MHBB - CH 6

1388 Kata
“Bang, kapan Abang akan pulang? Kasian ayah Bang. Dia rindu sekali sama Abang.” Ucap Dipta, adik Davka yang baru saja mendaratkan bokonggnya di kursi tepat di sebrang lelaki itu. “Huh, kalau tujuan kamu kesini mengajakku bertemu hanya untuk menyuruhku menemui si tua bangka itu. Lebih baik tidak usah datang saja! kenapa harus kamu bahas dia?” tanya Davka yang langsung menunjukkan wajah tak sukanya pada Dipta. Lelaki itu langsung membuang tatapannya ke arah lain. Terlihat jelas wajahnya jadi mengetat karna harus membahas ayah kandungnya yang sudah berani berkhianat padanya. “Bukan seperti itu, aku juga membencinya, Bang. Tapi biar bagaimanapun, DNAnya mengalir dalam tubuh kita. Abang jangan seperti itu. Ayah sudah mulai sakit-sakitan. Apa Abang tidak kasihan padanya hanya karna ego Abang, Abang malah menelantarkannya?” Tegur Dipta yang mencoba menasehati kakanya untuk yang kesekian kalinya. “Menelantarkan kamu bilang? Ga salah kamu bicara Dipta? Ingat! Yang sudah mengkhianati ibu siapa? Siapa yang sudah membuat ibu kita menderita dan sakit hati?” Davka langsung menatap adiknya lagi dan menatap adiknya itu dengan tatapan kesalnya . Ia benar-benar tidak terima jika harus dinilai sebagai anak yang menelantarkan orangtuanya. Seharusnya orangtua yang seperti apa dulu yang berani menilai anaknya seperti itu. Bahkan kejadian bertahun-tahun yang lalu itu masih teringat jelas di otaknya. Rasa sakit yang diberikan oleh orang yang menjadi panutannya terlalu memberikan luka terdalam baginya. Mulai sejak saat itu, ia berjanji akan membahagiakan ibunya dan adiknya juga. Ia juga tak ingin gagal dalam pernikahannya. Mangkanya, sampai sekarang Larissa belum mau memiliki anak ia hanya menerimanya saja. Satu-satunya cara adalah berdoa pada Tuhan agar Tuhan mau melunakkan hati istrinya. Hanya Tuhanlah Maha membolak-balikkan hati manusia. “Ada apa sih kalian ribut?” tanya Larissa yang baru saja datang ketika perbincangan itu terjadi. Larissa hari ini libur dan menyediakan waktunya untuk Davka. Sedangkan lelaki itu, ingin sekali libur. Namun nyatanya tidak bisa. Ia hanya bisa menyempatkan diri untuk makan malam bersama. Tapi Dipta menelponnya ketika lelaki itu dalam perjalanan menuju resto dan mengajak kaka sulungnya itu untuk bertemu. “Bilang pada Suamimu itu, Ka. Suruh dia bertemu dengan ayah. Jadi orang keras kepala sekali.” Dipta kini mengadukan kakanya sendiri pada kaka iparnya. Dipta juga menyandarkan tubuhnya di badan kursi sambil melipat tangannya. Jangan lupakan tatapan mata Dipta dan Davka yang saling beradu dan seperti ingin menelan satu sama lainnya. “Sayang? seriously? Kamu bertengkar dengan Dipta hanya karna meributkan hal itu lagi?” Larissa tampak sedikit jengkel sambil menatap suaminya. Davka langsung menoleh pada istrinya dan merubah posisinya sambil memeluk pinggang ramping Larissa yang duduk di sebelahnya. “Tolong jangan rusak makan malam kita, Larissa!” titah Davka yang kali ini tidak ingin didebat oleh istrinya sendiri. “Pesan makan malam yang kamu inginkan Dipta. Aku akan bicara pada Suamiku yang tersayang ini.” Larissa merubah arah tatapannya. Larissa mencoba berbicara pada adik iparnya, seolah-olah Davka tidak ada disana bersama mereka. Davka hanya berdecak sebal karna nyatanya ia dan Larissa ada kemungkinan akan membicarakan hal yang tidak ingin ia bicarakan dengan istrinya itu. Sungguh, hanya topik tentang masalah ayahnya saja yang ingin ia hindari. *** Larissa menyediakan waktunya untuk Davka malam ini, sengaja ia tidak pergi kemanapun. Ia ingin terlihat menjadi istri yang baik saja di depan Davka. Padahal, kemarin ia baru saja bersenang-senang dengan Divyant di salah satu kamar hotel yang mereka sewa semalaman. Divyant adalah lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta dan melupakan hal memusingkan yang selalu ditanyakan Davka setiap kali mereka melakukan pembahasan serius. Jika Davka tidak suka dengan pembahasan mengenai ayah kandungnya, berbeda dengan Larissa yang tidak suka dengan pembahasan mengenai anak dan kariernya. Larissa berusaha untuk tidak terlalu terlibat percakapan dengan Davka, karna apa? pastinya lelaki itu akan menanyakan lagi dan lagi kapan dirinya akan siap untuk memiliki anak. Ya, setidaknya hanya satu yang Davka minta untuk menemaninya selagi Larissa mungkin akan sibuk dengan kegiatannya di luar sana. Tapi tetap saja, hal yang difikirkan wanita itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja. Ia sangat takut jika ia akan kehilangan pekerjaannya. “Sayang,” panggil Davka yang langsung menyingkirkan rambut Larissa yang menutupi bagian leher dan tengkuknya. “Apa?” tanya Larissa yang langsung tersenyum pada lelaki itu. Mereka bisa melihat pantulan diri mereka melalui cermin yang terpasang di walk in closet di kamar mereka. “Aku rindu sekali padamu, Larissa.” Ucap Davka kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang. Larissa akui, pelukan Davka memang begitu nyaman dan menenangkannya. Tapi mau bagaimana lagi. Semenjak kenal dengan Divyant Larissa benar-benar hanya meninginkan Divyant. Tidak ada lagi prioritasnya untuk Davka. Davka hanya nomor kesekian di dalam hidupnya saat ini. Divyant benar-benar membuatnya jatuh cinta dan tak ingin kehilangan lelaki itu. Davka langsung memberikkan ciumannya di kulit leher istrinya itu. Memberikan sedikit sentuhan melalui bibirnya yang terlihat sexyy sekalipun dirinya masih suka merokok saat dirinya sedang pusing karna pekerjaannya. Tangannya tak ia biarkan menganggur. Tanggannya sudah menelusup ke dalam gaun tidur yang digunakan oleh Larissa. Gaun berwarna coklat muda dengan bahan satin itu benar-benar menggoda ketika dipakai oleh sang istri yang sudah lama tidak ia jumpai. “Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Sayang. Kita sudah lama tidak melakukannya. Apa kamu tidak rindu setuhanku?” tanya Davka yang masih berusaha memberikan godaan di puncak daada Larissa. “Tentu aku merindukannya.” Larissa mengucapkan kalimat itu sambil memejamkan matanya. Meresapi setiap sentuhan Davka yang membuatnya ingin lagi dan lagi. Nyatanya, sentuhan Davka membuatnya sedikit banyak rindu pada sosok suaminya itu. Sekalipun, ia lebih sering melakukan hubungannya dengan Divyant. Tapi tetap saja, Davka adalah suami sahnya yang juga masih perlu untuk ia berikan haknya. Tentu saja, Larissa tau betul jika Davka selalu menjaga pernikahan mereka dengan baik. Memang dirinya saja yang tidak bisa menjaga diri dan pernikahannya. Ia bukanlah wanita yang puass akan satu laki-laki saja. Melainkan, Larissa harus memiliki 2 orang laki-laki yang harus mendampingi hidupnya. Davka tau, jika istrinya sudah terbakar gairahh yang ia berikan barusan. Davka sukses memberikan kissmark di leher wanita itu dan Davka tersenyum puass karna nyatanya Larissa tidak melarangnya untuk melakukannya. Kalau biasanya Larissa akan bicara yang menyebalkan, berbeda dengan hari ini. Wanita itu memberikan kebebasan pada Davka atas dirinya. Entah dari mana sikap manis wanita itu hari ini. Yang pasti Davka sangat menyukainya. Ciuman Davka mulai naik ke bibir wanita itu dan Larissa langsung membalasnya tanpa jeda. Davka benar-benar tau bagaimana caranya membakar gairahh istrinya itu dengan baik. Mungkin karna sudah tidak bermain dengan Davka terlalu lama. Membuat Larissa sedikit banyak jadi penasaran dengan apalagi yang akan dilakukan suaminya itu padanya. *** “Besok pagi kamu mau kemana?” tanya Davka yang kemudian menerima ciuman dari istrinya. Larissa benar-benar bertingkah sangat manis hari ini. “Shooting, Sayang mau kemana lagi.” Larissa menjawab sekenanya. Sekalipun memang itu adalah kenyataannya tapi sepertinya Davka sedikit mulai curiga dengan istrinya itu. “Bisa ga kalau minggu depan kamu ambil libur? Aku ingin liburan Sa,” ucap Davka yang mulai bermain di inti tubuh Larissa. Mungkin dengan cara seperti ini, Larissa mau mengambil cutinya dan menghabiskan waktu bersama dengan Davka. Tiket liburan dari ayah angkatnya masih belum hangus. Jadi ia masih bisa menggunakannya kapanpun dengan istrinya itu untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama. “Ohhh … Davka … kamu terlalu pintar Sayang. Apa yang kamu inginkan minggu depan?” puji Larissa yang kemudian memejamkan matanya karna sedang menikmati sentuhan yang Davka berikan padanya di bawah sana. “Ya, aku tau itu. Bagaimana kalau kita berlibur?” ajak Davka sekali lagi. Kini, Davka sudah mensejajarkan wajahnya dengan Larissa dan segera mengungkung istrinya itu di bawah naungan tangannya. “Berapa lama?” tanya Larissa kali ini. “Mungkin 3 sampai 5 hari,” ucap Davka sambil tersenyum setelah melumatt lagi bibir ranum istrinya yang masih saja menggodanya. “Baiklah, aku juga ingin liburan. Kebetulan memang 2 minggu lagi shootingku selesai. Sebelum melakukan sinetron baru lagi, aku juga ingin liburan bersama dengan Suamiku ini. Tapi kamu janji hanya 5 hari dan jangan memperpanjangnya, ya.” Ucap Larissa sambil tersenyum dan membelai pipi suaminya dengan lembut. “Yes! Terima kasih Istriku …” kata Davka yang langsung memberikan ciumannya untuk Larissa untuk yang kesekian kalinya. Larissa melingkarkan tangannya di leher sang suami dan membiarkan lelaki di atasnya itu melakukan yang ia inginkan sesukanya. Larissa takkan melarang. Mungkin hanya itu yang ia bisa berikan pada Davka. Memberikan kebahagiaan pada suaminya itu bukanlah dosa besar bukan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN