perjuangan

1002 Kata
pov:ryan minggu ini ku jajakan daganganku di taman kota.biasa nya minggu pagi adalah waktu yang ramai.selain banyaknya orang yang olah raga berlari lari kecil di lapangan banyak juga yang hanya sekedar untuk jalan jalan menghabiskan hari minggu bersama keluarga.aku mengandalkan usahaku di setiap hari minggu.karna kalau hari hari lain nya penghasilanku tak seberapa,walaupun aku mati matian berjalan menyusuri tiap kampung hanya beberapa orang saja yang membeli daganganku.terbesit keinginanku untuk pindah dari kota ketika malam kemarin bapa mertuaku meminta kami untuk pindah dan hidup di kampung.mengingat maya yang sudah berisi yang tentu nya akan segera berhenti bekerja.tentulah itu akan sulit bagiku.karena selama ini maya lah yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk hidup kami. "melamun aja brow,kaya nya udah balik modal nih... "suara sarip penjual cilor yang biasa mangkal di sebelahku setiap minggu pagi mengejutkan ku. "lumayan lahh,ada buat bini di rumah... "ucap ku.sambil tersenyum padanya. "kemana sekarang? trus pulang? "tanya sarip lagi ketika melihatku perlahan membereskan daganganku.hari memang sudah mulai terik pengunjung pun sudah mulai sepi. "keliling dulu,mudah mudahan saja ada rizki nya rif.harus giat nabung nih.bini udah ngidam... "balas ku. "nanti sore kesini lagi.biasa nya kalo minggu sore suka rame... " "insyaalloh rif,... "aku mulai menggendong tas besar itu di pundak ku "rif duluan ya... "aku segera beranjak. "iya brow.semangat buat istri dan calon bayi mu... "teriak nya aku tersenyum sambil mengangkat jempolku. sebelum ashar aku sudah berada di rumah.ku rapikan isi rumah,mencuci,dan memasak nasi.ku tuang juga lauk untuk kami makan.pindang ikan kesukaan istriku beserta sambel goreng kentang.biasa nya dia akan makan lahab sekali. "assalamu alaikum... "terdengar suara maya,tak lama dia masuk dan menutup nya kembali.wajah nya tampak lelah. "waalaikum salam... "aku menyodorkan tanganku sperti biasa.kemudian dia menciumnya.dia memeluk ku dengan manja. "mandi dulu apa makan dulu?? "tanyaku.dia hanya menggeleng.sambil terus memeluk ku.aku mengajak nya duduk.takut kaki nya pegal bila dia terus memelukku sambil berdiri. "bila capek,kamu berenti kerja saja ya sayang.biar abi yang cari uang.kasian dede bayi nya... "maya tampak memandangku. "nanti saja kalo sudah mau 7 bulan.ga akan kenapa kenapa ko.lagian kalo aku diam aku ga bisa membantu keuangan kita.gimana entar kita bayar kontrakan sama biaya lahiran?? "ucap nya membuatku tertunduk malu "maaf ya sayang... "aku merasa bersalah padanya. "maaf untuk apa??? "dia menatapku tajam.aku kembali menatap nya. "maaf karena belum bisa membahagiakan mu... "jawabku.maya hanya tertawa terkikik. "so tau... kata siapa aku tak bahagia.kamu itu suami terbaik aku... "maya mencubit gemas pipiku.agak sakit karna maya mencubitnya dengan kencang ku usap usap pipiku dengan tanganku sendiri.tak lama dia malah medaratkan bibir nya di tempat dia mencubitku. "maaff... "ucap nya dengan gemas.aku mengelus rambut nya. "bi,kita pindah saja ke kampung.rumah bapa cukup besar.kita buka usaha di sana.biar aku jualan di depan rumah,kamu dagang baju seperti biasa... "ucap maya. "abi pun berencana begitu.abi ingin kamu ada teman sewaktu kamu nanti lahiran.di sana ada ibu mu.yang akan menjaga mu.abi mau kerja apa saja bila memang ada.apalagi kan biaya hidup di kampung lebih irit dari pada disini... " balasku. "ga apa apa kan. kalo ikut tinggal di keluargaku?? "tanya nya lagi. aku mengangguk mengiyakan. dia tampak bahagia dan kembali memeluk ku di usia kandungan ke 7 bulan.aku antarkan maya ke kampung.sementara aku kembali lagi ke kota.karna aku tak tahu pekerjaan apa yang akan aku kerjakan di kampung.setelah maya berhenti bekerja aku merasakn kehidupan benar benar menguji ku.aku harus hidup sendiri di kota dengan penghasilanku yang tak seberapa.belum aku harus membayar kontrakan dan berusaha menyisihkan uang lebih untuk ku kirimkan ke kampung.beruntung maya sudah menyisihkan uang hasil nya bekerja dulu untuk di tabung untuk biaya lahirannya nanti.aku bukannya tidak bertanggung jawab hanya saja mungkin untuk sekarang kehidupan belum berpihak kepadaku. sebenar nya aku sempat mengayam pendidikanku hingga ke fakultas.sangat mungkin bagiku untuk melamar ke sana kemari.hanya saja semua surat surat berhargaku berada di rumah orang tuaku.dan mungkin mereka sudah membakar nya untuk menghilangkan semua kenangan tentang ku. hari itu di sebuah pusat kota aku beristirat untuk menghilangkan penat dan lelahku.bayangan bayangan tentang istriku membuat tumpukan rinduku semakin menggunung.rasa khawatir menggelayut di relung hati ku.tiba tiba saja sebuah mobil mewah berhenti di depanku.mobil yang benar benar tak asing bagiku.seketika pintunya terbuka.tampak wajah sendu orang yang ku rindukan turun dari mobil tersebut,di ikuti langkah bringas ayahku. "ku kira hidup mu sudah mujur.masih jadi gembel saja kamu... "ucap nya seolah mengejek ku.aku berdiri dari duduk ku.ibu merogoh saku celana nya.uang 10 lembar seratus ribuan dia letakan di tas dagangan ku. "anggap saja itu sumbangan buat para gelandangan di jalan... "ucap ayahku lagi.ibu menyikut perut ayah dan tersenyum seolah tak enak."terimakasih banyak,namun alangkah baik nya jika di berikan kepada orang yang lebih membutuhkan..."ayah menatap ku sinis seolah kesal karna uang nya aku abaikan ."sombong sekali kamu...!!! "bntak ayah dengan kesal.namun ibu tampak mengingatkan.ayah dengan kesal kembali lagi ke mobil dan segera menutupnya dengan kencang. " ambillah nak.maaf ibu tak bisa membantu mu banyak.belilah makan yang enak... "ucap ibu.dia berusaha menyembunyikn kerinduan dan kekhawatiran nya. "bu cepat...?!!!!"bentak ayah dalam mobil. "ibu segera pergi,ibu tak tau kapan bisa bertemu lagi.jaga kesehatanmu... "dia segera bergegas dan masuk kembali ke mobil.aku tak dapat berkata apa apa.hanya memandangi mereka berlalu begitu saja.aku menenteng tas besarku.tas yang berat itu segera ku simpan di pundak ku.uang pemberian mereka ku genggam erat.tak jauh dari tempat ku ada seorang bapa tengah mengais botol botol bekas di tong sampah.ia tampak begitu lelah sama seperti ku,segera ku hampiri dia.dia tampak terkejut saat aku berikan uang satu juta yang ibuku berikan. "apa ini nak...??? "tanya nya tak langsung segera menerima uang itu. "ini untuk bapa,ambillah..."ucapku,bapa tua itu tampak menatapku dari atas ke bawah. "tidak nak,ambillah.kamu juga memerkukan nya... "ucap nya.dia seolah ragu saat melihat tampilanku. "tidak pa,simpan lah uang ini.ini akan bermanfaat untuk bapa... "dia pun perlahan mengambil nya. "tapi nak...??!!!" "sudah pak,tak apa apa... "aku pun segera meninggalkan nya. "terimakasih nak,semoga alloh melipat gandakan rizki mu... "ucap nya.aku hanya tersenyum tampa menoleh nya.dan berjalan terus.aku bukan nya tak membutuhkan uang tersebut.namun bagiku uang tak seberapa itu takut jika kelak menjadi duri dalam perjuangan ku.aku pun ingin membuktikan pada mereka bila aku memang bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kedua orang tuaku...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN