Fajri membawa Lavly ke sebuah mansion mewah yang sudah Lavly tau itu adalah kepunyaan keluarga Ranendra. Begitu sampai sudah ada beberapa pelayann yang menyambut mereka. Tak lupa sang supir yang tadi mengantarkan mereka, sudah bersiap di depan pintu MPV hitam itu dan segera membukakan pintu untuk tuan kesayangannya.
“Silahkan Tuan,” ucap lelaki berpakaian serba hitam yang terlihat rapi.
“Terima kasih,” Fajri langsung turun dari singgah sananya dan segera berdiri di samping pintu Lavly. “Ayo turun!” ajak Fajri yang kemudian mengulurkan tangannya ke arah wanita cantik yang sedari tadi diam saja selama perjalanan.
“Tidak usah sok baik!” ucap Lavly yang benar-benar tak suka dengan perlakuan Fajri padanya.
Wanita itu langsung menepis uluran tangan Fajri dan segera turun dari kursi yang tadi di dudukinya. Lelaki itu bahkan sudah jelas tau jika Lavly sudah memiliki kekasih. Sekarang malah Fajri membawanya ke mansion kedua orangtua lelaki itu. Lavly bahkan masih tidak tau apa tujuan Fajri membawanya ke sana. Ketika di jalanpun, Fajri sama sekali tidak bicara apapun mengenai tujuan lelaki itu membawanya kesana. Padahal seharusnya, ia sedang bersama dengan Vasant untuk melepaskan rindunya pada sang kekasih. tapi sekarang malah harus dibawa kesini.
“Jangan sok galak, aku tau kamu sebenarnya juga menginginkanku.” Bisik Fajri pada Lavly yang kini masih setia mematung di tempatnya.
Mendengar kalimat itu, Lavly langsung membulatkan matanya tak percaya. Lavly juga mengerucutkan bibirnya tanda ia benar-benar tak suka dengan ucapan Fajri. Karna tadi sempat ditolak ketika ia mengulurkan tangannya. Fajri akhirnya mengambil tangan Lavly lagi dan mengisinya dengan jari-jarinya.
“Jangan membantah, karna di dalam ada kedua orangtuaku dan beberapa tamu kehormatan keluarga kami. Jadi kamu bersikaplah yang baik pada mereka.” Fajri memperingatkan Lavly.
Saat itu pula, Lavly harus mempersiapkan diri dengan segala apapun yang terjadi di dalam sana. Ia tentu tau kemana arah pembicaraan Fajri saat ini. karna Lavly tak mau mempermalukan Fajri terutama mempermalukan dirinya sendiri, ia akhirnya menuruti ucapan Fajri. Lelaki itu langsung tersenyum mendapati jika dirinya sedikit banyak sepertinya berhasil untuk membuat Lavly tidak berontak ataupun melawan.
Mobil Lavly sudah terparkir di halaman mansion itu. Ya, itu adalah salah satu kebohongan Fajri padanya hari ini. Lavly tau mungkin ini adalah cara lelaki itu membuat dirinya tidak kabur ataupun melawannya untuk dibawa ke mansion keluarganya. Paling tidak, Lavly harus meminta pertanggung jawaban dari Fajri untuk mengantarkannya pulang malam ini dari sana. Karna, mansion keluarga Ranendra agak jauh dari perkotaan.
Memang keluarga itu, sepertinya suka dengan suasana asri yang banyak pepohonan di sekitar tempat tinggal mereka. Karna nyatanya, mereka membangun mansion megah di tengah hutan pinus dan perjalanan kesana hampir memakan waktu sekitar dua jam. Siapa yang mau jika harus menyentir pulang sendirian malam-malam dari sana. Tentu Lavly takkan mau melakukannya.
Sesampainya di dalam mansion, Fajri mengajak Lavly untuk berkenalan dengan beberapa tamu yang ada. Lavly nampaknya sedikit kesal dengan status yang diucapkan Fajri pada beberapa tamu undangan yang hadir disana. Lavly bahkan memasang senyum kecut karna nyatanya Fajri memperkenalkannya sebagai calon istrinya. Walaupun bukan acara yang formal, tapi tentu saja Lavly merasa dijebak oleh Fajri jika keadaannya seperti itu.
“Aku buktikan janjiku, Om!” kata Fajri pada seorang lelaki yang Lavly sangat kenal.
“Jadi benarkan kamu suruhannya Papa!” ucap Lavly dengan wajah kesalnya.
Wanita itu bahkan langsung melepaskan genggaman tangannya di depan papanya dan ayah dari lelaki yang sudah membawanya ke mansion mewah itu.
Kedua pria paruh baya yang sedang berdiri di depan Lavly langsung terkekeh mendengar ucapan yang baru saja Lalvy ucapkan. Lavly malah dibuat sedikit terkejut dengan kekehan kedua pria yang begitu ia hormati itu. Bahkan tak dipungkiri juga jika Fajri sedang menertawakan dirinya.
“Kapan kalian akan menikah? Mira sudah berhasil melengkahi anak Om, Lav. Apa kamu tidak kasihan pada Anak Lelaki om yang tampan ini?” tanya Mirwan setelah menyelesaikan kekehannya.
“Menikah? Om jangan bercanda. Aku dan Fajri tidak ada hubungan apapun,” ucap Lavly yang terdengar kesal dengan pertanyaan Mirwan barusan.
Lavly tentu sudah sangat mengenal sahabat dari papanya itu. Lelaki itu terkenal dengan ucapannya yang selalu to the point.
“Ga Om, Lavly ga minat sama Fajri.” Tolak Lavly langsung di depan kedua lelaki yang begitu dihormatinya.
Padahal disitu ada Fajri juga, tapi Lavly seakan tak perduli jika kalimatnya sudah menyakiti lelaki yang masih setia berdiri di sebelahnya. Menatapnya dengan penuh harap, namun lagi-lagi dirinya harus tertolak oleh wanita yang sudah ia begitu inginkan untuk mendampinginya seumur hidupnya itu.
“Loh kenapa? Fajri tampan, sukses, pintar. Memangnya kamu masih menjalin hubungan dengan kekasih masa SMAmu itu?” selidik Mirwan.
Deg,
Jantung Lavly seperti ingin mencelos keluar. Ia bingung harus menjawab apa? sementara disana masih ada papanya yang tau jika hubungannya dengan Vasant sudah berakhir sejak lama. Walaupun sepertinya papanya memang sudah tau jika hubungannya dengan Vasant terjalin diam-diam di belakangnya.
“Mana Mira?” tanya Lavly yang langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Ia berusaha untuk acuh agar Mirwan tak terus menanyakannya dan mendesaknya menceritakan apa yang dirinya dan Vasant sekarang alami. wanita itu malah takut jika dirinya akan ketahuan dari papanya yang masih menatap dirinya dengan tatapan penuh selidik.
“Mira ada di atas sepertinya. Fajri, antarkan Lavly untuk bertemu dengan adikmu.” Titah Mirwan pada anak sulungnya itu.
“Baiklah,” kata Fajri yang sepertinya menuruti keinginan ayahnya.
***
“Memangnya kamu benar tidak mau menikah denganku?” tanya Fajri ketika mereka berdua sudah menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai 2.
“Dari awal aku sudah bilang kita ini hanya berteman saja, Faj. Kenapa kamu selalu mendesakku untuk menerima permintaanmu yang terkadang tak masuk akal itu.” Ucap Lavly dengan nada sinisnya.
Fajri tak menjawabnya. Ia hanya sedikit menggelengkan kepalanya pelan dan begitu sudah sampai di lantai 2 mansion itu, Lavly langsung diajak ke sebuah ruangan yang nampaknya itu adalah kamar seseorang.
“Masuk,” ucap Fajri yang baru saja membukakan pintu kamar itu.
Lavly melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalamnya. Kamar itu terlihat begitu rapi dan bersih. Didominasii warna abu-abu muda.
“Mana Mira?” tanya Lavly yang baru sadar jika tak ada Mira disana.
Bahkan tak ada siapapun. Lavly memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Fajri yang sedang berada di belakangnya. Fajri menyeringai. Tentunya, dengan pintu yang sudah ia tutup rapat-rapat dan kunci.
“Ga ada Mira ga ada di kamar ini. Ini kamar aku!” kata Fajri yang langsung melangkah mendekat.
“Faj, jangan macem-macem ya!” cegah Lavly pada lelaki yang sedemikian terobsesinya padanya.
“Siapa suruh kamu menolakku berkali-kali, aku tidak terima dikalahkan oleh siapapun Lav. Kamu bahkan sudah tau aku begitu mencintaimu. Dan aku juga tau kamu juga merasakan hal yang sama denganku. Tapi sayangnya, rasa cintamu terhalang oleh lelaki bernama Vasant itu kan?” Fajri terlihat semakin kesal.
Apalagi saat ia menyebutkan nama Vasant di dalam kalimatnya. Lavly menggeleng, ia tak tau harus berbuat apa sekarang.
“Aku akan teriak kalau kamu berani macam-macam ya, Faj.” Ancam Lavly.
Sepertinya hanya kalimat itu yang terlintas di otaknya.
“Silahkan saja, kamar ini kedap suara. Jadi takkan ada yang mendengar teriakanmu, Sayang.” Fajri semakin mendekat dan tatapan matanya tentu begitu tajam.
“Jangan Faj, aku mohon.” Kata Lavly dengan suara yang semakin terdengar bergetar.
“Aku tau, mungkin hanya dengan cara seperti ini kamu mau menerimaku.” Kata Fajri.
Namun sayangnya, tubuh Lavly malah membentur tembok di belakangnya. Saat itu pula, Fajri langsung merengkuh tengkuk Lavly dan mulai mendaratkan ciuman di bibir ranum Lavly yang begitu menggodanya sejak tadi. Lavly memberontak dengan memukul-mukul dadaa lelaki tampan itu. Namun sayangnya, tenaganya kalah kuat dari lelaki itu. Karna ciumannya tak kunjung dibalas oleh Lavly, Fajri langsung mencari cara untuk wanita itu mau membuka akses untuk dirinya mencecap rasa dari bibirnya.
“Buka bibirmu, Lav! Atau jika tidak, aku takkan segan-segan melakukan lebih dari ini!” ancam Fajri pada Lavly yang masih saja melesakkan pukulan di dadaa lelaki itu.
Tubuhnya sekarang benar-benar tehimpit dan tangannya sekarang dicengkram oleh Fajri. Sehingga tak ada lagi akses untuk Lavly melawan Fajri. Ciuman Fajri turun ke leher jenjang wanita itu. Bibir Lavly langsung meloloskan desaahan yang membuat Fajri tersenyum senang karna nyatanya, suara kenikmatan Lavly membuatnya senang.
“Apa ciumanku lebih baik dari Vasant?” bisik Fajri tepat di telinga Lavly.
Suara Fajri malah terdengar begitu menggoda bagi Lavly saat ini. Lavly hanya bisa menelan salivanya dan menutup matanya karna dirinya sedang bergairahh akibat ciuman lelaki di depannya itu.
“Akui aku lebih baik dari Vasant, Lavly!” Fajri mengatakan lagi kalimatnya dengan penuh penegasan.
Lavly membuang pandangannya ke arah lain. Tapi, sayangnya Fajri tak kehilangan akal. Ia langsung mencecap lagi kulit leher Lavly dan membuat wanita itu menjadi bergirahh lagi. Lelaki itu butuh pengakuan dari wanita yang begitu ia cintai itu. Bagaimanapun caranya Fajri tetap ingin Lavly menjadi istrinya. Suka atau tidak suka ia harus segera mendapatkannya.
***
“Kalau kamu mau menurut padaku. Maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Termasuk mengizinkanmu untuk tetap menjalin hubungan dengan Vasant.” Kata Fajri memberikan penawaran.
Lavly langsung menoleh pada Fajri. Matanya membulat sempurna. Ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Fajri yang baru saja ia lontarkan.
“Tapi itu jika kamu mau menurut dan mengikuti permintaanku.” Fajri sedikit menggoyangkan gelas berkaki rampingnya yang masih ada cairan merah di dalamnya.
“Aku ga mau menuruti kamu, Faj. Kita hanya akan berteman dan takkan melakukan apapun yang akan merugikanku nantinya.” Kata Lavly yang langsung menolak ucapan lelaki tampan di sampingnya itu.
“Kamu yakin? Ini demi kelancaran hubunganmu dengan Vasant juga loh.” Fajri tersenyum dan menyesap cairan yang berada di gelasnya.
“Aku sedang tidak ingin menerima tawaran apapun. Fokusku saat ini adalah untuk menjalin hubungan dengan Vasant. Sudah itu saja. Mau sampai kapanpun papa akan memberikan restu, maka aku akan menunggunya. Karna hanya Vasant yang sudah membuatku jatuh cinta sedalam ini.” Ucap Lavly dengan nada penuh penegasan.
“Baiklah, mungkin saat ini kamu sedang tidak membutuhkan bantuanku. Tapi aku yakin suatu hari kamu pasti akan membutuhkan bantuanku.” Fajri mendekatkan wajahnya lagi ketika mengatakan kalimat itu pada Lavly.
Lavly hanya terdiam dan membalas tatapan Fajri yang tak putus-putus kepadanya. Setelahnya, Fajri kemudian melumatt bibir Lavly lagi untuk yang kesekian kalinya. Kali ini Lavly mulai membalasnya. Agar lelaki itu mau melepaskannya. Hanya itu saja yang Lavly inginkan saat ini.
***
Wanita itu tampak begitu cantik dengan pakaian super tipis berwarna merah maroon yang sedang ia kenakan. Tak lupa ia juga memacu tubuhnya di atas seorang laki-laki yang juga sedang menikmati keindahan kekasihnya dari bawah sana. Lelaki itu beberapa kali terlihat sedang menyuarakan suara kenikmatann yang diberikan oleh sang wanita yang masih mencari pencapaiannya.
“Lav, aku begitu merindukanmu.” Kata lelaki yang berada di bawah naungan tubuhnya.
“Aku juga Vasant. Aku sangat merindukanmu.” Lavly langsung membungkukkan tubuhnya dan mensejajarkan wajahnya dengan sang kekasih.
Lavly langsung memperlambat gerakannya dan melumat bibir lelakinya itu.
“Faster Babe,” titah Vasant pada Lavly yang sudah menegakkan lagi tubuhnya dan mencoba untuk bergerak perlahan.
Tak lama kemudian, Vasant mengeluarkan cairan hangat yang membasahi inti tubuh Lavly. Wanita itu langsung berbaring di sebelah Vasant dan segera mengambil ponselnya untuk melihat notifikasi yang masuk selama beberapa jam yang mereka lewati tanpa melihat ponsel mereka masing-masing.
“Apa pertemuan dengan teman papamu berjalan dengan lancar?” tanya Vasant tiba-tiba yang langsung masuk ke ceruk leher Lavly.
Pertanyaan Vasant langsung membuat wanita itu menghentikan gerakan ibu jarinya yang sedari tadi sedang membalas beberapa pesan singkat yang masuk melalui aplikasi pesan singkat berlogo telpon berwarna hijau yang selalu menjadi andalannya.
“Kenapa?” tanya Vasant yang sadar betul dengan tingkah Lavly yang sedikit mencurigakan.
“E-engga kenapa-kenapa. Lancar kok, lancar.” Kata Lavly yang kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas di sebelah ranjang king size milik kekasihnya.
“Syukurlah kalau lancar.” Ucap Vasant yang langsung mengeratkan pelukannya di pinggang wanitanya dan sedikit memainkan lidahnya di leher kekasihnya.
“Vasant …” tegur Lavly yang sedikitnya sudah mulai terpancing dengan perlakuan sang kekasih.
“Yes, Babe.” Jawab Vasant singkat.
Lelaki itu malah terus bermain dengan kulit leher Lavly dan memancing Lavly agar kembali bergairahh karna perlakuannya.
“Apa kamu ingin lagi?” tanya Vasant yang kini langsung membalik posisinya.
Kini Lavly berada di bawah kungkungan lelaki tampan itu dan memainkan lidahnya di setiap inchi kulit Lavly yang polos.
“Auuhhh … Vasant … please give me more!” kata Lavly yang sudah begitu mendamba lelaki itu untuk sama-sama mencari kepuasan bersama.
***