Part 08

2130 Kata
Part 08 Daffa merapatkan bibirnya, kepalanya tertunduk penuh bersalah, sampai saat ia menghela nafas panjangnya, lalu mendongak dan menatap serius ke arah Tiara. "Aku minta maaf kalau ucapanku sudah menyinggungmu, aku benar-benar enggak tahu." Daffa berujar tulus ke arah Tiara yang kembali tersenyum lalu menghapus air matanya dengan jari-jari lentiknya. "Aku enggak apa-apa kok, Kak. Aku sudah biasa." "Iya ... tapi kalau boleh tahu, siapa yang sudah menuduhmu? Kalau aku ketemu sama dia, aku lem mulutnya biar dia enggak bisa mengehujat kamu lagi." Daffa berujar gemas, membuat Tiara tertawa mendengarnya. "Ya kebanyakan sih haters, Kak. Butuh berapa banyak lem kalau mau nutup mulut mereka? Pasti puluhan dus." Tiara melambungkan tangannya, seolah banyak lem di atasnya. "Sebanyak itu? Memang kamu seterkenal itu sampai mereka tahu masalah kamu?" tanya Daffa terdengar syok, namun lagi-lagi Tiara justru tertawa. "Kan mereka tahu aku dari TV, Kak." Tiara menggeleng pelan, merasa lucu saja dengan pertanyaan Daffa yang justru terdengar polos di telinganya. "Memangnya kamu siapa? Artis?" tanya Daffa tak yakin, merasa aneh saja bila gadis seperti Tiara memiliki haters hanya karena kecelakaan orang tuanya masuk televisi. "Bisa dibilang gitu sih, Kak." "Serius? Artis macam apa kamu? Tapi kalau dilihat-lihat, muka kamu memang enggak asing sih." Daffa mendekatkan wajahnya ke arah Tiara, berusaha mengamati wajahnya. "Kakak tahu film ketika bad girl jatuh cinta?" tanya Tiara yang langsung Daffa angguki. "Ya tahu lah, itu kan film baru, apalagi pemerannya Ara kan? Dia itu salah satu idolaku loh. Tapi apa hubungannya sama kamu? Memangnya kamu pemeran di film itu?" tanya Daffa tak yakin, namun Tiara justru mengangguk pelan. "Enggak mungkin, kamu kan Ti ... Ara?" Daffa memelankan suaranya, mencoba mencerna pikirannya yang begitu lambat masuk di otaknya. "What? Kamu Ara?" tanya Daffa terdengar syok yang lagi-lagi Tiara angguki. "Kok bisa? Penampilan kamu aja beda dengan Ara di TV?" "Namanya juga artis, Kak. Kita masih harus memerankan karakter meskipun enggak sedang syuting." Tiara melepas kunciran rambutnya lalu menatanya seperti saat berada di layar kaca. "Hai guys, gue Ara, salam kenal ya?" Tiara mengerlingkan matanya sembari memperkenalkan namanya seperti saat ia berada di sebuah acara reality show yang dulu cukup terkenal. "Oh my God? Kamu Ara? Serius?" "Iya, Kak. Kenapa? Masih kurang percaya ya?" "Bukan gitu, tapi kamu beda banget dari Ara yang di TV, penampilan kamu juga beda. Ara di TV itu gaul, cara bicaranya juga keren, sama penampilannya juga enggak sekalem ini." Daffa menatap tak yakin ke arah Tiara dari kaki sampai ke kepalanya. "Enggak percaya juga enggak apa-apa kok, Kak." "Aku percaya kok, cuma otakku aja yang belum terima." Daffa mengembuskan nafas gusarnya, merasa belum yakin saja dengan ucapan Tiara, padahal gadis itu sudah membeberkan bukti nyatanya. "Belum terima kalau aku Ara yang gaul, yang Kak Daffa idolakan itu ya?" tanya Tiara berusaha mengerti, namun Daffa justru menggeleng pelan. "Bukan." "Terus apa, Kak?" "Aku enggak terima karena kamu menikah dengan Kakakku, kenapa enggak aku aja?" Daffa melebarkan bibirnya seolah akan menangis seperti anak kecil, membuat Tiara kebingungan dengan tingkahnya yang mengejutkan. "Maksud Kakak gimana?" "Sudahlah. Toh, kamu juga bukan idolaku satu-satunya, masih ada Siska, Hani, Viona, Amanda, Veronica, sama Sofia." Daffa mengubah kembali ekspresinya menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya, yang cukup membuat Tiara lega saat melihatnya. "Baguslah, Kak." Tiara menyunggingkan senyumnya berusaha menyemangati Daffa. "Tapi tunggu dulu, tadi kamu bilang kamu dihujat haters karena sudah menjadi penyebab kecelakaan orang tua kamu meninggal kan?" Daffa menunjuk ke arah Tiara yang mengangguk pelan. "Iya, memangnya kenapa, Kak?" Tiara merapatkan bibirnya, merasa yakin Daffa akan mengungkit masalahnya, sesuatu yang sempat menumbuhkan trauma pada Tiara tentang hujatan mereka. "Aku cuma mau bilang, yang membenci kamu memang banyak. Tapi, yang mencintai kamu jauh lebih banyak. Haters kamu itu seperti jari kelingking ini, cuma satu dan kecil." Daffa menunjukkan jari kelingkingnya ke arah Tiara yang terdiam memperhatikannya. "Dan yang mencintai kamu seperti jari-jariku yang lain termasuk jari-jariku ini, banyak dan mereka memiliki kekuatan yang besar buat bela kamu." Daffa menunjukkan jari-jari kedua tangan dan kakinya ke arah Tiara yang terdiam, merasa terharu dengan ucapannya. "Terima kasih," jawab Tiara serak, tanpa sadar air matanya kembali tumpah mengaliri pipinya. "Sudah, enggak usah nangis! Kamu itu spesial di mata para fans, mereka mencintai kamu karena karya dan juga bakat kamu, mereka enggak akan peduli tentang omongan haters, karena mereka tahu kamu enggak salah." Daffa berusaha menyemangati Tiara yang tertunduk dan mengangguk, berusaha menenangkan perasaannya yang begitu emosional. "Iya, Kak." Tiara dan Daffa tidak akan menyadari bagaimana Raja terdiam di anak tangga melihat kedekatan mereka. Terlebih lagi Tiara tadi sempat tertawa dengan guyonan Daffa, membuat Raja bertanya-tanya ada apa dengan mereka. Meski pada akhirnya pertanyaan itu lenyap saat melihat Tiara menangis dan melihat Daffa duduk berdekatan dengan istrinya, mata Raja bahkan memicing penuh tanda tanya seolah apa yang mereka lakukan sekarang benar-benar membuatnya ingin tahu faktanya. "Apa-apaan mereka? Dan juga kenapa Tiara mudah dekat dengan Daffa? Apa spesialnya dia sampai nangis di hadapan anak cecurut satu itu?" gumam Raja tak habis pikir, meski sebenarnya hatinya juga merasa khawatir dengan keadaan istri kecilnya itu. *** Saat makan malam, Daffa dan Tiara tampak dekat, mereka bak teman akrab yang baru bertemu setelah puluhan tahun. Membuat Ellena dan suaminya sempat keheranan dengan kedekatan mereka yang cukup dekat, setelah tadi siang mereka bertemu untuk pertama kalinya. "Mama enggak tahu ya? Tiara ini ternyata Ara loh, Ma. Salah satu idolaku." Itulah jawaban Daffa saat mamanya mempertanyakan sikapnya yang cukup mencolok pada Tiara. Padahal tadi saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, Daffa tampak ketus dan bahkan terkesan kurang menyukai Tiara. Namun sekarang lihatlah, putranya itu justru memperlakukan Tiara bak ratunya. "Kan Tiara memang Ara, Mama sudah tahu itu." Ellena menjawab tak habis pikir. "Tapi kenapa Mama enggak bilang tadi pas Mama cerita sama aku?" "Ya buat apa? Mama pikir, cukup kamu tahu kenapa Tiara dan Kakak kamu menikah, semua akan baik-baik aja kan?" "Iya sih, tapi kan aku jadi tahu Tiara yang sebenarnya itu tadi sore, jadi telat kan?" keluh Daffa kesal yang justru terdengar memuakkan di telinga Raja. "Kamu bilang Tiara itu salah satu idola kamu kan? Jadi, fans macam apa yang enggak mengenali idolanya sendiri?" sahut Raja malas yang tentu saja mendapatkan tatapan kesal dari mata adiknya. "Aku memang fansnya Ara kok, tapi karena penampilan dia yang beda, makanya aku enggak mengenali dia. Oh ya, satu lagi, enggak cuma penampilannya aja, cara ngomongnya juga beda, bagaimana bisa aku mengenali dia?" bela Daffa tak terima, ia memang benar-benar terkecoh dengan penampilan Tiara yang jauh berbeda saat berada di layar kaca. "Alasan," ejek Raja malas. "Apa? Alasan?" "Sudah, Daffa. Kita di sini mau makan malam, bukan mau melihat kalian berdebat." Ellena menyudahi pertengkaran saudarah yang memang biasa mereka lakukan, kedua anaknya itu memang kurang bisa akur, namun itu juga yang selalu Ellena rindukan terutama saat Daffa bekerja di luar kota. *** Setelah makan malam, saat Daffa akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba kaosnya ditarik ke belakang oleh Raja yang sudah membuntutinya sejak awal. "Apa sih, Kak? Kenapa bajuku ditarik? Lepas enggak?" keluh Daffa kesal setelah menoleh ke arah belakang di mana kakaknya sedang menatap dingin ke arahnya. "Aku mau tanya sesuatu." "Tanya sih tanya, tapi enggak usah tarik baju juga. Lepas enggak itu tangan?" keluh Daffa yang pada akhirnya bajunya dilepas juga oleh Raja. "Nah, kan gini enak. Jadi mau tanya apa? Jangan lama-lama ya, aku capek, mau istirahat." Daffa menatap tanya ke arah Raja, meski sebenarnya ia malas berbicara dengan kakaknya itu. "Tadi Tiara nangis karena apa?" tanya Raja tenang, yang tentu saja membuat Daffa kurang nyaman. "Ini serius pertanyaannya? Bukan apa-apa ya, tapi kan Kak Raja enggak peduli itu sama Tiara, jadi kenapa mau tahu?" tanya Daffa yang sempat membuat Raja salah tingkah meski tertutupi oleh wajah tenangnya. "Enggak dijawab juga enggak apa-apa, enggak penting juga." Raja menjawab malas lalu berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Daffa yang menatap kesal ke arahnya. "Idiiih," keluhnya malas lalu masuk ke dalam kamarnya, tanpa mau lagi peduli dengan kakaknya yang memang kurang disukainya. Di sisi lainnya, Raja masuk ke dalam kamarnya, sedangkan di ranjangnya sudah ada Tiara yang tengah memainkan ponselnya. Menyadari hal itu, Raja hanya menghela nafas panjangnya, merasa bingung saja harus apa di sana. Sedangkan Tiara yang baru sadar kehadirannya langsung berdiri, menatap Raja dengan mata sopannya. "Pak," sapa Tiara kaku, ia sendiri juga bingung harus melakukan apa, meskipun sudah menjadi istri sah Raja tetap saja suasananya terasa aneh karena di sekolah mereka seorang murid dan guru. "Jangan main HP terus, memangnya kamu sudah mengerjakan PR?" tanya Raja basa-basi sembari berjalan ke arah lemari untuk mengambil selimut dan bantal. "Oh iya. Maaf, Pak. Saya lupa." Tiara buru-buru mengambil tasnya untuk mencari bukunya, sedangkan Raja hanya menggeleng pelan, lalu menata selimut ke lantai dasar dan juga meletakkan bantal di sana. "Kok Bapak tidur di lantai?" Sebelum mengambil tasnya, Tiara dibuat keheranan dengan suaminya yang menata selimut di lantai dan membaringkan tubuhnya di sana. "Kamu pikir kenapa? Ya karena saya mau istirahat lah." Raja kembali membangunkan tubuhnya, nada suaranya terdengar kesal pada Tiara, membuat gadis itu menciut takut. "Maaf, Pak. Tapi Bapak kan bisa tidur di ranjang?" Tiara menunjuk ke arah ranjang yang justru ditatap malas oleh pemiliknya. "Dan tidur sama kamu, begitu?" tanya Raja ketus yang kian membuat Tiara bingung. "Bapak tidak mau tidur seranjang dengan saya? Kalau begitu biar saya saja yang tidur di lantai, Pak." Tiara berjalan ke arah Raja, namun lelaki itu justru menghentikannya dengan telapak tangannya. "Tidak usah, kamu tidur saja di ranjang, biar saya tidur di sini." "Tapi, Pak, ini kan kamar Bapak, masa Bapak tidur di lantai dan saya di ranjang?" tanya Tiara terdengar bersalah, sedangkan Raja justru menghela nafas panjangnya, ia hanya ingin tidur sekarang, namun Tiara justru mengajaknya berdebat. "Saya tidak apa-apa, kamu tidur saja di ranjang dan saya di sini. Kerjakan saja PR-mu, saya mau istirahat." Raja membaringkan tubuhnya yang kian membuat Tiara merasa bersalah. "Pak," panggil Tiara lirih setelah beberapa detik Raja terlelap dan hampir terjun ke alam bawah sadarnya "Pak," panggil Tiara lagi yang kali ini berhasil membangunkan Raja sekaligus amarahnya. "Apalagi? Kamu tidur saja di ranjang, apa susahnya sih? Saya cuma mau istirahat, tolong jangan diganggu!" Raja membangunkan tubuh dan marah-marah pada Tiara yang membawa buku di depannya. "Saya cuma mau tanya soal ini, Pak. Saya lupa caranya ...," cicit Tiara lirih yang hanya Raja tatap dengan mata dinginnya. "Kamu benar-benar keterlaluan ya, kamu kerjakan saja sendiri sana!" sentak Raja geram yang langsung Tiara angguki lalu berjalan ke arah luar kamar, meninggalkan Raja yang benar-benar marah dengan sikapnya. Setelah mengatakan itu, Raja berusaha kembali tidur dan beristirahat, sedangkan Tiara hanya merenung di depan pintu kamar suaminya, Tiara hanya merasa bersalah saja sudah menggangu Raja yang ingin beristirahat. Sebenarnya Tiara juga tidak mau menggangu suaminya itu tidur, namun PR-nya juga sulit untuk ia kerjakan sendiri. Tiara pikir, ia akan mendapatkan sedikit bantuan, mengingat Raja adalah guru yang memberikannya pekerjaan rumah. "Tiara," panggil Daffa setelah keluar dari kamar, membuat Tiara yang menyadarinya langsung mendirikan tubuhnya dengan mata bertanya. "Iya, Kak. Kenapa?" "Kok kamu ada di luar? Tadi aku juga dengar Kak Raja teriak, ada apa?" tanya Daffa penasaran yang langsung Tiara gelengi kepala. "Enggak ada apa-apa kok, Kak. Tadi aku cuma mau tanya soal ini, tapi Pak Raja mau istirahat, jadi dia marah." Tiara memperlihatkan isi bukunya, namun Daffa justru fokus dengan ucapan Tiara yang lain. "Pak Raja?" "Iya. Kenapa, Kak?" tanya Tiara polos, yang tentu saja membuat Daffa tertawa. "Kok bisa-bisanya kamu panggil suamimu dengan sebutan Pak? Aneh." Daffa kembali tertawa namun kali ini dengan nada sedikit lebih rendah. "Pak Raja kan guruku di sekolah, Kak." "Ya tetap aja aneh, biasanya pengantin baru di keluarga Jawa itu panggilannya Mas untuk pria. Memangnya Mamaku enggak kasih tahu itu ya?" "Dikasih tahu kok, Kak. Tapi Pak Raja bilang enggak usah panggil dia dengan sebutan itu, mungkin karena dia guru di kelasku, jadi agak aneh kalau dipanggil Mas." "Iya sih, tapi kenapa sekarang kamu malah keluar kamar?" tanya Daffa keheranan. "Enggak apa-apa sih, Kak. Aku takut ganggu Pak Raja, jadi aku ngerjain tugasnya di luar kamar." Tiara menjawab jujur yang diangguki mengerti oleh Daffa. "Memang tugas apa sih? Mau aku bantu enggak? Gini-gini, aku dulu juara dua di kelas." Daffa menepuk dadanya dengan bangga, yang langsung Tiara senyumi dan angguki. "Serius, Kak, mau bantu aku?" "Iya lah, coba mana bukunya?" "Ini, Kak." Tiara memberikan bukunya pada Daffa, yang langsung dicek oleh lelaki tersebut. "Oh ini sih gampang. Sini duduk, aku jelasin!" Daffa mendudukkan tubuhnya yang diikuti oleh Tiara di sampingnya. Mereka begitu asyik belajar, tak jarang keduanya tertawa bersama, termasuk Tiara yang seolah sudah nyaman berteman dengan adik iparnya. Namun Tiara sendiri tidak akan menyadari, bagaimana Daffa tersenyum kagum dengan kepribadian yang belum ia temukan pada sosok Ara, idolanya. Karena pada kenyataannya Daffa baru tahu, bila dibalik figur artis seorang Ara ada sosok Tiara yang begitu hangat dan menyenangkan, gadis itu seperti bidadari yang tertutupi oleh karakter tak nyata di depan layar kaca pertelevisian Indonesia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN