Genta terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Matanya terpejam kuat-kuat, sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
“Kamu hanya akan membuat mereka sengsara, seperti halnya aku dan Anya.”
“Kamu hanya akan membuat mereka menderita!”
Adegan demi adegan dalam mimpinya membuat Genta semakin gelisah. Kepalanya menoleh kanan dan kiri, berusaha menyingkirkan bisikan-bisikan tersebut.
“Raline…” gumamnya dalam tidur.
“Raline!!” sentaknya dengan mata yang sudah terbuka sepenuhnya. Genta segera mendudukkan tubuhnya. Nafasnya masih terengah-engah. Tangannya lalu bergerak mengusap wajahnya kasar.
“Mimpi itu lagi,” gumamnya terdengar frustasi.
Sudah tiga tahun berlalu, namun dia masih dihantui mimpi itu. Mimpi yang selalu sama, yang selalu hadir di setiap tidurnya.
***
Siang yang sibuk. Jalanan macet karena waktu tengah menunjukkan jam makan siang. Genta melirik ke arah arlojinya. Dia sudah telat setengah jam.
“Sial!” makinya pada mobil-mobil yang masih tidak bergerak di depannya.
Suara klakson saling bersahutan membuat suasana semakin panas. Kapan Jakarta bisa terbebas dari kemacetan? 34 tahun sudah Genta hidup di kota ini, bukannya membaik, kemacetan di sini malah semakin parah!
Dering telepon membuyarkan lamunannya. Sang Mama sudah berisik meneleponnya dari tadi.
“Ya, Ma?” sahut Genta.
“Udah sampai mana? Lama banget sih! Mama udah lumutan nih disini!”
Ratih Bagaskara, ibu Genta yang datang jauh-jauh dari Surabaya kini tengah menunggu putra bungsunya di bandara. Ia sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu, wajar jika beliau sekesal ini.
“Genta masih kejebak macet.”
“Dari kemarin kan Mama udah ngabarin, Mama itu landingnya jam satu siang. Harusnya kamu berangkat agak awal dong, jangan mepet biar nggak kejebak macet kayak gini.”
Omelan ibunya membuat Genta semakin pusing. Di depan sudah macet, di luar penuh suara klakson yang saling bersahutan, dan sekarang ditambah dengan omelan ibunya. Lengkap sudah penderitaan Genta!
“Operasinya selesai lebih lama dari perkiraan,” kata Genta beralasan.
“Alesan aja kamu!”
Balasan ibunya membuat Genta menghela nafas panjang.
“Yaudah, mending sekarang Mama cari kafe aja dulu di area bandara. Ngadem dulu aja sambil nunggu Genta dateng,” sarannya berusaha meredakan kekesalan ibunya.
“Nggak usah kamu kasih tahu juga Mama udah nyari kafe. Masa iya Mama mau nunggu kamu di bandara kayak anak ilang. Untung aja ada perempuan cantik yang mau nemenin Mama di sini, Mama jadi punya temen ngobrol.”
“Perempuan siapa?” tanya Genta khawatir.
“Mama kenal dia?” tanyanya lagi.
Akhir-akhir ini banyak tindak kriminal yang terjadi di Jakarta, dan targetnya rata-rata lansia seperti ibunya. Jadi wajar jika Genta sekhawatir ini.
“Udah ya Mama tutup dulu. Kamu hati-hati nyetirnya.”
“Halo, Ma? Ma??” Genta mengecek layar ponselnya, sambungan teleponnya terputus. Genta berdecak sebal, bisa-bisanya ibunya memutus teleponnya begitu saja.
Selama perjalanan Genta tidak bisa tenang. Bayangan-bayangan buruk mulai menghinggapi pikirannya. Baru kemarin dia menonton berita di TV tentang ibu-ibu yang menjadi korban hipnotis, seluruh hartanya raib digondol pelaku. Bagaimana jika ibunya menjadi target selanjutnya?
Kesal, Genta pun menekan klakson secara brutal. “Sial! Kenapa nggak jalan-jalan sih!” makinya pada mobil-mobil yang masih juga tidak bergerak.
***
Genta berlari tergopoh-gopoh sambil membaca pesan yang dikirim ibunya.
“The Daily Cafe…” gumamnya sambil mencocokkan nama kafe yang dikirim ibunya dengan papan nama yang terpampang di depan kafe.
Setelah yakin kafe yang dimaksud benar, ia segera masuk sambil berlari kecil. Orang-orang di dalam kafe menatapnya keheranan. Genta baru bisa bernafas lega ketika mendapati ibunya tengah memakan kue dengan gaya anggunnya. Wanita paruh baya itu terlihat baik-baik saja.
“Ngapain kamu?” tanya Ratih keheranan.
Dilihatnya putranya yang saat ini tengah sibuk mengatur nafas. Penampilannya acak-acakan dengan keringat dimana-mana.
“Abis ngejar maling?” ledek Ratih yang dibalas Genta dengan dengusan kesal.
“Mana perempuan yang Mama bilang tadi?” tanya Genta sambil mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di sana.
“Ohh… perempuan cantik tadi? Udah pulang duluan. Kamu sih datengnya kelamaan.”
“Tapi Mama nggak papa kan? Ada yang luka nggak? Barang-barang aman? Perhiasan masih utuh?” tanya Genta sambil mengecek setiap bagian tubuh ibunya.
“Ck, ngapain sih kamu!” kesal Ratih sambil memukul ringan tangan Genta. “Lagian kamu tuh dari tadi kenapa? Dateng-dateng kayak orang abis ngejar maling, sekarang malah nanyain hal yang nggak jelas gini,” omelnya lagi.
“Ma… lain kali jangan mau kalo ada orang yang nggak dikenal coba buat deket-deket Mama. Langsung pergi aja, jangan ditanggepin.”
“Kamu pikir perempuan cantik yang nemenin Mama barusan orang jahat? Orang cantik begitu dikatain penjahat,” kata Ratih tidak terima.
“Ma, jaman sekarang cantik bukan jaminan. Banyak loh orang cantik tapi jadi penipu. Mama harus hati-hati. Apalagi sekarang lagi banyak kasus hipnotis, kalau perhiasan Mama dibawa kabur gimana?”
“Ih enggak, Genta! Perempuan yang tadi beneran baik kok, kamu belum ketemu aja makanya bilang begini,” ujar Ratih yang masih keras kepala.
“Yaudah terserah Mama. Yuk, pulang, Anya pasti udah nungguin di rumah.” Mendengar nama cucu perempuannya membuat Ratih langsung bangkit dengan semangat.
Bisa dibilang alasannya datang ke Jakarta hari ini adalah karena dia merindukan cucu perempuannya. Ya, setidaknya itu salah satu alasannya.
***
“Jakarta masih macet aja, heran deh,” keluh Ratih saat melihat kendaraan yang padat merayap.
“Ini nggak seberapa dibanding tadi,” celetuk Genta.
“Oh iya, Mama udah ngabarin Mas Haikal kalo udah sampai?” Genta ingat, semalam kakaknya itu berpesan untuk dikabari kalau ibunya sudah sampai di Jakarta.
Tadinya Haikal yang mau menjemput ibu mereka, namun Haikal ada meeting jam satu tadi, jadilah Genta menawarkan diri untuk menjemput ibunya.
Meski berakhir terlambat…
“Udah. Mama udah ngabarin di kafe tadi, udah telfonan juga.”
“Mau mampir ke rumah Mas Haikal dulu?”
“Nggak usah, nanti biar Haikal aja yang dateng ke rumah kamu. Mama kan udah bilang, Mama ini kangen Anya.”
“Sama Bio nggak kangen?” goda Genta. Bio adalah anak laki-laki Haikal. Usianya dua tahun lebih tua dari Anya.
“Mama kangen sama semua cucu Mama, Mama ini nggak pernah beda-bedain cucu tahu!!”
Genta terkekeh melihat respons ibunya. Ia lalu teringat akan kenangan masa kecilnya. Ibunya dulu tinggal di Jakarta. Namun sejak ayahnya meninggal, ibunya memutuskan untuk kembali ke kota asalnya, Surabaya. Haikal mengurus perusahaan sejak ayahnya meninggal sedangkan Genta memutuskan menjadi dokter.
Sebenarnya dokter bukanlah karir impian Genta. Dia menjadi dokter semata-mata karena ingin mewujudkan mimpi seseorang. Lucu rasanya, bisa-bisanya dia hidup dengan mimpi orang lain.
Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah terlanjur menjadi dokter. Dokter merupakan pekerjaan yang mulia. Dia sudah disumpah untuk mendedikasikan hidupnya untuk para pasiennya. Itulah yang selalu ia tekankan pada dirinya.
“Gimana kerjaan kamu? Lancar?” tanya ibunya sambil menatap putranya penuh haru.
Ia menatap ke arah jas putih Genta yang tergeletak di kursi belakang. “Papa kamu pasti bangga karena anaknya udah benar-benar jadi dokter.”
Genta tersenyum sambil fokus pada jalanan yang mulai lengang. Ya, pekerjaan ini adalah mimpi ayahnya. Dulu ayahnya bermimpi menjadi dokter. Namun mimpinya itu tidak pernah terealisasikan karena kakeknya menentang.
Ayahnya merupakan anak semata wayang. Mau tidak mau ayahnya yang harus melanjutkan perusahaan milik keluarga sehingga dengan terpaksa ayahnya harus mengubur mimpinya dalam-dalam.
“Terima kasih ya, Nak.” Kali ini Ratih menatap putranya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Terima kasih buat apa?” balas Genta berusaha santai. Padahal di dalam hati dia merasa tidak nyaman, dia benci membahas hal-hal menyedihkan semacam ini. Terlebih jika itu menyangkut ayahnya.
“Terima kasih karena sudah mau mewujudkan mimpi Papa kamu. Mama juga mau minta maaf…”
“Maaf karena sudah memaksakan keegoisan kami ke kamu.”
Genta tidak lagi menjawab. Mereka melewati sisa perjalanan dalam diam. Beruntung kemacetan mulai terurai sehingga Genta bisa melajukan mobil secepat mungkin.