10. Jodoh untuk Genta

1558 Kata
Setelah melewati sisa perjalanan dalam keterdiaman, Genta dan ibunya pun sampai di rumah Genta. Ratih masuk ke dalam rumah dengan tidak sabar, dia sudah sangat merindukan Anya, cucu perempuannya. Namun begitu memasuki rumah bukannya Anya yang ia lihat namun justru Bi Inah yang sibuk membersihkan ruang tamu. “Loh sudah sampai, Bu?” sapa Bi Inah sambil terburu-buru menghampiri ibu majikannya. “Kamar tamu sudah saya beresin. Sini saya bantu bawain tasnya ke atas, Bu.” Ratih membiarkan Bi Inah mengambil beberapa tas dari tangannya. Sedangkan kopernya dibawa oleh Genta. “Anya kemana, Bi?” tanya Ratih dengan raut kecewa. Dia sudah senang karena akan bertemu cucunya, namun ia malah tidak mendapati cucunya di manapun. “Non Anya masih di sekolah, Bu. Masih belum pulang.” “Kata kamu Anya udah nunggu Mama. Mana? Anaknya malah belum pulang gini,” kesal Ratih pada putranya. Genta pun bingung. Ini sudah menjelang sore, biasanya Anya pulang jam 1 siang, tapi kenapa sampai sore begini putrinya itu belum pulang juga? “Anya belum pulang, Bi?” tanya Genta pada asisten rumah tangganya. Biasanya yang mengantar jemput Anya adalah Bi Inah bersama sopir yang khusus Genta pekerjakan untuk mengantar keduanya. “Belum, Tuan. Kan ini hari Jumat, jadwalnya Non Anya ekskul tari. Jadi pulangnya agak sorean. Paling pulangnya sekitar jam 5.” Penjelasan Bi Inah membuat Genta tertegun. Ekskul tari? Sejak kapan anaknya ikut ekskul tari? Dia yang lupa atau memang Anya yang belum memberitahunya? “Yaudah tolong jemput Anya sekarang ya, Bi. Udah mau jam 5 juga.” “Iya, Baik, Tuan.” “Kamu itu Papanya, kok bisa-bisanya malah ART yang lebih tahu tentang kegiatan anak kamu?” cibir ibunya. Genta menghela nafasnya lelah. “Mau gimana lagi? Kerjaanku udah nyita banyak waktuku.” “Makanya, Genta. Udah waktunya kamu menikah lagi. Anya butuh sosok ibu buat ngurus dia.” Ocehan Ratih kali ini tidak ditanggapi putranya, namun dia tidak menyerah. “Kamu inget sahabat Papa yang dulu sering ke rumah nggak?” ucapnya hati-hati. Namun lagi-lagi Genta tidak menanggapi. “Semalem beliau telepon Mama. Dia cerita kalau punya anak perempuan yang masih single. Beliau mau ngajak Mama besanan, menurut kamu gimana?” “Ma…” tegur Genta dengan nada tidak suka. “Kenapa? Anaknya cantik kok. Walaupun Mama belum pernah ketemu sih, fotonya juga belum pernah lihat. Tapi Mama yakin sih pasti cantik.” “Aku kan udah bilang berkali-kali, aku nggak mau dijodoh-jodohin.” “Kenapa nggak mau? Belum move on kamu dari Raline?” Kali ini Ratih terlihat serius. Wajahnya menunjukan kemarahan. “Ma, aku cuma butuh waktu.” “Udah 3 tahun, Genta. Kamu mau nunggu sampai kapan? Sampai mantan istri kamu itu balik lagi ke kamu?” “Apa yang kamu harapkan dari wanita seperti itu?” “Siapa bilang aku belum move on?” kata Genta tidak terima. Dia memang butuh waktu untuk memulai hubungan baru, yang entah berapa lama waktu yang ia butuhkan. Namun bukan berarti dia belum melupakan Raline. “Ya terus kenapa kamu susah buka hati?” “Bukan aku yang susah buka hati, Mama aja yang nggak pinter milih calon buat aku.” Sudah banyak rencana perjodohan yang dirancang ibunya, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Rencana perjodohan itu selalu gagal di pertemuan pertama mereka. Entahlah, Genta sendiri tidak paham dengan selera ibunya. Wanita-wanita yang dipilihkan ibunya selalu saja ajaib. Entah kelakuannya yang di luar nalar, sampai cara berpakaiannya yang jauh dari selera Genta. “Ya udah, selera kamu yang kayak gimana? Biar Mama cariin sesuai kriteria kamu.” “Nggak usah repot-repot, biar Genta cari sendiri aja.” Jawaban putranya membuat Ratih langsung mengeluarkan taring, “Cari sendiri? nungguin kamu nyari sendiri keburu Mama nyusul Papa kamu!” “Lagian kamu itu jadi orang jangan gampang ilfeel. Dikit-dikit nggak cocok, dicoba dulu ketemu beberapa kali. Jangan sekali ketemu langsung kamu tolak.” Sebenarnya Genta memang sengaja menolak calon-calon pilihan ibunya di hari pertama mereka bertemu. Selain karena tidak cocok, Genta juga tidak suka dicarikan jodoh lewat jalur perjodohan. Dia lebih suka mendapat jodoh lewat pertemuan yang natural. Selain itu, dia juga memang belum tertarik menikah. Dia bisa membesarkan Anya selama 3 tahun ini tanpa seorang istri, dan semuanya baik-baik saja. Genta yakin dia tetap bisa menjaga dan merawat putri kecilnya sampai dia dewasa. “Mama udah atur pertemuannya di tanggal 15. Tempat juga udah direservasi, nanti Mama kirimin alamatnya.” “Ma…” protes Genta. “Dicoba dulu, Genta. Jangan main protes-protes aja. Feeling Mama kali ini bagus.” “Jangan bilang alasan Mama kesini karena perjodohan ini?” tanya Genta penuh selidik. Ratih tertangkap basah, ia tidak bisa menutupi wajah gugupnya. “Ngomong apa sih kamu? Mama kesini ya karena mau jenguk cucu-cucu Mama,” ucapnya dengan tatapan yang lari kesana kemari. “Nggak usah bohong. Mama nggak pinter nutupin sesuatu.” “Pokoknya ini semua demi kebaikan kamu, Mama cuma nggak mau kamu menua sendirian. Anya juga butuh sosok ibu.” Setelah perdebatan panjang, sosok yang mereka tunggu pun akhirnya datang. Gadis kecil dengan seragam putih merah khas anak SD muncul di hadapan mereka dengan wajah datarnya. “Anyaaa!! Oma kangen banget sama kamu…” Ratih berhampur ke arah cucunya dan memeluknya erat. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu dan kini cucunya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. *** “Gimana sekolahnya? Pasti capek ya sekolah dari pagi sampai sore?” “Biasa aja,” jawab gadis berusia 8 tahun itu. Genta dan Ratih saling lirik, tidak menyangka Anya akan menjawab dengan nada sedingin itu. “Anya, jawab yang baik,” tegur Genta pada putrinya. “Kenapa? Anya udah jawab kan? Salahnya dimana?” “Jawab yang baik dong. Oma kan nanya baik-baik, jawabnya yang baik juga.” Ratih buru-buru menjadi penengah, “Udah Genta, nggak papa. Mungkin Anya capek, dia sekolah dari pagi sampai sore loh.” Genta hanya bisa menghela nafas pelan, menyerah dengan sikap putrinya. Anya memang banyak berubah sejak perceraian kedua orang tuanya. Anya yang dulunya riang dan ceria, berubah menjadi anak yang pendiam dan dingin. Mungkin perceraian itu juga turut memberikan trauma bagi anak itu. Melihat suasana yang tegang, Ratih pun berusaha untuk mencairkan suasana, “Oma denger dari Bi Inah katanya Anya ikut ekskul tari ya? Udah ikut sejak kelas berapa?" “Udah dari kelas 1,” ucapnya. Kali ini nada bicaranya sudah lebih lembut dibanding sebelumnya. “Wah, hebat banget cucu Oma! Pasti sekarang narinya udah jago ya?” balas Ratih antusias. Anya tidak menjawab, namun Ratih bisa melihat ekspresi malu-malu dari anak itu. Ratih tersenyum melihatnya. Pelan-pelan ia ingin mencoba meluluhkan hati cucunya, yang dibutuhkan Anya sebetulnya hanya perhatian dan kasih sayang. Hal yang sebenarnya sederhana namun sulit Anya dapatkan karena kesibukan ayahnya. “Berarti udah sering ikut kontes tari di sekolah dong ya?” “Udah. Bulan lalu Anya baru aja ikut kontes.” “Tapi… Anya nggak menang.” Kali ini wajahnya terlihat murung. “Enggak papa. Yang penting Anya happy ngejalaninnya, menang itu bonus,” hibur Ratih. “Oma jadi penasaran lihat Anya nari. Ada video yang bisa Oma lihat nggak? Anya kan udah sering tampil, pasti ada dokumentasinya kan?” Wajah Anya semakin murung, “Nggak ada.” Ratih bingung, “Kok nggak ada?” “Karena Papa nggak pernah bisa dateng. Jadinya nggak ada yang ngevideoin Anya,” ucapnya yang kembali menggunakan nada dingin. Suasana kembali tegang. Ratih menatap putranya kecewa, sedangkan Genta hanya bisa menunduk dengan wajah menyesal. “Yang bulan lalu itu kan? Papa kan udah minta maaf, ada operasi mendadak jadinya Papa nggak bisa datang.” “Nggak cuma bulan lalu, bulan-bulan sebelumnya juga Papa nggak datang.” Bi Inah datang membawa lauk tambahan yang baru dimasaknya, dan tidak sengaja mendengar perselisihan kecil antara anak dan ayah ini. Ia pun berusaha membantu Genta untuk membujuk putrinya yang merajuk. “Akhir bulan ini kan Non Anya ada kontes tari lagi, siapa tahu kali ini Tuan bisa dateng.” Ucapan Bi Inah langsung mengundang tatapan kesal Anya, pasalnya dia sudah berniat tidak memberitahu ayahnya soal ini. “Oh iya? Kok kamu nggak cerita ke Papa kalau ada kontes tari lagi?” tanya Genta pada putrinya. Kali ini tatapannya penuh selidik. “Aku bilang pun Papa juga nggak akan datang. Jadi buat apa aku bilang ke Papa?” Anya lalu membanting sendok dan garpunya ke atas piringnya yang masih penuh dengan makanan. “Mau kemana? Habisin dulu makanannya,” tegur Genta pada Anya yang sudah berdiri dari duduknya. “Aku udah kenyang,” jawabnya sambil berjalan cepat menuju kamarnya. Semua orang di meja makan terdiam. Bi Inah menjadi tidak enak karena sudah menyebabkan kekacauan ini. “Maaf, Tuan. Saya nggak bermaksud…” “Nggak papa, Bi. Tolong susul Anya, ya. Bawa sekalian makanannya, bujuk Anya buat ngabisin makanannya. Dia pasti laper karena seharian di sekolah.” “Baik, Tuan.” Setelah kepergian Bi Inah, Ratih kembali berbicara serius pada putranya. “Nak, sudah saatnya kamu mencarikan sosok ibu untuk Anya.” “Maaf kalau kamu nggak nyaman sama permintaan Mama, tapi putri kamu butuh sosok ibu. Mama harap kamu mau mempertimbangkan soal perjodohan tadi.” Genta terdiam mendengar penuturan ibunya. Genta sadar Anya memang membutuhkan sosok ibu. Tapi dimana Genta bisa menemukan sosok wanita yang bisa tahan dengan kesibukannya? Dan juga, wanita mana yang bisa tahan dengan watak putrinya yang keras? Dimana dia bisa menemukan sosok wanita seperti itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN