Part 03

1976 Kata
Part 03 Tiara menghela nafas panjangnya, malam ini adalah waktu di mana ia akan bertemu dengan calon suaminya, lelaki dewasa yang akan dinikahinya. Dulu, di umurnya yang baru lima tahun, ia bertemu dengan lelaki yang sedang menjalani pendidikannya di bangku kuliah, saat itu umurnya sekitar dua puluh tiga tahun. Entah bagaimana ceritanya, lelaki itu memintanya menjadi ratunya, Tiara sendiri sedikit lupa. Tak tanggung-tanggung, lelaki itu juga meminta izin pada papanya untuk menikahinya saat sudah dewasa nanti. Tiara sendiri yakin, ucapan lelaki itu hanya omong kosong, namun kenapa orang tuanya justru memercayainya, bahkan perjanjian itu tertulis di surat wasiatnya, yang mau tak mau harus Tiara laksanakan keinginannya. Saat ini, Tiara berada di dalam mobil, penampilannya selalu menarik seperti biasanya, dengan gaun hitam dan rambut tergerai indah. Sedangkan di sampingnya ada Rani dan suaminya, paman dan Tante Tiara yang mengurusnya sejak lama. "Tante," panggil Tiara lirih tanpa mau menatap ke arah Rani. "Ada apa, Ra?" "Nama calon suamiku siapa?" tanya Tiara terdengar datar, padahal sejak dulu ia selalu merasa penasaran, namun Tiara berusaha untuk tidak mengetahui namanya, ia hanya tidak mau mengingatnya saja bila ia sudah memiliki calon suami. "Tante juga enggak tahu, surat wasiat itu yang mengurusi kan pengacara. Tante cuma diberitahu setelah Papa dan Mama kamu meninggal, sekarang usia kamu sudah hampir delapan belas tahun, itu berarti pernikahan kamu akan segera dilangsungkan." Rani menjawab sepengetahuannya yang hanya dihelai nafas oleh Tiara, tanpa mau berbicara apapun. "Bukannya kamu pernah bertemu dengan lelaki itu ya? Kalau enggak salah, Papa dan Mama kamu berteman dengan orang tuanya kan?" tanya Rani terdengar penasaran. "Aku cuma menemuinya sekali, Tante. Itupun usiaku masih lima tahun, sedangkan dia sudah dua puluh tiga tahun, berarti sekarang dia umur tiga puluh lima tahun dan aku masih tujuh belas tahun." Tiara menjawab tak bersemangat, berbeda dengan Rani yang tampak terkejut mendengarnya. "Apa? Tiga puluh lima tahun? Serius, Ra?" Rani bertanya dengan nada tak percayanya sedangkan Tiara hanya mengangguk pelan untuk menjawabnya. "Bisa-bisanya Papa kamu merencanakan pernikahan kamu dengan lelaki yang usianya bahkan dua kali lipat dari kamu?" "Aku juga enggak tahu, Tante." Lagi-lagi Tiara menjawab dengan nada yang sama. "Tapi bagaimana dengan kamu? Apa kamu mau?" "Mau bagaimana lagi? Ini kan keinginan Mama dan Papa, jadi aku harus berusaha menerimanya kan?" "Astaga, Ra ...." Rani menggeleng tak percaya, merasa kasihan juga dengan nasib keponakanya. Bagaimana mungkin seorang anak yang baru remaja harus mau menikah dengan lelaki dewasa, yang umurnya saja sudah jauh berbeda, rasanya Rania ingin menggagalkan pernikahan mereka meski yang terjadi ia tetap tidak bisa, karena ia tahu batasannya untuk menjaga Tiara sampai dia menikah. *** Raja merapatkan bibirnya, matanya memejam beberapa kali sembari berpikir untuk tetap tenang, meski yang terjadi justru sebaliknya. Raja merasa semakin tak nyaman sekarang, itu karena malam ini ia akan bertemu dengan calon istrinya yang seorang gadis muda, yang usiahnya bahkan hanya sebatas setengah dari umurnya. Raja benar-benar merasa frustrasi sekarang, sampai ia sendiri tidak tahan untuk keluar kamar, karena yang ia lakukan sekarang hanya terdiam di atas ranjangnya. Sedangkan penampilannya sudah rapi dengan setelan jasnya, Raja tampak sempurna, namun tidak dengan pikirannya yang kacau. "Raja," panggil Ellena, suara mamanya yang terdengar dari arah pintu kamar. "Iya, Ma. Ada apa?" Raja berusaha terlihat baik-baik saja, kakinya bahkan berjalan menghampiri mamanya. "Sebentar lagi calon istrimu datang, kita keluar dan sambut dia di depan rumah ya?" Ellena tersenyum ke arah Raja yang tampak tak nyaman, meski pada akhirnya putranya itu mengangguk mengiyakan. Kini keduanya keluar kamar, lalu berjalan ke arah luar rumah, di sana sudah ada Adnan, papa Raja yang sudah merencanakan pertemuan Raja dan calon istrinya malam ini. Adnan sendiri adalah teman baik Danu, seorang ayah yang putrinya dijodohkan dengan Raja, putranya. Sebagai teman baik, Adnan akan mewujudkan impian besar sahabatnya tersebut, terlebih lagi kini mereka sudah tidak bisa bertemu lagi karena dunia mereka yang sudah berbeda. "Raja, tolong kamu terima calon istrimu apa adanya ya? Dia mungkin masih muda, tapi dia sangat cantik dan juga baik. Papa yakin, kalian bisa saling mencintai satu sama lain." Adnan menepuk pundak putranya yang baru datang, namun ekspresinya justru tampak tak senang. "Iya, Pa." Tidak ingin berdebat, Raja hanya mengiyakannya tanpa bisa mengikhlaskannya jawabannya. "Bagus." "Sepertinya mereka sudah datang, Pa." Ellena tersenyum ke arah halaman rumahnya, di mana ada mobil yang baru masuk di sana. "Iya, sepertinya itu mereka." Adnan mengangguk setuju sembari tersenyum, berbeda sekali dengan Raja yang tampak suram wajahnya. Bahkan matanya tak sekalipun melirik ke arah mobil yang sudah berhenti tersebut, ataupun mengintip siapa pemiliknya. Hatinya benar-benar merasa tak penasaran, karena baginya pertemuan mereka bukanlah sesuatu yang spesial. Di sisi lainnya, Tiara, Tante, dan pamannya keluar mobil, mereka tersenyum ke arah tuan rumah yang sudah menyambut mereka di depan pintu rumah. Di tengah langkah-langkah mereka, Tiara berjalan tertatih saat menyadari siapa lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini dengan setelan jas rapi. "Pak Raja?" panggil Tiara dengan nada bertanya yang sempat membuat orang terdiam bungkam, berbeda dengan Raja yang justru mendongak dengan ekspresi tanya. "Tiara. Kenapa kamu bisa ada di rumah saya?" Raja bertanya tegas seolah guru sekolah yang masih berada di waktu jam kerja. "Ini rumah Bapak ...?" Tiara bertanya lirih, di dalam hati ia berusaha meyakinkan diri, bila gurunya itu bukanlah lelaki yang akan dinikahinya nanti. "Iya. Ini rumah saya. Kamu belum menjawab pertanyaan saya, kenapa kamu ada di rumah saya?" Raja kembali bertanya tegas, membuat Tiara takut menatapnya, karena ia sendiri juga tak yakin ini adalah rumah calon suaminya. "Itu ...." Tiara menjawab lirih, sampai saat suara wanita terdengar memotong jawabannya. "Kalian sudah saling kenal?" tanya Ellena penasaran, begitupun dengan yang lainnya, yang seperti merasakan hal yang sama. "Tiara ini muridku, Ma. Aku bahkan wali kelasnya. Tapi kenapa dia bisa ada di sini? Dia bukan ... calon istriku kan, Ma?" jawab Raja diakhiri dengan pertanyaan tak yakin, diam-diam hatinya merasa takut bila dugaannya itu memang benar. "Iya, Tiara ... memang calon istri kamu, tapi Mama enggak tahu kalau kalian murid dan guru ...." Ellena menjawab dengan nada tak yakin, merasa tak percaya saja dengan sesuatu kebetulan yang baru didengarnya, seolah putranya dan Tiara itu memang ditakdirkan untuk bersama, buktinya mereka dihubungkan dengan status yang menguntungkan. "APA?!" teriak Raja dan Tiara bersama, wajah mereka sama-sama terlihat syok sekarang. "Kenapa sejak awal Mama enggak bilang kalau Tiara itu calon istriku?" Raja bertanya tak terima, bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan muridnya, itu sesuatu yang mustahil bahkan hanya untuk dibayangkan. "Mama sudah bilang kan, Mama enggak tahu kalau kalian saling mengenal. Meskipun Tiara itu seorang artis yang cukup terkenal, Mama enggak yakin kamu akan mengetahuinya." Ellena menjawab jujur, itu karena ia tahu bagaimana putranya itu begitu sibuk sampai tidak pernah menonton televisi terlebih lagi tahu siapa artis-artis muda Indonesia di jaman sekarang. "Setidaknya Mama kasih tahu ke aku fotonya," jawab Raja dengan nada yang sama. "Kamu tahu lebih dulu ataupun enggak, memangnya apa perbedaannya? Dan meskipun Tiara itu murid kamu, kalian tetap akan menikah kan? Jadi, jangan berharap kamu bisa beralasan untuk menolak perjodohan kalian." Adnan menjawab serius, membuat semua orang segan dengan tatapan dinginnya, tak terkecuali Tiara yang tertunduk dengan ekspresi gelisahnya. "Sudah-sudah, lebih baik kita masuk dulu ke rumah ya. Mari!" Ellena mempersilahkan Tiara dan keluarganya untuk masuk, yang dituruti oleh mereka begitupun dengan putra dan suaminya. Kini semua orang sudah berada di ruang keluarga, mereka semua terdiam, semua bingung harus membicarakan masalah ini mulai dari mana. Karena pihak keluarga Raja maupun pihak Tiara sendiri juga sama-sama tidak tahu bila mereka dijodohkan dengan status mereka yang seorang guru dan murid di sekolah yang sama. "Dulu, saya dan Danu bersahabat baik, bisa dibilang Danu yang membuat saya menjadi lelaki sukses seperti sekarang. Dia yang selalu mendukung saya, membantu saya mencari beasiswa kuliah, membagi makan siangnya. Bahkan setelah kita lulus, dia juga yang mencari pekerjaan untuk saya. Bagi saya, Danu sudah seperti keluarga sekaligus penolong saya saat itu, sampai saat saya berkeluarga, dia masih bujang dan tetap berjuang untuk adik-adiknya yang lain." Adnan berujar serius ke semua orang, tak terkecuali ke arah Rani yang tampak tertunduk memikirkan jasa kakaknya yang memang cukup besar di hidupnya, itulah kenapa ia langsung mau mengurus Tiara setelah tahu kakaknya itu tiada. "Saat saya tahu dia meninggal, hati saya benar-benar hancur, saya belum sempat membalas kebaikannya, tapi Tuhan sudah memanggilnya. Untungnya, Danu memberi saya wasiat untuk menikahkan Raja dan Tiara, saya tidak akan menyia-nyiakannya, permintaannya pasti akan saya lakukan apapun caranya." Adnan menatap ke arah Raja yang terdiam, yang terlihat semakin frustrasi dengan posisinya. "Apapun caranya? Termasuk mempermalukan putra Papa sendiri?" tanya Raja terdengar muak, ia tahu papanya harus balas budi, namun apa harus ia juga ikut membalasnya dengan cara menikahi muridnya, itu konyol namanya. "Iya." Adnan menjawab tenang yang ditatap tak percaya oleh putranya. "Pa, aku akan menikah dengan muridku sendiri? Apa Papa pikir ini masuk akal untuk dilakukan? Memangnya Papa enggak malu punya menantu anak SMA?" Raja masih berusaha meyakinkan papanya, rasanya ia benar-benar belum bisa percaya dengan semuanya. "Iya, bila itu memang keinginan Danu, Papa akan sangat senang hati melakukannya, meskipun itu harus mempermalukan Papa ataupun kamu. Dan lagi, Papa malah bangga bila Tiara menikah dengan kamu, dia anak yang cantik dan berbakat, lalu kenapa harus merasa malu?" Adnan tersenyum ke arah Tiara yang terdiam dan tertunduk, gadis itu juga bingung harus bersikap bagaimana. "Astaga," keluh Raja frustrasi setelah mendengar jawaban papanya yang kian memojokkannya. "Tiara, apa kamu enggak mau menolak pernikahan ini? Kamu kan masih muda, kamu juga artis kan? Bagaimana dengan karir kamu kalau kamu ketahuan menikah muda dengan lelaki dewasa seperti saya?" "Sebelum menjadi artis, saya sudah tahu akan dijodohkan. Saya pikir, saya harus mewujudkan keinginan terakhir orang tua saya, meskipun itu harus menikah dengan Anda, Pak." Tiara menjawab jujur tanpa mau menatap ke arah Raja, ia tahu gurunya itu pasti akan marah besar. Namun, mau bagaimanapun ia harus tetap teguh dengan keinginan untuk mewujudkan impian kecil orang tuanya. "Kamu tahu, karir kamu bisa hancur, apa kamu masih mau seperti itu?" tanya Raja lagi berhati-hati, namun Tiara justru mengangguk seolah sudah sangat yakin dengan keputusannya, yang tentu saja membuat Raja geram melihatnya. "Tolong biarkan saya berbicara dengan Tiara." Raja berujar serius sembari terus menatap ke arah Tiara, yang kali ini bisa semua orang mengerti terlihat dari cara mereka menatap satu sama lain. "Baik. Papa dan yang lainnya akan memberi kamu dan Tiara waktu untuk berbicara, tapi bukan berarti kita akan memberi kamu alasan untuk menolak perjodohan kalian." Adnan mendirikan tubuhnya, diikuti istri dan yang lainnya. Sedangkan Raja hanya terdiam dengan sesekali menghela nafas panjang, ekspresinya begitu menakutkan untuk Tiara lihat sekarang. "Tiara." Raja memanggil namanya dengan nada tenangnya, seolah hatinya sedang berusaha sabar untuk mengatasi masalahnya. "Iya, Pak." "Kamu masih sangat muda, masa depan kamu masih panjang, kamu juga seorang artis besar, bagaimana mungkin kamu mau menyetujui perjodohan ini, apalagi dengan saya? Guru kamu sendiri? Bukankah itu terdengar konyol? Saya? Kamu? Mustahil untuk bersatu." Raja masih berusaha bernegosiasi dengan Tiara, berharap muridnya itu mau memikirkan lagi perjodohan mereka. "Saya minta maaf, Pak. Jawaban saya masih tetap sama, saya akan tetap memenuhi permintaan terakhir orang tua saya, meskipun itu harus menghancurkan masa depan saya." Tiara menjawab yakin, membuat Raja frustrasi mendengarnya, di sisi lain Raja paham perasaan Tiara, namun di sisi lainnya, perjodohan itu terlalu tidak masuk akal baginya. "Kamu akan menikah dengan lelaki dewasa yang usianya dua kali lipat dari kamu, bahkan dia juga tidak mencintai kamu? Apa kamu akan tetap menerima perjodohan itu? Pikirkan baik-baik, ini bukan tentang masa depan kamu saja, tapi kamu juga harus memikirkan perasaan kamu sendiri." Raja menatap serius ke arah Tiara yang terdiam, seolah sedang berpikir akan ucapan Raja yang memang banyak benarnya. "Saya akan beri kamu waktu untuk memikirkan semua itu, kamu tidak perlu memutuskannya malam ini." Raja kembali berujar yang lagi-lagi hanya bisa Tiara diami, tanpa tahu harus menjawab apa. Bagi Tiara, perasaannya juga penting, namun permintaan orang tuanya juga jauh lebih penting. Sepertinya, Tiara memang harus memikirkannya matang-matang, setidaknya ia harus tetap bahagia meski terkadang kehidupannya tak terlalu sesuai dengan harapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN