Aurel Bladeheart, adalah seorang anak bungsu dari pasangan Jason dan Emili Bladeheart. Memiliki kepribadian yang sangat bar-bar untuk wanita sepertinya, dia dicap sebagai seorang anak yang tidak berbakat di dalam keluarganya.
Namun, mereka hanya tidak mengetahui tentang potensi yang ada di dalam diri Aurel. Di masa depan nanti, Aurel akan menjadi seorang yang kuat dan ditakuti, bahkan julukannya yang merupakan 'Goddess of war' bukan hanya hiasan belaka.
Bahkan, dimasa depan Aurel dapat disandingkan atau disetarakan dengan Ether yang merupakan WARKING. Dia akan menjadi salah satu kandidat dari 7 Dewa terkuat di Nazarix.
Lalu, bagaimana dengan Harold? Itu akan tetap menjadi sebuah rahasia karena gelar SWORDMANCER Harold yang membuat orang lain bergetar setiap mengingat maupun menyebutkannya.
Dan sekarang, Aurel sedang memimpin Harold untuk berjalan-jalan di sekitar Mansion keluarganya. Berjalan di lorong-lorong sambil melihat banyak foto dan lukisan, sejujurnya Harold tidak peduli akan hal itu. Namun ia hanya harus mengikuti arusnya saja.
Hingga tidak lama kemudian, mereka masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut hanya kosong, atau lebih tepatnya hampa karena tidak terlihat satupun benda yang berdiri maupun terlihat di ruangan ini.
Hanya ada beberapa senjata, yang terpajang di dinding. Seperti pedang kayu, tongkat, dan beberapa perlengkapan pelindung lainnya. Harold nampak bingung, karena ini sama sekali berbeda di kehidupan sebelumnya.
Di kehidupan sebelumnya, Aurel akan membawanya ke kebun dan terus berjalan dalam diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Namun, yang ada disini adalah berbeda. Aurel membawa Harold ke dalam sebuah ruangan yang entah apa fungsinya.
'Apakah ini dikarenakan aku yang telah menyelamatkan Elena sehingga dia tidak jadi dibunuh?' pikir Harold.
Di kehidupan sebelumnya, Harold sama sekali tidak menyelamatkan Elena dan membiarkannya untuk dibunuh begitu saja. Mungkin kejadian itulah yang memicu penyimpangan alur cerita ini.
Baiklah, kesampingkan itu dahulu. Apa yang akan gadis itu perbuat dengan membawanya masuk ke dalam ruangan yang entah apa fungsinya ini.
Kemudian, Aurel mengambil dua pedang yang tertempel di dinding ruangan. Lalu melemparkan satu ke arah Harold, Harold langsung saja menangkapnya dengan mudah. Kemudian mulai mengerutkan dahinya karena tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Aurel mengarahkan ujung pedang kayunya ke Harold. "Harold Sieghard, aku ... Aurel Bladeheart, menantangmu bertarung satu lawan satu."
'Sudah kuduga akan berakhir seperti ini' pikir Harold.
"Menantangku? Seorang yang bahkan tidak bisa menyentuhku walau sekali tidak pantas untuk melakukannya. Bagaimanapun juga, perbedaan kekuatan kita sudah sangat jelas, dan itu sia-sia untuk meladenimu."
"Apakah kau takut? Seorang 1blis sepertimu, yang menyepelekan nyawa manusia dengan hal kecil, aku akan mengalahkanmu disini, dan dengan begitu. Aku dapat membatalkan pertunangan kita dan membuktikan bahwa aku tidak kalah kuat darimu."
Aurel mulai dalam posisi bertarungnya. Namun, Harold masih menatapnya tanpa ekspresi, seolah-olah membiarkan padanya kalau 'kau boleh menyerang kapanpun kau mau' tetapi kelihatannya Aurel dan sekali tidak sadar akan hal itu. Harold mengerutkan keningnya, dan mendecakkan lidahnya dengan kesal.
"Kalau begitu, jika kau mampu memukul tubuhku satu kali. Aku akan menyerah dan membiarkanmu untuk melakukan apapun yang kau mau," balas Harold.
"Apa kau meremehkanku?"
"Tentu saja," jawab Harold dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya. Dan itu membuat Aurel semakin dibuat kesal.
"Aku akan membuatmu menyesali kalimatmu barusan!" setelah mengatakan itu, Aurel segera melesat ke arah Harold dengan kecepatan tinggi. Seperti yang diharapkan dari Dewi perang di masa depan.
Dan dengan begini, duel antara Harold Sieghard dan juga Aurel Bladeheart, resmi dimulai.
***
Aurel sangat membenci pria yang bernama Harold tersebut. Terlebih lagi mengenai rumor tentang keluarga Sieghard yang menyerang sebuah Desa dan membunuh para penduduknya yang tidak bersalah hanya karena mereka tidak membayar pajak selama satu bulan setengah. Aurel tidak dapat membendung emosinya lagi saat melihat wajahnya secara langsung.
Tatapan dingin dan hati sekeras batu itu, membuatnya terkesan menyepelekan orang lain dan suka merendahkan sesuka hatinya. Kedua tangan yang memegang pedangnya bergemetar, namun bukan perasaan takut yang dialami Aurel. Melainkan itu adalah perasaan marah dan ingin memberi pelajaran pada pria sampah itu.
'Akan kubuat dia menyesal karena telah meremehkanku.'
Memantapkan kalimat itu di dalam hatinya, Aurel segera berlari ke arah Harold dengan cepat. Di depannya, Harold masih sama sekali tidak bergerak bahkan satu sentimeter pun. Itu membuat Aurel semakin kesal dan ingin mengalahkannya dengan cepat.
Berjarak sekitar dua meter, Aurel mengayunkan pedangnya secara horizontal dengan cepat dan sekuat tenaga. Namun, apa yang terjadi adalah, semu serangannya dapat ditangkis dengan mudah. Bahkan Aurel tidak tahu kapan Harold menggerakkan pedang kayunya tersebut.
Aurel segera menjaga jarak setelah mengetahui bahwa serangan pertama yang dilancarkannya telah gagal.
"A-apa yang terjadi?!"
Aurel nampak bingung dengan gerakan Harold yang sama sekali tidak terlihat itu, dan bahkan Harold masih menatap dengan sangat merendahkan. Membuat Aurel mendecakkan lidahnya, disaat ia ingin menyerangnya untuk kedua kalinya. Harold mulai angkat suara.
"Apa kau yakin ingin melawanku dengan menggunakan pedang rusak seperti itu? gadis Gorilla!"
"Apa yang—"
Sempat ingin marah karena telah dihina oleh Harold, namun kalimatnya tersendat saat melihat pedangnya yang sudah patah menjadi dua bagian. "Sejak kapan?" itulah yang ada di pikiran Aurel. Dari sini, matanya mulai melebar, "Apakah itu sejak seranganku yang ditangkis sebelumnya?"
Hanya itu saja kesimpulan yang Aurel dapatkan, ia dapat melihat senyum puas di wajah Harold. Itu membuat amarah Aurel semakin bergejolak di dalam hatinya. Dia tidak ingin kalah, setidaknya tidak dengan pria itu, pria sampah itu harus diberi pelajaran.
"Dengan ini sudah jelas pemenangnya bukan? Kau tidak dapat menang dariku meski kau sudah mengeluarkan segenap kekuatanmu, sadarilah posisimu sendiri, Incompetent."
Kalimat "Incompetent." (tidak berbakat) membuat emosi Aurel semakin bergejolak. Tubuhnya semakin bergetar, dan Mana mulai meledak dari tubuhnya. Harold memiliki firasat buruk tentang hal ini, dari ingatannya, Aurel memiliki kapasitas Mana yang cukup bisa dibilang banyak. Hanya saja dia tidak tahu cara mengendalikannya dengan benar.
Nah, apa yang terjadi jika dia tersulut emosinya? Itulah hal yang terburuk yang sempat Harold pikirkan.
"Harold Sieghard, aku berubah pikiran. Disini dan sekarang juga, aku akan melenyapkan kau dari dunia ini." Aurel menatap Harold dengan mata yang seperti ingin menangis, mungkin kata 'Incompetent' sebelumnya memanglah kalimat yang tabu untuk di ucapkan. Kali ini Harold telah menginjak sebuah ranjau.
Udara di sekitar mulai bergetar, Harold segera memasang sikap bertarungnya untuk berjaga-jaga. Lalu, tidak lama setelah itu, dari lantai di belakang Aurel muncul beberapa akar-akar tanaman yang sangat banyak dan menggeliat disana dan kemari, itu adalah sihir tanaman yang dimiliki oleh Aurel Bladeheart.
Dan seperti yang sempat Harold pikirkan sebelumnya, tentang Aurel yang tidak dapat mengendalikan Mana miliknya dengan baik, yang artinya itu adalah bahwa dia juga tidak akan mampu mengontrol sihirnya sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Akar-akar tersebut, mulai bergerak secara acak, beberapa dari mereka menabrak dinding-dinding ruangan, dan sisa dari mereka menyerang Harold.
Namun....
SLASH!!
Harold mampu membelah akar akar itu sebelum sempat menggapainya, tetapi akar yang dipotong tersebut segera tumbuh kembali, dan membentuk seperti sedia kala seolah-olah serangan Harold sebelumnya tidak pernah terjadi.
'Ini akan cukup memakan banyak waktu, sihir yang memiliki regenerasi akan menguras banyak Mana. Dan jika sihirnya itu menyerap habis Mana penggunanya, tidak salah lagi bahwa gadis itu akan mati karena kekeringan Mana.' pikir Harold.
Ini adalah situasi yang cukup rumit, jika Aurel mati. Maka masa depan akan banyak berubah, dan Harold akan kesulitan untuk mencegah kejadian karena eksperimen Raja Philips nantinya.
"Kurasa tidak ada pilihan lain ...." Harold mulai menutup matanya, dan memfokuskan seluruh Mana miliknya ke pedang kayu tersebut.