“Dok, detak jantung pasien sudah stabil.”
Genta menghela nafas lega. “Operasi selesai,” katanya yang dibalas rekan lainnya dengan anggukan paham.
Genta lalu menyerahkan sisanya pada residen yang bertugas, dan pergi meninggalkan ruang operasi.
“Mau kemana, Dok? Ruang Dokter Genta kan ada di sebelah sana?” ucap salah satu staff medis yang tadi turut membantu jalannya operasi.
“Saya ada urusan sebentar,” balas Genta.
“Setiap selesai operasi kan Dokter Genta memang suka menyendiri dulu,” celetuk Rendy—residen yang dibimbing Genta selama hampir dua tahun ini.
Bekerja bersama Genta membuat Rendy sedikit tahu tentang kebiasaan dokter spesialis bedah jantung berusia 34 tahun itu.
“Menyendiri buat apa?” Para perawat disana terlihat semakin penasaran.
“Operasi kan juga menguras energi dan pikiran, beliau pasti butuh waktu buat mulihin energinya.”
Staff disana mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ya, operasi yang memakan waktu hingga 9 jam lamanya sudah pasti sangat menguras energi. Mereka yang hanya bantu mencarikan alat selama operasi saja lelahnya minta ampun, apalagi Genta yang bertugas sebagai pekerja inti.
“Tapi beliau mau menyendiri dimana? Bukannya lebih nyaman kalau istirahat di ruangannya sendiri?”
“Dokter Genta itu berbeda. Dia punya caranya sendiri buat healing,” kata Rendy sambil menatap ke arah Genta yang sudah semakin menjauh.
***
Genta berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Setiap selesai operasi, Genta memang punya kebiasaan menelusuri lorong rumah sakit dan mencari mana lorong yang paling sepi.
Kali ini pilihannya jatuh pada lorong bagian onkologi. Hampir setiap bangku di lorong tersebut tidak berpenghuni. Sempurna!
Genta memilih lorong yang paling pojok dan tersembunyi. Ia mendudukkan dirinya disana dan mulai mengeluarkan alat “healing” dari saku jas putihnya.
Buku catatan dan pensil gambar!
Sebetulnya akan lebih bagus jika ia membawa buku sketch yang biasa dia gunakan untuk menggambar, hanya saja karena ukurannya cukup besar dan sulit dibawa kemana-mana, jadi dia urung membawanya.
Jarinya mulai memegang pensil dan menggerakkannya dengan lihai di atas buku catatan miliknya. Matanya menatap keseluruhan lorong dan mulai menggambarnya dengan senyum kecil di bibirnya.
Senang rasanya bisa kembali melakukan hobinya. Akhir-akhir ini jadwal operasinya terlalu padat hingga hampir tidak ada jeda, sehingga mau tidak mau Genta harus vakum dari hobi menggambarnya ini.
Dulu, hobi ini hampir menjadi karirnya. Sejak dulu Genta memang sudah gemar menggambar. Genta bahkan sudah akan mendaftar ke jurusan yang berhubungan dengan gambar. Hanya saja mimpinya harus ia kubur dalam-dalam karena ayahnya menginginkan dirinya menjadi dokter.
Masa lalu yang kelam…
Kelam dan tidak perlu untuk diingat-ingat kembali. Tidak baik juga menyalahkan orang lain atas pilihan yang sudah dia ambil.
Genta sudah akan kembali menenggelamkan dirinya pada gambaran di bukunya, namun ia menangkap sosok gadis yang tampak tak asing di matanya.
“Kalo jalan pake mata!”
Gadis itu dimaki dan jatuh tersungkur di atas lantai lorong yang dingin. Ah! Dia gadis yang ditemuinya di pesta dan taman barusan!
Takdir benar-benar lucu. Hari ini sudah dua kali dia bertemu dengan gadis itu! Apa itu masuk akal?
Tapi apa yang terjadi dengan gadis itu? Kenapa dia berjalan dengan serampangan dan tidak memperhatikan sekitar?
Gadis itu juga terlihat berantakan…
Genta masih memperhatikan sosoknya yang masih terduduk di lantai. Kenapa gadis itu hanya diam?
Genta sudah akan bangkit dari duduknya dan berniat membantu gadis itu, namun urung saat dia melihat gadis itu menangis dan terisak-isak dengan kedua tangan yang membekap mulutnya erat. Suaranya memang tidak sampai memenuhi lorong, namun Genta tahu sesakit apa tangisannya.
Genta sudah bertahun-tahun bekerja di rumah sakit. Dia sudah melihat banyak tangisan di rumah sakit ini, mulai dari tangis kesakitan, tangis kepasrahan, hingga tangis kehilangan. Dan Genta yakin, saat ini gadis itu tengah mengalami salah satunya.
Tangan Genta bergerak merobek kertas yang sudah digambarnya beberapa saat tadi. Tangannya lalu mulai menggambar lukisan baru, kali ini dengan gadis itu sebagai objeknya.
Sesaat Genta menghentikan pergerakan tangannya. Ia menggambar objek hidup? Setelah sekian lama?
Genta merasakan tangannya gemetar. Setelah sekian lama enggan menggambar objek hidup, kini dengan sendirinya ia menggambarnya.
Dan kenapa harus gadis ini yang menjadi objeknya? Dan dalam keadaan menangis pula! Sepertinya, selera gambarnya kini mulai aneh.
***
Setelah bertengkar hebat dengan ayah dan kakaknya di rumah sakit, Nadine memutuskan pergi ke apartemen Oliv—sahabatnya. Dia mau menenangkan diri sebentar di sini.
Sepanjang sore tadi Nadine bercerita pada Oliv tentang apa yang telah menimpanya hari ini. Tentang ibunya, perselingkuhan ayahnya, dan fakta bahwa kedua kakaknya mengetahui hal itu namun memilih untuk menutupinya.
Seharian ini Nadine puas bercerita sambil menangis di hadapan Oliv. Biasanya setelah bercerita dan menangis seperti ini, beban tak kasat mata di pundaknya akan terasa sedikit ringan, namun kali ini berbeda. Bebannya masih terasa sama beratnya. Sesak di dadanya juga tidak berkurang. Karena lelah menangis, Nadine pun tertidur di kamar Oliv.
Cerita Nadine membuat hati Oliv ikut tidak karuan. Dia mengetahui bagaimana keluarga Nadine, mulai dari sikap otoriter ayahnya hingga kakak-kakaknya yang tidak menganggap dirinya ada. Hanya saja… Oliv tidak menyangka akan ada kisah semacam ini.
Oliv juga punya cerita yang buruk terkait keluarga. Ia pikir kisah keluarganya sudah cukup buruk, namun setelah mendengar cerita Nadine, ia berubah pikiran. Sahabatnya ini jauh lebih menderita.
“Lembur lagi?” Pintu apartemen terbuka, dan Oliver muncul dari balik pintu. Saat ini Oliv sedang berada di ruang tamu—sengaja menunggu kepulangan Oliver.
“Ya, kerjaan lagi banyak,” jawab Oliver sambil melepas sepatu kerjanya.
“Nadine ada disini?” tanyanya saat mendapati heels yang terlihat tidak asing di matanya.
Sesaat Oliv menangkap kilat semangat di mata saudaranya. Dia ini memang sangat mudah dibaca!
“Ya, dia lagi tidur di kamarku.”
“Dia lagi ada masalah?” tanya Oliver. Kini tatapannya berubah khawatir. Oliv tersenyum melihat itu. Siapapun jodoh masa depan Oliver, dia pasti akan sangat beruntung karena berhasil mendapatkan pria yang peka seperti ini.
“Mandi dulu. Nanti aku ceritain semuanya.”
***
Oliver terlihat menyugar rambut basahnya kasar. Karena tidak sabar mendengar cerita tentang Nadine, dia sampai tidak sempat mengeringkan rambutnya. Dan setelah mendengar keseluruhan cerita dari Oliv, wajahnya berubah keruh. Amarah jelas terlihat di wajahnya.
“Mereka nggak pantes disebut manusia,” geramnya yang dibalas Oliv dengan anggukan setuju.
“Aku harap Nadine bisa segera lepas dari keluarga itu,” kata Oliv murung.
Satu-satunya cara agar Nadine bisa hidup bebas dan bahagia adalah dengan lepas dari keluarganya. Sama seperti Oliv dan Oliver yang mulai bisa merasakan hidup saat memilih keluar dari rumah dan memutuskan hidup mandiri tanpa campur tangan orang tua mereka.
“Ver…”
“Hmm?”
“Kamu nggak ada niatan buat nyatain perasaan kamu ke Nadine?” Oliv sempat melihat keterkejutan di mata saudara kembarnya.
Oliver menoleh ke arah pintu kamar Oliv, tempat dimana Nadine tengah tertidur lelap. Mungkin dia ingin memastikan Nadine tidak mendengar ucapan Oliv barusan.
“Untuk sekarang, belum.”
“Terus kapan?”
“Nanti, kalau aku udah ngerasa cukup pantas.”
Oliv menatap saudaranya itu kesal. Dia kesal setiap kali melihat Oliver yang merasa tidak percaya diri seperti ini. “Kamu layak kok, Ver. Kamu udah dapet kerjaan sekarang, di tempat yang bagus pula. Apalagi yang kamu tunggu?”
“Tapi nggak cukup layak di mata keluarga Wijaya. Kalau aku minta Nadine ke keluarganya sekarang, aku yakin aku bakal langsung diusir.”
“Kamu pikir mereka bakal nerima orang yang kerjaannya baru di tahap entry-level kayak aku?”
Jawaban Oliver membuat Oliv tertegun. Benar, Oliv tidak bisa menyamakan standar ‘layak’ untuk keluarga biasa seperti dirinya dengan keluarga Wijaya yang terpandang.
“Kamu bisa coba buat confess dulu aja ke Nadine. Seenggaknya kamu jadi tahu gimana perasaan dia ke kamu,” saran Oliv.
“Dengan risiko hubunganku dengan Nadine merenggang? Nggak, makasih.”
Oliv menghela napas putus asa. Kenapa sih orang ini sangat pesimis? Belum dicoba sudah mikir ditolak!
“Aku lebih suka nunggu sampai timing-nya tepat.”
“Dan kapan timing yang tepat versi kamu itu?” tanya Oliv dengan nada mengejek.
“Saat aku sudah merasa layak untuk Nadine dan keluarganya.”
“Hah! Terserah kamu aja!” kata Oliv lelah.
Dia lelah menasehati saudaranya yang keras kepala ini. Apa Oliver tidak sadar? Banyak yang ingin mendekati Nadine. Dulu saat masa kuliah saja banyak teman seangkatannya yang ingin berkenalan dengan Nadine.
Tinggal menunggu waktu saja sampai saudara kembarnya ini menyesal karena tidak bergerak cepat!