Part 09

2202 Kata
Part 09 Keesokan paginya, Tiara sudah bangun dan memasak di dapur membuat sarapan dan bekal makanan untuk Raja, suaminya. Sedangkan di meja makan sudah ada Daffa, Ellena, dan suaminya. Mereka bertiga berbincang-bincang hangat selayaknya keluarga seperti biasanya, sampai saat Raja datang dengan penampilan rapinya, di saat itulah Ellena tersenyum untuk menyapanya. "Raja, kamu mau sarapan pakai apa? Mama ambilkan nasi ya?" "Iya, Ma." Raja mendudukkan tubuhnya dengan sesekali memperbaiki dasinya. "Mau ayam enggak?" "Boleh, Ma." Raja mengangguk dan menunggu mamanya memberinya makan, sedangkan matanya justru bergerilya ke segala arah mencari keberadaan Tiara yang tidak ada di meja makan. Padahal di kamar sudah tidak ada orang, itu artinya Tiara sudah pergi dari sana. "Ini habiskan ya," ujar Ellena sembari memberikan piring pada putranya yang mengangguk. "Terima kasih, Ma. Oh ya, dia kemana, Ma?" "Dia siapa?" tanya Daffa keheranan. "Tiara. Siapa lagi?" "Dia kan istri Kak Raja, masa tanyanya kaya gitu sih?" "Kaya gitu gimana?" tanya Raja malas. "Ya kaya Tiara enggak dihargai jadi istrinya Kak Raja, harusnya kan Kak Raja tanya dengan menyebut namanya bukan cuma 'dia'." Daffa mencoba menjabarkan argumennya, namun tampaknya tak mempan untuk Raja yang memang kurang menyukai Tiara. "Ya terserah Kakak lah, kenapa jadi kamu yang repot? Fokus sarapan aja sana!" jawab sang kakak terdengar malas lalu memulai acara sarapannya tanpa mau peduli dengan adiknya yang tampak kurang menyukai jawabannya. "Raja, apa yang Daffa katakan itu ada benarnya. Meskipun kamu kurang menyukai Tiara, seharusnya kamu bisa sedikit lebih menghargai dia." Ellena menyahut untuk menegur putranya tersebut, namun sepertinya tidak Raja gubris ucapannya. Berbeda dengan Daffa yang tampak mengejek Raja, merasa dibela oleh mama mereka. "Apa sih, Ma? Cuma kaya gitu aja dipermasalahkan," jawab Raja malas yang hanya digelengi kepala oleh Ellena, merasa tak habis pikir saja dengan jawaban putranya, sampai saat matanya menatap ke arah suaminya dengan tatapan khawatir, sedangkan suaminya hanya mengangguk penuh arti. "Daffa, kamu berniat kembali ke tempat kerjamu kapan?" Tiba-tiba sang papa bertanya ke arah putra keduanya itu. "Enggak tahu, Pa. Memangnya kenapa?" tanya Daffa sembari menggeleng pelan. "Masih tanya lagi, kan kamu beban keluarga, Daff." Raja menyahut sinis yang tentu saja mendapatkan tatapan kesal dari adiknya tersebut. "Maksudnya apa nih?" Daffa bertanya geram, namun Raja justru tersenyum penuh arti seolah ucapannya sudah sangat menjelaskan semuanya. "Rencananya Papa dan Mama mau ke luar kota beberapa Minggu, karena ada urusan yang harus Papa selesaikan, akan sangat mustahil untuk membiarkan kantor tanpa pengawasan. Karena Kak Raja seorang guru, dia pasti enggak bisa menghandle pekerjaan kantor, jadi Papa pikir untuk menyuruh kamu saja." Mendengar ucapan papanya, bibir Daffa seketika cemberut, tatapannya langsung tertuju ke arah Raja yang sedang sarapan. "Lihat, siapa yang jadi beban keluarga sekarang? Aku apa Kak Raja?" ujar Daffa sinis yang hanya Raja tatap dengan mata datarnya, dengan sesekali menaikkan alisnya tanda tidak peduli. "Daffa, Papa mau tahu jawaban kamu apa?" Papanya kembali bertanya, lelaki itu memang kurang suka berbasa-basi. "Ya karena aku bukan beban keluarga, jadi aku pikir pasti bisa menghandle pekerjaan kantornya Papa." Daffa menjawab dengan bangga yang diangguki mengerti oleh papanya. "Baguslah kalau begitu." "Jadi maksudnya, Daffa bakal terus ada di rumah?" tanya Raja kali ini yang disenyumi setan oleh Daffa, ia hanya merasa kurang nyaman saja bila adiknya ada di rumah, karena memang dari kecil mereka tidak pernah bisa disatukan. "Ya iya lah, Kakak pikir selain aku pindah kerja, aku harus pindah rumah juga gitu?" tanya Daffa sinis, yang ditatap tajam oleh kakaknya dan bahkan kini keduanya saling menatap seolah ingin mengadu kehebatan mata masing-masing. "Raja, Daffa, stop!" tegur Ellena tegas yang berhasil menghentikan kelakuan putra-putranya. Kini suasana meja makan kembali tenang, sampai saat Tiara datang membawa kotak bekal makanan yang sengaja ia siapkan untuk Raja, suaminya. Melihat itu, Ellena tersenyum, merasa bahagia memiliki Tiara menjadi menantunya. "Mas, ini bekal makannya sudah aku siapkan." Tiara meletakkannya di samping Raja, sedangkan lelaki itu hanya bergumam untuk menjawabnya. "Hem," jawabnya dingin bahkan tanpa mengucapkan kata terima kasih. "Terima kasih ya, Ra. Sekarang kamu sarapan ya, makan yang banyak!" Ellena mengambilkan menantunya itu nasi di piring lalu memberikannya pada Tiara. "Terima kasih, Ma." "Sama-sama." "Tiara, kamu tahu enggak, Mama dan Papa bakal pergi untuk sementara waktu, sebagai gantinya aku akan cuti untuk beberapa minggu dari kantor lamaku untuk mengawasi kantornya Papa. Jadi, aku akan tetap tinggal di rumah, kamu senang enggak?" ujar Daffa antusias yang tentu saja membuat Tiara terkejut karena setahunya adik iparnya itu akan pergi lagi ke luar kota, Tiara sempat sedih mendengarnya, karena selama di rumah mertuanya, cuma Daffa yang dekat dengannya. "Serius, Kak?" "Iya, senang enggak kamu?" "Senang dong, Kak." "Sepertinya kalian sudah sangat akrab ya?" Ellena tersenyum ke arah putra dan menantunya, merasa bahagia saja melihat mereka bisa akrab dan dekat. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku pada Raja, yang memang kurang suka dengan keberadaan Tiara maupun Daffa, adiknya. "Iya dong, Ma. Kita kan saudara." Daffa bahkan tak segan merangkul pundak Tiara, seolah ingin menjabarkan bagaimana kedekatannya itu terjalin dengan kakak iparnya tersebut. "Baguslah kalau begitu." Ellena menjawab lega, setidaknya Daffa yang akan melindungi Tiara saat tidak ada ia dan suaminya di rumah. "Aku mau berangkat dulu." Raja mendirikan tubuhnya sembari membawa bekal makannya, padahal sarapannya masih tersisa banyak di atas piringnya. "Kamu ikut saya apa tidak? Kalau tidak ya saya tinggal." Raja berujar ke arah Tiara lalu pergi dari sana tanpa mau menunggu jawabannya. "Raja, Tiara belum sarapan. Tolong tunggu sebentar!" Ellena berteriak ke arah Raja, namun sepertinya tidak dihiraukan oleh putranya tersebut. "Aku enggak jadi sarapan ya, Ma? Aku harus ikut Mas Raja berangkat ke sekolah." Tiara mendirikan tubuhnya dengan buru-buru lalu bersalaman dengan kedua mertuanya untuk berpamitan. "Tapi kan kamu belum sarapan, Ra." "Enggak apa-apa kok, Ma. Aku berangkat dulu ya, Kak Daffa aku pergi dulu." Setelah berpamitan, Tiara langsung berlari ke arah Raja agar tidak ditinggal, tanpa menyadari bagaimana mertua dan adik iparnya merasa iba melihatnya. "Ma, Pa. Aku tahu Kak Raja dan Tiara itu dijodohkan atas permintaan orang tua Tiara, tapi apa harus Tiara menderita karena Kak Raja? Dia itu masih anak-anak, Ma. Belum saatnya dia merasakan rumah tangga dengan lelaki seperti Kak Raja, dia itu terlalu buruk untuk Tiara yang baik." Daffa berujar serius ke arah orang tuanya yang terdiam, jauh sebelum Daffa datang, mereka sudah menyadarinya bagaimana sikap Raja yang begitu dingin pada Tiara. "Kami tahu, Daff. Itulah kenapa Mama dan Papa mau pergi ke luar kota, karena kami ingin mereka lebih dekat dan bisa membutuhkan satu sama lain. Tapi Mama dan Papa juga tidak bisa membiarkan Tiara tinggal berdua dengan Raja, jadi Mama pikir kamu bisa menjaga Tiara selama kami pergi." Ellena menjawab jujur yang sempat Daffa diami sebentar. "Jadi intinya Mama dan Papa mau merekatkan hubungan di antara Tiara dan Kak Raja?" tanya Daffa tak yakin, mengingat kakaknya masih mencintai wanita lain. "Iya, kamu bisa bantu kan dengan menjaga Tiara selama kami pergi?" tanya Ellena penuh harap yang diangguki setuju oleh Daffa. "Iya, aku akan menjaga Tiara, Ma." Daffa menjawab mantap sembari tersenyum, ia yakin bisa melaksanakan amanah orang tuanya. "Baguslah, Mama lega mendengarnya." *** Tiara dan Nathasa bersama dengan murid lainnya berjalan ke arah lapangan, mereka akan olah raga sesuai jadwal pelajaran. Di jam pelajaran itu, guru yang mengajar mereka bukan Raja, melainkan guru lelaki yang memang khusus untuk pelajaran tersebut. Selama di lapangan, yang Tiara lakukan hanya terdiam menahan lapar, padahal guru sudah mengarahkan para murid untuk melakukan pemanasan. Berbeda dengan Nathasa yang begitu bersemangat berolah raga, sampai tidak menyadari bagaimana Tiara memejamkan mata berusaha kuat dengan tubuhnya yang kian lemah. "Ayo semuanya kita lari mengelilingi lapangan sebentar ya, lalu setelah itu kita bermain voli. Kita akan membagi kelompok menjadi dua grup putri dan dua grup putra. Ayo-ayo, kita lari semuanya," teriak sang guru sembari berlari diikuti para muridnya kecuali Tiara yang tampak lemah saat berjalan. "Ra, kamu kenapa?" tanya Nathasa khawatir yang baru menyadari sikap temannya yang sedikit berbeda, namun Tiara justru tersenyum lalu menggeleng pelan. "Aku enggak apa-apa kok, ayo kita lari!" Tiara berusaha menutupi rasa lemahnya, padahal jantungnya sudah berdebar sekarang, saking kerasnya ia berusaha bertahan untuk tetap berdiri dan sekarang harus berlari. "Tapi wajahmu pucat ...." "Sudah, aku enggak apa-apa kok." Tiara menarik tangan Nathasa untuk berlari, sembari berusaha menahan rasa tak nyaman di tubuhnya. Sedangkan di sisi lainnya, Raja sedang serius menyiapkan materi untuk kelasnya, sampai saat ia sadar tentang sesuatu hal. Di ruangannya itu, Raja menatap jadwal pelajaran yang berada di depannya, di mana ada pelajaran olah raga di jam pertama. "Apa? Olah raga?" Raja mendirikan tubuhnya, merasa tak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya pada Tiara. Pagi ini ia sudah membiarkan gadis itu berangkat sekolah tanpa sarapan, bahkan saat di perjalanan menuju sekolah, Raja menyuruh gadis itu untuk keluar dan berjalan seperti pagi sebelumnya. "Dia bisa pingsan lagi," keluh Raja merasa bersalah lalu berlari ke arah lapangan untuk memastikan Tiara tidak kenapa-kenapa. Setelah sampai di sana, Raja berusaha mencari Tiara, namun yang ia dapatkan hanya segerombolan para murid yang tengah berlari, sedangkan Tiara tidak ada di antara mereka. "Apa dia sudah pingsan? Kenapa dia tidak ada? Di mana dia?" Raja terus memerhatikan para muridnya sampai saat matanya menelisik ke arah lain, jauh ke belakang mereka dan di sana lah Raja melihat Tiara berjalan bersama dengan Nathasa yang menemaninya. "Dia belum pingsan, tapi aku yakin tubuhnya lemah sekarang. Aku harus menolongnya, tapi ... aku harus pakai alasan apa? Yang lain pasti akan curiga." Raja tampak kebingungan memikirkan alasannya sampai saat matanya melihat ke arah Tiara yang duduk seolah sudah sangat kelelahan, di saat itu lah Raja tidak memikirkan alasannya lagi, kakinya mulai berlari ke arah Tiara tanpa mau peduli pendapat orang lain yang melihatnya berada di sana. "Pak Raja, tolong Tiara, Pak. Tubuhnya lemah, wajahnya juga pucat," ujar Nathasa yang sudah sangat khawatir dengan kondisi Tiara yang memang sudah berbeda saat mereka masih berada di kelas. "Saya akan menggendongnya, kamu bilang ke guru olah raga untuk mengizinkan Tiara ke UKS." Tanpa pikir panjang lagi, Raja menggendong Tiara dan membawanya ke ruang kesehatan. Sedangkan Nathasa yang mengangguk setuju itu juga langsung berlari ke arah guru olah raganya, yang sudah selesai berlari dengan murid lainnya. "Nathasa, itu kan Tiara. Dia kenapa? Kok Pak Raja gendong dia?" tanya sang guru setelah Nathasa sampai di depannya dengan nafas ngos-ngosan. "Tiara sakit, Pak. Dia izin ke UKS," jawab Nathasa dengan nada tersengal saking lelahnya. "Tiara sakit?" tanya salah satu teman mereka, yang diangguki oleh Nathasa. "Kok Pak Raja bisa tahu ya kalau Tiara sakit dan bakal butuh bantuan dia?" "Iya ya, Tiara sampai digendong juga kan?" "Masa Pak Raja bisa lihat Tiara dari ruangannya? Sedangkan kita yang satu lapangan aja baru tahu." "Pakai miscrokop mungkin." "Ya kali pakai miscrokop? Memangnya kita apaan? Kuman? Bakteri?" Di tengah obrolan mereka, Nathasa juga sempat bingung dengan sikap gurunya yang entah bagaimana bisa datang seolah sudah paham Tiara akan butuh bantuan. Gurunya itu juga tidak bertanya apapun tentang kondisi Tiara seakan sudah paham, bisa dilihat dari caranya yang langsung menggendong Tiara tanpa banyak pertanyaan. *** Raja menunggu Tiara diperiksa setelah membaringkan istrinya itu ke ranjang UKS, sedangkan di luar ruangan yang Raja lakukan hanya mondar-mandir penuh kekhawatiran. Tangannya sesekali meninju satu sama lain, sangking gelisahnya ia saat ini. Sampai saat perawat yang memeriksa Tiara keluar ruangan, di sana Raja langsung bertanya keadaan istrinya, ia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Tiara, terlebih lagi semua yang terjadi karena ulahnya. "Bagaimana keadaan Tiara, Pak?" "Perutnya kosong, mungkin dia belum sarapan, tapi memaksa untuk olah raga. Saya cuma bisa memberinya vitamin untuk memulihkan tenaganya, tapi usahakan dia makan dulu sebelum minum obat." "Iya, Pak. Terima kasih." Setelah mengucapkan kalimat itu, Raja berjalan ke arah ruangan Tiara yang saat ini sudah sadar, bisa dilihat dari caranya melihat ke arah Raja yang baru datang. "Pak," panggil Tiara lirih sembari berusaha bangun, namun Raja menahannya dan menyuruhnya untuk tetap berbaring. "Jangan bangun, tubuh kamu masih lemah!" "Iya, Pak. Tapi, terima kasih ya sudah menggendong saya lagi ke UKS, saya minta maaf selalu merepotkan ...." "Sudah tahu tubuh kamu itu lemah, masih enggak sarapan tadi," jawab Raja kesal. "Tadi saya mau sarapan, Pak. Tapi kan ...." "Apa? Kamu mau menyalahkan saya karena berangkat buru-buru? Kamu sendiri bagaimana? Kamu bukannya sarapan malah masak, memangnya saya kalau mau kerja harus menunggu kamu sampai selesai semua apa?" jawab Raja kian kesal yang hanya bisa Tiara angguki mengerti. "Maaf, Pak." "Sudahlah, besok pagi jangan buat bekal makanan lagi untuk saya!" Raja menjawab tegas, ucapannya seolah tidak ingin dibantah, padahal di dalam hati, Raja berharap Tiara masih mau memasak bekal makanan untuknya, karena Raja sangat menyukai masakannya. "Tapi kan itu tugas saya sebagai istri, apalagi Bapak juga tidak bisa makan di luar kan, Bapak juga sudah terbiasa membawa makanan dari rumah. Bagaimana mungkin saya tidak membuat bekal makanan untuk Bapak lagi ...?" cicit Tiara takut-takut, yang hanya Raja helai nafas panjangnya. "Terserah kamu lah, tapi lain kali kamu harus sarapan dulu. Lihat sekarang tubuh kamu melemah, kamu jadi merepotkan saya lagi kan?" "Iya, Pak. Saya mengerti, sekali lagi saya minta maaf." Tiara menjawab penuh bersalah yang hanya Raja angguki kaku dan bahkan terkesan angkuh, namun di balik semua itu, Raja merasa bahagia karena Tiara masih mau memasak bekal makanan untuknya. Padahal kalau dipikir lagi, Raja yang salah sudah membuat Tiara tidak sarapan dan harus berjalan sedikit jauh ke sekolah, namun gadis itu tidak marah, dia bahkan meminta maaf atas kesalahan yang tidak dia lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN