Besoknya, mentari sudah muncul kembali di ufuk timur. Burung-burung berkicau, nampak merdu di langit. Cuaca hari ini sangat cerah, seharusnya tidak akan ada badai maupun hujan yang akan menerpa hari ini.
Naik di kereta kuda, Harold duduk di dalamnya. Ditemani oleh kedua orang tua tirinya, Louise dan juga ibu tirinya yaitu Marline Sieghard. Dia adalah seorang wanita dengan memakai gaun one piece mewah dan banyak aksesoris mahal yang dikenakannya.
Motif yang terukir di kereta kuda yang Harold naiki menunjukkan seberapa mewah dan kayanya keluarga Sieghard. Meskipun mereka bangsawan tingkat menengah, namun tetap saja mereka masih memiliki otoritas atas wilayahnya masing-masing.
Melihat ke luar jendela, Harold memandangi padang rumput yang luas, yang setiap rumputnya terhelai karena terpaan angin sejuk di pagi hari. Membuat suasana hati menjadi damai dan tenang, setidaknya begitulah menurutnya.
Sekarang, Harold sedang menuju kediaman keluarga Bladeheart. Dimana ia akan ditunangkan dengan seorang gadis yang bernama Aurel Bladeheart. Meski itu bertentangan dengan keinginan Harold, namun untuk saat ini ia tidak dapat menolak otoritas dari kedua orang tua tirinya tersebut.
Harold sudah memikirkannya, bahwa setelah ini ia akan memutuskan untuk mendaftar di Akademi Notweir, Akademi sihir paling bergengsi di Kerajaan ini. Karena di kehidupan sebelumnya Harold belum pernah disana karena menurut orang tuanya Harold sudah berbakat dan tidak perlu untuk belajar sihir lagi.
Ternyata itu semua salah, Harold menyadari kelemahan pada sihirnya. Dan itu menyadarkannya, bahwa tidak ada seorang yang benar-benar berbakat di dunia ini.
'Mungkin dengan mendaftar di Akademi Notweir, aku akan menyimpang dari masa depan yang kuharapkan. Karena di kehidupan yang sebelumnya, aku sama sekali tidak terlibat di tempat itu.' pikirnya.
Benar, mungkin masa depan akan berubah saat Harold mendaftar masuk Akademi. Namun, Harold merasa bahwa itu tidak akan berubah banyak. Karena dirinya tidak benar-benar melakukan sesuatu yang terlalu berlebihan hingga merubah garis besar masa depan.
Agar ia dapat menghindari Tragedi yang dibuat Raja Philips, Harold harus dapat membuat alur cerita tidak berubah terlalu banyak.
"Kita sampai Tuan ...."
Sang kusir berkata, sambil menghentikan laju kereta kuda. Harold yang sedari tadi menatap keluar jendela karena tidak tahu harus berbuat apa, kini mulai berpaling dan keluar dari kereta kuda setelah orang tuanya.
Dan yang benar saja, di depan mereka sudah terdapat Mansion yang lebih besar dari keluarga Sieghard. Inilah Mansion yang dimiliki oleh bangsawan kelas tinggi seperti keluarga Bladeheart. Harold sudah pernah melihatnya di kehidupannya dulu, namun melihatnya lagi masih lah terasa menakjubkan.
Seorang pelayan datang menghampiri Harold dan keluarganya, dia memiliki rambut panjang bewarna hijau dan terlihat lebih tua dari Lilia.
"Selamat datang Tuan Sieghard, Saya adalah Claire, majikan saya sudah menunggu kehadiran Anda sekalian didalam"
Pelayan yang bernama Claire tersebut menyapa dengan anggun dan penuh Hormat. Harold pun nampak takjub akan hal itu, setelahnya, dia menuntun mereka untuk masuk ke dalam mansion. Harold juga berpesan kepada dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak bicara, karena setiap kali ia berbicara maka hanya akan keluar kata kata sarkastik belaka.
Masuk ke dalam Mansion, terdapat dua sofa yang saling berhadapan di tengah ruangan, dengan sebuah meja yang lumayan besar memisahkannya.
Disana terdapat seorang pria tua berjenggot dan berambut pirang, serta memiliki penampilan yang eksentrik, duduk di sofa ditemani oleh wanita cantik yang terlihat berwibawa. Duduk ditengah-tengah mereka berdua adalah seorang gadis kecil yang seumuran dengan Harold, dia memiliki rambut pirang seperti ayahnya dan matanya yang merah seperti buah delima.
"Selamat datang di kediaman Bladeheart. Kalian para keluarga Sieghard."
***
"Jadi dia yang bernama Harold?"
Saat ini Harold bersama dengan orang tuanya sedang duduk berhadapan dengan keluarga Bladeheart. Pria yang sedikit paruhbaya dan berambut pirang tersebut adalah kepala keluarga Bladeheart, dia adalah Jason Bladeheart. Sedangkan untuk wanita yang duduk tidak jauh darinya adalah Emili Bladeheart, dia adalah istri dari Jason.
Lalu, seorang yang duduk ditengah-tengah mereka adalah seorang gadis yang berusia sama seperti Harold, Aurel Bladeheart. Orang yang akan menjadi tunangannya.
Mereka menatap secara intens, dari tatapannya. Harold sudah dapat menyimpulkan bahwa anak itu benar-benar menentang pertunangan ini.
"Jadi seperti ini rupa anak yang berbakat itu. Dilihat dari parasnya yang menawan dan tatapan matanya yang dipenuhi oleh tekad. Sepertinya Anda memiliki bibit yang menjanjikan, Tuan Louise," kata Jason sambil mengelus janggutnya.
"Hahaha. Terimakasih atas pujiannya Tuan Jason. Tetapi anak Anda Aurel juga tidak kalah menawannya. Seperti yang diharapkan dari salah satu keluarga bangsawan tingkat atas Bladeheart," jawab Louise.
"Ngomong-ngomong Nyonya Marline. Seperti biasa Anda juga selalu tampil cantik dan elegan dimanapun," kata Emili.
"Begitupun dengan Anda Nyonya Emili. Dimanapun tempatnya Anda selalu anggun dan berwibawa. Tuan Jason pasti sangat senang memiliki Anda."
Percakapan mengalir begitu saja. Mereka semua berbincang-bincang satu sama lain dan saling memuji untuk membangkitkan hubungan yang lebih dekat dan lebih baik. Seperti itulah, sementara itu Harold dan Aurel sama sekali tidak mengatakan sepatah kata apapun. Saat Harold meminum teh yang disiapkan, Aurel terus menatapnya dengan tatapan tajam. Jujur itu sangat mengganggu.
"Nah, sekarang Aurel. Kenapa kau tidak mencoba mengajak Harold berkeliling Mansion kita?" pinta Jason.
Aurel berdiri dengan raut wajah masamnya. "Aku menentangnya! Aku tidak ingin pertunangan ini terjadi. Lagipula aku sudah mendengar rumornya, bahwa mereka adalah orang jahat yang telah membunuh banyak orang hanya karena hal sepele!"
"Aurel! Jaga sikapmu dan minta maaflah!"
"T-tapi ...."
"Apa kau mau melawan perintah Ayahmu?" Jason melotot dengan tajam. Hingga membuat Aurel langsung terdiam seribu bahasa.
Aurel mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sambil meremas rok dari gaunnya. Dia juga merapatkan mulutnya, seolah menahan kata-kata yang ingin keluar. Aurel tahu bahwa Ayahnya adalah sosok yang keras kepala, jadi tidak peduli apapun pendapatnya, Ayahnya tidak akan mendengarkan. Karena Jason sudah terlalu dibutakan oleh nafsu duniawi seperti kekayaan dan posisi.
Bagi keluarga Bladeheart, Harold adalah sosok yang sempurna untuk membuat keturunan yang berkualitas. Sedangkan untuk keluarga Sieghard, pertunangan ini adalah hal yang penting, dengan membuat hubungan dengan keluarga bangsawan tingkat atas, maka status mereka juga akan terangkat
Tentu saja bagi Jason itu adalah kesempatan emas untuk menghasilkan keturunan yang memiliki energi sihir yang sangat berkualitas. Namun hanya sebatas itu, mereka menganggap hubungan manusia. Hanya melihat keuntungan dan bukannya perasaan satu sama lain, itu juga berlaku pada keluarga Sieghard.
Hati mereka telah dirusak oleh hal duniawi. Hingga secara tidak sadar, mereka telah menyakiti, dan memberi pemberitaan melalui pengorbanan orang lain yang sama sekali tidak berkaitan (tidak bersalah).
Sifat manusia yang seperti itulah, yang bagi Harold dan Aurel, sangat menjijikkan.