Part 07
Tiara merapatkan bibirnya, menatap tenang ke arah mobil Raja yang sudah pergi menjauh tanpa mau repot-repot menunggunya. Saat ini, yang bisa Tiara lakukan hanya berdiam diri di depan gerbang setelah jam sekolahnya selesai, namun suaminya itu justru meninggalkannya pulang, terpaksa Tina harus memesan taksi online sekarang.
Sedangkan Nathasa yang sempat menawarkannya pulang bersama kini juga sudah pergi dengan sopirnya. Tiara memang sengaja menolak karena tempat tinggalnya kini sudah berbeda, akan bagaimana tanggapannya nanti bila sahabatnya itu tahu bila ia tinggal di rumah guru mereka, akan sangat rumit untuk Tiara jelaskan pernikahannya.
Di sisi lainnya, setelah cukup jauh menyetir, Raja menghentikan laju mobilnya setelah ia sadar bila ia pulang sendiri. Seharusnya ada Tiara di sampingnya, karena mau bagaimana pun gadis itu, mereka tetap suami istri di depan orang tuanya. Dengan cepat, Raja memutar balik mobilnya untuk mengajak Tiara pulang bersama, namun saat Raja baru sampai di depan gerbang sekolah, Raja justru melihat istrinya itu naik taksi.
"Bisa-bisanya aku mengkhawatirkan dia?" gerutu Raja tak percaya sembari memerhatikan Tiara yang tengah masuk ke dalam taksi.
Raja tidak kecewa, ia hanya merasa kesal saja pada pikirannya yang begitu memedulikan gadis itu, padahal ia yang paling berharap bisa menghancurkan pernikahannya dengan cara membuat Tiara marah. Namun sepertinya, justru Raja yang seolah ingin membuat Tiara jatuh cinta dengan perlakuannya.
Tidak, Raja merasa tidak bisa terus-terusan bersikap peduli pada Tiara, sekecil apapun itu bentuknya. Raja mengangguk mantap, merasa yakin dengan keinginan hatinya untuk segera bercerai dan lepas dari gadis itu.
***
Raja menghentikan mobilnya setelah taksi yang ditumpangi Tiara berhenti di depan rumahnya, setelah itu Raja masuk ke dalam halaman rumah, sedangkan Tiara hanya memerhatikannya sampai saat Raja turun dari mobil.
"Kok Bapak ada di belakang saya? Bukannya tadi bapak pulang lebih awal dari saya ya?" tanya Tiara sembari berjalan di belakang Raja.
"Barang saya ada yang ketinggalan, kenapa?" tanya Raja terdengar ketus yang langsung Tiara gelengi.
"Tidak apa-apa kok, Pak." Tiara berusaha tersenyum ke arah Raja yang tampak lelah.
"Tiara, kamu sudah pulang?" sambut Ellena begitu hangat, mertuanya Tiara itu bahkan merangkulnya, sesuatu yang tidak pernah bisa Tiara dapatkan setelah orang tuanya meninggal.
"Iya, Ma." Tiara tersenyum sumringah, merasa bahagia saja dengan kehidupannya sekarang, meskipun suaminya kurang menyukainya, setidaknya ia masih memiliki mertua yang bisa mengingatkannya pada orang tua.
"Bagaimana tadi sikap Raja ke kamu? Dia ngantar kamu sampai sekolah kan? Terus kalian pulangnya sama-sama kan?" tanya Ellena terdengar penasaran, merasa khawatir saja dengan Tiara yang memang kurang mendapatkan perhatian dari putranya tersebut.
Ellena sendiri tidak akan mengerti, bagaimana Raja tampak gelisah dengan pertanyaannya tersebut, ia merasa takut saja bila Tiara mengatakan yang sebenarnya. Apalagi saat berangkat tadi pagi, Raja sempat menurunkan Tiara di tepi jalan dan gadis itu harus berjalan dengan jarak yang cukup lumayan.
"Iya, Ma. Aku sama Mas Alfan berangkat dan pulang sama-sama, memangnya kenapa, Ma?" tanya Tiara di akhir kalimatnya yang digelengi kepala dan disenyumi bahagia oleh mertuanya.
"Enggak apa-apa kok, Mama bahagia kalau kamu sama Raja bisa memulai hubungan kalian dengan baik." Ellena tersenyum penuh haru, ia juga berharap pernikahan mereka bisa lebih baik lagi Kedepannya, meskipun hubungan mereka diawali dengan perjodohan.
"Iya, Ma." Tiara tersenyum hangat, seolah tidak ada kesedihan sama sekali di wajahnya, membuat Raja terdiam saat melihatnya. Gadis itu sudah berbohong dan menutupi kesalahan suaminya, ekspresinya sekarang bahkan seolah sedang bahagia, yang kian membuat Raja merasa bersalah.
"Oh ya, Ra. Mama mau memperkenalkan kamu dengan adiknya Raja, namanya Daffa, dia baru pulang dari luar kota." Ellena berujar antusias yang kali ini ditatap heran oleh Raja yang baru mendengar nama adiknya disebut.
"Apa, Ma? Daffa sudah pulang?" tanya Raja tak yakin, mengingat adiknya itu begitu betah tinggal di kota lain dari pada tinggal dengan keluarganya sendiri.
"Iya, tapi sepertinya dia lagi ada di kamar sekarang." Ellena menatap ke arah anak tangga, sampai saat seorang lelaki turun dari sana. Lelaki itu putranya sendiri, putranya yang kedua bernama Daffa, umurnya sudah dua puluh lima tahun.
"Oh itu dia baru turun, kebetulan banget." Ellena tersenyum sembari menunjuk ke arah putra keduanya tersebut.
"Daffa, sini Sayang!"
"Iya, Ma." Daffa berjalan menuruni tangga, tatapannya jatuh pada sosok Tiara yang tersenyum hangat saat melihatnya.
"Dia siapa, Ma?" tanyanya setelah sampai di depan mereka sembari menunjuk ke arah Tiara dengan dagunya.
"Dia Tiara, istri Kakak kamu."
"Apa? Istrinya Kak Raja? Dia masih SMA kan, Ma?" Sebagai adik yang memang kurang akrab dengan kakaknya, tentu saja Daffa merasa terkejut mengetahui kakaknya yang terlalu lama sendiri itu menikah dengan gadis yang bahkan belum kuliah. Sebenarnya Daffa sudah tahu bila kakaknya telah menikah, itu juga yang menjadi alasannya untuk pulang sekarang, namun ia tidak tahu bila gadis yang dinikahi kakaknya itu seorang pelajar SMA, bukan wanita yang dulu kakaknya cintai.
"Iya, ceritanya panjang, nanti malam Mama ceritakan ke kamu. Sekarang kamu perkenalkan diri kamu ke Tiara, panggil dia Kakak ya!"
"Kok aku harus panggil dia Kakak?"
"Tiara kan sudah menikah dengan Kakak kamu, otomatis Tiara menjadi Kakak kamu juga." Ellena menjelaskan dengan sabar, namun putranya itu justru menggelang kuat, merasa tidak bisa memanggil anak SMA dengan sebutan Kakak.
"Aku enggak mau, Ma. Dia aja masih SMA, masa aku panggil Kakak?" Daffa menolak tak terima, membuat Tiara merasa bersalah.
"Daffa," tegur sang Mama, namun putranya itu justru kembali menggeleng, seolah yakin dengan pendiriannya saat ini.
"Enggak apa-apa kok, Ma. Aku kan memang masih muda dan seharusnya aku yang panggil dia Kakak. Emh ... hallo, Kak. Namaku Tiara, salam kenal ya?" sapa Tiara sembari menjulurkan tangan ke arah Daffa yang tampak kurang nyaman.
"Aku Daffa," jawabnya sembari membalas tangan Tiara dengan singkat.
"Mama enggak bisa membenarkan ini, tapi Mama harap kamu bisa belajar memanggil Tiara dengan sebutan Kakak ya, Daff? Karena mau bagaimanapun dia tetap Kakak ipar kamu." Ellena berujar serius ke arah Daffa yang terdiam.
"Sudahlah, Ma. Enggak apa-apa. Aku ganti baju dulu ya?" pamit Tiara sembari tersenyum ke arah mertuanya.
"Iya, Sayang. Nanti bantuin Mama masak makan malam ya?"
"Siap, Ma."
Setelah Mama dan Tiara pergi, Daffa memukul pundak kakaknya yang masih berdiri, yang entah sedang memikirkan apa. Namun bila dilihat-lihat, sorot matanya terus tertuju ke arah Tiara yang hampir menghilang ditelan jarak tangga.
"Kak."
"Apa?"
"Kakak kok mau sih nikah sama anak SMA? Dia itu masih kecil, Kak. Dan Kak Raja sudah bangkotan, umur kalian itu sudah beda generasi, beda alam kalau ada." Daffa berujar tak percaya, bisa-bisanya kakaknya itu mau menikah dengan anak kecil yang usianya bahkan sangat jauh di bawahnya.
"Kamu pikir Kakak mau nikah sama dia? Kakak nikah sama dia juga terpaksa, jadi enggak usah bawa-bawa umur!" Raja mendorong pelan kening adiknya, berharap bisa menyadarkan pemikiran sesatnya.
"Kakak mau ke mana?" tanya Daffa saat kakaknya beranjak dari tempatnya.
"Ke kamar lah."
"Kamar siapa?"
"Ya ...." Raja tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia baru ingat bila kamarnya sedang dipakai Tiara yang sedang berganti baju.
"Dasar p*****l, bilangnya terpaksa nikah sama anak-anak, tapi c***l juga pikirannya." Daffa menggerutu kesal, merasa muak saja dengan pemikiran kakaknya yang plin-plan.
"Dijaga ya mulut kamu, Kakak mau ke kamar kamu kok."
"Ngapain ke kamarku?"
"Ya mau istirahat lah!"
"Enak aja, enggak ada yang boleh pakai kamarku termasuk Kak Raja." Daffa menarik tangan kakaknya yang tampak tak percaya dengan ucapannya.
"Kakak sudah pakai kamarmu tadi malam ya, apa bedanya kalau Kakak pakai kamarmu sekarang?"
"Jadi Kak Raja pakai kamarku tadi malam? Pantas aja baunya beda. Tapi ngomong-ngomong kok Kak Raja tidur di kamarku, bukannya tadi malam itu seharusnya malam pertama ...."
"Stop! Enggak usah dilanjut, oke? Kamu pikir kenapa? Ya karena Kakak bukan p*****l yang nafsu sama anak-anak. Paham?"
"Oke, tapi kenapa harus pakai kamarku sih? Kak Raja kan bisa tidur di sofa."
"Kamu itu masih sama ya, enggak pernah berubah, padahal sekarang kamu itu sudah dewasa, masih pelit sama Kakak sendiri." Raja menggerutu heran, merasa lelah juga dengan kelakuan adiknya yang selalu sama saat memperlakukannya.
"Itu karena aku enggak pernah lupa bagaimana Kak Raja ganggu aku setiap hari dulu," jawab Daffa tak kalah sengit dari tatapan kakaknya.
"Masih aja ingat hal-hal enggak penting." Raja menggeleng tak percaya, adiknya itu sudah berumur dua puluh lima tahun, namun pikirannya sama sekali belum dewasa.
"Ya harus. Pokoknya Kak Raja enggak boleh masuk lagi ke kamarku, awas aja kalau sampai terjadi lagi."
"Terserah," jawab Raja malas dan pada akhirnya yang ia lakukan hanya satu, mengetuk pintu kamarnya untuk masuk ke dalamnya.
"Tiara, kamu sudah ganti baju? Saya mau masuk."
"Sudah, Pak." Tiara membuka pintu kamarnya, tubuhnya juga sudah berganti dengan baju harian sekarang.
"Ada yang harus saya siapkan, Pak? Bapak mau kopi? Teh? Atau cemilan mungkin?" tanya Tiara setelah Raja masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak usah, saya mau istirahat saja. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, kamu bangunkan saya!" Raja membuka kancing kemejanya lalu membuangnya ke segala arah dan menggantinya dengan kaos biasa. Sedangkan Tiara yang melihat itu hanya bisa tertunduk lalu mengambil kemeja suaminya dan meletakkannya pada keranjang khusus baju kotor.
"Iya, Pak. Nanti ...." Belum sepenuhnya menjawab, Tiara sudah melihat Raja berbaring di atas ranjang, matanya juga sudah tertutup seolah ingin segera terlelap. Melihat itu, Tiara hanya tersenyum tipis, berusaha memahami kelelahan yang sedang suaminya alami saat ini, itulah kenapa Tiara memutuskan untuk pergi dari sana dengan perlahan-lahan agar tak mengganggu tidur siang suaminya.
***
Sesudah masak makan malam untuk keluarga suaminya, Tiara mandi dan berpenampilan rapi, setelah itu ia menonton televisi di ruang keluarga, saking tidak tahunya ia harus melakukan apa. Sebenarnya di rumahnya dulu ia juga kesepian, banyak waktu luang yang ia habiskan di kamar. Namun kebanyakan masa-masa itu Tiara juga habiskan dengan menghadiri acara talk show ataupun syuting. Berbeda dengan sekarang, statusnya yang sudah sah menjadi seorang istri dan juga sebagai murid yang akan menjalani ujian, Tiara diharuskan untuk tidak mengambil pekerjaan sebelum masuk kuliah.
Di tengah asyiknya menonton, Tiara tidak akan menyadari bagaimana Daffa terdiam memerhatikannya dari kejauhan. Lelaki itu tampak penasaran dengan gadis yang sudah sah dinikahi kakaknya tersebut, padahal baru beberapa menit yang lalu ia mendengar cerita langsung dari mamanya tentang kenapa Raja dan Tiara harus menikah.
Setelah mendengar semua ceritanya, Daffa justru dibuat heran dengan pemikiran Tiara yang begitu mudahnya menerima Raja yang usianya jauh di atasnya. Dan hal yang membuat Daffa terkejut lagi, ternyata Tiara adalah murid kakaknya di tempat sekolahnya.
Tidak ingin merasa penasaran, akhirnya Daffa berjalan ke arah Tiara dan duduk di sofa yang jaraknya cukup dekat dengannya. Melihat Daffa, yang Tiara lakukan hanya tersenyum sopan, sedangkan Daffa masih tampak tenang.
"Mau lihat TV juga, Kak? Mau lihat acara apa?" Tiara mengambil remot bersiap-siap mengganti Chanel keinginan Daffa, namun lelaki itu justru menggeleng pelan.
"Aku enggak mau lihat TV. Aku mau tanya sesuatu ke kamu."
"Mau tanya apa, Kak?" tanya Tiara setelah memelankan suara televisinya.
"Kenapa kamu mau menikah dengan Kak Raja? Dia kan sudah tua untuk gadis seusia kamu." Daffa memicingkan matanya, ekspresi wajahnya tampak merasa penasaran, sedangkan Tiara justru tersenyum setelah mendengar pertanyaan lelaki yang bisa dikatakan adik iparnya tersebut.
"Ini bukan tentang berapa umur lelaki yang harus aku nikahi, Kak. Tapi pernikahan ini tentang permintaan orang tuaku yang harus aku penuhi. Karena mereka, aku ada, jadi apa salahnya kalau aku menerima pernikahan ini? Toh, aku hidup di dunia ini cuma sekali kan, menuruti permintaan mereka yang sudah tiada adalah caraku untuk membahagiakan mereka." Tiara menjawab santai sembari menaikkan pundak seolah tak memiliki beban.
"Astaga, kamu ini masih SMA, tapi ucapanmu dewasa sekali. Meskipun orang tuamu yang meminta, apa susahnya menolak? Apalagi katamu, orang tuamu sudah tidak ada ya? Bukannya itu bisa jadi alasan kamu untuk menghindari pernikahan ini?"
"Ya karena orang tuaku sudah tidak ada, makanya aku menerima pernikahan ini, karena nantinya aku juga enggak akan punya kesempatan lagi membuat mereka bahagia di atas sana." Tiara menjawab tenang, matanya kosong seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
"Ya, aku mengerti. Tapi kamu masih sangat muda, apalagi kamu murid SMA dan suami kamu itu guru. Apa kamu enggak berpikir bagaimana masa depan kamu nanti?"
"Enggak kok. Aku enggak pernah mengkhawatirkan apapun, bahkan ucapan orang yang menilaiku buruk sekalipun."
"Wah, kamu kuat mental sekali. Pasti kamu sering dihujat ya?" ledek Daffa tak serius, lelaki itu hanya ingin mencairkan suasana aneh yang menyelimuti mereka.
"Dihujat itu pasti sering, karena enggak semua orang bisa suka dengan apa yang aku lakukan. Terkadang, menjadi diri sendiri itu lebih baik, karena kita enggak akan bisa selamanya menjadi seperti yang orang lain inginkan." Tiara masih berusaha tersenyum yang lagi-lagi membuat Daffa kagum dengan cara berpikirnya.
"Kamu sering dihujat? Memangnya apa yang orang lain pikirkan tentang gadis seperti kamu? Pasti enggak buruk kan? Paling juga kamu dibilang sok cantik, sok manis, sok kaya. Iya kan?" tanya Daffa terdengar menyepelekan, namun sebenarnya ia hanya ingin tahu Tiara lebih dalam.
"Aku dituduh sebagai penyebab orang tuaku meninggal, padahal itu kecelakaan, aku juga enggak menginginkan hal itu terjadi, tapi kenapa mereka enggak bisa mengerti?" Tiara menyunggingkan senyumnya, namun matanya berkaca-kaca seolah akan mengeluarkan isinya. Sedangkan Daffa hanya bisa terdiam, entah kenapa tiba-tiba bibirnya terasa bungkam. Hatinya juga merasa sakit, melihat gadis itu akan menangis. Apa yang salah? Padahal Daffa baru mengenalnya.