Chapter 6

1259 Kata
Sihir tanaman milik Aurel masih belum dapat terkendali dengan baik. Semua akar-akar tumbuhan tersebut, bergerak di luar kendali penggunanya, bahkan Harold sendiri cukup kerepotan untuk menangani mereka. Hal itu dikarenakan tubuhnya yang kecil, jadi Harold masih sedikit kesulitan untuk menyesuaikan kemampuan miliknya dengan tubuhnya yang pendek. Alhasil, selama ini Harold hanya terus menghindar setiap serangan yang dilancarkan oleh akar-akar tersebut. ZRAT!! "Sial ...." Sudah beberapa kali Harold menebas akar-akar itu dengan pedangnya. Namun, setiap di tebas, akar-akar itu akan segera tumbuh kembali dengan cepat. Harold juga dapat melihat Aurel yang masih berdiri disana, dengan mata yang putih. Sepertinya dia sudah tidak sadarkan diri. "Mungkin akar-akar ini akan menjadi objek yang bagus untuk melatih sihirku," Meskipun pedang kayunya sudah diperkuat dengan menggunakan Mana. Itu masih belum cukup untuk mengalahkan akar-akar merepotkan tersebut. Oleh karena itu, Harold terpikirkan satu cara yang lumayan gila untuk dilakukannya. Ia hanya harus membuat akar-akar itu berhenti ber-regenerasi dengan melenyapkan seluruh bagian tubuhnya. Berkonsentrasi, Harold mulai merubah Mana miliknya ke bentuk elemen api. Karena Harold yang masih berusia 7 tahun hanya bisa menguasai beberapa sihir elemen saja, seperti api, petir, dan juga tanah. Ia masih belum menguasai Black Magic, karena itu merupakan salah satu sihir kegelapan yang di berikan oleh Soul Eater. Selesai melakukan persiapan, di telapak tangan Harold muncul lima bola api kecil yang melayang-layang sambil berputar di udara. "Partikel Flame." Bola api berukuran kecil itu langsung melesat ke masing-masing akar, dan langsung membakarnya hingga membuat mereka menggeliat tidak karuan, tentu saja Harold tidak tinggal diam begitu saja sambil menunggu api itu padam. Ia melesat, lalu melompat tinggi menerjang beberapa akar yang menggeliat sambil terbakar tersebut. "Sword Dance : Whirlwind!" Harold melakukan putaran di udara, dan setelah itu mendarat tepat dibelakang Aurel dengan mantap. Akar-akar sebelumnya ter-tebas hingga menjadi beberapa bagian kecil dan berjatuhan layaknya hujan api. Mungkin akar-akar itu tidak akan beregenerasi kembali karena seluruh bagian tubuhnya telah dibakar habis oleh api, selain itu Harold juga sudah memotong menjadi beberapa bagian agar tidak ada yang terlewatkan. Melihat ke belakang, Aurel mulai kehilangan keseimbangan dan akan terjatuh, namun Harold segera menangkapnya dari belakang, dia masih tidak sadarkan diri dan terdapat air mata yang berlinang di wajahnya. Harold terbelalak, karena ini adalah pertama kalinya ia melihat kesedihan Aurel. Yang bahkan di kehidupan sebelumnya tidak pernah dia tampilkan. "Ma-maafkan aku .... Kakak ...,"" gumam Aurel lemah, secara tidak sadar. Pintu ruangan lalu terbuka, dan Harold dapat melihat beberapa orang yang wajahnya tidak ingin ia lihat, setidaknya untuk sekarang ini. "Luar biasa, kau dapat mengatasi sihir Aurel yang mengamuk, yang bahkan aku tidak bisa lakukan. Kau memang kandidat yang tepat, Harold Sieghard," ucap Jason sambil bertepuk tangan. Disana juga terdapat orang tua tirinya. "Apakah Anda sudah berada di sana sejak tadi?" tanya Harold dengan sorot mata yang tajam. "Tentu saja, karena menarik ... aku ingin melihat apa yang kau lakukan dan tidak mengganggumu, dan kurasa itu adalah keputusan yang tepat, bukan begitu Emili?" "Ya, itu benar sayang. Kurasa aku bisa mempercayakan anak Incompetent itu kepadamu, Harold," jawab Emili. Harold lalu melihat kembali wajah Aurel yang masih tidak sadarkan diri. Bahkan kedua orang tuanya tidak peduli dengannya hanya karena dia Incompetent, seorang gadis yang kuat, dan membangun kekuatan miliknya sendiri demi membuktikan kepada orang lain bahwa seorang Incompetent juga dapat menjadi sosok yang kuat jika mereka mau berusaha. Itulah pandangan Harold tentang Aurel di kehidupan sebelumnya. Namun, saat mengingat tentang kematian Aurel di kehidupan sebelumnya. Harold berusaha untuk menekan emosinya, oleh karena itu saat pertemuan mereka kembali di kehidupan kedua Harold sekarang, Harold berusaha menyembunyikan rasa senangnya, dan memberi kesan buruk kepada Aurel agar dia membencinya. Hal itu semata-mata ia lakukan agar Aurel tidak dekat dengannya, dan terhindar dari marabahaya manapun. Akan lebih baik jika mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku pasti akan melindungimu, Aurel Bladeheart," bisik Harold di dekat telinganya. *** "H-Harold ... jangan menangis, k-kau seorang Ksatria suci, bukan?" Tangan Aurel yang gemetar membelai wajah Harold yang dibasahi dengan air mata. Sementara kedua tangannya diselimuti oleh darah, Aurel tidak peduli dan tetap menghapus air mata yang ada di wajah pria tersebut. Di sebuah medan perang, tepatnya di tempat dimana banyak mayat prajurit dan monster berserakan. Aurel terbaring lemah, dengan mulut yang mengeluarkan darah, dan badan yang sudah tidak memiliki banyak energi lagi. "A-aku .... tidak bisa melakukannya ... Melihatmu dalam keadaan seperti ini, aku ... aku—" Aurel segera mengusap wajah pria yang menangis untuknya, dia adalah Harold Sieghard. Seorang prajurit terbaik dari Ksatria suci Kerajaan Fuard, dan seorang yang memiliki pedang hitam kematian yang bernama Soul Eater, serta sebuah gelar yang bernama SWORDMANCER. "Semua akan baik-baik saja, Harold. K-Kau ... hanya harus melangkah maju seperti biasanya, hanya saja ... mungkin aku tidak akan bisa lagi melihat punggungmu itu. M-meskipun hubungan kita dulu hanya sebatas Tunangan politik yang dipaksakan oleh kedua orang tua kita ... waktu yang kuhabiskan denganmu sampai sekarang ini, aku sangat menikmatinya." Setelah menyelesaikan kalimatnya, tangan Aurel segera terjatuh. Kedua matanya mulai menutup, dan Harold membenci dirinya atas kelemahannya sendiri. Andai waktu terulang kembali, andai dirinya jauh lebih kuat daripada yang sekarang ini, andai saja dulu ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Aurel. Namun nasi sudah menjadi bubur, takdir tidak dapat diubah kembali. Semua perasaan Harold bercampur aduk, antara sedih, kesal, dan takut. Setetes air mulai turun dari langit, lalu disusul oleh tetesan air lainnya dan semakin banyak seiring dengan waktu berjalan. Hujan menghapus darah Aurel, dan membuat poni Harold yang menutupi wajahnya menjadi basah. tubuhnya gemetar, hatinya terasa tertusuk ribuan pedang yang tajam. "A ... Aaaaaaaaaa!!" Harold menangis dengan keras di tengah terpaan air hujan yang deras. Tangisannya tersebut, mengeluarkan berbagai kepedihan dan kesakitan yang luar biasa. *** "....." Aurel membuka matanya, ia mendapati dirinya sedang berada di dalam kamarnya, tepatnya sedang berbaring di atas ranjangnya. Air mata mengalir keluar di wajahnya dan tidak tahu apa penyebabnya. "Kenapa aku ...." Aurel memimpikan kejadian yang aneh tadi, saat dirinya pingsan. Ia melihat seorang pria yang mirip seperti Harold namun nampak lebih tua darinya, menangis dengan keras di bawah air hujan. Suaranya sangat serak, seperti mengandung kesakitan yang teramat sangat dalam. "Siapa, orang yang mirip seperti Harold itu?" Aurel bergumam, disaat itu pintu kamarnya terbuka. Pelayan setianya, Claire masuk dan nampak terkejut saat melihat bahwa Aurel sudah bangun dari pingsannya. Namun, ekspresi itu hanya beberapa saat saja sebelum Claire kembali merubah raut wajahnya menjadi tenang. "Nona Aurel, apakah Anda sudah merasa baikan sekarang?" tanya Claire sembari menyodorkan nampan yang diatasnya terdapat segelas air putih ke arah Aurel. "Aku baik-baik saja," Aurel menerima air putih tersebut, dan meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak ingat kejadian apa yang membuatku sampai pingsan, bisakah kau menceritakannya padaku, Claire?" "Dimengerti, waktu itu anda sedang melakukan duel dengan Tuan muda Harold, dan kemudian—" "Cukup, aku sudah mengingatnya dengan jelas sekarang." Aurel memotong Claire sebelum sempat menyelesaikan seluruh kalimatnya. Saat mendengar nama Harold, dia langsung mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. 'Lagi-lagi aku lepas kendali ya ...,' pikir Aurel, ia tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. "Apa yang terjadi dengan pria itu?" tanya Aurel sekali lagi. "Jika yang Nona maksud adalah Tuan muda Harold, dia sekarang sudah pulang bersama keluarganya," jawab Claire. "Aku mengerti, jadi apa yang ingin kau sampaikan? Dilihat dari gelagatmu sekarang, sepertinya kau tidak sedang kebetulan menjengukku saja bukan?" "Sebenarnya ...," Claire kemudian mengeluarkan secarik amplop dari dalam sakunya. Dilihat dari perangkonya yang terlihat mahal dan mewah, sepertinya ini bukanlah surat biasa. "Ayah Anda ingin saya memberikan ini kepada Nona" Mengambil amplop itu dari tangan Claire, Aurel mulai membukanya. "Akademi Notweir?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN