Part 06

2099 Kata
Part 06 Raja membangunkan tubuhnya lalu bergegas mandi dan mempersiapkan diri seperti pagi biasa. Kebetulan di kamar adiknya itu banyak kemeja yang ukurannya sama dengannya, tentu saja Raja memakai salah satunya tanpa mau berpamitan dengan pemiliknya, dari pada harus bolak-balik ke kamarnya yang saat ini sedang disinggahi Tiara, istri sekaligus muridnya. Setelah semua selesai, Raja berjalan keluar menuju kamarnya, ia berniat mengambil tas kerjanya. Namun saat mengetuk pintu kamarnya, tidak ada sahutan apapun dari dalam, di saat itu lah Raja berpikir bila Tiara masih tidur di ranjangnya. "Dia pasti masih tidur? Apa dia enggak butuh sekolah?" keluhnya kesal sembari membuka pintu kamarnya yang nyatanya tidak dikunci oleh murid sekaligus istrinya tersebut. "Tiara," panggil Raja ke seluruh penjuru kamar, namun tidak ada seorang pun di sana begitupun di kamar mandi. "Di mana anak itu?" gumamnya heran, merasa aneh saja melihat keadaan kamarnya yang sudah rapi seolah belum pernah dihuni. Dengan masih merasa penasaran, Raja mengambil tas kerjanya lalu keluar kamar dan berjalan ke lantai bawah, biasanya orang tuanya sedang sarapan di ruang makan. "Raja, kamu sarapan dulu ya?" Ellena berujar ke arah putranya yang baru datang, namun tatapan matanya tertuju ke arah sekitar seolah mencari sesuatu hal. "Dia di mana, Ma?" "Dia siapa? Istri kamu?" "Iya, siapa lagi? Dia di mana sekarang, Ma? Kabur ya? Sudah aku duga sih, namanya juga anak-anak." Raja mendudukkan tubuhnya di kursinya, sedangkan orang tuanya justru tersenyum mendengar ucapannya. "Tiara enggak kabur kok, dia ada di dapur itu, lagi nyiapin kamu bekal makanan." Ellena menunjuk ke arah dapur dengan dagunya, yang kali ini didiami oleh Raja yang tampak tak percaya dengan pendengarannya. "Apa? Nyiapin aku bekal makanan? Memangnya dia bisa masak?" Raja menggeleng tak habis pikir, nada suaranya bahkan terdengar sinis, sedangkan tangannya begitu asyik mengambil nasi dan lauk untuk piringnya. "Paling juga masakan dia enggak enak. Lebih baik Mama suruh dia sarapan, dari pada buat bekal makanan yang nantinya juga bakal aku buang." Raja menyendokkan makanan ke mulutnya, lalu terdiam beberapa saat setelah mengecap masakan yang tidak biasanya ia rasakan sebelumnya. "Tumben Bi Mina masakannya agak beda rasanya, tapi lebih enak ini sih." Raja mengangguk pelan lalu kembali melahap makanannya, tanpa menyadari bagaimana orang tuanya tersenyum mendengar penilaiannya. "Yang masak ini bukan Bi Mina, tapi Tiara." Ellena menyahut tenang, bibirnya bahkan tersenyum saat menatap ke arah putranya yang terdiam bungkam. "Makanannya lebih enak punya Tiara ya?" tanya Ellena seolah ingin menggoda putranya kali ini. "Ini yang masak Tiara? Kok bisa sih dia masak makanan enggak enak kaya gini?" gerutu Raja kesal, berusaha menjaga imagenya yang sejak awal sudah menjatuhkan Tiara. "Maaf, Pak, kalau masakan saya tidak enak. Tapi saya janji, saya akan berusaha belajar lebih baik lagi kedepannya." Tiara menyahut penuh rasa bersalah setelah sampai di ruang makan dan mendengar penilaian suaminya akan rasa masakannya. "Masakan kamu enak kok, Sayang. Raja sebenarnya suka tapi gengsi aja," sahut Ellena sembari melirik kesal ke arah Raja yang berusaha tak peduli dengan sekitarnya dan hanya fokus pada makanannya. "Gengsi apanya? Memang masakan dia enggak enak kok." Raja menggerutu lirih di sela-sela makannya, membuat mamanya geram melihat tingkah lakunya. "Kalau enggak enak, kenapa kamu lahap banget makannya?" tanya Ellena sinis. "Terpaksa, dari kemarin sore kan aku belum makan." "Terserah kamu lah." Ellena menatap malas ke arah putranya lalu beralih ke arah Tiara yang hanya bisa terdiam penuh rasa bersalah, padahal ia sengaja bangun pagi untuk membuat sarapan, namun sepertinya suaminya itu kurang menyukai masakannya. "Tiara, kamu sarapan dulu ya?" "Iya, Ma." Tiara tersenyum tipis lalu duduk di samping Raja dan memulai sarapannya, sedangkan Raja masih tampak tak peduli dengan kehadirannya. "Oh ya tadi kamu panggil Raja dengan sebutan Pak ya? Kan Mama sudah bilang, kamu harus panggil Raja dengan sebutan Mas! Kan kalian sekarang sudah suami istri, masak panggil Bapak sih, kan aneh." Ellena berujar ke arah Tiara yang tersenyum dan mengangguk pelan. "Maaf, Ma. Aku kelupaan, tapi kedepannya aku akan berusaha ingat." Tiara menjawab sopan, tanpa menyadari bagaimana Raja memikirkan jawaban bohong istrinya, padahal Raja yang meminta Tiara untuk tetap memanggilnya dengan sebutan seperti saat mereka di sekolah. Sekarang Raja tahu bila ternyata di balik umurnya yang masih muda, Tiara adalah sosok gadis yang memiliki pemikiran dewasa, padahal dia bisa saja mengadukan semuanya pada mertuanya, namun tidak dia lakukan. "Baguslah. Oh ya, kamu buat bekal makanan untuk suami kamu kan?" tanya Ellena antusias, namun Tiara justru terdiam tak nyaman. "Iya, Ma. Tapi kayanya Mas Raja enggak bakal suka, jadi aku akan membawanya ke sekolah untuk bekalku sendiri." Tiara menjawab lirih sembari berusaha tersenyum. "Raja suka kok, dia pasti mau bawa bekal makanan yang kamu buat. Ya kan, Ja?" tanya Ellena ke arah putranya. "Enggak, Ma. Aku aja enggak suka masakan dia, kenapa aku harus bawa bekal dari dia?" jawab Raja tak habis pikir, namun mamanya justru menatapnya dengan sorot mata tak percayanya. "Kalau kamu enggak suka masakan Tiara, kenapa kamu habiskan sarapan kamu itu? Berarti kamu menyukainya kan?" "Kan aku sudah bilang kalau aku makan ini juga terpaksa, Ma. Kalau bukan karena aku kelaparan, mana mungkin aku makan masakan dia." Raja masih bersikeras dengan pendiriannya, membuat mamanya malas mendengar alasannya. "Ya sudah kalau begitu setelah kamu selesai sarapan, kamu ke dapur terus minta Bi Mina buatkan kamu bekal seperti biasa! Jangan bawa bekal makanan yang Tiara buat, oke?" ujar Ellena tegas yang sempat mengubah ekspresi Raja beberapa saat. "Ngapain sih, Ma? Buang-buang makanan aja, ini kan sudah ada, nanti aku bawa ke sekolah." Raja menunjuk ke arah kotak makanan yang sudah Tiara siapkan, yang tentu saja membuat mamanya lelah dengan sikap plin-plannya. "Lama-lama kamu Mama telan, Ja." Ellena menjawab geram, yang hanya bisa Raja diami seolah tak memiliki dosa, demi bisa menjaga nama baiknya di depan Tiara. "Oh ya, nanti Tiara berangkat sama kamu ya?" Ellena menatap ke arah Raja yang tampak terkejut mendengar permintaannya. "Apa, Ma? Dia berangkat sama aku? Yang benar aja, Ma? Aku itu guru di tempat dia sekolah, bagaimana mungkin kita berangkat sama-sama?" Raja menjawab tak terima yang diangguki setuju oleh Tiara yang juga setuju dengan pendapat suaminya. "Aku setuju dengan pendapat Mas Raja, Ma. Aku berangkat ke sekolah bisa pesan taksi online kok," sahut Tiara yang memang tidak ingin berangkat dengan suaminya. "Sayang. Raja itu sekarang sudah menjadi suami kamu, itu artinya kamu tanggung jawab dia, jadi wajar kalau kalian berangkat sekolah bersama, toh tujuannya juga sama kan?" ujar Ellena yang sebenarnya tidak ingin Tiara setujui, namun ia takut penolakannya itu justru akan menyakiti perasaan mertuanya tersebut. "Tapi, Ma. Bagaimana kalau ada yang curiga dengan kedekatan kita? Aku bisa dicap guru c***l," sahut Raja masih bersikeras dengan pendiriannya. "Bagus dong, berarti enggak ada yang mau dekati kamu." Ellena menjawab santai, yang tentu saja membuat Raja terkejut dengan pemikiran mamanya yang jauh dari kata normal. "Ma," tegur Raja terdengar tak percaya. "Mama enggak mau dengar penolakan ya, Ja. Tiara itu istri kamu, sudah menjadi kewajiban kamu mengantar dia ke sekolah, toh tujuan kalian juga sama." "Tapi ...." "Enggak ada tapi-tapian!" Ellena menjawab tegas, yang tidak bisa Raja tolak ucapannya, meski di dalam hati ia merasa tak bisa menuruti keinginan mamanya. *** Raja hanya bisa menghela nafas beberapa kali setelah kalah debat dengan mamanya, yang menginginkan Tiara untuk berangkat semobil dengannya. Dan sekarang, di sini lah Raja, tengah menyetir mobilnya dengan Tiara di sampingnya. "Maaf, Pak." Tiara yang sejak awal ingin naik taksi namun harus menuruti permintaan mertuanya untuk semobil dengan Raja, merasa sangat bersalah terlebih lagi saat menatap ke arah Raja yang semakin kesal dengan keberadaannya. "Kenapa jadi kamu yang minta maaf?" "Ya karena saya menumpang di mobil Bapak." "Kamu tidak perlu merasa bersalah," jawab Raja tenang, yang tentu saja tidak Tiara percayai. "Bapak serius?" "Ya. Keluarlah!" Raja menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di mana jarak dari sekolahnya sudah dekat bila berjalan dari sana. "Keluar? Maksud Bapak, saya harus jalan?" "Ya iya lah, memangnya apalagi? Saya tidak mau ya ada rumor tentang kita di sekolah, apalagi sampai ada yang tahu kalau kita sudah menikah. Cepat keluar!" perintah Raja tegas yang hanya bisa Tiara angguki lalu keluar dari mobil, membiarkan Raja meninggalkannya di pinggir jalan. Tiara hanya bisa menghela nafas lalu berjalan ke arah sekolahnya, untungnya ia tidak harus berjalan jauh, setidaknya tubuhnya tidak akan terlalu kecapean meskipun acara pernikahannya kemarin sudah cukup menyita energinya. "Tiara," teriak Nathasa yang sudah berada di dekat gerbang sekolah, tangannya melambai tinggi untuk memanggilnya. Melihat temannya itu, Tiara tersenyum lalu berlari ke arah Nathasa yang sedang menunggunya. "Hai, Sha." Tiara menyapanya dengan nada ngos-ngosan setelah sampai di depan temannya tersebut. "Kok kamu jalan sih, Ra? Biasanya kamu pakai sopir kan?" "Aku enggak jalan kok. Tadi naik taksi, tapi turun di sana," tunjuk Tiara ke arah jalanan jauh di sana. "Kenapa enggak turun di depan sekolah aja?" tanya Nathasa tak habis pikir. "Emh ... tadi ada yang butuh taksi, jadi aku kasih aja, kasihan kan?" Tiara tersenyum ke arah Nathasa yang juga tersenyum, merasa lucu saja dengan temannya itu yang selalu saja mengutamakan orang lain. "Kamu selalu saja baik, ya sudah yuk kita ke kelas, atau kamu mau ke kantin dulu, cari minuman?" tawar Nathasa yang diangguki oleh Tiara. "Boleh," jawab Tiara sembari tersenyum, lalu keduanya sama-sama berjalan ke arah kantin. Tanpa Nathasa sadari, Tiara ingin mengungkapkan segala keluh kesahnya, namun tidak bisa, terlebih lagi harus memberitahukan pernikahannya dengan gurunya. *** Di dalam kelas, Raja fokus mengajar seperti biasanya, begitupun dengan Tiara yang tampak tenang memerhatikan penjelasan suaminya tersebut. Selama pelajaran berlangsung, beberapa kali mereka bertemu pandang dan berakhir saling mengelak satu sama lain, terutama Raja yang tampak kurang nyaman saat tatapan mereka bertemu. Sedangkan Tiara hanya bisa tertunduk ragu, karena ia tahu guru sekaligus suaminya itu kurang menyukai keberadaanya. "Pelajaran kali ini sudah selesai, kalian bisa istirahat." Raja mengakhiri pelajarannya yang dijawab sorakan lega dari semua muridnya, sampai saat Raja menatap ke arah Tiara, ia ingin meminta bantuannya. "Tiara, bisa bantu saya bawa buku ini?" tanya Raja yang sempat Tiara diami meski tak lama, karena tubuhnya langsung berdiri dengan kepala mengangguk patuh. "Iya, Pak." Tiara menatap ke arah Nathasa seolah ingin berpamitan untuk membantu gurunya sebentar, sedangkan Nathasa hanya mengangguk paham. Kini Tiara dan Raja berjalan beriringan sembari membawa tumpukan buku di tangan masing-masing. Setelah sampai di tempat tujuan, Raja langsung menarik tangan Tiara dan menatap tajam ke arahnya. "Jangan diulangi lagi!" ujarnya tegas, yang tentu saja tak membuat Tiara mengerti. "Maksud Bapak apa?" tanya Tiara kebingungan sembari berusaha menarik lengannya yang digenggam erat oleh suaminya. "Sejak tadi kamu memerhatikan saya, kamu mau ada yang curiga dengan hubungan kita cuma karena kecerobohan kamu?" tanya Raja terdengar geram, namun tak membuat Tiara paham dengan maksud dari ucapannya. "Saya memerhatikan Bapak, karena saya cuma mau mendengar materi yang Bapak ajarkan dengan baik, apa itu salah?" Tiara menarik keras tangannya, merasa lelah saja bila dituduh tanpa sebab oleh suaminya. "Tapi tatapan kamu itu berlebihan dan saya tidak suka itu." "Jadi saya harus bagaimana, Pak? Saya di sini kan cuma murid, ya wajar kalau saya memerhatikan apa yang Bapak jelaskan." "Saya tahu, tapi tolong dikurangi! Saya cuma tidak mau ada yang curiga dengan hubungan kita, apalagi kalau sampai mereka tahu kita sudah menikah." "Saya paham itu, Pak. Jadi Bapak tidak perlu khawatir, saya permisi dulu." Tiara menjawab tenang, berusaha tampak baik-baik saja meski sebenarnya hatinya cukup terluka. Baginya, guru sekaligus suaminya itu cukup berlebihan dalam menanggapi sikapnya, padahal Tiara juga tidak pernah berpikiran buruk terlebih lagi berharap semua orang harus tahu statusnya yang sudah sah menjadi istri gurunya. Setelah mendengar jawaban Tiara, Raja hanya bisa menatapnya yang berjalan pergi meninggalkan ruangannya. Di sana, Raja merasa hatinya hampa seolah ada setitik rasa bersalah yang begitu mengusik perasaannya. "Sepertinya rencanaku berhasil, Tiara mulai kesal dengan sikapku, tapi kenapa aku merasa bersalah?" gumam Raja lirih, merasa tak mengerti dengan hatinya sendiri. Padahal jauh sebelum pernikahannya digelar, Raja sudah berencana membuat Tiara tidak tahan menjadi istrinya, namun anehnya justru hati Raja yang merasa bersalah sekarang. Tidak ingin terus-terusan berada dalam pemikiran konyol, Raja memutuskan untuk makan siang, terlebih lagi perutnya juga sedang lapar sekarang. Seperti biasa, Raja mengambil launch boxnya lalu membuka isinya. Namun, ia baru mengingat sesuatu hal bila makanan itu dimasak oleh murid sekaligus istrinya tersebut, membuat Raja yang sempat memikirkan namanya lagi kini justru terdiam dan menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin Raja bisa makan makanan yang dibuat oleh istrinya, padahal ia yang paling kasar memperlakukannya. Raja tidak tahu lagi dengan sikapnya sendiri, terlebih lagi bila harus mengerti perasaannya yang entah bagaimana bisa merasa tidak tega dengan istrinya. "Aku mikir apa sih? Aku enggak boleh kasihan dengan Tiara, karena mau bagaimana pun aku harus bisa buat dia menyerah dengan pernikahan ini." Raja mengangguk yakin lalu memakan makanannya. Seperti tadi pagi, masakan Tiara begitu enak di lidahnya, membuat Raja ingin cepat-cepat menghabiskannya tanpa mau menyisakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN