panjangnya, karena menurut mereka hal itu tidak akan membuat masalah. Toh, statusnya lebih tinggi daripada Viona.
Dan menyaksikan kesengsaraan di wajah Viona telah memberikan rasa kepuasan di hati mereka.
Viona menunduk dan mengutuk dalam hati. "f**k! Mereka benar-benar memuakkan! Tidakkah mereka tahu bahwa semua ini adalah tindakan yang melanggar hukum? Ptooey! Benar-benar menyebalkan. Kalau saja ini di era 2021 tempat asalku berada, kalian sudah akan masuk penjara puluhan kali, huh!"
"Host, apakah anda bisa menyelesaikan misi extra hari ini?" Suara datar sistem terdengar, membuat Viona semakin marah.
"Sistem bodoh! Apakah kau tidak melihat situasiku saat ini? Apa menurutmu aku masih bisa menyelesaikan misi sialan itu? Bahkan untuk berjalan harus menjadi keajaiban nantinya." jelas Viona kesal.
" .... " Sistem tidak lagi berbicara.
"Ngomong-ngomong, berapa poin yang akan kudapatkan jika misi sialan itu selesai hari ini?" tanya Viona setelah amarahnya sedikit mereda, dia sadar bahwa semua kesialan ini tidak ada hubungannya dengan sistem.
Dan akan salah jika dia memarahi dan menyalahkannya.
"Jika, host. Menyelesaikan misi dengan sempurna maka poin keseluruhan adalah 15 poin."
Viona terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, "Misi itu agak melelahkan dan poinnya hanya 15? Apakah kamu harus begitu pelit?"
Sistem bertanya, "Misinya adalah bermalam di dalam kamar Qi Rong, apakah itu melelahkan?"
Viona berdehem ringan lalu menjawab dengan pembenarannya sendiri. "Tentu saja! Apa kau lupa orang seperti apa itu, Qi Rong? Dia adalah anak manja yang selalu merepotkan dan terus saja membuat ulah di hadapanku. Tentu saja misi itu sangat melelahkan!"
"Oh."
"Itu fakta, tahu!" Viona bersikeras.
Sistem bertanya, "Host, kenapa tidak memanggil namaku saja?"
"Kamu hanya sistem, apa nama yang kau inginkan? Apakah penting? Tidak seperti kau akan terlihat cantik jika kupanggil namamu. Lagipula namamu sangat rumit, malas akutuh." Viona sebenarnya tidak peduli dengan sistem malang itu. Sejak awal dia mengabaikan perkenalan sistem.
Sistem menunduk sedih.
Pelayan Xia mengambil sebuah lilin berukuran besar dari dalam aula, menyulut sumbunya dengan api hingga terbakar lalu meletakkan di dekat Viona.
Dengan senyum jahat pelayan itu berkata, "Heh! Kamu hanya boleh lolos dari hukumanmu setelah semua lilin ini terbakar habis, tahu?"
Viona mengerjap kosong menatap lilin besar di hadapannya. Berpikir dalam diam.
"Jika harus menunggu lilin habis terbakar, bukankah itu akan menjadi 2 jam setelahnya?
Apakah kakinya masih akan baik-baik saja nantinya?"
Mereka kejam sekali!
Pelayan Xia sepertinya mengetahui apa yang dipikirkan Viona, dengan ayunan lengan bajunya dia mendengus sembari berjalan pergi.
"Memangnya kenapa jika kakimu akan patah setelah ini selesai? Kami tidak peduli! Hahaha, kau sebaiknya patuh dengan aturan kami, kalau tidak ... hehe."
Viona menepuk dahinya ketika kedua pelayan pergi lalu mulai mengobrol lagi dengan sistem.
Dia sama sekali tidak peduli dengan kondisi tubuhnya, lagipula tubuh itu bukan tubuh aslinya, dan ada baiknya juga jika dia mengalami cedera berat.
Dia tidak akan perlu untuk bekerja keras sementara waktu dan hanya akan berbaring menikmati suasana damai. Para penggertak juga akan cuti dari penyiksaan karena merasa kasihan padanya.
Setidaknya itu yang ada dipikirannya.
"Sistem, apakah ada fitur supermarket di datamu?"
"Ya." Sistem menjawab dengan dingin.
Viona senang dan terus menyelidiki. "Lalu tunjukkan padaku menunya, ayo. Aku ingin melihat dan memilih beberapa barang."
"Baik."
Sebuah layar transparan mulai muncul di depannya, ada banyak ikon di sana. Mulai dari data id. sistem, data miliknya, opsi menu game, menu obrolan dan juga ikon supermarket.
Dengan penuh semangat Viona memilih menu supermarket dan segera menjelajahi barang -barang yang tersedia. Hanya saja setelah beberapa saat, antusiasme nya tergantikan oleh aura mendung.
"Apa-apaan ini? Kenapa semua barang ini sangat mahal harganya? Dengan poinku saat ini aku hanya dapat membeli beberapa camilan dan pantyliner. Arrrgh! Ini tidak adil!"
Sistem menghela napas tak berdaya namun dengan sabar tetap memberi penjelasan.
"Host, itulah sebabnya saya selalu mengingatkan anda untuk selalu menyelesaikan misi, itu agar anda mendapat banyak poin dan memiliki kesempatan untuk berbelanja. Juga, anda dapat mempelajari id. saya untuk mendapat poin extra."
"Oh, benarkah? Hanya dengan mempelajari id. Mu aku akan mendapat poin extra? Berapa banyak?" Viona mulai tertarik.
Sistem dengan serius mempromosikan keunggulannya. "Tentu saja! Lagipula kita akan hidup bersama selama dekade ke depan jadi kita harus saling mengenal pribadi masing-masing. Dan poinnya adalah 25 poin extra!"
"Ah ... du ... dua puluh lima poin extra. Kenapa lebih tinggi daripada poin misi?" Viona menjadi terperangah dan agak skeptis tentang sesuatu.
Keduanya terus saja berdebat dalam pikiran. Hingga tidak terasa waktu banyak berlalu.
***
Di ruang belajar.
Qi Rong tengah berdiskusi bersama ayah beserta pamannya, suasana tampak sangat berat.
Sementara Xia sibuk menyiapkan teh dan camilan untuk ketiganya.
"Ayah, apakah jendral Yuo, telah kembali dari perbatasan?" tanya Qi Rong.
Ayah Rong menggeleng dengan alis terjalin erat. "Belum, tetapi dia mengirimkan tangan kanan nya untuk membantu mengurus masalah ini dan kudengar juga, dia mengirimkan surat keluhan ke kaisar."
"Apa? Mereka ingin melibatkan kaisar untuk masalah sepele seperti ini? Apa mereka sudah gila?" Rong jelas terkejut dengan berita itu. Baginya, kasus sepele tidak perlu sampai melibatkan kaisar, apa yang mereka inginkan sebenarnya? Dia benar-benar tak bisa mengikuti jalan pikir pihak lain.
Qi Xiao menghela napas dan berkata, "Hah, apapun itu, masalah ini sudah sampai di tangan kaisar dan besok kita harus datang untuk sidang. Apapun yang akan terjadi nanti, Rong, kamu harus bisa menyiapkan jawaban serta solusi yang memuaskan bagi semua pihak."
Rong terdiam sejenak, memikirkan apa yang mungkin akan terjadi keesokan hari.
Xia memasuki ruang belajar diikuti seorang pelayan yang membawa baki makanan serta teh. Dengan hati-hati, Xia menyajikan makanan ringan di atas meja, lalu menuang teh ke tiga cawan, menyajikan dengan gerakan elegan.
"Paman, Paman Xiao, Kakak Rong, ayo dinikmati teh dan camilannya." ucap Xia dengan suara manis, lalu duduk di sebelah Rong dan menyaksikan ketiga pria itu menikmati teh buatannya. Hatinya senang dan penuh kepuasan.
"Yah, keterampilan, Xia, sepertinya meningkat lagi. Teh ini rasanya semakin enak." Ayah Rong memuji dengan tulus, diikuti anggukan setuju dari Qi Xiao.
Rong menepuk bahu Xia dan tersenyum hangat, menyatakan persetujuan akan pujian ayahnya. Lalu bertanya-tanya dalam candaan, "Itu benar, ayah. Bukankah putramu ini tidak salah untuk memilih calon menantumu dengan baik?"
Ayah Rong menyetujuinya.
Xia yang mendengar godaan itu segera memerah wajahnya dan mencubit tangan Rong dengan genit. "Kakak, Rong."
Hanya Qi Xiao yang menatap rumit pada keponakannya itu, dia bertanya-tanya apakah Rong akan menyesali keputusan dan ucapannya selama ini? Tetapi dengan cepat emosi rumit itu menghilang digantikan tatapan acuh tak acuh.
Biarkan saja semuanya berjalan sesuai takdir.
***