Nadine keluar dari ruangan dengan mata yang sembab. Ia menutup pintu di belakangnya, dan matanya terpaku membaca tulisan di pintu tersebut.
Spesialis Onkologi
Pantas Nadine merasa tulisan itu tidak asing. Kakeknya dulu juga menderita kanker dan harus bolak-balik ke bagian onkologi untuk pengobatan. Dulu dia sering melihat istilah-istilah ini saat menjenguk kakeknya. Tidak disangka sekarang Nadine harus kembali melihat istilah-istilah mengerikan itu lagi.
Nadine berjalan dengan gontai. Dia sudah seperti rangka tanpa nyawa. Sesekali pundaknya bertabrakan dengan seseorang yang kebetulan melewati lorong yang sama. Namun Nadine tidak bergeming dan terus melanjutkan langkahnya seolah itu bukan apa-apa.
Kepalanya kembali mengingat percakapan di ruang dokter tadi.
“Tindakan operasi tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu Anda. Meski ovarium dan rahim Bu Iriana diangkat, kankernya tetap tidak hilang. Kankernya sudah terlanjur menyebar ke organ vital lainnya sehingga jalan satu-satunya hanya kemoterapi.”
“Saya juga tidak bisa menjamin keberhasilan kemoterapi ini. Sejujurnya tindakan kemoterapi ini hanya untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan Bu Iriana. Sementara untuk menghilangkan kankernya…”
“Sejujurnya saya agak pesimis. Bisa bertahan selama satu bulan saja itu sudah merupakan keajaiban.”
Matanya kembali memanas. Apa dokter itu ingin mengatakan kalau umur ibunya tidak akan panjang? Kenapa dokter itu mendikte umur seseorang seolah dia Tuhan?
Lagi-lagi pundak Nadine kembali menabrak seseorang hingga membuat Nadine jatuh tersungkur. “Kalau jalan pake mata!” maki orang itu yang hanya dibalas Nadine dengan tatapan kosong.
Orang itu mengerutkan dahinya bingung dan memilih pergi meninggalkan Nadine yang bersimpuh di lantai lorong rumah sakit seorang diri.
Nadine menunduk menatap lantai rumah sakit yang terlihat dingin, telapak tangannya menyentuh ubin putih itu dan ia merasakan dingin di telapak tangannya.
Dingin…
Apakah dunianya akan sedingin ini jika ibunya benar-benar meninggalkannya? Bagaimana ia meneruskan hidup jika satu-satunya penguat di hidupnya pergi?
Pertahanannya runtuh. Air matanya kembali luruh. Kenapa Tuhan begitu jahat padanya? Kenapa Tuhan harus menggariskan takdir semacam ini di hidupnya? KENAPA?!
Isakan demi isakan lolos dari bibir mungilnya. Tangan Nadine terangkat membungkam bibirnya sendiri—berusaha agar tangisannya tidak terdengar ke seluruh penjuru lorong.
Nadine menangis seorang diri, di tengah lorong tanpa ada satu orang pun yang tahu. Nadine yakin kondisinya saat ini terlihat sangat berantakan dan menyedihkan. Dia berharap tidak ada yang melihatnya seperti ini.
Namun sayangnya harapan Nadine tinggalah angan, karena saat ini ada sepasang mata yang mengamatinya dari jauh—dengan buku kecil dan pensil gambar di tangannya.
***
Nadine berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Ia ingat ucapan dokter beberapa saat tadi. Ibunya butuh tindakan segera. Kanker ibunya sudah sangat ganas dan menyebar dengan sangat cepat, jadi tidak ada waktu untuk bersedih, dia harus cepat menentukan tindakan selanjutnya.
Sekarang Nadine sedang berjalan terburu-buru menuju ruangan ayahnya. Dia tidak bisa mengambil keputusan seorang diri, saat ini Nadine butuh ayahnya. Ayahnya dokter, jadi ayahnya pasti lebih tahu pengobatan apa yang terbaik untuk ibunya.
Nadine sampai di depan pintu ruangan ayahnya. Gadis itu diam sejenak mengamati pintu di depannya sambil berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berjalan terlalu cepat.
Keraguan mulai merayapi dirinya, namun dengan segera ia tepis. Tidak ada waktu untuk ragu, saat ini nyawa ibunya sedang berada di ujung tanduk!
Jantung Nadine berdetak tidak karuan. Berhadapan dengan ayahnya selalu membuatnya gugup. Nadine memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan diri. Begitu agak tenang, ia langsung membuka pintu di depannya. Ia baru akan menjelaskan maksud kedatangannya, namun urung begitu ia mendapati pemandangan menjijikkan di depannya.
Jika tadi ia merasakan jantungnya berdetak tidak karuan, kini ia merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di hadapannya sekarang, ia melihat seorang perempuan berpakaian perawat yang sedang duduk di pangkuan ayahnya.
“Nadine?” gumam ayahnya yang baru menyadari kedatangan Nadine.
Dia buru-buru menyuruh perempuan di pangkuannya untuk bangkit, dan segera membereskan jas dokternya yang tampak kusut.
Perempuan berpakaian perawat itu terlihat salah tingkah. Ia seperti seekor kucing yang kepergok mencuri ikan di rumah orang. Sedangkan Nadine, dia masih berdiam diri di depan pintu—dengan pintu yang masih terbuka lebar. Tidak ada niatan untuk pergi ataupun masuk, dia masih setia berada di daun pintu dengan wajah pias.
“Pa-papa bisa jelaskan,” ucap ayahnya terbata-bata. Rasanya ini pertama kalinya Nadine melihat ayahnya yang gugup seperti ini.
Haruskah ia tertawa? Ya, harusnya ia tertawa. Lihat saja wajah gugup ayahnya sekarang ini? Itu adalah wajah yang patut ditertawakan, tapi entah kenapa ia tidak bisa. Jangankan untuk tertawa, untuk mengeluarkan sepatah kata saja ia tidak mampu.
“Begini, Papa—”
“Menjijikkan,” ujar Nadine memotong kalimat ayahnya yang belum sepenuhnya selesai.
Wajah gugupnya kini semakin menjadi-jadi, ia bahkan bisa melihat wajah ayahnya yang berubah pucat.
“Ini salah paham, Papa cuma...”
“Menjijikkan!!!”
“Gimana bisa seorang dokter berbuat hal semenjijikkan ini?!” teriak Nadine histeris.
Wajah shock-nya kini sudah berubah menjadi wajah penuh kemarahan. Nadine tidak menyangka ia akan mendapati ayahnya yang berselingkuh di rumah sakit. Tempat yang seharusnya menjadi pengharapan pasien untuk sembuh, malah dijadikan tempat berbuat kotor oleh dua orang tidak bermoral ini!
“Apa Papa nggak malu? Kenyataan Papa yang selingkuh dari Mama itu udah cukup memalukan. Tapi yang lebih parah, Papa selingkuh di rumah sakit...”
“Dengan jas putih kebanggaan Papa itu,” tutur Nadine dengan tatapan jijiknya.
Ayahnya hanya diam tidak berkutik. Mungkin karena apa yang diucapkan Nadine benar, jadi ayahnya tidak punya alasan untuk mengelak.
“Apa pekerja disini tahu kalau dokter sekaligus bos mereka ternyata sosok yang seperti ini?” tanya Nadine dengan wajah menantang. Wajah ayahnya kini berubah panik.
“Oh, jadi mereka nggak tahu?” ujar Nadine semakin menantang.
“Jangan macam-macam kamu,” ancam ayahnya yang sama sekali tidak membuat Nadine takut.
“Oke, biar Nadine yang ngasih tahu...”
“MEREKA HARUS TAHU KALAU PEMILIK RUMAH SAKIT INI TERNYATA NGGAK PUNYA MORAL SAMA SEKALI!” teriak Nadine sambil membuka pintu di belakangnya kian lebar.
Beberapa orang terlihat tertarik dan mulai mengintip ke arah ruangan ayahnya yang pintunya sengaja Nadine buka lebar. Bahkan banyak juga yang diam-diam mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian menggemparkan ini.
“ARYO WIJAYA SELINGKUH DENGAN PERAWAT DI RUMAH SAKIT, PRIA MENJIJIKKAN INI NGGAK PANTAS DISEBUT DOKTER!” ujar Nadine melanjutkan konfrontasinya.
“Nadine!” tegur ayahnya.
Tapi jangan pikir Nadine takut. Semua orang di rumah sakit ini harus tahu sebusuk apa Aryo Wijaya.
Aryo Wijaya yang bersih, yang di mata orang bagaikan malaikat, nyatanya tak seperti itu. Semua orang harus tahu kalau Aryo Wijaya hanyalah pria manipulatif yang bersembunyi di balik image bersihnya.
“Kenapa, Pa? Mulai takut?” balas Nadine merasa puas.
“Papa takut kalau—”
“Kamu ini apa-apaan, sih!” tegur seseorang yang saat ini sudah menarik tangan kanan Nadine dengan begitu kuat—dia sampai meringis dibuatnya.
“Bikin masalah lagi?!” ucapnya semakin mengeratkan genggamannya di tangan kanan Nadine.
Dan orang yang mencengkeram tangan Nadine saat ini adalah Pramudya Wijaya—kakak pertama Nadine.
“Mas, Papa selingkuh. Dia selingkuh sama perawat itu!” kata Nadine bersiap mengadu. Ia pikir setelah mendengar penjelasannya, kakaknya itu akan berada di pihaknya, namun dugaannya salah.
“Berhenti membuat masalah!”
Nadine menatap kakaknya tidak percaya. Dia sudah mengatakan kalau ayah mereka saat ini sedang berselingkuh, tapi kenapa tanggapannya justru begini?
“Mas, Papa selingkuh! Coba Mas lihat, dia—“
“Lalu kenapa? Berhenti membuat masalah dan cepat pulang,” ucapnya dengan desisan pelan—seolah sengaja agar tidak ada orang di sekitar mereka yang mendengar.
Wajah penuh keyakinan Nadine kini luntur tergantikan dengan wajah terkejut bercampur sendu.
“Mas Pram udah tahu?”
Dia merasa dikhianati, tidak hanya oleh ayahnya, namun juga kakaknya.
“Benar, Mas Pram udah tahu?” tanyanya lagi yang hanya dibalas Pram dengan sikap diamnya.
“Apa Mbak Retha juga tahu?” tanya Nadine yang lagi-lagi dibalas Pram dengan sikap diamnya. Hati Nadine rasanya sudah tidak berbentuk saking hancurnya.
Dan ketika kakaknya itu menariknya entah kemana, Nadine hanya diam. Dia masih terlalu bingung untuk mencerna semuanya.
Kakinya terseok-seok mengikuti langkah kakaknya yang tidak sabaran. Kakaknya sepertinya juga tidak peduli dengan keadaannya sekarang—entah kakinya sakit karena tersandung atau bahkan tangannya yang perih karena cengkeraman, kakaknya sama sekali tidak peduli.
Tapi biar saja, toh Nadine juga tidak terlalu merasakan sakit di kaki dan tangannya sekarang. Saat ini fokusnya hanya rasa sakit di hatinya. Rasa sakit di kaki dan tangannya sekarang sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya.
Hari ini ia melihat ayahnya berselingkuh dengan mata kepalanya sendiri. Melihat pemandangan menyakitkan itu sudah cukup membuat hatinya luluh lantak, dan kini ditambah dengan kedua kakaknya yang ternyata sudah mengetahui hal tersebut namun memilih menutupinya.
Dalam hati, Nadine tertawa miris. Sebenarnya keluarga macam apa mereka ini?