Chapter 2

1958 Kata
Desa Horen, adalah Desa yang terletak paling pinggiran dari wilayah kekuasaan keluarga Sieghard. Desa itu sangat miskin sehingga para penduduknya tidak bisa membayar pajak bulanan. Tidak, bahkan untuk makan dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari saja mereka sudah sangat kesusahan. Oleh sebab itu karena Ayah tiri Harold. Louise Sieghard tahu bahwa pajak mereka menunggak. Dia segera mengambil tindakan dengan menghancurkan desa itu dan menjual para penduduknya sebagai b***k. Para b***k akan dijual ke kerajaan lain atau bangsawan lainnya sebagai ganti hutang pajak mereka. Selain itu, peristiwa ini juga akan memicu bendera kehancuran dimasa depan. Dimana salah satu anak dari penduduk Desa itu akan membalas dendam dan membunuh semua anggota keluarga Sieghard dimasa depan nanti. Harold harus menghentikannya. Meski kelakukan orang tuanya buruk, tapi Harold tetap memerlukan mereka untuk menopang sumber daya saat latihannya nanti. Sekarang Harold sampai di Desa tersebut. Pemukiman kumuh yang dimana para penduduknya memakai pakaian yang kusut, kotor dan bahkan rusak. Saat kereta kuda Harold memasuki gerbang desa, para penduduk desa langsung bersembunyi masuk ke rumah. Wajar saja karena kereta kuda yang dikenakan oleh Harold saat ini memiliki lambang keluarga Sieghard di pintu bagian luarnya. "Tuan Muda, kita sudah sampai." Harold keluar ditemani oleh Lilia. Lalu disusul oleh Zoe dan dua Knight Prajurit lainnya. Harold melihat kondisi Desa yang kumuh. Seolah mencari sesuatu. "Tuan Muda, sebenarnya apa yang Anda cari di tempat seperti ini?" tanya Lilia dengan heran. Sepertinya pasukan Knight yang dikirim oleh Ayahnya untuk menghancurkan Desa ini masih belum sampai. Setidaknya Harold masih memiliki waktu untuk melakukan persiapan. Dia berjalan-jalan sebentar, Lilia dan dua Knight yang menjaganya mengikutinya dengan sangat khawatir. "Tuan Muda Harold. Seharusnya Anda tidak melakukan tindakan yang—" "Hei! Kalian para sampah. Siapa nama kalian?" tanya Harold pada dua Knight tersebut. "Eh? Ya, namaku Regard." "A-aku Bones." "Kalian sampah tidak berguna. Aku perintahkan untuk berjaga didepan gerbang Desa. Katakan sesuatu jika kalian melihat seseorang atau kelompok pasukan yang datang kemari." "Pasukan?" "Kalian tuli, ya?!" "T-tidak. Kami akan segera kesana." Mendapat perintah Harold. Kedua Knight tersebut langsung pergi melaksanakan tugasnya. Sekarang tinggal Harold dan Lilia sendirian. Yang diperlukan Harold sekarang hanyalah mencari orang yang bernama Elena, dimana dia adalah ibu dari anak yang akan membalas dendam dengan membunuh orang tua tirinya dimasa depan. Namanya adalah Charlotte. Harold berjalan menelusuri desa. Mengatakan kepada Lilia dan Zoe bahwa dia mencari seorang wanita yang bernama Elena. Mereka berdua awalnya gagal paham tentang maksud Harold datang ke desa ini. Tapi akhirnya mereka tetap memenuhi perintahnya. Lilia dan Zoe bertanya kepada penduduk Desa sekitar. Sedikit memakan waktu karena tampaknya penduduk ketakutan dengan bangsawan Sieghard. Yah bisa dimaklumi saat mengetahui bahwa Sieghard memiliki reputasi yang buruk di mata masyarakat. Tapi setelah beberapa menit kemudian akhirnya Lilia dan Zoe mendapatkan informasi mengenai rumah dari orang yang bernama Elena. Rumahnya terletak di bagian selatan Desa dekat dengan hutan yang rimbun. Tanpa berbasa-basi lagi Harold segera bergegas kesana. Ditemani oleh Lilia dan juga Zoe. Hingga tidak lama kemudian mereka semua sampai didepan sebuah rumah yang terlihat reyot dan sederhana. Lilia mengetuknya. Lalu terdengar suara pintu terbuka dari dalam. "A-anu, ada apa—" Seorang wanita mengintip dari balik pintu yang dibuka sedikit. Namun, saat dia melihat wajah Harold dia langsung menutup pintunya kembali. Perilaku yang tidak sopan seperti apa itu? Karena terkejut Lilia dan Zoe kembali mengetuk untuk kedua kalinya. Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka. "M-maafkan saya, tadi saya sedikit terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Tuan Muda di rumah kami." "Apa Anda yang bernama Elena?" "Ya, saya sendiri." "Tuan Muda ingin membicarakan sesuatu dengan Anda." Elena menatap Harold dengan ragu-ragu. Tapi pada akhirnya dia membukakan pintu dan menyuruhnya untuk masuk. Lilia dan Zoe juga ikut masuk. Mereka duduk di ruang tamu sementara Elena duduk di sofa seberang. Mereka saling menatap, dan bahkan Lilia mencoba mengorek informasi dari wanita yang bernama Elena tersebut. "Nona Elena, jika boleh tahu dimana suami Anda sekarang ini?" "Ah, dia sudah tidak ada. Tapi meski begitu, saya masih bisa mencukupi kebutuhan kami dengan bekerja sebagai Pelayan di rumah kepala desa." Merasa bahwa dia telah mengungkit masa lalu yang buruk. Lilia meminta maaf kepada Elena yang dibalas dengan gelengan kepala seolah mengatakan, "Tidak apa-apa. Jangan khawatir." Sekarang Harold jadi mengerti kenapa Elena dipilih sebagai Pelayan di Keluarga Sieghard dimasa depan nanti, dan mungkin itu ada hubungannya dengan pekerjaan yang sama. Tidak lama kemudian dari arah dapur. Datang seorang gadis membawa nampan yang diatasnya berisi tiga buah gelas yang berisi teh panas. Tatapan Harold dan gadis itu bertemu. Tidak salah lagi, dia adalah Charlotte, anak dari Elena yang akan membunuh kedua orang tua tirinya di masa depan nanti. Charlotte seumuran dengannya. Setelah meletakkan tiga gelas itu diatas meja. Charlotte duduk disamping ibunya. "Mohon maaf karena hanya minuman murah yang bisa saya sajikan untuk Anda. Tuan Muda. Silahkan dinikmati." Harold tidak merespon kata-kata Elena. Tetapi matanya masih terpaku pada Charlotte. Mereka berdua kelihatannya tidak nyaman jadi Harold memutuskan berhenti untuk menatapnya. Harold menatap tegas Elena. "Hei, kau ... segera pergilah dari Desa kotor ini." *** "Hei, kau ... segera pergilah dari Desa kotor ini." "Maaf?" Tentu saja. Kata-kata mendadak dari Harold itu membuat semua orang dalam ruangan itu terkejut. Bahkan Lilia dan Zoe pun memasang wajah keterkejutan yang sama. Harold harus menyelamatkan kedua orang ini, jika ingin merubah masa depan menjadi lebih baik. "Apa kau masih tidak dengar apa yang kukatakan?! Cepatlah tinggalkan Desa ini secepat mungkin. Ini perintah." "T-tapi, kenapa Tuan Muda? Ini sangat tiba-tiba." "Jika kalian—" "Gawat!! Tuan Muda. Ada sekelompok pasukan berzirah yang datang di arah utara Desa ini!!" Saat Harold ingin menyampaikan sesuatu. Regard dan Bones datang mendobrak pintu rumah dengan nafas yang terengah-engah. Wajah mereka berkeringat. Lilia dan Zoe langsung menghampirinya bersama dengan Harold. "Apa yang terjadi. Pasukan berzirah?" tanya Lilia. "Ya, terlebih lagi mereka adalah pasukan milik keluarga Sieghard. Kita sendiri." "Apa katamu?" Zoe terkejut. Kemudian mereka semua melihat ke arah Harold. Untuk melihat reaksinya. Sementara itu, Harold mendecakkan lidahnya dengan kesal. Dia menggigit lidahnya hingga mengeluarkan darah tapi tidak ada yang menyadari hal itu. Harold mengelapnya, semua ini sudah terlambat. Pasukan yang Ayahnya kerahkan telah datang di tempat ini. Masa lalu akan terulang kembali jika peristiwa ini berjalan semestinya. Harold sebisa mungkin harus menyelamatkan dua orang ini bagaimanapun juga caranya. "Tuan Muda Harold. Kumohon jelaskan kepada kami apa yang terjadi. Jika kami tidak mengetahui apapun maka kami akan sulit untuk mengerti situasi saat ini," kata Lilia. Harold berpikir. Mungkin dia harus tetap menceritakannya kepada orang-orang ini. "Itu adalah pasukan yang Ayah tiriku kirim untuk menghancurkan Desa ini dan menjual para penduduknya sebagai budak." "Tidak mungkin." Mendengarnya, ekspresi semua orang berubah drastis. Terutama adalah Elena dan Charlotte. Charlotte yang tadinya membawa nampan langsung menjatuhkannya ke lantai. Mulutnya terbuka dengan lebar. "Oleh sebab itu kalian berdua harus—" "Tidak! Tidak mau!! Aku tidak mau meninggalkan Desa ini apapun yang terjadi!!" Sebelum Harold menyelesaikan kalimatnya. Charlotte langsung berteriak dengan keras sambil menolak. Perbuatannya itu menimbulkan tanda tanya besar di benak Harold dan yang lainnya. "Mereka semua, penduduk Desa. Semuanya orang baik. Jika aku harus meninggalkan mereka lebih baik aku tetap disini dan menghadapi masalah bersama-sama. Mungkin Tuan Muda tidak mengerti, tapi bagi kami yang merupakan penduduk kecil di Desa yang hampir hancur ini. Kami semua adalah keluarga. Bangsawan seperti kalian mana tahu rasanya!!" "Charlotte!" Charlotte berlari keluar. Sekilas saat Harold dan dia berpas-pasan. Harold dapat melihat air mata mengalir di matanya. Dia menangis, Harold memang tidak terlalu ahli dalam menilai perasaan orang lain. Tapi setidaknya dia juga mengerti jika itu menyangkut masalah keluarga. Itu benar, mungkin bagi Charlotte. Semua orang yang ada di Desa ini adalah keluarganya. Harold dulu juga pernah tinggal di Desa. Para Penduduk Desanya juga baik dengannya serta keluarganya. Jadi setidaknya Harold paham tentang perasaannya itu. "T-Tuan Muda. Mohon maafkan anak saya. Saya akan memarahinya nanti," ucap Elena dengan panik. "Hei, pelayan." "Ya, Tuan Muda." "Aku punya tugas untukmu." *** Sementara itu dilain sisi Charlotte berlari dan terus berlari hingga bersembunyi di dalam hutan. Dia meringkuk dibalik pohon besar yang ada disana. Menutup mukanya dengan kedua lututnya. Tangisnya tersedu-sedu, Charlotte meremat kedua tangannya dengan erat. Harold tidak salah. Dia menawari bantuan kepadanya untuk meninggalkan Desa dan menyelamatkannya. Tapi entah kenapa Charlotte tidak bisa menerimanya begitu saja. Karena, semua penduduk Desa sudah baik kepadanya. Semenjak kematian Ayahnya, para penduduk Desa sangat baik terhadap Charlotte dan Elena. Bahkan mereka turut berbelasungkawa dan membantu memberi Elena pekerjaan sebagai pengganti kepala keluarga. Mereka sudah banyak membantu, oleh sebab itu ketika mendengar bahwa mereka semua dalam bahaya. Charlotte tidak bisa meninggalkannya begitu saja. "Apa yang harus aku lakukan?" Untuk sekarang. Charlotte hanya bisa meringkuk tidak berdaya. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan bingung harus bagaimana. Pikirannya mengalami kebuntuan. Antara memilih meninggalkan Desa ini atau menetap di Desa ini. Disaat Charlotte sedang bimbang. Tiba-tiba dari semak-semak disampingnya terdengar suara. "Huwaa!" "Diamlah sialan!" Charlotte mengira bahwa itu adalah ular atau tikus. Tapi saat mengetahui bahwa yang keluar adalah Harold. Charlotte sangat terkejut. "T-Tuan muda. Apa yang Anda lakukan disini?" tanya Charlotte dengan panik. "Itu karena kau yang tiba-tiba pergi begitu saja bodoh. Sekarang ikutlah aku. Jangan membantah dan jangan melawan." "Tidak!!" Sekali lagi, Charlotte memberontak saat Harold mencoba menarik tangannya untuk kembali. Harold melihat wajah Charlotte yang diselimuti oleh air mata kesedihan, kedua tangannya mengepal kuat-kuat ujung rok yang dia pakai. "Maafkan kelancanganku Tuan Muda. Tapi seperti apa yang saya katakan sebelumnya. Bahwa saya akan tetap disini bersama dengan Penduduk Desa lainnya." Harold menggaruk rambutnya yang tidak gatal dengan kesal. "Tch! Merepotkan sekali. Kalau begitu aku hanya harus membawa seluruh penduduk untuk keluar dari Desa kotor ini bukan?!" "Eh?" Charlotte terkejut saat mendengar kata-kata. Harold. Namun sebelum dia sempat memahaminya, Harold sudah menarik tangannya kembali. Kali ini tarikannya sangat kasar dan membuat tangan Charlotte kesakitan. *** Harold dan Charlotte sampai di hutan yang berada di sisi timur Desa. Hutan itu lebat jadi Pasukan Ayah tiri Harold tidak akan menemukan mereka dengan mudah. Disaat itulah Charlotte terkejut, bahwasanya disana sudah terkumpul banyak orang. Atau lebih tepatnya adalah seluruh Penduduk Desa Horen. "Tuan Muda Harold, sesuai perintah Anda saya sudah mengumpulkan seluruh penduduk Desa di lokasi ini." "Bagaimana dengan kereta kuda dan persediaannya?" "Zoe, Regard dan Bones sedang mempersiapkannya. Tidak lama lagi mereka pasti akan segera datang." Seperti yang dikatakan oleh Lilia. Tidak lama setelah itu beberapa orang datang dari balik semak-semak belukar. Zoe, Regard dan Bones. Mereka membawa banyak sekali kuda yang digiringnya kemari. Harold dan Lilia menghampirinya. "Tuan Muda. Hanya ini kuda yang bisa kami semua kumpulkan. Maafkan saya, Pasukan milik Tuan Louise sudah memasuki Desa jadi kami tidak bisa berlama-lama disana." Zoe membungkuk. "Tch! Mau bagaimana lagi." Kemudian Harold naik diatas batu yang besar. Sambil melihat sekumpulan penduduk Desa yang berada lebih rendah darinya. Semua tatapan orang terpaku padanya. Kali ini Harold harus berdoa agar berhasil. Tidak, tetapi kali ini harus berhasil. Harold harus merubah masa depan dan mencegah peristiwa yang akan merenggut nyawa orang tua kamdungnya dimasa depan. "Dengar kalian para sampah tidak berguna!! Aku Harold Sieghard. Kalian akan meninggalkan tempat buruk itu dan pergi ke tanah kosong yang bernama Kornel. Disana bangunlah kembali rumah-rumah buruk kalian dan hiduplah jauh dari tanah Sieghard." Mendengar kata-kata Harold, mata semua orang terbelalak. Terutama adalah Charlotte dan juga Elena yang ada disana. "Itu ... artinya ...." Benar, perintah Harold adalah menyuruh semua penduduk Desa disini untuk bertransmigrasi ke tanah kosong yang bernama Kornel. Dalam artian lain adalah, Harold sudah memutuskan bahwa dia tidak hanya menyelamatkan Charlotte dan Elena melainkan seluruh penduduk Desa ini dengan memindahkan mereka semua. Untuk biaya pembangunan. Harold sendiri yang akan menanggungnya. Harold sudah memberikan beberapa kantung emas kepada Elena untuk dibagi rata saat sampai di tanah kosong nanti. "T-Tuan Muda!" "Apa?" Harold menjawab dengan sikapnya yang arogan seperti biasa. Menoleh ke arah Charlotte dan Elena yang berada tidak jauh darinya. Kedua mata Harold melebar, saat melihat mereka berdua yang menundukkan kepala dalam-dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN