Part 04

2234 Kata
Part 04 Tiara terdiam di kamarnya, setelah pulang dari rumah Raja, rumah lelaki yang akan menjadi suaminya. Sejak awal, Tiara tidak pernah menyangka bila lelaki yang akan dijodohkan dengannya adalah Raja, guru sekaligus wali kelasnya. Padahal, Tiara selalu berpikir akan menerima siapapun lelaki itu, meskipun lelaki itu berwajah buruk sekalipun, karena ia yakin keinginan orang tuanya adalah takdir yang pasti baik untuknya. Sayangnya, meskipun lelaki itu bisa dikategorikan tampan dengan pekerjaan yang cukup mapan, Tiara justru ditolak seolah memang tidak diinginkan. Tiara sendiri bukan tipe gadis yang percaya diri meskipun pekerjaannya mengharuskannya untuk memiliki sikap itu, namun Tiara yakin wajahnya tidak buruk, banyak orang yang memujinya cantik dan bahkan menarik. Namun anehnya, lelaki yang akan dijodohkan dengannya itu justru berharap pernikahan mereka tidak dilaksanakan. Jauh dari pemikiran itu, Tiara justru bertanya-tanya alasan apa yang mendasari Raja menolaknya. Mungkin, sebagai seorang guru, dia berpikir akan kurang etis bila menikahi seorang murid. Ya, itulah pemikiran Tiara saat ini, pemikiran yang cukup masuk akal untuk dijadikan alasan kuat. Lalu, bagaimana dengan Tiara sendiri? Alasan apa yang membuatnya harus menolak pernikahan itu? Masa depan? Pendidikan? Atau justru karir. Tiara sendiri merasa bimbang sekarang, karena ia yakin hatinya sangat mengharapkan ketiga itu berjalan baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan permintaan orang tuanya? Pesan terakhir yang bahkan sudah diawasiatkan untuknya, apa mungkin Tiara sanggup mengabaikannya, sedangkan ada harapan orang tuanya di sana. Tidak, Tiara merasa dirinya tidak bisa sejahat itu. Ia adalah anak satu-satunya, banyak yang sudah orang tuanya lakukan hanya untuk memastikan ia akan baik-baik saja dan bahagia bahkan sampai sekarang. Lalu bagaimana mungkin ia bisa mengabaikan permintaan terakhir orang tuanya. Tidak, Tiara merasa tidak bisa melakukannya. "Aku akan tetap menikah dengan Pak Raja, entah pernikahan itu akan berhasil atau enggak, yang penting aku sudah memenuhi permintaan Papa dan Mama." Tiara mengangguk mantap, merasa sangat yakin dengan keputusannya. *** Keesokan paginya, Tiara tampak tak nyaman dengan suasana kelasnya, di mana semua muridnya tampak fokus dengan apa yang sedang Raja jelaskan. Berbeda dengan dirinya yang justru kurang bisa memahami ucapan gurunya, sangking canggungnya Tiara menatap wajah lelaki yang akan menjadi suaminya tersebut. Sampai saat ini pun, Tiara masih belum percaya bila lelaki yang orang tuanya harapkan untuk menjadi calon suaminya itu justru bekerja menjadi gurunya, dan bahkan wali kelasnya, yang tentunya akan banyak waktu yang mereka habiskan bersama. "Tiara," panggil Raja tegas yang seketika menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "I-iya, Pak?" Tiara mendongak kaku, matanya penuh tanda tanya dengan sesekali melirik ke arah sekitarnya, di mana banyak temannya yang sedang memerhatikannya. "Kamu tidak memerhatikan apa yang saya jelaskan kan?" tanya Raja sembari memicingkan mata, terlihat begitu berbeda dengan aura yang sama. "Maaf, Pak. Saya ...." "Berdiri kamu di sana!" Raja menunjuk ke arah papan tulis, yang sempat Tiara diami meski pada akhirnya gadis itu berdiri lalu berjalan ke arah tempat yang gurunya tunjuk. Sedangkan Nathasa yang melihat Tiara harus berdiri itu tentu saja merasa khawatir sekaligus merasa kasihan, meski tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam. "Ini juga yang akan kalian dapatkan kalau kalian tidak mau memerhatikan penjelasan saya. Kalian mengerti?" ujar Raja ke arah semua muridnya sembari menunjuk ke arah Tiara yang hanya bisa tertunduk malu. "Mengerti, Pak." "Bagus." *** "Pelajaran kali ini sudah selesai. Dan untuk Tiara, kamu bisa duduk di kursi kamu." Raja duduk di bangkunya lalu fokus dengan beberapa berkas miliknya. "Iya, Pak." Setelah pelajaran selesai, akhirnya Tiara bisa kembali duduk di kursinya, di tempatnya Nathasa membantu Tiara yang sepertinya sedang keram kakinya. Bisa dilihat dari caranya meringis kesakitan, namun berusaha untuk ditahan. "Kamu enggak apa-apa kan, Ra?" tanya Nathasa khawatir yang Tiara gelengi dengan berusaha tersenyum. "Aku enggak apa-apa kok." "Kaki kamu pasti keram. Sini aku pijetih ya?" Nathasa ingin memijat kaki Tiara, namun langsung ditolak oleh empunya. "Enggak usah, aku enggak apa-apa kok." "Tapi kan ...." "Sudah. Enggak apa-apa." Tiara menggeleng yakin sembari berusaha tersenyum, padahal Tiara merasa kakinya sangat keram sekarang sampai tidak sanggup untuk berdiri lagi. Di sisi lainnya, diam-diam Raja memerhatikan Tiara yang masih berusaha tersenyum setelah berdiri hampir dua jam. Padahal gadis itu bisa saja mengeluh banyak hal termasuk mengeluh tentang tindakannya yang mungkin cukup keterlaluan untuknya, namun gadis itu tidak melakukannya dan bahkan berusaha terlihat baik-baik saja. "Nathasa," panggil Raja sembari berjalan ke arah Tiara dan Nathasa, di sana hanya ada mereka, karena murid lainnya sudah berhamburan pergi ke kantin sekolah. "Iya, Pak." Nathasa menjawab sopan. "Kaki Tiara pasti masih keram, dia tidak mungkin bisa makan siang di kantin, lebih baik kamu belikan dia makanan dan bawa ke sini." Raja semakin mendekat ke arah mereka, sedangkan Nathasa yang merasa ucapan gurunya itu ada benarnya langsung berdiri tegak dan mengangguk sopan. "Iya, Pak. Kalau begitu saya mau ke kantin dulu. Ra, aku belikan kamu makanan ya. Kamu tunggu di sini!" ujar Nathasa ke arah Tiara di akhir kalimatnya. "Enggak usaha, aku enggak mau merepotkan kamu ...." "Enggak kok. Tunggu sebentar ya?" Tanpa mau menunggu persetujuan Tiara, Nathasa langsung bergegas keluar kelas untuk membeli makanan, membuat Tiara merasa bersalah karena terus-terusan merepotkan sahabat baiknya tersebut. "Bagaimana?" tanya Raja setelah duduk di bangku yang berada di depan Tiara. "Apanya, Pak?" tanya Tiara tak mengerti sembari menatap tanya ke arah Raja yang tampak menghela nafas lelahnya. "Saya perlu tahu keputusan kamu tentang perjodohan kita, apa kamu akan menerimanya? Seperti yang sudah saya bilang ke kamu, persetujuan kamu itu justru akan menghancurkan semuanya termasuk masa depan dan hati kamu. Jadi, jangan berpikir bodoh! Kamu harus menolak pernikahan ini." Raja berujar serius ke arah Tiara yang masih tampak ragu-ragu menatap ke arah Raja. "Saya minta maaf, Pak. Tapi, saya tetap akan menerima perjodohan kita." Tiara menjawab ragu-ragu sembari tertunduk takut, yang tentu saja membuat Raja geram mendengar jawabannya. "Apa kamu bilang? Kamu akan tetap menerima perjodohan ini, apa kamu sudah gila? Kamu ingin menghancurkan masa depan dan karir kamu?" Raja mendirikan tubuhnya, menatap tak percaya ke arah Tiara yang masih berada di posisi yang sama. "Maaf, Pak. Ini bukan tentang masa depan ataupun karir saya, tapi ini tentang amanah orang tua yang harus saya laksanakan. Mungkin bagi Bapak, pernikahan ini terdengar konyol mengingat status kita murid dan guru, tapi bagi saya pernikahan ini menyangkut kebahagiaan orang tua saya, jadi saya memilih untuk tetap menerimanya." Tiara mendongak, menatap yakin ke arah Raja yang tampak kian tak percaya dengan jawabannya. "Kamu benar-benar keras kepala ...." Raja menunjuk ke arah Tiara yang kembali tertunduk, sampai saat suara tapak kaki berlari cepat memasuki kelas. "Ra, aku belikan kamu s**u sama roti ya?" ujar Nathasa setelah sampai di kelas, dengan deru nafasnya yang tampak ngos-ngosan sekarang. "Loh ... Pak Raja kok masih ada di sini?" tanya Nathasa sembari berjalan mendekat ke arah Tiara. "Saya cuma menjaga Tiara sampai kamu datang. Sudah, kalian makan siang sana!" Raja menjawab tenang lalu berjalan keluar, tanpa mau memedulikan Nathasa yang tampak heran melihat sikap gurunya yang tidak biasanya itu. "Pak Raja kok aneh ya?" Nathasa menatap ke arah Tiara yang terlihat gugup dengan pertanyaan teman baiknya tersebut. "Aneh kenapa?" Tiara mengelus lehernya yang tak gatal, merasa tak nyaman dengan topik pembicaraan mereka sekarang. "Ya aneh aja, masa berkas-berkas dan tasnya enggak dibawa ke ruangannya juga?" jawab Nathasa terdengar heran yang entah bagaimana membuat Tiara lega dan tenang. "Oh itu, kan sebentar lagi Pak Raja ngajar kita lagi, mungkin sengaja ditinggal." "Mungkin sih. Oh, iya ini roti, kamu makan ya?" Nathasa yang baru mengingat tujuannya langsung memberikan makanan itu ke Tiara, tanpa menyadari bagaimana temannya itu merasa lega bisa dilihat dari caranya menghembuskan nafas beberapa kali. "Iya, terima kasih ya, Sa. Maaf, ngerepotin kamu lagi." "Enggak kok." Keduanya sama-sama tersenyum lalu makan bersama, seperti itu lah persahabatan mereka yang sudah terjalin cukup lama. *** Setelah mendengar jawaban Tiara yang akan menerima perjodohan mereka, rasanya Raja sudah tidak memiliki harapan lagi untuk menolak pernikahan itu, mengingat papanya begitu ingin membalas budi pada orang tua Tiara. Saat mengajar pun, konsentrasi Raja sering terganggu dan berakhir ia duduk tanpa bisa menjelaskan pelajaran yang sebenarnya ingin ia jabarkan. Perasaan tak karuan itu terus menghancurkan moodnya bahkan setelah ia pulang ke rumahnya, itu karena mamanya datang dengan ekspresi tersenyum dan mengatakan hal yang membuat Raja ingin melarikan diri dari dunianya. "Raja, pernikahan kamu dengan Tiara akan dilaksanakan secepatnya. Mama harap kamu bisa memantapkan hati dan pikiran kamu untuk memimpin keluarga baru kamu nantinya." Ellena mengelus pundak putranya yang tampak lesu dari sebelumnya. "Ma ...." Raja ingin menolak namun mamanya itu justru menggeleng seolah sudah paham dengan apa yang dipikirkan putranya. "Tolong jangan buat Papa kamu marah, Ja!" Ellena menatap memelas ke arah Raja, berharap putranya itu berhenti menolak perjodohannya. "Ini sulit buat aku, Ma ...." Raja masih berusaha meyakinkan mamanya, ia sendiri tidak bisa menikah dengan muridnya terlebih lagi mengkhianati wanita yang ditunggunya. "Mama tahu. Tapi kamu juga harus tahu, pernikahan kalian juga sulit untuk Tiara. Lalu apa salahnya kalau kalian mencoba dulu? Kalian berusaha saling mencintai, berusaha menerima satu sama lain, mungkin dengan begitu kamu dengan Tiara enggak akan merasa sulit lagi." "Itu enggak akan mudah, Ma." Raja merapatkan bibirnya, ia ingin sekali mengatakan bila ia masih mencintai wanita yang sama, namun ia tahu mamanya tidak akan menyukai hal itu. "Mama tahu itu, tapi kalian juga enggak akan tahu kalau kalian enggak mencobanya dulu. Mama juga yakin, kamu dan Tiara itu berjodoh, entah perbedaan usia dan perasaan kalian yang menjadi batasannya, kalian pasti bisa melewatinya." "Terserah Mama lah ...." Raja melangkahkan kakinya ke arah kamarnya, meninggalkan mamanya yang menghela nafas panjangnya sembari menatap punggungnya. Di dalam kamar, Raja duduk di tepi ranjang lalu mengambil sebuah foto dari laci mejanya. Sebuah foto wanita cantik berkulit putih, seorang wanita yang sangat Raja cintai, namun tidak bisa ia temui karena ambisi yang wanita itu miliki. "Aku sangat mencintai kamu, bahkan sampai sekarang aku masih menunggu kamu. Kapan kamu bisa kembali? Aku merindukanmu." Raja memeluk foto wanita itu, melindunginya dalam dekapan hangatnya. *** Keesokannya, seperti biasanya, Raja mengajar di kelas Tiara, cara mengajarnya kini lebih fokus dari caranya kemarin. Itu karena saat ini, Raja memiliki cara yang mungkin bisa ia jadikan alasan menghindari ikatan pernikahan dengan Tiara yaitu dengan sebuah perjanjian. "Pelajaran kali ini sudah selesai, kalian bisa istirahat." Raja berujar ke seluruh muridnya, yang dijawab iya oleh mereka, termasuk Tiara yang saat ini sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya. "Dan untuk Tiara, tolong bantu saya bawa buku-buki ini ke ruangan saya." Raja menatap ke arah Tiara yang sempat terdiam sembari menatap buku-buku yang Raja tunjuk. "Iya, Pak." Tiara mendirikan tubuhnya diikuti Nathasa di sampingnya. "Saya bantu juga ya, Pak?" tawar Nathasa sembari tersenyum sopan. "Tidak usah, biar saya dan Tiara saja. Terima kasih tawarannya," jawab Raja yang hanya Nathasa diami, merasa aneh saja dengan gurunya tersebut, karena tidak biasanya lelaki itu menyuruh murid perempuan untuk membantunya, terlebih lagi Tiara. "Baik, Pa." "Aku bantu Pak Raja dulu ya, kamu tunggu aku di kantin ya, nanti aku nyusul kamu ke sana." Tiara berpamitan ke arah Nathasa yang mengangguk menyetujuinya. "Oke." Kini Raja dan Tiara berjalan ke arah ruangan, keduanya berjalan tak beriringan, di mana Raja di depan dan Tiara berada di belakang. Di dalam kediamannya, Tiara berpikir gurunya itu pasti ingin berbicara sesuatu hal dengannya, mengingat pernikahan mereka akan segera dilaksanakan. "Tata buku-buku itu di rak!" perintah Raja sembari menunjuk ke arah rak putih setelah mereka sampai di tujuan. "Iya, Pak." Lagi-lagi Tiara hanya menjawab sopan lalu melakukan tugasnya, sedangkan Raja menunggu dan mengawasinya. "Sudah, Pak. Apa saya boleh pergi?" ujar Tiara yang digelengi kepala oleh Raja. "Saya mau berbicara serius sama kamu." Raja menatap tegas ke arah Tiara yang tampak menghela nafas, dugaannya memang benar, gurunya itu memang ingin berbicara dengannya. "Soal apa, Pak? Kalau masalah pernikahan kita, jawaban saya masih sama, saya akan tetap menerima perjodohan kita." Tiara menjawab mantap, merasa yakin dengan keputusannya. "Saya tahu." "Terus kenapa Bapak masih mau berbicara dengan saya?" "Saya cuma mau menawarkan perjanjian ke kamu." "Perjanjian? Perjanjian apa ...?" Tiara bertanya ragu, merasa waswas saja bila ada rencana buruk yang sebenarnya sedang Raja rencanakan. "Kamu dan saya akan menikah, tapi setelah kamu lulus sekolah, kita akan bercerai. Bagaimana?" Raja berujar serius yang hanya bisa Tiara diami, ia sendiri juga tidak mau pernikahan itu terjadi selamanya, namun apa harus sesingkat itu untuk mengakhirinya. "Boleh saya tahu alasannya kenapa saya harus menerima perjanjian itu?" "Kamu masih tanya alasannya? Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, saya cuma tidak mau merusaknya. Itu saja." Raja menjawab yakin namun Tiara justru tersenyum kecut. "Saya yakin, ada alasan lain. Tolong katakan saja, Pak! Supaya saya bisa menimbangnya. Kalau hanya alasan masa depan saya, saya pikir itu bukan masalah untuk saya." Tiara menatap serius ke arah Raja mengangguk paham. "Kamu yakin ingin mendengar alasan saya?" tanya Raja memastikan namun Tiara langsung mengangguk mengiyakan. "Saya sangat yakin." "Baiklah. Sebenarnya alasan saya ingin kita bercerai setelah kamu lulus sekolah, itu karena saya masih mencintai mantan saya. Dia sudah berjanji akan pulang ke Indonesia, di saat itulah saya ingin kembali melamarnya. Jadi, sekarang kamu mengerti kan alasan saya ingin membuat perjanjian?" tanya Raja di akhir penjelasannya, yang entah bagaimana membuat Tiara merasa sesak di dadanya, bukan karena ia cemburu, namun lebih merasa dikhianati. "Saya mengerti, kalau begitu saya pergi dulu." Tidak mau terus-terusan berbicara hal menyebalkan, Tiara memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan gurunya yang belum mendapatkan jawabannya. "Tunggu, kamu belum menjawab perjanjian yang saya tawarkan, kamu menyetujuinya atau tidak?" tanya Raja namun Tiara justru terus berjalan hingga keluar ruangan, yang tidak mungkin Raja susul langkahnya, mengingat banyak murid yang berkeliaran di sana, ia dan Tiara bisa saja dicurigai memiliki hubungan. "Sial," keluhnya geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN